*AKU DISEBUT WANITA TAK TAHU MALU YANG RAKUS BERJUDI KARTU OLEH SELURUH WARGA KAMPUNG—HINGGA SUATU HARI SEORANG CEO MENGAJAKKU NAIK KE SUV-NYA UNTUK BERPURA-PURA MENJADI PACARNYA SAAT MALAM TAHUN BARU, DAN KETIKA AKU MENARIK KELUAR SATU RATU YANG TERSEMBUNYI, SELURUH KELUARGANYA LANGSUNG PUCAT**
**Bagian 1 — Kukira yang Kuberikan Hanya Diam Demi Uang, Sampai Basti Membawaku ke Rumah Tua di Alfonso dan Aku Menemukan Surat yang Sudah Ditandatangani, Padahal Ibunya Tak Pernah Sekali Pun Membubuhkan Tanda Tangan di Sana**
Sejak kecil, aku lebih cepat belajar menghitung kartu daripada menghafal tabel perkalian.
Saat anak-anak lain di San Juan, Batangas, bermain lompat tali dan petak umpet di jalanan, aku justru duduk di sudut meja kayu tua milik Ayah, memperhatikan tangan para sopir becak motor, petani, dan para pria tua yang menghabiskan waktu bermain **Tong-its**.
Saat berusia sembilan tahun, aku sudah tahu siapa yang sedang menggertak.
Saat berusia dua belas tahun, aku sudah bisa menebak siapa yang sedang menunggu kartu As.
Dan ketika usiaku lima belas tahun, aku mampu mengetahui kartu mana yang baru saja diselipkan ke dalam dek hanya dari bunyinya saat menyentuh meja.
Itu bukan bakat yang dibanggakan Ibuku.
Justru itulah alasan mengapa ia meninggalkan kami.
“Kamu membesarkan anak kita dengan perjudian!” teriaknya kepada Ayah suatu malam.
“Aku tidak pernah memaksanya!” balas Ayah.
“Kamu tidak perlu memaksa! Dia menjadikanmu panutan!”
Keesokan harinya, Ibu pergi.
Dua bulan kemudian, Ayah mengantarkanku ke rumah Nenek di kampung dan meninggalkanku begitu saja, seolah-olah aku hanyalah sekarung beras yang tak lagi ingin ia pikul.
Sebelum naik angkot, hanya satu kalimat yang ia ucapkan.
“Kamulah penyebab keluarga kita hancur.”
Selama sebelas tahun, kata-kata itu terus kupendam di dalam dada.
Namun aku tidak menangis di hadapannya.
Aku tidak mengejarnya.
Aku hanya kembali ke halaman rumah, menaburkan pakan ayam milik Nenek, lalu malam itu juga mengalahkan tiga orang tua yang dulu mengajariku bermain Tong-its.
Sejak saat itu, orang-orang memanggilku **Ratu Kartu dari San Juan**.
Bukan karena aku kaya.
Bukan karena aku cantik.
Melainkan karena tak seorang pun berani bermain kartu denganku jika ada taruhan.
Saat emosi mereka memuncak, mereka memanggilku dengan sebutan lain.
Perempuan rakus.
Tidak berpendidikan.
Wanita tanpa masa depan.
Bahkan suatu kali seorang tetangga tua berkata saat aku membeli roti di warung,
“Mara, menikahlah selagi masih muda. Kalau nanti sudah tua begini, bahkan pemabuk pun tak akan mau padamu.”
Aku hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa, Pak. Harga pakan ayam saja masih lebih mahal daripada harga diri kebanyakan pria yang saya kenal.”
Ia langsung terdiam.
Begitulah hidupku hingga suatu sore di bulan Desember, dua hari sebelum malam pergantian tahun.
Saat itu sedang ada pesta rakyat di kampung.
Di pinggir alun-alun berdiri sebuah stan permainan bernama **Lucky Three Cards**. Caranya sederhana: pasang taruhan **Rp500.000**, pilih satu kartu, dan jika mendapatkan kartu Ratu, hadiahmu menjadi tiga kali lipat.
Hampir sepuluh orang sudah kalah ketika aku tiba.
Aku memperhatikan mereka semua berteriak.
“Curang!”
Namun pria yang menjaga meja itu hanya tertawa.
“Kalau kalah langsung bilang curang? Mungkin mata kalian saja yang kurang awas!”
Aku berhenti.
Kupandangi tiga kartu di atas meja.
Lalu kupandangi kuku ibu jarinya.
Ada sepotong kecil perekat bening menempel di sana.
Aku tersenyum.
“Bang, satu kali main.”
Ia tertawa ketika melihat sandal jepit dan celana pendekku yang sudah pudar warnanya.
“Memang kamu punya uang?”
Aku meletakkan **Rp500.000** di meja.
Ia mulai mengocok tiga kartu.
Tangannya sangat cepat.
Sangat, sangat cepat.
Namun belum cukup cepat.
Aku menunjuk kartu di tengah.
Saat dibuka, ternyata As.
Orang-orang langsung tertawa.
“Kalah!”
Aku mengangguk.
“Sekali lagi.”
Ia kembali mengocok kartu.
Aku memilih kartu di sebelah kanan.
As lagi.
Gelak tawa semakin keras.
Pada percobaan ketiga, bahkan sebelum ia sempat mengocok kartu, aku meraih pergelangan tangannya.
“Tunggu sebentar.”
Senyumnya langsung menghilang.
Pelan-pelan kubalik ketiga kartu di atas meja.
Ketiganya adalah kartu As.
Suasana di sekeliling kami langsung sunyi.
Lalu aku menekan ibu jarinya.
Satu kartu **Ratu** ternyata menempel di bagian bawah ibu jarinya.
Alun-alun seolah meledak.
“Curang!”
“Kembalikan uang kami!”
“Panggil petugas keamanan!”
Saat orang-orang beramai-ramai mengepungnya, aku membeli beberapa tusuk bakso ikan dari pedagang di sebelah dan mencelupkannya ke saus manis.
Saat itulah aku melihat seorang pria berdiri di samping sebuah SUV hitam.
Tubuhnya tinggi.
Mengenakan kemeja polo putih.
Lengan bajunya digulung hingga siku.
Ia tampak seperti orang yang tidak terbiasa dengan debu kampung, tetapi jelas sudah lama memperhatikanku.
Ia menghampiri.
“Namamu Mara Villanueva?”
Aku menggigit bakso ikan.
“Tergantung. Apa aku punya utang sama Anda?”
Ia tidak tersenyum.
“Sebastian de Leon. Panggil saja Basti.”
Ia menyerahkan sebuah kartu nama.
Ternyata ia adalah CEO sebuah perusahaan logistik rantai dingin di Tagaytay.
Aku melihat kartu nama itu.
Melihat dirinya.
Lalu melihat SUV hitamnya sekali lagi.
“Saya tidak bisa menyetir truk.”
“Saya tidak merekrut sopir.”
“Saya juga tidak bisa pembukuan.”
“Itu juga bukan.”
“Lalu?”
Ia menarik napas panjang.
“Saya butuh seorang pacar.”
Aku langsung tersedak bakso ikan.
“Apa?!”
“Hanya pura-pura.”
Aku spontan mundur selangkah.
“Itu malah lebih parah!”
Untuk pertama kalinya, ia tertawa.
Dua puluh menit kemudian, kami sudah duduk di sebuah warung makan sederhana.
Di hadapanku tergeletak sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat uang tunai **Rp60.000.000**.
Uang muka.
“Keluargaku mengadakan reuni malam Tahun Baru di rumah leluhur kami di Alfonso, Cavite,” jelasnya. “Setiap tahun, setelah makan malam selesai, mereka bermain Tong-its, Pusoy, bahkan kadang Mahjong.”
“Lalu?”
“Dan setiap tahun, ibuku selalu kalah.”

“Sebesar apa?”
Ia tidak langsung menjawab.
“Hanya dari uang saja, kerugiannya sudah lebih dari **Rp1.800.000.000** dalam lima tahun.”..
“Dan tahun ini,” lanjut Basti, matanya menggelap menatap cangkir kopinya yang mendingin, “paman-pamanku berniat menuntut bagian saham ibuku di perusahaan sebagai pelunasan utang judi tersebut. Mereka menjebaknya, Mara. Ibuku bukan penjudi ulung, dia hanya seorang wanita tua yang kesepian dan terlalu naif untuk melihat bahwa saudara-saudaranya sendiri sedang menguras hartanya.”
Aku mengetuk-ngetukkan jari di atas meja warung, menghitung ritme. Rp60.000.000 sebagai uang muka hanya untuk menjadi pacar sewaan seorang CEO selama satu malam, ditambah kesempatan untuk mengacak-acak meja judi orang kaya?
“Jadi, Anda ingin saya menjadi jimat keberuntungan ibu Anda?” tanyaku.
“Lebih dari itu,” Basti mencondongkan badannya ke depan. “Aku ingin kamu menghancurkan mereka di meja judi. Buat mereka tidak berkutik sampai mereka tidak punya pilihan selain membatalkan semua surat utang itu. Aku tahu reputasimu di San Juan. Kamu tidak pernah kalah.”
Aku menatap amplop tebal di depanku, lalu tersenyum tipis. “Kesepakatan tercapai, Pak CEO. Tapi ingat, di depan keluargamu, aku adalah kekasihmu yang sangat mencintaimu, bukan seorang joki kartu.”
Bagian 2 — Rumah Tua di Alfonso dan Aroma Kebohongan yang Menyengat
Malam Tahun Baru tiba. SUV hitam Basti membelah kabut tebal yang menyelimuti Alfonso, Cavite. Kami berhenti di depan sebuah rumah leluhur bergaya kolonial Spanyol yang megah namun terasa dingin. Lampu-lampu kristal gantung menerangi aula utama, tempat belasan orang berpakaian glamor sedang tertawa sambil memegang gelas sampanye.
Basti menggandeng tanganku erat. Aku sudah menukar celana pendek pudarku dengan gaun malam sederhana berwarna hitam yang dibelikan Basti. Rambutku disanggul rapi. Tak ada yang akan mengira bahwa wanita di sebelah Sebastian de Leon ini adalah ‘wanita tak tahu malu’ yang biasa mangkal di lapak judi Batangas.
“Kenalkan, ini Mara,” ucap Basti saat membawaku ke hadapan ibunya, Ny. Evelyn de Leon, seorang wanita paruh baya berwajah teduh namun pancaran matanya menyiratkan kelelahan yang amat sangat.
“Senang bertemu denganmu, Sayang,” bisik Ny. Evelyn tulus. Namun belum sempat kami berbincang lebih jauh, seorang pria gemuk dengan cerutu di jarinya menyela. Itu Paman Tito, otak di balik kekalahan judi Ny. Evelyn selama ini.
“Ah, Basti! Akhirnya kamu membawa seseorang,” sindir Paman Tito sambil melirik gaun murahku dengan pandangan merendahkan. “Bagaimana kalau kita langsung ke agenda utama keluarga kita setelah makan malam? Meja Pusoy Dos sudah siap di ruang belakang. Ibumu punya beberapa ‘kewajiban’ yang harus diselesaikan malam ini.”
Makan malam berlangsung tegang. Dan tepat pukul sepuluh malam, kami semua berkumpul di sebuah ruangan besar berpanel kayu jati. Di tengah ruangan, sebuah meja hijau lingkaran telah menanti.
Ny. Evelyn duduk dengan gugup. Paman Tito dan dua bibi Basti mengambil tempat. Basti berdiri di belakang ibunya, sementara aku duduk di kursi penonton tepat di samping Basti, berpura-pura menjadi kekasih yang manis.
Permainan dimulai. Dalam tiga putaran pertama, Ny. Evelyn langsung kehilangan ratusan juta rupiah. Tangannya bergetar setiap kali memegang kartu. Aku memperhatikan cara Paman Tito membagikan kartu. Sangat rapi, tapi matanya selalu melirik ke arah cermin besar berbingkai emas di belakang Ny. Evelyn.
Ah, trik murahan, batinku. Cermin itu memantulkan sedikit sudut kartu milik Ny. Evelyn jika posisinya terlalu tegak.
Pada putaran keempat, saat taruhan membubung tinggi, aku sengaja menyenggol cangkir teh Basti hingga tumpah sedikit ke arah meja.
“Oh, maaf! Saya ceroboh sekali,” kataku panik yang dibuat-buat.
“Tidak apa-apa, biar pelayan yang bersihkan,” sahut Paman Tito kesal karena ritmenya terganggu.
Saat perhatian teralih, aku berbisik di telinga Ny. Evelyn yang sedang memegang tisu, “Tundukkan kartumu lebih rendah, Nyonya. Dan saat giliran Anda membuang kartu, biarkan saya yang memilihkan satu.”
Ny. Evelyn memandangku terkejut, namun entah karena keputusasaan atau melihat keyakinan di mataku, dia mengangguk pelan.
Bagian 3 — Satu Ratu yang Mengubah Permainan
Permainan meninggi hingga puncaknya pada pukul 23.45. Paman Tito tersenyum lebar. Di atas meja, tumpukan chip dan beberapa sertifikat tanah sudah bertumpuk.
“Evelyn, kartu-kartumu malam ini buruk sekali,” ujar Paman Tito sambil meletakkan kombinasi kartu yang sangat kuat di meja—sebuah Full House. “Kecuali kamu bisa mengeluarkan Royal Flush atau empat kartu sejenis, sahammu malam ini resmi menjadi milikku. Tandatangani surat penyerahan ini.”
Ia menyodorkan secarik kertas di atas meja. Aku melihat surat itu. Surat perjanjian utang-piutang keluarga De Leon.
Namun, mataku yang tajam menangkap sesuatu yang aneh pada tumpukan surat di folder dokumen Paman Tito yang sedikit terbuka. Di sana ada surat lama bertahun-tahun lalu—surat pernyataan utang yang kabarnya telah ditandatangani oleh Ny. Evelyn. Di bawahnya tertera tanda tangan rapi: Evelyn de Leon.
Aku tertegun. Basti pernah bercerita padaku bahwa ibunya menderita tremor parah di tangan kanannya sejak sepuluh tahun lalu, sehingga ia tak pernah sekali pun bisa membubuhkan tanda tangan yang rapi dan lurus. Setiap dokumen perusahaan selalu menggunakan cap jempol atau tanda tangan digital yang diverifikasi bank.
Surat itu palsu. Mereka memalsukan seluruh utang masa lalu ibunya!
Aku tidak bisa diam lagi. Aku berdiri dari kursiku, melangkah maju, dan langsung menahan tangan Ny. Evelyn yang hendak mengambil pena.
“Jangan ditandatangani, Ibu,” kataku, mengubah panggilan dengan tegas.
“Hei! Wanita kampung, apa yang kamu lakukan? Jangan ikut campur urusan keluarga kami!” bentak Paman Tito, wajahnya memerah.
Aku tidak memedulikannya. Aku menatap langsung ke dek kartu yang tersisa di tangan Paman Tito yang bertindak sebagai pembagi kartu. Aku tahu persis matematika di dalam dek itu. Paman Tito telah menyembunyikan satu kartu krusial di balik lengan kemejanya untuk memastikan kemenangan mutlaknya.
“Basti, tolong ambilkan folder dokumen di samping pamanmu,” ujarku tenang. Basti yang sigap langsung merebut folder tersebut sebelum Paman Tito sempat menghalanginya.
“Paman Tito,” kataku sambil tersenyum dingin, berjalan memutari meja. “Permainan ini belum selesai. Ibu Evelyn masih punya satu kartu tertutup di tangannya yang belum dibuka. Dan mengenai surat-surat utang ini… Basti, coba periksa tanda tangan ibumu di surat tahun 2022. Sangat rapi, bukan? Padahal tangan ibumu bergetar sejak 2016.”
Mendengar itu, wajah Paman Tito dan bibi-bibi Basti langsung pucat pasi. Beberapa anggota keluarga yang menonton mulai berbisik-bisik.
“Kau bicara omong kosong apa?!” teriak Paman Tito, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. “Buka kartunya kalau berani! Dia sudah kalah!”
“Baik, mari kita selesaikan permainannya,” aku mendekati meja. Dengan gerakan kilat yang biasa kulakukan di San Juan, aku menarik pergelangan tangan kanan Paman Tito yang memegang cerutu, lalu mengetuk siku bagian dalamnya.
Plop.
Sebuah kartu terjatuh dari balik lipatan lengan kemeja mahalnya ke atas meja hijau.
Kartu Ratu Sekop (Queen of Spades).
Kartu yang sengaja ia sembunyikan untuk memanipulasi hasil akhir agar Ny. Evelyn tidak bisa membalas kombinasi kartunya.
Aku mengambil kartu Ratu tersebut, lalu meletakkannya di atas susunan kartu milik Ny. Evelyn, mengubah kombinasi kartunya menjadi Straight Flush tertinggi yang otomatis mematahkan Full House milik Paman Tito.
“Satu Ratu yang tersembunyi,” bisikku sambil menatap seluruh keluarga De Leon yang kini berdiri mematung dengan wajah seputih kapas. “Permainan berakhir. Ibu Evelyn menang, dan seluruh utang ini batal demi hukum karena manipulasi serta pemalsuan dokumen.”
Bagian 4 — Akhir yang Baru
Pukul dua dini hari, rumah tua di Alfonso itu mendadak sepi setelah Basti mengancam akan membawa seluruh bukti pemalsuan tanda tangan dan kecurangan judi ini ke jalur hukum. Paman Tito dan kroninya pergi malam itu juga, membawa kekalahan memalukan dan ketakutan akan penjara.
Kami bertiga duduk di teras depan, memandangi kembang api Tahun Baru yang mulai menyala di langit Tagaytay dari kejauhan.
Ny. Evelyn menggenggam tanganku erat, air matanya menetes, kali ini karena lega. “Terima kasih, Mara. Kamu menyelamatkan hidupku dan kehormatan keluarga ini.”
“Saya hanya melakukan apa yang saya bisa dengan kartu, Nyonya,” jawabku tulus.
Basti berjalan mendekat, meletakkan secangkir cokelat hangat di depanku. Ia menatapku dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari saat pertama kali kami bertemu di alun-alun kampung. Tidak ada lagi pandangan transaksional.
“Uang sisa pembayaranmu sudah kutransfer, Mara,” kata Basti pelan. “Tapi… kurasa kontrak kita sebagai pacar pura-pura harus kita batalkan.”
Aku tertegun, sedikit kecewa yang kusembunyikan di balik senyuman. “Oh, begitu? Baiklah, tugas saya memang sudah selesai.”
“Bukan begitu maksudku,” Basti duduk di sebelahku, meraih tanganku yang biasa mengocok kartu dengan kasar, namun malam itu terasa sangat hangat di genggamannya. “Aku ingin memulainya lagi. Bukan sebagai sandiwara, dan bukan karena uang. Aku ingin kamu tetap di sisiku, Mara. Nyata.”
Aku menatap langit malam yang benderang oleh kembang api. Selama bertahun-tahun, aku disebut wanita tak tahu malu dan penjudi tanpa masa depan oleh seluruh warga kampung. Namun malam ini, di leherku tak lagi ada beban kata-kata kutukan masa lalu. Aku memandang Basti, tersenyum, dan tahu bahwa kartu terbaik dalam hidupku baru saja kubuka.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.