Posted in

Aku menyembunyikan anakku dari ayahnya selama empat tahun… tetapi hanya karena satu pertemuan bisnis, semuanya hampir terbongkar.

Aku menyembunyikan anakku dari ayahnya selama empat tahun… tetapi hanya karena satu pertemuan bisnis, semuanya hampir terbongkar.

Hujan turun deras di Jakarta sekitar pukul tiga dini hari.

Pantulan lampu neon berkilauan di jalanan yang basah saat aku memeluk Miko erat di dadaku. Tubuh kecilnya gemetar karena demam tinggi yang terasa seperti api yang perlahan membakar dirinya.

— Darurat… untuk anak, tolong…

Aku berbicara cepat kepada perawat sambil berusaha menahan suaraku yang bergetar.

Pelukanku semakin erat ketika kurasakan tubuh Miko yang hampir tidak sanggup berbicara karena panas yang luar biasa.

Dahinya menempel di leherku.

Sangat panas.

Setiap tarikan napasnya terdengar berat dan melelahkan.

Tanganku gemetar saat melihat termometer yang menunjukkan angka 40 derajat.

— Mama… panas sekali…

Bisiknya pelan.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti merobek dadaku.

— Sebentar lagi, Nak… kita hampir sampai…

Aku mencoba menenangkannya, meskipun sebenarnya aku sendiri tidak yakin masih bisa tetap tenang.

Ruang gawat darurat penuh sesak.

Udara terasa berat.

Namun hanya tinggal dua nomor lagi sebelum giliran kami dipanggil.

Aku memaksa diriku mengendalikan rasa takut yang hampir mencekikku.

Akhirnya nama kami dipanggil.

Aku segera mendorong pintu ruang pemeriksaan sambil menggendong Miko yang terus memelukku erat.

Di dalam, seorang dokter berdiri membelakangi kami sambil melepas sarung tangannya.

Hanya dari bahunya yang lebar dan posturnya yang tegap, perasaan aneh langsung merayap di dadaku.

Ketika ia berbalik, waktu seolah berhenti.

Semua suara di sekitarku menghilang.

Karena pria yang berdiri di hadapanku adalah Adrian Reyes.

Pria yang meninggalkanku empat tahun lalu setelah menandatangani surat perceraian tanpa sedikit pun keraguan.

Papan nama di dadanya menunjukkan bahwa sekarang ia adalah Kepala Bedah Gawat Darurat.

Aku tidak mengerti mengapa ia berada di bagian anak.

Atau mungkin aku hanya tidak siap melihatnya lagi.

Ia bahkan tidak menatapku.

Perhatiannya langsung tertuju kepada Miko.

— Umur?

Suara tenang itu pernah begitu kukenal.

— Empat tahun…

Aku menjawab pelan sambil berusaha menyembunyikan wajahku di balik masker dan gaya rambut yang berbeda.

Berharap ia tidak mengenaliku.

— Demam sejak kapan?

Tanyanya lagi sambil mengambil stetoskop.

— Sekitar jam lima sore… sempat turun… lalu naik lagi…

Aku memeluk Miko semakin erat.

— Tenang… tidak apa-apa… sebentar saja…

Katanya lembut kepada Miko saat memeriksa punggungnya.

Nada suara itu langsung membangkitkan semua kenangan yang selama ini berusaha kulupakan.

Setelah memeriksa tenggorokan dan perutnya, Adrian kembali ke meja dan mulai menulis.

Seolah aku tidak ada di ruangan itu.

Padahal jantungku berdebar begitu keras hingga rasanya bisa terdengar.

— Tonsilitis berat. Harus diberi antibiotik melalui infus.

Katanya tanpa mengangkat kepala.

Di tengah menulis resep, tangannya tiba-tiba berhenti.

Hanya sesaat.

Namun bagiku terasa seperti berjam-jam.

— Di mana ayahnya?

Tanyanya tanpa menoleh.

Tubuhku langsung membeku.

Aku memeluk Miko lebih erat dan memaksa suaraku terdengar normal.

— Sudah tidak ada.

Tiga kata sederhana.

Namun penuh luka yang tidak pernah sembuh.

Pulpen di tangannya berhenti bergerak sejenak sebelum kembali menulis.

Seolah jawabanku hanyalah detail biasa dalam sebuah kasus medis.

— Ruang observasi. Di ujung lorong.

Ia menyerahkan resep itu kepadaku.

Jari kami hanya berjarak beberapa sentimeter.

Namun terasa seperti dipisahkan oleh dunia yang berbeda.

Aku segera berbalik dan keluar.

Memaksa diri untuk tidak menoleh sekali pun.

Saat berjalan menjauh, suara seorang perawat terdengar dari belakang.

Cukup jelas untuk menghancurkan ketenangan yang tersisa dalam diriku.

— Dok, tunangan Anda menelepon. Acara pertunangan besok sudah dikonfirmasi. Katanya bunga mawar putih.

Tunangan.

Pertunangan.

Kata-kata itu terus bergema di kepalaku.

Aku memeluk Miko lebih erat dan terus berjalan.

Karena hanya itu satu-satunya cara agar aku tidak runtuh saat itu juga.

Ruang infus terasa dingin dan gelap.

Hanya suara tetesan cairan infus yang terdengar.

Miko akhirnya tertidur setelah obat mulai bekerja dan demamnya perlahan turun.

Aku duduk di sampingnya.

Menggenggam tangan kecilnya yang tetap mencari tanganku bahkan saat tertidur.

Saat itulah aku memperhatikan wajahnya.

Mata.

Hidung.

Bentuk bibirnya.

Semuanya adalah salinan sempurna Adrian.

Dan itulah alasan mengapa aku menyembunyikannya dari keluarga Reyes selama empat tahun.

Ponselku bergetar.

Nama Carla muncul di layar.

Aku segera menjawabnya meskipun pikiranku masih kacau setelah pertemuan tadi.

— Bagaimana keadaan Miko?

Tanyanya penuh kekhawatiran.

— Sudah lebih baik. Hanya demam tinggi.

Aku berusaha terdengar tenang.

Padahal pikiranku masih dipenuhi masa lalu yang tiba-tiba muncul kembali.

— Kamu sendirian? Perlu aku datang?

— Tidak perlu. Besok kamu ada rapat penting.

Tak lama kemudian ia mengirim pesan lain tentang Santillan Pharma dan negosiasi besar yang akan kami hadapi.

Kesepakatan yang bisa mengubah masa depan perusahaanku.

Sambil memegang tangan Miko, aku kembali melihat wajahnya.

Semakin lama, semakin jelas kemiripannya dengan Adrian.

Itulah sebabnya aku menjaga rahasia ini selama empat tahun.

Keesokan harinya kondisi Miko sudah jauh lebih baik.

Ia bahkan sudah bermain di lantai sementara aku bersiap menghadiri rapat sebagai Isabella Cruz.

CEO Cruz MedTech.

Wanita yang dikenal dunia sebagai sosok kuat tanpa kelemahan.

Di rapat itulah aku mengetahui bahwa Santillan Pharma kini dimiliki keluarga Reyes.

Dan ketua perusahaan yang ingin bertemu denganku adalah Eduardo Reyes.

Ayah Adrian.

Kenyataan itu membuat situasi yang kukira sudah terkendali menjadi jauh lebih rumit.

Keesokan harinya di sebuah gedung tinggi di kawasan bisnis Jakarta, aku disambut seorang wanita elegan dan percaya diri.

Namanya Danielle Lim.

Asisten ketua perusahaan.

Dan juga tunangan Adrian.

Ia tidak mengenaliku.

Pertemuan berlangsung lancar sampai ia keluar ruangan untuk menjawab telepon.

Dari pintu yang sedikit terbuka, aku mendengar suaranya.

Lembut.

Penuh kasih sayang.

Dan entah mengapa terasa seperti perlahan meremas jantungku.

— Hai, Sayang… Cruz MedTech… Isabella Cruz… kamu kenal?… tidak?… oke… aku juga sayang kamu…

Ketika ia kembali, seolah tidak terjadi apa-apa.

Negosiasi berlanjut.

Semakin lama semakin tegang.

Persentase saham.

Syarat kerja sama.

Semua dibahas dengan detail.

Lalu tiba-tiba ia bertanya.

Masih dengan senyum yang sempurna.

Namun ada sesuatu dalam tatapannya yang sulit kujelaskan.

— Nona Cruz… apakah Anda sudah menikah?

— Tidak.

Jawabku singkat.

— Punya anak?

Dunia seakan berhenti.

— Apakah itu relevan dengan kerja sama ini?

Aku membalas dengan nada dingin.

Danielle tersenyum.

Namun matanya tetap menatapku tajam.

Seolah mencari kebenaran di balik setiap jawabanku.

Ketika aku masuk ke lift dan pintunya hampir tertutup, ia memanggilku sekali lagi.

— Nona Cruz…

Aku menoleh.

Senyumnya masih sempurna.

Tetapi suaranya kini terdengar lebih dingin.

Lebih pasti.

— Putra Anda… terlihat sangat familiar.

Dan pada saat pintu lift benar-benar tertutup, aku merasakan rahasia yang selama empat tahun kulindungi mulai retak sedikit demi sedikit.

Seolah kapan saja, semuanya bisa terbongkar.

Lift meluncur turun dengan cepat, namun jantungku berdegup jauh lebih kencang daripada kecepatan gravitasi yang membawa tubuhku ke lantai dasar. Kata-kata Danielle Lim terus terngiang, berputar-putar di kepalaku bagai kutukan. Putra Anda… terlihat sangat familiar.

Bagaimana dia bisa tahu? Apakah Adrian menceritakan pertemuan di IGD semalam kepadanya? Ataukah Danielle diam-diam telah menyelidiki latar belakangku sebelum rapat ini dimulai?

Begitu pintu lift terbuka di lobi utama, aku melangkah keluar dengan tergesa-geda. Aku tidak boleh terlihat lemah. Aku adalah Isabella Cruz. Aku merapikan blazerku, menarik napas dalam-dalam, dan berjalan menuju mobil di mana sopir pribadiku sudah menunggu.

“Ke rumah sakit sekarang,” perintahku datar begitu duduk di kursi belakang.

Sepanjang perjalanan, amarah, ketakutan, dan rasa bersalah bercampur aduk di dalam dadaku. Empat tahun lalu, ketika aku mendapati diriku hamil tepat setelah Adrian menandatangani surat perceraian demi memenuhi ambisi keluarganya, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan keluarga Reyes menyentuh anakku. Mereka adalah monster berwajah korporat yang hanya peduli pada status dan garis keturunan murni. Jika Eduardo Reyes tahu dia memiliki seorang cucu laki-laki dari rahim wanita yang pernah mereka tendang, mereka akan melakukan segala cara untuk merebut Miko dariku.

Sesampainya di ruang observasi rumah sakit, aku melihat Miko sedang duduk di atas ranjang, mewarnai buku gambar yang dibelikan oleh perawat. Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi matanya yang bulat—mata yang persis milik Adrian—menatapku dengan binar kerinduan.

“Mama!” serunya, merentangkan kedua tangan kecilnya.

Aku langsung memeluknya erat, mencium puncak kepalanya, dan menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan. “Miko sudah enakan? Kita pulang hari ini, ya?”

“Mau pulang, Ma. Di sini dingin,” bisiknya manja.

Saat aku sedang membereskan pakaian Miko ke dalam tas, pintu kamar observasi terbuka. Aku mengira itu adalah perawat yang membawa surat izin kepulangan. Namun, begitu aku berbalik, sosok tinggi tegap dengan jas putih dokter berdiri di ambang pintu.

Adrian Reyes.

Dia tidak membawa papan ujian atau stetoskop. Tatapannya tertuju lurus pada Miko, lalu perlahan beralih kepadaku. Matanya menyipit, seolah sedang menyatukan teka-teki yang selama ini hilang dari hidupnya.

“Isabella?” suara baritonnya memecah kesunyian kamar. Kali ini, tidak ada masker yang menyembunyikan wajahku. Dia mengenali mantan istrinya.

Aku berdiri tegap, memosisikan tubuhku di depan Miko, menyembunyikannya dari pandangan Adrian. “Dokter Reyes. Kami sedang bersiap untuk pulang. Terima kasih atas perawatannya semalam.”

Adrian melangkah maju, mengabaikan nada dinginku. “Semalam aku tidak sadar… tapi Danielle meneleponku setelah rapat kalian. Dia bilang dia bertemu dengan CEO Cruz MedTech bernama Isabella Cruz yang memiliki seorang anak laki-laki berusia empat tahun.” Adrian berhenti tepat dua langkah di depanku. Napasnya terdengar berat. “Empat tahun, Isabella. Persis setelah kamu pergi dari hidupku.”

“Itu tidak ada hubungannya denganmu,” kataku tegas, berusaha menahan getaran di suaraku. “Aku sudah katakan semalam, ayahnya sudah tidak ada. Miko adalah anakku. Hanya anakku.”

“Jangan bohong padaku!” Adrian tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku, matanya memancarkan rasa sakit dan kemarahan yang mendalam. “Aku melihat strukturnya, Isabella. Wajahnya, matanya, bahkan golongan darahnya yang tertera di resep semalam. Dia anakku, kan?!”

“Lepaskan!” aku menghempaskan tangannya dengan kasar. “Kamu kehilangan hak untuk bertanya sejak empat tahun lalu, Adrian! Saat kamu memilih berdiri di samping ayahmu dan membiarkan aku diusir seperti sampah! Kamu ingin bertunangan dengan Danielle besok, bukan? Pergilah! Urus mawar putihmu dan jangan pernah usik kehidupanku lagi!”

Miko yang ketakutan melihat perdebatan kami mulai menangis pelan di belakangku, memegangi ujung bajuku. “Mama… takut…”

Aku langsung berbalik, memeluk Miko dan menggendongnya. Aku menatap Adrian untuk terakhir kalinya dengan tatapan penuh kebencian. “Jika kamu berani mendekati anakku lagi, atau jika keluarga Reyes mencoba menggunakan kontrak Santillan Pharma untuk menekanku, aku akan menghancurkan kerja sama ini dan membawa Miko keluar dari negara ini. Kamu tidak akan pernah melihatnya lagi.”

Adrian terpaku di tempatnya, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ada gejolak penyesalan yang besar di matanya, namun dia tahu dia tidak memiliki kekuatan untuk menghentikanku sekarang.

Aku berjalan melewati Adrian dengan kepala tegak, menggendong Miko keluar dari rumah sakit itu. Rahasia yang kusimpan selama empat tahun memang telah retak, dan genderang perang dengan keluarga Reyes mungkin baru saja ditabuh. Namun saat aku mendekap Miko di dalam mobil yang melaju membelah jalanan Jakarta, aku tahu satu hal pasti: aku bukan lagi Isabella yang lemah empat tahun lalu. Aku adalah seorang ibu, dan aku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba merebut putraku—bahkan jika itu adalah ayahnya sendiri.