Posted in

Aku dipanggil untuk bertugas di tengah malam demi membantu persalinan seorang wanita hamil, namun ternyata wanita itu adalah selingkuhan suamiku sendiri. Dan setelah itu, ada sebuah kenyataan yang terungkap hingga membuatku menangis tersedu-sedu…

Aku dipanggil untuk bertugas di tengah malam demi membantu persalinan seorang wanita hamil, namun ternyata wanita itu adalah selingkuhan suamiku sendiri. Dan setelah itu, ada sebuah kenyataan yang terungkap hingga membuatku menangis tersedu-sedu…
Wanita hamil itu hampir gila karena ketakutan, wajahnya basah kuyup oleh keringat dingin:

“Di mana suamiku? Aku takut…”

Seorang perawat menenangkannya dengan lembut:

“Jangan khawatir, suamimu sedang menunggu di luar, dia tidak beranjak selangkah pun.”

“Di rumah sakit ini, kami sudah menyaksikan begitu banyak hubungan yang berantakan, jadi pria seperti dia benar-benar langka.”

Wanita hamil itu tersenyum tipis:

“Sejujurnya, kami berdua memiliki masa lalu. Istri pertamanya meninggal karena sakit.”

Tiba-tiba tanganku yang memegang jarum jahit terhenti.
“Tapi dia adalah orang yang sangat setia dalam hal perasaan. Setiap Hari Arwah, setiap tahun dia selalu mengunjungi makam istri pertamanya.”

Ya, dia memang sangat setia pada perasaannya sendiri.

Baru tiga hari yang lalu, dia mengatakan kepadaku bahwa dia harus terbang ke Cebu untuk perjalanan bisnis selama dua minggu, dan dia bahkan meneleponku melalui video call setiap hari.

Malam sebelumnya, saat kami video call, dia masih berada di kamar hotel dan mengatakan betapa dia sangat merindukanku.

Namun dini hari ini, aku melihat namanya di informasi kontak darurat wanita hamil ini.

Di kursi koridor luar, Adrian Reyes sedang menunduk sambil mengupas apel.

Dia mengupasnya dengan sangat hati-hati, kulit apelnya menyambung tanpa putus, bahkan dia tidak punya waktu untuk mendongak.

Padahal selama dua tahun pernikahan kami, tidak sekalipun dia pernah mengupaskan apel untukku.

Aku memanggil namanya, dan di saat itu juga, apel itu jatuh ke lantai.

Seluruh tubuhnya tampak lemas, dia merosot dari kursi dan terduduk di lantai.

“Is-istriku… Sayang? Bukankah kamu seharusnya ada di…”
Dia menunjukku, tapi tenggorokannya seolah tersumbat dan hampir tidak ada suara yang keluar.

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menyodorkan formulir yang harus ditandatangani, lengkap dengan tutup pulpen yang sudah terbuka.

“Tuan Reyes, tanda tangani ini.”

“Istrimu akan segera melahirkan.”

Wajah Adrian Reyes tiba-tiba pucat pasi.

Dia terduduk di lantai, dan ujung celananya cepat basah (karena keringat/gemetar).

Mulutnya bergerak
berulang kali, tapi tidak ada kata yang keluar.
“Tanda tangani.”
Aku mengulanginya lagi.
Suaraku sangat dingin, hampir tanpa emosi.
Tangannya gemetar saat mengambil pulpen, dan matanya tampak sangat nanar, seolah tidak punya tempat untuk lari.
“Maria, aku benar-benar bisa menjelaskan—”
“Aku tidak sedang memikirkan apa pun.”
Aku menunjuk bagian akhir formulir yang perlu ditandatangani:
“Tanda tangan di sini, di bagian anggota keluarga yang menyatakan bahwa Anda memahami informasi dan menyetujui formulir ini.”
Dia menunduk dan melihat namanya sudah tercetak di kolom berlabel “suami.”
Di sampingnya ada informasi sang ibu hamil.
Camille Santos, 26 tahun, persalinan pertama.
Ujung pulpennya menyentuh kertas, tapi dia masih belum bisa menandatanganinya.
“Maria, dengarkan penjelasanku dulu…”
Aku tidak memandangnya.
Aku merampas kertas itu dari tangannya dan aku sendiri yang menandatangani bagian kerabat.
“Tidak ada waktu untuk penjelasanmu, pembukaan serviksnya sudah hampir lengkap.”
Saat aku berbalik untuk pergi, dia dengan cepat mengulurkan tangan untuk menghentikanku.
Aku menghindar, dan tangannya hanya menangkap angin.
Di koridor luar, para perawat sibuk berlalu-lalang, beberapa penunggu pasien tampak menunduk di kursi panjang sambil memeluk termos air hangat, mengantuk di tengah dini hari.
Tidak ada yang melihat tangannya yang tiba-tiba menggapai.
Dan tidak ada yang tahu bahwa dokter wanita yang masuk ke ruang persalinan itu adalah istri sah dari pria yang mengantar wanita lain untuk melahirkan di lorong yang sama.

Aku mendorong pintu ruang persalinan dan masuk.

Lampu di dalam sangat menyilaukan.

Kami berada di bangsal bersalin St. Luke’s Medical Center di Quezon City, dalam dinginnya waktu sebelum fajar, dan bau antiseptik tercium tajam di udara.
Di balik jendela kaca koridor, lampu-lampu Metro Manila belum sepenuhnya padam.

Di tempat tidur persalinan ada seorang wanita yang sangat muda.
Wajahnya bulat, rambutnya yang basah karena keringat menempel di dahi, matanya memerah, dan kedua tangannya mencengkeram sprei dengan erat.

Melihatku, dia tersenyum penuh kecemasan:

“Dokter… saya takut.”

“Itu normal, rilekslah.”

Aku membungkuk dan membuka catatan medisnya.

Usia kehamilan 39 minggu 2 hari, posisi bayi bagus, catatan prenatal lengkap.

Yang menandatangani sebagai pendamping di semua pemeriksaan prenatalnya adalah Adrian Reyes.

Dari minggu ke-12 kehamilan hingga minggu ke-39, tidak sekalipun dia absen.

Aku berhitung diam-diam di dalam hati.

Sepuluh bulan yang lalu dia hamil.

Apa yang aku lakukan sepuluh bulan yang lalu?

Aku dan Adrian saat itu masih mendiskusikan apakah kami akan merapikan balkon kondominium kami di Bonifacio Global City, Taguig untuk menaruh beberapa pot bunga dan meja makan kecil.
Dia bilang iya, katanya sepulang dari perjalanan, dia akan mencari orang untuk mengerjakannya.

Tapi sampai sekarang, balkon itu tetap kosong.

Katanya, dia terlalu sibuk.

Ternyata, dia sibuk menemani wanita lain melakukan pemeriksaan kehamilan.
Aku menutup catatan itu dan mendekati tempat tidur persalinan.
Camille Santos mengulurkan tangannya kepadaku.
“Dokter, bolehkah Anda memanggil suami saya? Saya ingin dia menemani saya.”
Aku melihat ke arah tangannya.
Di jari manis kirinya melingkar sebuah cincin.
Sebuah cincin platinum dengan berlian kecil, dan ada kata-kata yang terukir di bagian dalamnya.

Aku tidak perlu melihatnya dari dekat untuk tahu apa yang terukir di sana.

Itu adalah cincin pernikahanku.

Tiga bulan yang lalu, Adrian bilang kepadaku bahwa dia menghilangkannya di gym kondominium, dan dia bilang sudah mencarinya berhari-hari sebelum akhirnya menyerah. Dia bahkan berjanji akan membelikanku yang baru.

Tapi sekarang, cincin itu ada di jari wanita lain.

Wanita yang terbaring di tempat tidur persalinan, memanggil suamiku sebagai suaminya juga.

Mengenakan cincin pernikahan milikku sendiri.
“Dokter?”

Camille mendongak menatapku dengan suara pelan.
Perlahan, aku menarik tanganku.

“Penunggu belum diperbolehkan masuk ke ruang persalinan untuk saat ini. Setelah kamu melahirkan, kami akan segera mengizinkannya masuk.”

Aku tersenyum padanya.

Dan dengan senyuman itu, seolah-olah tetes terakhir kekuatan yang tersisa di dalam diriku telah habis menguap….

Proses persalinan berjalan seperti mimpi buruk yang panjang. Setiap kali Camille mengejan dan berteriak kesakitan, setiap kali itu pula jantungku terasa seperti diiris sembilan bilah pisau. Aku menatap cincin pernikahan milikku di jarinya yang berkeringat. Cincin yang dulu dipasangkan Adrian di jariku dengan janji suci di hadapan Tuhan, kini melingkar di jari wanita yang melahirkan darah dagingnya.

Sebagai seorang dokter spesialis kandungan, aku selalu profesional. Aku mengesampingkan badai amarah dan kehancuran di dadaku demi menyelamatkan dua nyawa di atas meja operasi.

“Pintar, Camille. Satu dorongan kuat lagi… bayinya hampir keluar,” kataku, suaraku terdengar begitu datar dan mekanis, bahkan aku tidak mengenali suaraku sendiri.

Tepat saat azan subuh sayup-sayup terdengar dari kejauhan, suara tangisan bayi yang melengking memecah keheningan ruang persalinan St. Luke’s. Seorang bayi laki-laki yang sehat telah lahir.

“Selamat, bayinya laki-laki, tampan sekali,” kata perawat sambil membersihkan bayi itu.

Camille menangis bahagia, wajahnya yang pucat memancarkan binar seorang ibu. “Dokter… terima kasih. Tolong… panggil suami saya. Saya ingin dia melihat putranya.”

Aku hanya mengangguk pelan. Aku melangkah keluar dari ruang persalinan, melepas sarung tangan karetku yang bernoda darah, dan berjalan menuju koridor.

Kenyataan yang Meremukkan Jiwa

Di luar, Adrian masih terduduk di lantai, bersandarkan dinding dengan wajah hancur. Begitu melihat pintu terbuka, dia langsung melompat bangun.

“Maria… Camille… bagaimana?” tanyanya dengan suara serak, matanya merah penuh ketakutan—bukan hanya takut kehilangan bayinya, tapi takut kehilangan segalanya karena rahasianya telah terbongkar.

“Bayinya laki-laki. Sehat. Kamu bisa masuk,” kataku dingin, tanpa memandangnya.

Namun, sebelum Adrian sempat melangkah, seorang perawat senior dari bagian administrasi berlari menghampiriku sambil membawa sebuah berkas tebal yang baru diambil dari arsip rekam medis pusat.

“Dokter Maria, maaf mengganggu. Ada kejanggalan dalam pencatatan sistem jaminan kesehatan dan kartu keluarga yang diajukan oleh Tuan Reyes untuk pasien Camille Santos. Kami perlu verifikasi ulang karena nama Anda terdaftar sebagai istri sah di sistem pusat kami, sementara di sini…” Perawat itu menggantung kalimatnya, menatapku dan Adrian bergantian dengan wajah pucat.

Aku merebut berkas itu dari tangan perawat. Mataku menyapu lembar demi lembar dokumen. Dan di sanalah, di halaman paling belakang, aku melihat sebuah dokumen rahasia yang sengaja disembunyikan Adrian selama ini.

Itu adalah dokumen hukum asuransi jiwa, surat wasiat, dan persetujuan pengalihan seluruh aset atas namaku.

Di bawahnya terlampir sebuah surat keterangan medis resmi dari rumah sakit lain tertanggal satu tahun yang lalu. Surat itu menyatakan: Adrian Reyes divonis menderita kanker pankreas stadium akhir, dengan perkiraan harapan hidup tidak lebih dari delapan belas bulan.

Duniaku mendadak berhenti berputar. Buku-buku jariku memutih saat meremas kertas-kertas itu.

“Apa… apa maksudnya ini, Adrian?” tanyaku, suaraku bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi kutahan dengan sekuat tenaga, kini mulai merebak di pelupuk mataku.

Kebenaran di Balik Pengkhianatan

Adrian merosot berlutut di depanku. Dia tidak lagi menyembunyikan wajahnya. Air matanya mengalir deras, membasahi lantai rumah sakit yang dingin.

“Maafkan aku, Maria… Demi Tuhan, maafkan aku,” ratapnya, suaranya tercekat oleh tangis yang begitu menyakitkan. “Aku pengecut. Aku divonis mati tepat satu bulan setelah kita merencanakan merapikan balkon itu. Aku tahu kamu adalah wanita mandiri, tapi aku tidak ingin meninggalkanmu dalam keadaan hancur dan sendirian merawat pria yang sekarat.”

Aku menggelengkan kepala, air mataku tumpah ruah. “Lalu kenapa kamu bersama Camille?! Kenapa kamu punya anak dengannya?! Kenapa kamu memberikan cincinku padanya?!”

“Camille adalah sepupu mendiang istri pertamaku yang yatim piatu,” bisik Adrian dengan tubuh gemetar hebat. “Dia hamil karena diperkosa oleh mantan kekasihnya dan diusir oleh keluarganya. Dia hampir bunuh diri. Saat itu, aku tahu waktuku tidak lama lagi. Aku membutuhkan seseorang untuk menerima donor sperma atau mengadopsi anak itu secara hukum agar setelah aku mati, anak itu memiliki wali, dan Camille memiliki perlindungan finansial.”

Adrian meraih ujung jas dokterku dengan tangan gemetar. “Aku memalsukan status pernikahan kami di klinik prenatal hanya agar dia bisa mendapatkan fasilitas perawatan terbaik tanpa dipandang rendah sebagai ibu tunggal. Aku memberikan cincin itu… karena dia kehilangan cincin ibunya dan dia sangat ketakutan saat masuk ruang operasi. Aku berbohong padamu tentang gym… aku berbohong tentang perjalanan bisnis ke Cebu… padahal setiap minggu aku harus menjalani kemoterapi intensif di cabang rumah sakit lain agar kamu tidak melihat rambutku rontok…”

Dia membuka kancing kemejanya sedikit, memperlihatkan bekas luka operasi dan kulitnya yang menggelap akibat radiasi yang selama ini selalu dia sembunyikan dariku dengan alasan “selalu memakai baju lengan panjang karena dingin.”

“Semua harta, kondominium di BGC, dan tabunganku… semuanya sudah resmi atas namamu di surat wasiat ini, Maria. Aku tidak memberikan satu sen pun untuk Camille selain biaya rumah sakit ini. Aku hanya ingin melakukan satu perbuatan baik sebelum aku mati untuk menyelamatkan seorang ibu dan bayinya. Tapi aku terlalu bodoh… aku malah menghancurkan hati wanita yang paling kucintai di dunia ini…”

Tangisan di Lorong Rumah Saki

Mendengar kenyataan itu, pertahanan diriku runtuh sepenuhnya. Lututku lemas dan aku ikut jatuh terduduk di lantai koridor rumah sakit yang dingin, tepat di hadapan suamiku.

Aku menangis tersedu-sedu, menutupi wajahku dengan kedua tangan. Suara tangisanku bergema di lorong sunyi St. Luke’s sebelum fajar menyingsing.

Rasa sakit karena dikhianati seketika berubah menjadi rasa bersalah dan kesedihan yang teramat masif. Pria yang kukira berselingkuh dan mencuri cincin pernikahanku, ternyata adalah pria yang sedang menghitung hari menuju kematiannya, yang berusaha melindungi masa depanku sambil menanggung penderitaan kankernya sendirian di dalam kegelapan.

“Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku, Adrian? Aku ini istrimu… aku ini dokter!” jeritku di sela tangis, memukul dadanya yang kini terasa begitu kurus. “Kita bisa menghadapinya bersama! Kenapa kamu membiarkan aku membencimu?!”

Adrian memelukku dengan sisa-sisa kekuatan tubuhnya yang digerogoti kanker. Dia mencium rambutku, ikut menangis tersedu-sedu. “Karena aku ingin kamu membenciku, Maria… Jika kamu membenciku saat aku pergi, kematianku tidak akan membuatmu menangis se-hancur ini. Tapi aku salah… aku salah…”

Di bawah pendar lampu koridor rumah sakit, di tengah tangisan bayi yang baru lahir di dalam ruangan, kami berdua berpelukan erat di lantai. Menangisi sisa waktu yang tidak banyak lagi, menangisi kesalahpahaman yang kejam, dan meratapi takdir yang siap memisahkan kami untuk selamanya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.