AKU SENDIRI YANG MENGEMAS KOPER UNTUK SUAMIKU YANG KATANYA PERGI KE LUAR NEGERI, TAPI SAAT SAMPAI DI BANDARA, AKU MENGETAHUI BAHWA KURSI DI SEBELAHNYA ADALAH UNTUK SELINGKUHANNYA — SATU TELEPONKU KE BANK MEMBUAT SELURUH KELUARGANYA PANIK
**Bagian 1: Empat Koper dan Nama Perempuan di Tiket Kedua**
Aku sendiri yang mengemas empat koper untuk suamiku.
Satu koper untuk kemeja polo, jas, dasi, dan sepatu kulitnya.
Satu koper untuk obat lambung, vitamin, plester pereda nyeri, adaptor, dan beberapa bungkus kopi instan yang selalu ia minum.
Satu koper untuk perlengkapan mandi, handuk, sandal rumah, dan bahkan bantal leher berwarna abu-abu yang katanya ia butuhkan untuk perjalanan panjang.
Koper terakhir untuk dokumen, kontrak, berkas pekerjaan, dokumen perjalanan, dan beberapa makanan kering yang dipaksakan oleh ibu mertuaku.
Paolo berdiri di pintu kamar, memperhatikanku menutup satu per satu resleting koper.
Ia memakai polo putih yang tadi malam aku setrika sendiri.
Tidak ada kusut di lengan.
Tidak ada lipatan di kerah.
Di tangannya ada segelas air hangat, dan suaranya lembut seperti suami teladan di depan keluarga.
—Mariel, sudah cukup. Di Dubai semuanya ada. Kamu terlalu berlebihan. Aku bahkan mungkin tidak sanggup membawa semuanya.
Aku tidak mengangkat kepala.
—Kamu sendiri yang bilang cuaca di sana berubah-ubah dan kerja di proyek itu berat. Bawa obat lambungnya. Jangan sampai lupa.
Paolo tertawa.
Ia mendekat dan memeluk pinggangku dari belakang.
—Kamu memang istri paling perhatian.
Aku bisa mencium parfum di kerahnya.
Itu bukan parfum yang kubelikan.
Bukan juga parfum yang ia pakai selama enam tahun pernikahan kami.
Lebih manis.
Lebih tajam.
Seperti aroma perempuan yang baru saja meninggalkan pelukan terlalu lama.
Aku tidak bertanya.
Aku hanya memasukkan pouch obat ke dalam koper.
Paolo pikir aku tidak sadar.
Memang begitu cara dia melihatku—istri yang hanya tahu memasak, mengatur uang, mengurus mertua, dan selalu mengalah.
Di ruang tamu, ibu mertuaku Cora sedang menonton acara pagi.
—Mariel, pastikan makanan Paolo dipisahkan ya di Dubai. Tidak sama seperti di sini.
—Sudah saya siapkan, Bu.
—Obat flu, minyak angin juga. Jangan lalai.
Aku mengangguk.
—Saya mengerti.
Lalu ia menatap empat koper itu.
—Cukup.
Kemudian matanya jatuh ke arahku.
—Tapi ingat, Paolo akan di Dubai selama empat tahun. Jangan sentuh rekening gabungan tanpa izin.
Aku menatapnya.
—Rekening yang mana, Bu?
—Yang di bank Makati. Yang isinya Rp 18,6 juta, kamu lupa?
Aku tersenyum.
—Saya tidak lupa.
Tentu saja aku tidak lupa.
Di rekening itu ada Rp 18,6 juta.
Rp 13 juta berasal dari bakery kecil yang kubangun sebelum menikah.
Rp 3,5 juta dari penjualan studio apartemen di Quezon City warisan orang tuaku.
Sisanya dari klaim asuransi atas namaku.
Paolo hanya memasukkan sedikit uang setelah promosi.
Tapi sejak jadi rekening bersama, keluarga mereka menyebutnya “uang keluarga Reyes”.
Aku hanya penjaga.
Cora mengangguk puas.
—Jangan boros. Kamu kan perempuan di rumah.
Aku mengangguk.
—Saya akan menjaga uang itu dengan baik.
Paolo sempat menatapku sekilas—singkat, tapi berbeda.
Seperti seseorang yang baru sadar ada pisau di belakangnya.
Malamnya, makan malam perpisahan digelar.
Adiknya, Clarisse, bercanda soal mobil baru.
—Kak, cepat kaya di Dubai ya. Aku tunggu mobil baru.
Semua tertawa.
Aku hanya makan pelan.
Lalu Paolo masuk ke ruang kerja.
Aku lewat membawa susu hangat.
Pintu tidak tertutup rapat.
Aku mendengar suaranya.
—Sudah kubilang jangan telepon jam segini.
Suara perempuan terdengar samar.
—Besok kita ketemu di Terminal 3 NAIA. Bertingkah seolah kita tidak saling kenal.
Dadaku turun.
Bukan berdetak cepat.
Justru melambat.
—Aku sudah kirim tiket ke emailmu. Apartemen di Dubai juga sudah dibooking. Bulan pertama di serviced apartment dulu.
“Kita.”
Bukan “aku”.
Bukan “kamu”.
Tapi “kita”.
Aku berdiri di luar pintu, tangan gemetar memegang gelas susu.
—Mariel tidak tahu apa-apa. Dia pikir aku pergi karena kerja.
Aku diam.
Aku pergi ke dapur.
Aku menuang susu itu ke wastafel.
Putihnya mengalir seperti hidup delapan tahunku yang tersedot.
Handphone-ku bergetar.
Rica, sahabatku, mengirim pesan:
“Mariel, jangan panik. Lihat ini sekarang.”
Screenshot tiket pesawat.
Manila ke Dubai via Singapura.
Penumpang pertama: Paolo Reyes.
Penumpang kedua: Beatrice Lim.
Aku menatap nama itu lama sekali.
Beatrice Lim.
Bea.
Asisten barunya.
Perempuan yang pernah menunduk padaku di acara kantor.
Hotel booking juga muncul.
Apartemen Dubai Marina.
Guests: Paolo Reyes and Beatrice Lim.
Aku tidak menangis.
Karena semuanya sudah terlalu jelas.
Saat Paolo masuk kamar, ia tersenyum.
—Kamu belum tidur?
Aku membalik HP ke bawah bantal.
—Cuma cek barangmu.
Ia duduk di sebelahku.
—Jangan khawatir. Ini cuma kerja.
Aku menatapnya.
—Paolo, kalau suatu hari kamu mengkhianatiku, kamu akan jujur?
Ia tertawa kecil.
—Kamu terlalu banyak nonton drama.
Tapi jantungnya lebih cepat dari biasanya.

HP-ku bergetar lagi.
Rica:
“Dia bukan cuma satu penerbangan.”
“Di travel insurance, emergency contact-nya sudah diganti.”
Aku menatap Paolo.
—Siapa itu?
—Promo.
Ia mencium keningku.
—Tidur. Besok kamu antar aku ke bandara.
Lampu padam.
Dan di layar HP-ku muncul pesan terakhir:
“Sekarang bukan kamu emergency contact-nya.”
Bagian 2: Kebenaran di Terminal 3 dan Satu Panggilan Mematikan
Keesokan paginya, suasana di Terminal 3 Bandara Internasional Ninoy Aquino (NAIA) sangat padat. Aku turun dari mobil bersama Paolo, mengiringi empat koper besar yang sudah kusiapkan dengan rapi. Ibu mertuaku, Cora, dan adiknya, Clarisse, ikut mengantar dengan wajah penuh kebanggaan.
Saat Paolo sedang mengantre di konter check-in, aku melihat sesosok wanita dengan kacamata hitam dan koper jinjing desainer berdiri tak jauh dari sana. Beatrice Lim. Ia sempat melirik Paolo, melemparkan senyum tipis yang penuh rahasia, lalu pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Paolo kembali dengan membawa dua lembar boarding pass di tangannya. Ia mencoba menyembunyikan salah satunya, namun gerakannya terlalu lambat. Aku membaca sekilas nomor kursi yang tertera: 12A dan 12B.
— Paolo, kursi 12B itu untuk siapa? tanyaku dengan nada datar, langsung memotong obrolan Cora dan Clarisse tentang rencana belanja mereka.
Paolo tersentak, wajahnya mendadak kaku. — Oh, itu… itu kursi kosong di sebelahku. Pihak kantor yang memesankan agar aku bisa bekerja dengan nyaman selama penerbangan, Mariel. Jangan sensitif begitu.
Cora langsung menimpali dengan ketus, — Benar, Mariel. Paolo ini pergi untuk menjadi bos di sana. Wajar kalau fasilitasnya mewah. Kamu jangan udik dan mempermalukan kami di bandara!
Aku tidak membalas ucapan Cora. Aku hanya menatap lurus ke mata suamiku.
— Oh, fasilitas kantor? Termasuk mengganti kontak darurat di asuransi perjalananmu menjadi Beatrice Lim? Dan menyewa serviced apartment di Dubai Marina atas nama kalian berdua?
Mendengar kata-kata itu, seluruh warna darah seolah lenyap dari wajah Paolo. Langkahnya mundur satu tapak. Cora dan Clarisse mengerutkan kening, kebingungan.
— M-Mariel… apa yang kamu bicarakan? Paolo terbata-bata, keringat dingin mulai membasahi dahi kemeja polonya yang rapi.
Tanpa membuang kata, aku mengeluarkan ponselku. Aku tidak berniat menangis atau mengemis penjelasan. Aku langsung mendial nomor langsung ke Kepala Manajer Privasi BDO Unibank di Makati—nomor privat yang hanya dimiliki oleh nasabah prioritas dengan aset di atas ratusan miliar.
Bagian 3: Runtuhnya Istana Pasir Keluarga Reyes
Panggilan langsung diangkat. Aku sengaja menyalakan loudspeaker.
— “Selamat pagi, Ibu Mariel. Ada yang bisa kami bantu untuk manajemen aset Anda hari ini?” suara sang manajer terdengar sangat hormat melalui pengeras suara.
Cora dan Clarisse tertegun. Mereka tahu bank itu, tapi mereka tidak pernah mendengar nada sehormat itu ditujukan kepada Mariel—menantu yang selalu mereka anggap menumpang hidup.
— Putuskan seluruh akses, bekukan, dan tarik kembali semua dana dari rekening bersama, rekening bisnis atas nama Paolo Reyes, serta seluruh kartu kredit korporat yang menggunakan agunan atas namaku. Sekarang juga, aku memberikan instruksi dengan suara yang sangat tenang namun dingin.
Paolo langsung berteriak panik, — Mariel! Apa yang kamu lakukan?! Rekening itu cuma isi Rp 18,6 juta! Untuk apa kamu menelepon bank dengan gaya seperti itu?!
Aku menatapnya dengan senyum sinis.
— Rp 18,6 juta? Itu hanya angka yang sengaja kuperlihatkan di buku tabungan yang sering ibumu intip, Paolo. Rekening yang terikat dengan bisnismu, rumah yang ditinggali ibumu, dan modal proyek Dubai-mu itu menggunakan jaminan dana perwalian warisan orang tuaku sebesar Rp 186 miliar yang kukelola secara privat.
Suara manajer bank kembali terdengar: — “Baik, Ibu Mariel. Seluruh kartu kredit korporat atas nama Paolo Reyes telah dinonaktifkan. Dana talangan untuk proyek Dubai sebesar Rp 45 miliar yang bersumber dari aset Anda telah resmi ditarik kembali. Proses pembekuan total selesai.”
Klik. Panggilan berakhir.
Detik itu juga, ponsel di saku Paolo berdering histeris. Bukan hanya ponsel Paolo, ponsel Clarisse dan Cora pun berbunyi bersamaan.
Bagian Akhir: Penyesalan yang Terlambat
Paolo mengangkat teleponnya dengan tangan gemetar. Suara dari seberang adalah direktur utamanya: “Paolo! Apa yang terjadi?! Bank baru saja menarik seluruh dana jaminan proyekmu! Kontrak Dubai dibatalkan sepihak! Kamu dipecat, dan apartemenmu di Dubai sudah di-cancel otomatis karena kartu kreditmu decline!”
Di saat yang sama, Clarisse menjerit melihat notifikasi di ponselnya. Kartu kredit yang baru saja ia gunakan untuk pamer di kedai kopi bandara ditolak. Sementara Cora menerima pesan dari pihak manajemen perumahan bahwa rumah mewah mereka di Quezon City—yang ternyata dibeli atas nama dana perwalian Mariel—akan segera disita dalam waktu 24 jam.
— Mariel! Apa-apaan ini?! Kamu menjebak anakku?! Cora berteriak histeris, wajah cantiknya yang dilapisi bedak mahal kini tampak mengerikan karena panik. — Kamu istri durhaka!
— Aku bukan istri lagi, Bu Cora, jawabku sambil memandang mereka bergantian. — Mulai detik ini, aku adalah mantan pemilik semua fasilitas yang kalian nikmati selama enam tahun ini.
Paolo berlutut di lantai Terminal 3 yang ramai. Ia mencoba meraih kakiku, mengabaikan Beatrice Lim yang kini berjalan menjauh dengan tergesa-gesa karena menyadari selingkuhannya telah jatuh miskin dalam sekejap.
— Mariel, tolong… aku khilaf! Aku bersumpah akan membatalkan semuanya. Aku tidak akan pergi ke Dubai dengan Bea! Tolong jangan hancurkan aku, Mariel! Paolo memohon dengan air mata yang mulai mengalir.
Aku melangkah mundur, menjauhkan ujung sepatuku dari genggamannya. Aku menatap empat koper besar yang tadi kukemas dengan tanganku sendiri.
“Aku mengemas kopermu dengan sangat rapi, Paolo. Karena aku tahu, itu adalah terakhir kalinya kamu memiliki pakaian bagus untuk dikenakan.”
Aku membalikkan badan dan berjalan keluar dari terminal bandara tanpa menoleh lagi. Di belakangku, suara jeritan histeris Cora dan tangisan penyesalan Paolo menggema, mengiringi langkah pertamaku menuju kebebasan yang sesungguhnya.
“Beatrice Lim.”..
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.