Posted in

Pada malam Tahun Baru di Manila Bay, suamiku diberi penghargaan di siaran TV langsung karena proyek pengendalian banjirnya

Pada malam Tahun Baru di Manila Bay, suamiku diberi penghargaan di siaran TV langsung karena proyek pengendalian banjirnya. Aku memeluk anak kami sambil mencarinya di tengah kembang api. Tapi ketika pembawa acara memanggil wanita di sampingnya sebagai “istri Engineer Mendoza”, wanita itu tersenyum dan menerima ucapan selamat, sementara suamiku hanya diam lalu menarik selendang wanita itu di bahunya, seolah-olah aku tidak pernah menjadi istrinya.

BAGIAN 1: Kembang api dan kursi yang direbut

Pada malam Tahun Baru, seluruh Manila berkilauan seakan diselimuti emas.

Dari jendela apartemen kami di Quezon City, terdengar suara motor di jalan, tawa orang-orang, dan anak-anak meniup terompet kertas.

Di udara bercampur aroma lumpia goreng, lechon, pancit, dan berbagai makanan tetangga.

Aku meletakkan piring lumpia terakhir di meja, lalu menatap anakku yang duduk di depan TV.

Nico baru berusia tujuh tahun.

Ia mengenakan polo putih yang kupastikan sudah kerapikan sejak sore.

Ia berulang kali melihat jam, lalu ke pintu.

— Mama, Papa pulang sebelum jam dua belas?

Aku terdiam sejenak.

Lalu tersenyum.

— Papa akan ada di TV nanti. Dia diundang ke panggung di Manila Bay. Kita akan melihatnya di sini.

Wajah Nico langsung cerah.

— Papa akan melambaikan tangan padaku, Ma?

Aku tidak langsung menjawab.

Karena aku sendiri juga berharap begitu.

Suamiku, Rafael Mendoza, adalah seorang insinyur yang bekerja di bidang pengendalian bencana.

Tiga bulan lalu, proyek sistem peringatan banjirnya didanai oleh organisasi besar.

Media menyebutnya sebagai “pria yang membantu masyarakat miskin agar terhindar dari banjir besar berikutnya.”

Malam ini, ia diundang ke acara countdown Tahun Baru di Manila Bay untuk menerima penghargaan.

Penyelenggara mengirim undangan VIP untuknya.

Satu kursi saja.

Ia berdiri di dapur saat itu, dengan wajah bersalah berkata:

— Maya, maaf. Aturannya ketat. Aku tidak bisa membawa kamu dan Nico.

Aku sedang membungkus lumpia.

Aku hanya tersenyum.

— Tidak apa-apa. Kamu saja pergi. Kami nonton di TV.

Ia menunduk dan mencium keningku.

— Kamu memang selalu pengertian.

Saat itu aku mengira sifat “pengertian” itu adalah karena cinta.

Aku tidak tahu bahwa terlalu pengertian membuat seorang perempuan perlahan tersingkir dari hidupnya sendiri.

Pukul sebelas lewat lima puluh delapan.

Kamera beralih ke panggung di Manila Bay.

Lampu merah, biru, dan emas berputar di wajah para tamu VIP.

Politisi.

Artis.

Pengusaha.

Aku memeluk Nico sambil mencari Rafael.

Tiba-tiba Nico berdiri.

— Mama! Itu Papa!

Aku mengikuti arah jarinya.

Rafael duduk di barisan kedua.

Ia mengenakan barong krem dan jam tangan yang kuberikan pada ulang tahun pernikahan kami ke-10.

Tapi wanita di sampingnya bukan orang asing.

Itu Celina Villamor.

Ia memakai gaun sutra warna laut.

Rambutnya jatuh lembut.

Di telinganya terpasang anting mutiara yang pernah kulihat di kotak perhiasan ibu tiriku.

Ia membungkuk ke arah Rafael dan berbisik.

Rafael juga mendekat untuk mendengar.

Terlalu dekat.

Sedikit saja bergerak, hampir menyentuh telinga suamiku.

Nico belum memahami apa yang terjadi.

Ia masih berkata riang:

— Mama, kenapa Tita Celina juga di sana? Dia bersama Papa?

Aku tidak menjawab.

Tanganku di bahu Nico perlahan menjadi dingin.

Pada saat itu, pembawa acara turun dari panggung dan mendekati Rafael.

— Engineer Mendoza, selamat tahun baru. Proyek Anda sangat menginspirasi banyak orang Filipina. Dan apakah ini istri Anda? Kalian sangat cocok.

Kamera men-zoom in.

Wajah Celina terlihat jelas di layar.

Ia tersenyum seperti pengantin baru.

— Terima kasih. Selamat tahun baru untuk semua.

Aku menatap Rafael.

Ia hanya perlu berbicara.

Satu kalimat saja.

Cukup berkata:

“Bukan, dia bukan istri saya.”

Satu kata saja.

Tapi ia diam.

Ia membeku sesaat.

Lalu dengan cepat ia merapikan selendang Celina yang melorot dari bahunya.

Gerakannya lembut sekali.

Seolah ada sesuatu yang menghancurkan dadaku.

Di luar jendela, kembang api mulai meledak.

Seluruh kota bersorak.

Nico menatapku.

— Mama, kenapa pembawa acara bilang Tita Celina istri Papa?

Aku membuka mulut, tapi tenggorokanku kering.

Saat itu juga, ponselku menyala di meja.

Pesan dari Liza, intern yang membantu Rafael.

“Ate Maya, selamat tahun baru. Ibu sudah lebih baik?”

Aku menatap pesan itu.

Sebelum sempat membalas, pesan lain masuk.

“Katanya Kak Rafa bilang ibu sedang kambuh asma, jadi tidak bisa datang. Jadi beliau membawa Celina. Saya pikir ibu di rumah sakit, jadi tidak menelepon.”

Aku menatap kalimat: “jadi membawa Celina.”

Di ruang tamu kecil kami, suara kembang api dari TV terus bergema.

Tapi yang kudengar hanya detak jantungku yang perlahan runtuh.

Aku mengetik pelan.

“Benarkah Rafael yang mengatakan itu?”

Liza menjawab cepat.

“Iya, bahkan dia bilang ibu yang memberi kursi itu ke Celina karena sudah seperti saudara. Tim juga memuji ibu karena sangat pengertian.”

Pengertian.

Aku tertawa pelan.

Tawa kecil yang membuat Nico menatapku takut.

— Mama, kenapa?

Aku mematikan layar ponsel dan memeluk anakku.

— Tidak apa-apa. Mama hanya kedinginan.

Tapi aku tahu.

Sejak Rafael diam di depan seluruh negara, sesuatu dalam pernikahan kami sudah mati.

BAGIAN 2: Malam Penghargaan di Balai Kota Pasay

Satu minggu setelah malam Tahun Baru yang menghancurkan itu, sebuah acara gala formal diadakan di Balai Kota Pasay untuk merayakan keberhasilan proyek pengendalian banjir Rafael secara resmi. Kali ini, acara tersebut dihadiri oleh para pejabat tinggi pemerintahan, investor asing, dan awak media nasional.

Rafael tidak pulang ke rumah sejak malam itu, mengirim pesan singkat bahwa ia “terlalu sibuk dengan urusan pasca-proyek.” Namun, aku tidak lagi berdiam diri di apartemen kecil kami di Quezon City.

Malam itu, aku mengenakan gaun baro’t saya terbaikku yang berwarna putih gading—gaun yang kusimpan untuk hari kelulusan Nico nanti. Aku datang bersama Nico, menggandeng tangan kecilnya melewati barisan penjaga keamanan. Berkat kartu identitas keluarga pegawai yang masih kupegang, mereka tidak bisa menghentikanku.

Saat kami memasuki ruang ballroom yang megah, musik klasikal sedang mengalun. Di meja bundar utama, Rafael duduk berdampingan dengan Celina. Celina tampak anggun dengan gaun bersulam emas, tertawa kecil menanggapi ucapan seorang senator di depan mereka.

Langkah kakiku yang tegas terdengar di antara denting gelas pencuci mulut. Begitu Rafael melihatku dan Nico, senyum di wajahnya langsung lenyap. Wajahnya memucat seketika.

— “Maya? Kenapa kamu ada di sini? Dan kenapa membawa Nico ke acara formal seperti ini?” bisik Rafael setengah menghardik, sambil berdiri dan mencoba menarikku menjauh dari meja VIP.

Celina ikut berdiri, menatapku dengan pandangan meremehkan yang disembunyikan di balik senyuman manisnya. — “Ate Maya, jika kamu butuh uang bulanan tambahan, harusnya kamu bicara pada Rafael di rumah, bukan mengacaukan acara penting seperti ini. Ini malam reputasi Rafael.”

Beberapa pasang mata dari meja sebelah mulai menoleh ke arah kami. Pembawa acara di panggung bahkan bersiap untuk membuka sesi pidato kehormatan Rafael.

Aku melepaskan tangan Rafael yang mencengkeram pergelangan tanganku dengan sentakan kuat.

— “Aku tidak sedang mengacau, Engineer Mendoza,” kataku, suaraku cukup lantang hingga membuat keheningan perlahan merayap di meja-meja sekitar. — “Aku hanya datang untuk menyaksikan suamiku menerima penghargaan atas proyek yang ‘katanya’ dia bangun sendirian.”

BAGIAN AKHIR: Banjir Bandang Kebenaran

Sebelum Rafael sempat memanggil petugas keamanan, aku melangkah maju ke arah meja VIP utama, tepat di hadapan senator dan para investor asing. Aku mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam dari dalam tasku dan membukanya lebar-lebar.

— “Senator, para investor yang terhormat,” kataku dengan tenang namun tajam. “Proyek Flood-Guard Manila yang malam ini Anda beri penghargaan setinggi langit, bukanlah hasil pemikiran Rafael Mendoza. Dia hanyalah seorang pencuri yang memanfaatkan posisinya.”

— “Maya! Cukup! Kamu sudah gila karena cemburu!” teriak Rafael, wajahnya merah padam karena panik. Ia mencoba merebut berkas dari tanganku, namun Nico tiba-tiba berdiri di depan ayahnya, merentangkan kedua tangan kecilnya untuk melindungiku.

— “Jangan sentuh Mama, Papa!” teriak Nico dengan mata berkaca-kaca. Rafael tertegun, tangannya tertahan di udara.

Aku melempar isi map tersebut ke atas meja, tepat di depan plakat penghargaan emas milik Rafael. Lembaran-lembaran kertas itu adalah cetak biru asli, logbook penelitian, dan kode pemrograman sistem peringatan dini.

Bukti Otentik Kepemilikan Proyek Flood-Guard Manila:

  • Logbook Penelitian (2022-2025): Seluruh coretan tangan, algoritma matematika, dan skema pemetaan wilayah banjir ditulis oleh Maya Mendoza—yang merupakan lulusan terbaik Teknik Sipil UP Diliman sebelum melepas kariernya demi merawat Nico.
  • Hak Paten Digital: Kode enkripsi utama dari sistem peringatan dini tersebut terkunci dengan nomor registrasi atas nama Maya, bukan Rafael.
  • Dokumen Aliran Dana: Bukti transfer rahasia dari rekening proyek Rafael ke rekening pribadi Celina Villamor sebesar jutaan peso, yang dicatat sebagai “biaya konsultasi eksternal” fiktif.

— “Selama tiga tahun, aku terjaga hingga jam tiga pagi untuk menyelesaikan hitungan debit air dan simulasi digital ini sementara kamu tidur nyenyak, Rafael,” kataku, menatap lurus ke dalam matanya yang kini dipenuhi ketakutan. “Kamu bilang namaku akan ada di sana sebagai rekan desainer. Tapi kamu menghapusnya, memalsukan persetujuanku, dan menjual proyek ini seolah ini murni hasil jeniusmu.”

Celina mundur selangkah, wajahnya kehilangan rona. — “Ini… ini bohong! Rafael yang mengerjakan semuanya!”

— “Benarkah, Celina?” Aku tersenyum dingin, lalu menatap layar besar di panggung yang sedang menampilkan presentasi teknis proyek. “Jika ini proyek Rafael, biarkan dia menjelaskan di depan para investor sekarang juga: bagaimana formula integrasi sensor gelombang mikro di bagian hilir bekerja? Tanpa membaca catatanku, dia bahkan tidak tahu perbedaan frekuensi dasarnya.”

Rafael bungkam. Mulutnya terbuka namun tidak ada satu kata pun yang keluar. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Di depan seluruh pejabat dan investor asing yang menatapnya dengan pandangan menuntut penjelasan, sang “Engineer Mendoza” yang agung mendadak terlihat seperti anak kecil yang ketahuan mencuri.

Senator di meja utama berdiri dengan wajah tegang. — “Engineer Mendoza, apakah ini benar? Jika proyek vital negara ini melibatkan pemalsuan hak kekayaan intelektual dan penggelapan dana ke rekening pihak ketiga, ini adalah skandal kriminal besar.”

— “S-senator… saya…” Rafael terbata-bata, tubuhnya gemetar hebat.

Aku menggandeng tangan Nico, menatap Rafael dan Celina untuk terakhir kalinya. Di malam Tahun Baru lalu, dia membiarkan seluruh negeri mengira aku tidak pernah ada. Malam ini, aku memastikan seluruh negeri tahu bahwa tanpa aku, dia bukanlah siapa-siapa.

— “Selamat atas penghargaanmu, Rafael. Nikmati malam ini, karena besok pagi, pengacaraku dan tim audit kementerian akan menunggumu di balai kota,” kataku datar.

Aku berbalik dan berjalan keluar dari ballroom mewah itu bersama Nico. Di belakangku, jepretan kamera media mulai berkelebat gila-gilaan, bukan lagi untuk memuji, melainkan untuk mengabadikan kejatuhan sang insinyur gadungan. Di luar, udara Manila malam itu terasa begitu bersih dan lega, dan untuk pertama kalinya, aku tidak perlu lagi menjadi wanita yang “terlalu pengertian.”