AKU PULANG LEBIH AWAL DENGAN MEMBAWA MAWAR PUTIH, BERHARAP BISA MENGEJUTKAN ISTRIKU YANG HAMIL TUJUH BULAN. TAPI AKU MENJATUHKANNYA KARENA TAKUT. IBuku, SEORANG WANITA SOSIALITA, DAN SEORANG PERAWAT SEWAAN SEDANG BERSANTAI SAMBIL MAKAN BUAH, SEMENTARA ISTRIKU MENANGIS DAN MENGGOSOK LENGAN BERDARAHNYA DENGAN PEMUTIH MURNI DI LANTAI. AKU TIDAK BERTERIAK. AKU MENGUNCI SEMUA PINTU DAN MELEPASKAN SEBUAH MIMPI BURUK DALAM KELUARGAKU YANG…
“Istrimu sedang membersihkan ‘kotorannya’ sebelum bayi itu lahir!”
Itulah kalimat pertama yang kudengar saat membuka pintu rumah kami di Lomas de Chapultepec.
Aku pulang lebih awal dari kantor, membawa satu buket mawar putih dan sebuah tas kecil berisi pakaian bayi. Aku ingin mengejutkan Valeria, istriku yang sedang hamil tujuh bulan. Beberapa minggu terakhir kami memang tegang, ya, tapi kupikir itu hanya karena kelelahan, hormon, dan persiapan menyambut bayi.
Betapa bodohnya aku.
Buket itu jatuh dari tanganku saat aku melihatnya.
Valeria berlutut di lantai marmer, menangis tanpa suara. Lengannya merah, hampir terluka parah, menggosok dirinya dengan kain yang direndam pemutih. Gaun hamilnya bernoda, lututnya memar, dan jari-jarinya gemetar seperti sedang demam.
Di sofa, ibuku, Doña Beatriz, sedang memakan pepaya dengan sendok perak.
Di sampingnya, Norma—perawat yang dia sendiri rekomendasikan kepadaku—bersandar santai, seolah semua ini hal yang biasa.
“Valeria,” kataku, bahkan aku tidak mengenali suaraku sendiri.
Dia menatapku lalu mundur, seakan aku akan menyakitinya.
Sesuatu hancur di dalam diriku saat itu juga.
Bukan karena pemutih. Bukan karena air mata.
Tapi karena melihat istriku sendiri—wanita yang mengandung anakku—takut padaku.
Aku berlutut di depannya.
“Serahkan kain itu padaku.”
“Aku hampir selesai,” bisiknya. “Tolong, Diego, jangan marah. Aku hampir bersih.”
Sesuatu yang gelap naik di dadaku.
Perlahan aku mengambil kain itu, tapi dia menahannya dengan putus asa. Itu bukan kekuatan. Itu ketakutan.
“Tidak ada yang akan menghukummu,” kataku. “Lihat aku. Tidak ada siapa pun.”
Norma tiba-tiba berdiri.
“Tuan Diego, ini tidak seperti yang Anda pikirkan. Istri Anda hanya mengalami gangguan. Dia bilang merasa kotor, dan saya hanya mengawasinya.”

Aku bahkan tidak menatapnya.
“Ana!” teriakku ke lorong, tempat adik perempuanku berdiri. “Ambil selimut. Ibu, handuk bersih. Sekarang.”
Untuk pertama kalinya seumur hidupku, ibuku menurut tanpa bantahan.
Tapi Norma tidak bergerak.
“Wanita hamil kadang kehilangan akal,” katanya dingin. “Istri Anda butuh disiplin. Dia berasal dari latar belakang miskin—dia tidak mengerti bagaimana keluarga seperti ini bekerja.”
Valeria menunduk.
Dan saat itu aku melihatnya: bekas jari di lengannya, memar lama di bawah lengan baju, goresan di pergelangan tangannya.
Aku menatap ibuku.
“Sejak kapan?”
Dia tidak menjawab.
“Aku bertanya. Sudah berapa lama ini terjadi di rumahku?”
Norma membuka mulut, tapi aku memotongnya.
“Jangan bicara.”
Ibuku meletakkan handuk di meja. Tatapannya jatuh ke lantai.
Valeria gemetar di bawah selimut yang dibungkuskan Ana kepadanya.
“Diego,” akhirnya ibuku berkata, “jangan berlebihan. Kami hanya mempersiapkannya.”
“Mempersiapkan untuk apa?”
Dia menatapku dengan ketenangan yang membuatku muak.
“Untuk menjadi ibu dari anak yang akan lahir dalam keluarga ini.”
Dan pada saat itu, aku mengerti—
Ini bukan kecelakaan.
Ini rencana.
Dan aku masih belum bisa membayangkan seberapa buruk hal berikutnya yang akan terjadi.
Rahasia di Balik Kamar Bayi
Aku berdiri perlahan, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak sebelum aku melangkah menuju pintu utama. Dengan gerakan yang sangat tenang namun pasti, aku memutar kunci dan mencabutnya. Aku melakukan hal yang sama pada pintu belakang dan pintu dapur.
Aku melepaskan sebuah mimpi buruk dalam keluargaku yang selama ini kututup rapat: sisi gelap warisan darah ayahku.
“Apa yang kamu lakukan, Diego?” tanya ibuku, suaranya mulai bergetar saat melihatku mencabut kabel telepon dan mengantongi ponsel milik Norma yang tergeletak di meja.
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke arah Norma. Perawat itu mencoba mundur, tetapi aku mencengkeram rahangnya dengan satu tangan. Mataku menatap tajam ke arahnya, dingin dan tanpa ampun.
“Istriku tidak kotor,” bisikku tepat di telinganya. “Tapi kau… kau adalah noda yang harus dihapus.”
Aku melemparkannya ke lantai di dekat botol pemutih yang terbuka. Kemudian, aku berbalik ke arah ibuku yang kini berdiri dengan wajah pucat pasi.
“Ibu bilang ini adalah persiapan?” tanyaku sambil berjalan mendekat. “Ibu ingin dia ‘bersih’ agar anak ini layak menjadi anggota keluarga kita? Baiklah. Mari kita bicara tentang kebersihan yang sebenarnya.”
Aku merobek taplak meja perak yang dibanggakannya, menjatuhkan piring-piring mahal itu hingga hancur berkeping-keping. Aku mengeluarkan sebuah alat perekam kecil dari saku jas—alat yang kupasang di kamar bayi minggu lalu karena aku merasa ada yang aneh.
Suara di rekaman itu memenuhi ruangan: Suara ibuku yang merencanakan untuk mengambil bayi itu segera setelah lahir dan membuang Valeria ke rumah sakit jiwa. Suara Norma yang tertawa saat menampar Valeria karena ia menolak meminum cairan ‘penenang’.
“Kalian pikir karena aku mencintai kalian, aku akan buta?” suaraku meninggi, menggelegar di seluruh penjuru rumah. “Kalian lupa siapa aku sebelum aku menjadi suami Valeria. Aku adalah putra Vicente. Dan malam ini, kalian akan belajar mengapa orang-orang gemetar mendengar nama itu.”
Aku menatap Valeria yang masih terisak di pelukan Ana. “Ana, bawa Valeria ke mobil sekarang. Kuncinya ada di meja. Pergi ke rumah sakit, aku sudah menelepon pengawal pribadi untuk menjagamu di sana.”
Setelah adikku dan istriku pergi, aku berbalik menghadap dua wanita yang telah merusak surga kecilku. Aku mengambil botol pemutih itu dan menuangkannya perlahan ke atas karpet mahal yang sangat disukai ibuku.
“Mulai malam ini,” kataku dengan senyum yang tidak sampai ke mata, “kalian tidak akan pernah melihat matahari dari balik jeruji besi. Tapi sebelum polisi datang, aku ingin kalian membersihkan rumah ini… dengan tangan kalian sendiri, sampai berdarah, persis seperti yang kalian lakukan pada istriku.”
Malam itu, mawar putih yang kujatuhkan hancur terinjak, persis seperti kehormatan keluargaku yang kini telah mati di tanganku sendiri.