Posted in

Dihantam badai, kaca kondominium di BGC bergetar pukul dua dini hari, tapi yang membuat punggungku dingin bukan suara guntur — melainkan seorang mahasiswi miskin yang dibiayai keluarga suamiku, menjadikan rumah peristirahatanku sebagai panggung untuk mengumumkan bahwa dia hampir menjadi Nyonya Reyes yang sebenarnya.

Dihantam badai, kaca kondominium di BGC bergetar pukul dua dini hari, tapi yang membuat punggungku dingin bukan suara guntur — melainkan seorang mahasiswi miskin yang dibiayai keluarga suamiku, menjadikan rumah peristirahatanku sebagai panggung untuk mengumumkan bahwa dia hampir menjadi Nyonya Reyes yang sebenarnya.

**BAGIAN 1**

Pukul 02.17 dini hari, seolah langit menumpahkan seluruh hujan ke Manila.

Angin menghantam kaca kondominium kami di BGC.

Setiap petir terasa seperti membelah kota.

Aku terbangun karena haus.

Di sebelahku, suamiku Matteo Reyes masih tertidur lelap.

Tangannya bertumpu di pinggangku, napasnya teratur, wajahnya tenang.

Kalau bukan karena ponselku bergetar, aku akan mengira itu hanya malam badai biasa.

Layar menyala.

Casa Amihan — terdeteksi gerakan di ruang utama.

Casa Amihan adalah rumah peristirahatan kami di Tagaytay.

Setelah menikah, Matteo bilang dia ingin tempat itu menjadi tempat kami beristirahat setiap akhir pekan.

Tapi sebenarnya, rumah itu terdaftar atas namaku.

Itu warisan dari ibuku sebelum beliau meninggal.

Aku sedikit mengernyit.

Di tengah badai seperti ini, siapa yang datang ke sana?

Aku membuka aplikasi kamera.

Hanya dalam satu detik, rasa kantukku lenyap.

Di layar, seorang gadis berdiri di tengah ruang utama Casa Amihan.

Ia mengenakan barong putih milik Matteo dengan bordir tangan.

Itu bukan pakaian biasa.

Itu barong yang dipakai Matteo saat pernikahan kami di gereja Makati.

Disimpan di dalam lemari kaca terkunci.

Tapi sekarang, barong itu longgar di tubuh Jasmine Salcedo.

Jasmine adalah mahasiswi penerima beasiswa dari keluarga Reyes selama tiga tahun terakhir.

Dia berasal dari sebuah barangay dekat Laguna Lake.

Ayahnya dulu satpam di perusahaan keluarga suamiku.

Ibunya penjual sarapan di depan sekolah.

Beberapa bulan lalu, Matteo membawanya ke acara beasiswa.

Dia berdiri di depanku dengan kepala tertunduk dan suara lembut.

— Kak Althea, terima kasih banyak. Kalau bukan karena Kak Matteo dan kalian, mungkin aku sudah berhenti sekolah.

Saat itu, aku masih merasa kasihan padanya.

Sekarang dia berdiri di rumahku.

Memakai gaun pernikahan suamiku.

Memegang anggur dari wine cellar milikku.

Dan melakukan siaran langsung seolah-olah dia pemilik rumah ini.

Aku menyalakan audio.

Suaranya lembut, tapi terasa mengerikan.

— Aromanya masih ada di pakaian ini. Kadang tidak perlu dijelaskan langsung. Kalau sudah masuk ke rumah ini, semua orang akan mengerti sendiri.

Hanya sekitar tiga puluh orang yang menonton live itu.

Sepertinya diset untuk close friends.

Tapi komentar terus bermunculan.

“Jasmine, apakah kamu sudah berhasil?”

“Istri sahnya tahu tidak?”

“Rumahnya cantik sekali. Memang beda kalau orang kaya di Manila.”

Jasmine tersenyum dan sedikit memiringkan wajahnya agar kamera menangkap tangga kayu di belakangnya.

Di anak tangga itu, foto pernikahan kami dengan Matteo tergeletak.

Dadaku perlahan menjadi dingin.

Seseorang bertanya:

“Di mana Kak Matteo?”

Jasmine menggigit bibirnya.

— Dia sedang tidur. Besok dia masih harus menyelesaikan sesuatu yang besar.

Pertanyaan lain muncul:

“Apa maksudnya?”

Jasmine menyentuh kerah barong itu.

Matanya terlihat polos, tapi ada kemenangan di dalamnya.

— Besok, di depan kepala barangay dan orang tua dari kedua keluarga, dia akan mengerti siapa yang sebenarnya harus pergi.

Aku menatap layar.

Lalu dia membungkuk dan mengambil sebuah folder dari meja.

Hanya sebentar lewat di kamera.

Tapi aku melihat jelas baris pertama.

“Voluntary Separation Agreement.”

Nama istri: Althea Mercado Reyes.

Nama suami: Matteo Reyes.

Darahku langsung membeku.

Aku menoleh ke Matteo.

Pria itu masih tidur di sampingku.

Kalau dia di sini, siapa yang memberi Jasmine kunci?

Siapa yang membuka lemari kaca itu?

Siapa yang menyiapkan dokumen perpisahan dengan namaku?

Aku mengguncang bahu Matteo dengan keras.

— Matteo, bangun. Sekarang.

Dia terkejut dan membuka mata.

— Althea, ada apa? Kamu mimpi?

Aku tidak menjawab.

Aku hanya mengarahkan layar ponsel ke wajahnya.

Matteo menatapnya selama dua detik.

Lalu wajahnya berubah.

Rasa kantuknya hilang seketika.

— Jasmine?

Aku bertanya dingin:

— Jelaskan.

Dia langsung duduk dan mengambil ponselku.

Semakin lama dia menonton, semakin gelap wajahnya.

— Mustahil. Kunci Casa Amihan hanya kamu, aku, dan caretaker lama yang punya.

— Jadi… dia bisa keluar masuk begitu saja? Dan memakai barong pernikahanku?

Matteo menatapku, bibirnya mengatup rapat.

Dia langsung menelepon Jasmine dan menyalakan loudspeaker.

Empat kali dering baru diangkat.

Suara Jasmine terdengar manja.

— Kak, kamu sudah lihat live streamingku?

Matteo bertanya tajam:

— Kamu di mana?

Ada jeda singkat, lalu Jasmine tertawa pelan.

— Kamu tahu kan, Kak. Aku di rumah kita.

Di dalam kamar, udara terasa seperti hilang.

Matteo hampir meremukkan ponselnya.

— Jasmine Salcedo, dengar baik-baik. Itu bukan rumah kita. Itu rumah istriku.

Beberapa detik hening.

Lalu suaranya berubah, hampir seperti menangis.

— Aku tahu Kak Althea akan marah. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Orang tuaku juga sudah ada di sini. Lebih mudah kalau orang tua yang berbicara.

Aku langsung mengalihkan pandangan ke kamera.

Dari dapur, orang tua Jasmine muncul.

Tidak hanya mereka.

Ada seorang pria memakai polo hitam berdiri di dekat tangga.

Wajahnya tertutup bayangan gelap.

Tapi ada sesuatu dari posturnya yang membuat perutku terasa jatuh.

Jasmine mengangkat ponselnya.

Dia menatap langsung ke kamera CCTV, seolah tahu aku sedang menonton.

— Kak Althea, datanglah besok ke balai barangay. Kita bicarakan baik-baik.

BAGIAN 2: Sandiwara di Tengah Badai

Mendengar tantangan dari mahasiswi yang selama ini hidup dari belas kasihan keluarga kami, Matteo langsung melempar selimutnya. Wajahnya yang biasa tenang kini dipenuhi kepanikan yang luar biasa.

— Althea, aku bersumpah aku tidak tahu dia akan senekat ini! Dokumen perpisahan itu… ibuku yang menyiapkannya minggu lalu, tapi aku tidak pernah berniat menandatanganinya! Matteo memohon, mencoba meraih kedua tanganku dengan tubuh yang gemetar.

Aku melepaskan cengkeramannya dengan perlahan. Rasa hangat di dadaku sudah menguap seiring dengan hantaman badai di luar jendela kaca BGC kami.

— Ibumu? Jadi ini rencana besar keluarga Reyes untuk menyingkirkanku setelah perusahaan kalian stabil? kataku dengan nada yang teramat tenang—ketenangan yang selalu membuat Matteo takut.

Pria berbaju polo hitam yang kulihat di CCTV tadi akhirnya berbalik menatap kamera. Dia adalah paman Jasmine, seorang pengacara jalanan yang biasa mengurus sengketa tanah di Laguna. Di sampingnya, orang tua Jasmine duduk di sofa beludru impor milikku sambil mengunyah camilan dan meletakkan kaki kotor mereka di atas meja kayu jati warisan ibuku.

Mereka mengira, karena Jasmine memegang rahasia internal perusahaan Reyes, mereka bisa menekanku untuk mundur dan memberikan posisi “Nyonya Reyes” kepada anak mereka. Mereka mengira Casa Amihan adalah milik keluarga Reyes.

Aku berdiri, berjalan ke arah meja kerja di sudut kamar, lalu mengambil sebuah berkas tebal bersampul kulit hitam. Aku tidak berniat menunggu sampai besok pagi di balai barangay.

— Matteo, pakai bajumu, kataku tanpa menoleh. — Kita ke Tagaytay sekarang.

— Tapi Althea, di luar badai besar! Jalanan ke Tagaytay pasti longsor dan berbahaya!

Aku berbalik, menatap suamiku dengan mata yang sedingin es di kutub. — Kalau kamu tidak ikut sekarang, maka besok pagi, bukan hanya namamu yang hilang dari sertifikat rumah ini, tapi seluruh nama klan Reyes akan dihapus dari bursa saham Manila.

BAGIAN 3: Kehancuran di Atas Panggung Palsu

Pukul 04.30 pagi, mobil SUV kami menembus kabut tebal dan hujan badai yang masih mengamuk di Tagaytay. Ketika pintu gerbang Casa Amihan terbuka, lampu-lampu rumah peristirahatan itu masih menyala terang Benderang.

BRAK!

Aku mendorong pintu jati utama dengan kasar. Langkah kakiku menggema di ruang utama yang berantakan. Jasmine, yang masih mengenakan barong pernikahan Matteo yang kebesaran, terkejut dan langsung berdiri dari sofa. Orang tuanya dan pamannya ikut berdiri dengan wajah menantang.

— Kak Althea… kamu datang lebih cepat dari dugaan, Jasmine mencoba tersenyum polos, meski matanya memancarkan kelicikan. — Tapi seperti yang kukatakan semalam, dokumen perpisahan sudah siap. Keluarga Reyes sudah menyetujui bahwa aku yang lebih pantas mendampingi Matteo untuk masa depan bisnisnya.

Paman Jasmine melangkah maju, mengetuk-ngetuk map Voluntary Separation Agreement di atas meja. — Ms. Althea, lebih baik Anda tanda tangan sekarang demi kebaikan bersama. Jika tidak, keponakan saya akan merilis bukti audit internal perusahaan Reyes ke publik. Anda akan keluar dari klan ini tanpa membawa sepeser pun.

Matteo hendak berteriak memaki, namun aku mengangkat tangan, menghentikan suamiku. Aku berjalan mendekati meja, menatap tumpukan botol anggur mahal yang telah mereka habiskan, lalu menatap Jasmine.

— Jasmine, apakah ibumu tidak pernah mengajarimu cara membaca dokumen dengan benar? tanyaku sambil melempar berkas tebal bersampul kulit hitam yang kubawa dari BGC ke atas meja.

GEBUK!

Berkas itu terbuka, menampilkan sertifikat kepemilikan tunggal, akta warisan, dan bukti likuiditas perbankan.

— Casa Amihan ini tidak pernah menjadi bagian dari harta gono-gini atau aset keluarga Reyes. Rumah ini, tanah ini, dan bahkan 60% saham di perusahaan kosmetik yang menyokong dana beasiswamu, adalah milik Mercado Holdings—perusahaan keluarga ibuku.

Wajah Jasmine mendadak kaku. Senyum kemenangannya perlahan luntur.

— Pamanmu yang pengacara hebat ini pasti lupa memeriksa, aku melanjutkan, beralih menatap pria berpolo hitam itu yang kini mulai berkeringat dingin, — bahwa dokumen audit yang Jasmine pegang adalah dokumen yang sengaja aku manipulasi untuk memancing siapa saja pengkhianat di dalam perusahaan. Dan kalian dengan bodohnya masuk ke dalam jebakan ini.

BAGIAN AKHIR: Kembalinya Sang Pemilik Takhta

Tiba-tiba, ponsel paman Jasmine berdering nyaring. Ia mengangkatnya dengan tangan gemetar. Suara dari seberang telepon terdengar sangat panik: “Bailiff pengadilan dan polisi baru saja mendatangi rumah kita di Laguna! Seluruh rekening keluarga kita dibekukan atas tuduhan pemerasan korporasi dan pelanggaran privasi digital!”

Orang tua Jasmine langsung menjerit ketakutan, menatap anak perempuan mereka yang kini mulai menangis histeris.

— Kak Matteo… tolong aku… Ibu yang menyuruhku melakukan ini! Jasmine memohon, mencoba meraih lengan baju Matteo, namun Matteo menepisnya dengan jijik hingga gadis itu tersungkur di lantai.

Aku menatap Jasmine yang kini terduduk di lantai marmer, barong putih yang ia agungkan kini kotor oleh tumpahan anggur.

— Barong yang kamu pakai itu, Jasmine… dibeli dengan uang warisan ibuku untuk pria yang kupikir pantas menjadi suamiku, kataku dingin. — Lepaskan sekarang juga, atau petugas keamanan di luar akan menyeretmu keluar ke tengah badai dalam kondisi telanjang.

Jasmine menangis tersedu-sedu, dengan gemetar melepaskan pakaian itu dan menyisakan gaun tipisnya yang murah. Orang tuanya memeluknya, ketakutan melihat dua petugas kepolisian yang sudah berjaga di ambang pintu masuk atas perintahku.

Aku berbalik menatap Matteo yang berdiri lemas di belakangku.

— Althea… maafkan aku… Aku akan mengurus ibuku, aku bersumpah—

— Tidak perlu, Matteo, potongku sambil mengambil kembali barong pernikahan yang sudah kotor itu dan melemparnya ke dalam perapian yang menyala.

“Kalian ingin mengumumkan Nyonya Reyes yang sebenarnya, kan? Silakan bawa mahasiswamu ini ke rumah ibumu, Matteo. Karena mulai besok pagi, klan Reyes tidak akan lagi memiliki aset, rumah, atau perusahaan di Manila untuk diperebutkan.”

Aku melangkah keluar ke beranda Casa Amihan, menatap fajar yang mulai menyingsing di atas Danau Taal setelah badai mereda. Di belakangku, suara ratapan keluarga Salcedo dan permohonan ampun Matteo tenggelam oleh suara angin pagi.

Panggung palsu mereka telah runtuh, dan sang pemilik takhta yang sesungguhnya kini telah mengambil kembali apa yang menjadi haknya.

Dia tersenyum.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.