**AKU LUPA MEMBERITAHU MERTUAKU BAHWA ADA KAMERA TERSEMBUNYI DI RUMAH PERTANIAN WARISAN ALMARHUM NENEKKU. SAAT MENONTON REKAMANNYA, AKU MELIHAT DIA DENGAN SENANG HATI MENUANGKAN CAIRAN DISINFEKTAN KE MAKANAN KAMI DAN MENCURI PERHIASAN KELUARGA. KEESOKAN HARINYA, AKU MENUNJUKKAN KEPADANYA KARMA YANG SEBENARNYA TANPA BANTUAN POLISI.**
# Warisan dan Mertua yang Penuh Kepura-puraan
Rumah pertanian di pedesaan adalah satu-satunya warisan yang ditinggalkan almarhumah Nenek Rosa untukku. Tempat itu adalah tempat pelarianku, rumah yang dipenuhi kenangan indah masa kecilku. Ketika Nenek meninggal bulan lalu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk merawat rumah itu sebaik mungkin.
Karena itu, aku dan suamiku, Mark, memutuskan menghabiskan akhir pekan di sana untuk membersihkan dan merapikan rumah. Mertuaku, Nyonya Agatha, bersikeras ikut bersama kami.
Sejak aku menikah dengan Mark, aku tahu Nyonya Agatha tidak pernah menyukaiku. Ia selalu melontarkan sindiran tajam yang dibungkus senyum manis. Namun hari itu, ia bersikap luar biasa ramah. Ia bahkan menawarkan diri untuk mengurus dapur dan menata barang-barang di rumah.
Yang tidak diketahui Nyonya Agatha—dan yang lupa kuberitahukan kepada Mark—adalah bahwa sebelum Nenek Rosa meninggal, aku memasang beberapa kamera tersembunyi kecil di berbagai sudut rumah (kecuali kamar mandi) demi keamanan karena Nenek tinggal sendirian. Kamera-kamera itu masih terhubung ke ponselku.
# Rahasia di Tengah Malam
Sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun karena haus. Aku hendak turun ke dapur ketika mencium aroma aneh yang sampai ke tangga. Bau bahan kimia yang sangat kuat. Bau pemutih dan disinfektan.
Aku mengernyitkan dahi. Lalu mengambil ponsel dan membuka aplikasi keamanan untuk melihat apakah ada seseorang di bawah.
Saat tayangan kamera dapur muncul di layar, jantungku hampir berhenti berdetak.
Aku melihat Nyonya Agatha. Ia mengenakan jubah sutra dan sama sekali tidak menyadari bahwa kamera sedang merekamnya. Di tangannya ada botol besar cairan disinfektan pembersih lantai.
Dengan senyum tenang di wajahnya, ia perlahan menuangkan cairan kimia itu ke dalam karung beras yang baru kami beli. Ia juga membuka wadah tepung, gula, dan tempat air minum, lalu meneteskan cairan itu ke semuanya satu per satu.
Yang membuatku semakin ngeri, ia bahkan bersenandung riang sambil melakukannya.
Tanganku gemetar karena marah. Ia sengaja merusak makanan kami. Mungkin untuk menghancurkan liburan kami, atau lebih buruk lagi, membuat kami keracunan dan sakit agar Mark menganggap rumah warisan nenekku “kotor” dan “berbahaya”, lalu memaksaku menjualnya.
Aku lalu memindahkan tayangan kamera ke kamar utama—kamar lama milik Nenek Rosa.
Nyonya Agatha masuk ke sana. Ia berlutut di samping lemari tua dan berusaha mengangkat papan lantai yang longgar. Ia tahu rahasia Nenek!
Dari bawah lantai, ia mengambil sebuah kotak perhiasan kayu berukir. Di dalamnya tersimpan perhiasan antik dan emas peninggalan Nenek Rosa yang dipercayakan kepadaku.

Sambil tersenyum lebar, Nyonya Agatha membuka kotak itu. Ia mengambil kalung-kalung mahal dan mutiara berharga, memasukkannya ke dalam tas desainer mewah miliknya, lalu membuang kotak kayu itu ke tempat sampah.
Sepanjang malam, ia tersenyum puas sambil menghancurkan dan merusak segala sesuatu yang paling berharga bagiku.
Pagi harinya, aku turun ke lantai bawah dengan wajah paling tenang yang bisa kupasang. Di meja makan, Nyonya Agatha sudah duduk manis bersama Mark, menikmati teh yang (untungnya) ia bawa sendiri dari kota.
“Selamat pagi, Menantuku tersayang,” sapanya dengan senyum paling polos sedunia. “Tidurmu nyenyak? Ibu sudah merapikan dapur dan melihat-lihat rumah. Rumah ini agak… berdebu. Ibu khawatir akan kesehatan kalian.”
“Oh ya? Terima kasih banyak, Ibu. Ibu baik sekali,” jawabku, membalas senyumnya tidak kalah manis.
Saat Mark pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap, aku mendekati Nyonya Agatha yang sedang asyik memoles kuku jarinya. Aku membungkuk, berbisik tepat di telinganya.
“Ibu, semalam aku melihat tikus besar di rumah ini. Tikus itu suka sekali mengendus-endus di bawah papan lantai kamar Nenek. Dan anehnya, tikus itu baunya seperti cairan pembersih lantai.”
Wajah Nyonya Agatha seketika menegang. Gerakan tangannya terhenti. “Apa… apa maksudmu?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum, menepuk bahunya, lalu berjalan ke bagasi mobilnya yang kebetulan terbuka karena Mark sedang memasukkan beberapa peralatan kerja. Di sana, tas desainer mewah milik Nyonya Agatha tergeletak manis. Dengan gerakan cepat dan tanpa suara, aku membuka resletingnya, mengambil kembali seluruh perhiasan emas dan kalung mutiara Nenek, lalu menggantinya dengan sebotol penuh cairan disinfektan pembersih lantai yang ia gunakan semalam.
Jamuan Makan Siang yang Istimewa
Siang harinya, sebelum kami bersiap pulang ke kota, aku mengumumkan bahwa aku telah memasak makan siang spesial sebagai bentuk terima kasih atas “bantuan” Nyonya Agatha di dapur.
Aku menghidangkan sepiring besar nasi goreng hangat, ayam kecap, dan sup jagung di atas meja. Aroma masakannya sangat menggugah selera. Mark langsung duduk dengan penuh semangat, sementara Nyonya Agatha menatap makanan itu dengan tatapan penuh kecurigaan dan ketakutan yang luar biasa. Wajahnya yang tadi merona kini pucat pasi.
“Ayo makan, Ibu. Ini khusus kubuat dari bahan-bahan di dapur yang sudah Ibu ‘rapikan’ semalam,” kataku sambil menyendokkan nasi goreng dan sup dalam porsi besar ke piringnya.
“I-ibu sedang tidak nafsu makan, Celina. Perut Ibu agak kurang nyaman,” tolaknya dengan suara bergetar, mendorong piringnya menjauh.
“Lho, Ibu harus makan. Ibu kan sudah lelah semalam… berjalan-jalan di dapur jam dua dini hari, menuangkan sesuatu?” sahutku santai sambil menyandarkan punggung ke kursi.
Mark menghentikan sendoknya yang baru mau menyuap makanan. “Jam dua dini hari? Ibu ngapain ke dapur?”
“M-Mark, jangan dengarkan dia! Dia menuduh Ibu yang bukan-bukan!” Nyonya Agatha panik, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Aku mengeluarkan ponselku, lalu memutar video rekaman CCTV dapur dengan volume maksimal. Suara gemercik cairan disinfektan yang dituang ke dalam karung beras dan senandung riang Nyonya Agatha terdengar sangat jelas di ruang makan yang mendadak sunyi itu.
“Ibu…?” Mark terbelalak, menatap layar ponselku lalu menatap ibunya dengan pandangan tidak percaya dan jijik. “Ibu meracuni makanan kami?!”
“Bukan begitu, Mark! Ibu cuma… Ibu cuma mau membersihkan wadahnya! Rumah ini kotor!” Nyonya Agatha histeris, berdiri dari kursinya hingga kursinya terjatuh ke belakang.
“Cukup, Ibu!” bentak Mark, suaranya menggelegar. “Ini keterlaluan! Ibu bisa membunuh kami!”
Karma yang Instan dan Sempurna
“Tenang, Mark. Jangan marah dulu. Makanan yang di meja ini semuanya aman kok. Aku membelinya di pasar desa subuh tadi menggunakan uangku sendiri,” kataku sambil tersenyum dingin menatap mertuaku. “Tapi, semua bahan makanan yang ada di dapur saat ini… sudah tercampur racun akibat ulah Ibu sendiri.”
Aku berjalan mendekati Nyonya Agatha yang sedang gemetar ketakutan.
“Ibu tahu? Aku tidak akan memanggil polisi. Karena jika Ibu dipenjara, Ibu hanya akan duduk diam dan diberi makan gratis. Itu bukan karma yang adil untuk perbuatan keji Ibu.”
Aku mengambil kunci mobil milik Nyonya Agatha dari atas meja.
“Mulai detik ini, Mark akan ikut denganku pulang ke kota. Dan Ibu? Ibu akan tetap tinggal di rumah pertanian ini sendirian selama satu minggu ke depan untuk ‘merawat’ rumah ini, seperti yang Ibu inginkan.”
“Apa?! Kamu tidak bisa meninggalkanku di tempat terpencil ini tanpa mobil!” teriaknya.
“Tentu saja bisa. Oh, dan satu lagi,” aku tersenyum sangat lebar, “karena Ibu sudah merusak seluruh pasokan makanan dan air di rumah ini dengan cairan kimia, maka Ibu harus bertahan hidup dengan apa yang ada. Ibu bisa berjalan kaki lima kilometer ke pasar desa jika lapar. Dan jangan harap bisa meminta bantuan, karena semua fasilitas komunikasi di rumah ini sudah kumatikan, dan aku akan memegang ponsel Ibu.”
Nyonya Agatha langsung berlari ke arah tas desainer mewahnya di bagasi mobil, berniat mengambil perhiasan curiannya untuk ongkos melarikan diri atau menyewa taksi. Namun saat ia membuka tasnya, yang ia temukan hanyalah botol disinfektan lantai miliknya sendiri yang menggelinding keluar.
“Perhiasanku!! Mana perhiasannya?!” jeritnya frustrasi.
“Itu perhiasan Nenekku, Nyonya Agatha. Dan sekarang, selamat menikmati liburan satu minggu di rumah pertanian yang ‘bersih’ ini. Jangan lupa habiskan air minumnya,” kataku dingin.
Mark tidak mengatakan sepatah kata pun untuk membela ibunya. Ia masuk ke dalam mobilku dengan wajah kecewa yang teramat dalam. Kami melesat pergi meninggalkan rumah pertanian itu, meninggalkan Nyonya Agatha yang terduduk lemas di halaman rumput, menangisi kebodohannya sendiri, terkunci di tengah pedesaan tanpa uang, tanpa kendaraan, dan tanpa makanan yang aman untuk dimakan.