Aku sedang hamil tujuh bulan ketika aku menyadari bahwa suamiku ternyata adalah “pria sempurna” di keluarga wanita lain. Dia bilang aku adalah satu-satunya istrinya, tetapi di luar sana ada seorang Nyonya Villanueva dan dua anak yang memanggilnya “Ayah”. Kebenaran apa yang menungguku di balik pintu yang ditendang dan dibuka paksa itu?
Saat kandunganku menginjak usia tujuh bulan, di suatu sore yang tenang, aku memilih pergi keluar untuk membeli beberapa perlengkapan bayi. Hari itu cerah di Quezon City, dan aku berjalan perlahan di dalam mal sambil memegangi perutku yang berat namun berharga. Satu per satu kusentuh pakaian bayi yang mungil, kaus kaki sekecil telapak tanganku, dan selimut lembut yang seolah menjanjikan malam-malam yang damai.
Saat sedang asyik memilih, tiba-tiba aku tertegun.
Di antara deretan kereta bayi dan ranjang bayi, aku melihat seorang pria sedang membungkuk, dengan lembut merapikan rambut yang menutupi dahi seorang wanita berpakaian elegan. Cara dia mengangkat tangannya, kelembutan di setiap gerakan jarinya—begitu akrab, begitu menyakitkan.
Dia adalah Marco.
Suamiku, Marco.
Pria yang tadi pagi baru saja mencium keningku dan mengatakan ada banyak rapat di kantor sehingga dia harus berangkat lebih awal.
Lututku lemas. Aku berpegangan pada pinggiran meja kasir agar tidak jatuh tersungkur. Di sampingku, dua pelayan toko sedang berbisik.
“Kamu kenal Pak Villanueva dan istrinya?”
“Siapa yang tidak kenal? Mereka sudah menikah tiga tahun tapi tidak pernah ada skandal sedikit pun.”
“Katanya mereka kekasih sejak SMA. Punya anak laki-laki dan perempuan. Benar-benar keluarga yang sempurna.”
Keluarga sempurna.
Dua anak.
Istri.
Rasanya seperti ada air es yang diguyurkan ke sekujur tubuhku. Marco bilang dia yatim piatu. Tidak punya orang tua, tidak punya saudara. Katanya, kerabatnya merampas warisan yang seharusnya menjadi miliknya. Dia bilang dia hanyalah karyawan biasa di sebuah perusahaan logistik.
Jika dia punya istri dan dua anak… lalu aku ini apa?
Sebuah kesalahan?
Sebuah rahasia?
Seorang pelakor?
Seorang pelayan toko menyadari wajahku yang pucat.
“Bu, apakah Anda kenal Pak Villanueva?” Dia memerhatikanku dari kepala hingga ujung kaki. Aku hanya mengenakan gaun hamil yang sederhana. “Jika Anda berniat mengacaukan keluarga mereka, sebaiknya jangan. Bapak itu dikenal sebagai pria baik-baik. Dia tidak akan melirik sembarang wanita.”
Dia sedikit menyenggolku saat lewat. Aku terhuyung mundur dan segera memegangi perutku. Aku mendengar bisikan di belakangku.
“Lihat itu, dia menatap si Bapak tanpa berkedip. Mungkin mau jadi selingkuhan.”
“Padahal sedang hamil, mungkin dia sendiri tidak tahu siapa ayahnya.”
Aku ingin berteriak bahwa akulah istri sahnya! Bahwa kami punya akta nikah yang dia sendiri yang mengurusnya. Bahwa kami menikah di catatan sipil di Pasig. Tapi tidak ada kata yang keluar dari mulutku.
Baru tadi pagi, dia mengelus perutku dan berbisik: “Istirahatlah, Lia. Biar aku yang mengurus semuanya.”
Mungkinkah ada orang yang benar-benar mirip di dunia ini? Bahkan bekas luka kecil di sudut matanya—yang katanya didapat karena terpeleset di sungai saat kecil—mungkinkah bisa persis sama?
Aku mencoba mendekati mereka. Tapi pandanganku tiba-tiba berputar. Aku tersandung sesuatu dan hampir terjatuh.
Terdengar langkah kaki yang cepat.
“Lia!”
Itu suara Marco.
“Apa yang terjadi? Berhati-hatilah!”
Dia memelukku, memeriksa perutku. Namun, setelan jas hitam yang dia kenakan bukanlah pakaian yang dia pakai saat meninggalkan rumah tadi pagi.
Aku memegang pergelangan tangannya. “Marco… apa ada yang kamu sembunyikan dariku?”
Dia terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Apa yang kamu bicarakan, sayang?”
“Siapa wanita itu?”
Dia melirik ke belakang sebelum kembali menatapku. “Itu hanya temanku. Kebetulan saja kami bertemu. Jangan berpikiran yang tidak-tidak.”
Wanita di belakangnya hanya diam. Jika benar mereka suami istri, dia tidak mungkin hanya diam.
Marco menggendongku keluar. Aku teringat pertama kali dia menggendongku. Saat ibuku bunuh diri karena pria yang berjanji menikahinya malah meninggalkannya. Saat pamanku hampir menikahkanku dengan pengusaha tua sebagai pengganti utang.
Aku kabur. Dan Marco-lah yang menyelamatkanku.
“Aku juga sudah tidak punya keluarga. Mulai sekarang, hanya ada kita berdua.”
Di kamar sewa kecil kami di Cubao, semuanya dimulai. Dia berlutut di hadapanku dengan cincin sederhana. “Aku berjanji padamu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Dia yang mengurus semua dokumen kami. Setelah menikah, dia memberikan kartu ATM-nya padaku. Setiap hari ada buah tangan—terkadang anting, kue, atau mawar. Bagaimana mungkin semua itu hanya kebohongan?
Di rumah sakit, dokter bilang aku dan bayi dalam keadaan baik. Keluar dari ruangan, Marco berlutut dan menempelkan telinganya di perutku.
“Jangan susahkan Mama, ya? Kami sangat menyayangimu.”
Ada air mata di sudut matanya. Aku memilih untuk percaya.
Namun keesokan harinya, sesaat setelah dia keluar rumah, tiba-tiba ada tendangan keras di pintu. Pintu itu terbuka lebar.
Berdiri di hadapanku adalah wanita yang kulihat di mal. Di belakangnya ada beberapa pria. Dia tersenyum dingin.
“Jadi, kamu yang namanya Lia?”
Aku gemetar. “Apa yang kalian inginkan?”
Dia menatap perutku. “Sudah berapa bulan?”
Aku tidak bisa menjawab.
Dia tertawa. “Kamu tahu siapa suamiku?”
Rasanya dunia berhenti berputar.
“Marco Villanueva. Kami sudah menikah tiga tahun. Kami punya dua anak.”
Air mataku jatuh. Salah satu pria mengeluarkan map. Foto-foto. Dokumen-dokumen. Sebuah akta nikah. Di sana tertulis nama Marco Alejandro Villanueva dan nama wanita di hadapanku.
“Jika kamu tidak pergi, kami yang akan mengusirmu.”
Aku memegangi perutku. Tiba-tiba lift di luar terbuka. Terdengar langkah kaki yang berat. Sebuah suara yang akrab berteriak:
“Apa yang kalian lakukan di sini?!”

Marco. Dia berdiri di pintu.
Dia menatapku. Menatap wanita itu. Menatap dokumen di atas meja.
Dan untuk pertama kalinya, yang kulihat di matanya bukanlah kekhawatiran. Bukan cinta.
Melainkan ketakutan.
Dan di sana, di antara kami bertiga, seluruh keyakinanku mulai hancur berkeping-keping—sembari aku menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya, kata-kata yang akan menentukan siapa dia sebenarnya…
“Turunkan senjatamu, Helena!” teriak Marco, suaranya bergetar hebat. Napasnya memburu, matanya beralih dari Helena ke arah perut buncitku yang sedari tadi kulindungi dengan kedua tangan.
Helena—wanita elegan dari mal itu—tertawa sinis. Dia melangkah mundur, memberi ruang bagi Marco untuk masuk ke dalam kamar sewa kami yang sempit. “Menurunkan apa, Marco? Aku tidak membawa senjata. Aku hanya membawa kebenaran yang selama ini kamu sembunyikan dari pelacur kecilmu ini.”
“Dia bukan pelacur! Jaga mulutmu!” Marco membentak. Ini pertama kalinya aku melihat Marco semarah ini. Pria yang biasanya melembutkan suaranya setiap kali berbicara denganku, kini bertransformasi menjadi sosok asing yang mengerikan.
“Lalu dia apa? Istri kedua? Istri simpanan?” Helena melemparkan map cokelat di atas meja tepat ke arah dada Marco. Lembaran kertas di dalamnya berhamburan ke lantai. “Lihat ini, Marco! Akta nikah kita, foto pernikahan kita di katedral, dokumen warisan keluarga Villanueva. Kamu mau mengelak apa lagi?!”
Aku menatap lembaran-lembaran kertas yang terserak di dekat kakiku. Di salah satu foto yang tercecer, tampak Marco tersenyum lebar mengenakan tuksedo putih, menggandeng Helena yang anggun berbalut gaun pengantin mewah. Tanggal pernikahan yang tertera di akta itu… empat tahun yang lalu.
Sedangkan kami baru menikah di catatan sipil satu tahun yang lalu.
“Lia… dengarkan aku,” Marco melangkah mendekat, mencoba meraih tanganku. Wajahnya pucat pasi, dipenuhi peluh ketakutan. “Semua ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa, Marco?!” tangisku pecah. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari dada hingga ke perutku. “Kamu bilang kamu yatim piatu! Kamu bilang kamu miskin! Kamu bilang namamu hanya Marco! Tapi kamu… kamu adalah Marco Alejandro Villanueva, pengusaha kaya yang punya keluarga sempurna di luar sana!”
Marco berlutut di hadapanku, persis seperti yang sering dia lakukan saat mengelus bayiku. Tapi kali ini, sentuhannya terasa seperti racun.
“Aku terpaksa, Lia! Pernikahanku dengan Helena… itu adalah perjodohan bisnis keluarga. Aku tidak pernah mencintainya!” Marco berteriak, matanya memerah menahan air mata. “Ayah Helena yang menjebakku, mereka yang merebut seluruh aset mendiang orang tuaku jika aku tidak mau menikahi anaknya. Aku terjebak dalam sangkar emas itu, Lia!”
Helena bertepuk tangan perlahan, memotong ucapan Marco dengan raut wajah penuh kejutan yang dibuat-buat. “Oh, sebuah cerita drama yang luar biasa, Suamiku. Tapi kamu lupa memberi tahu dia satu detail kecil.”
Helena melangkah mendekat, tatapannya beralih menembus langsung ke manik mataku.
“Lia, apakah dia pernah memberi tahumu tentang hukum warisan keluarga Villanueva?” tanya Helena dingin.
Aku menggeleng pelan, firasat buruk mendadak mencengkeram seluruh kesadaranku.
“Kakek Marco membuat wasiat mutlak,” ujar Helena dengan senyum kemenangan. “Seluruh aset utama keluarga Villanueva senilai miliaran peso hanya akan jatuh ke tangan Marco jika dan hanya jika dia memiliki seorang anak laki-laki kandung. Sayangnya, dua anak dari pernikahan kami adalah perempuan.”
Dunia seolah runtuh menimpaku. Aku menatap Marco yang mendadak bungkam, kepalanya tertunduk dalam-dalam ke lantai.
“Tiga bulan lalu, aku melakukan tes USG… dan dokter bilang anak kita laki-laki,” bisikku dengan suara yang hampir habis. “Marco… katakan padaku itu tidak benar. Katakan padaku kamu bersamaku bukan hanya demi rahimku!”
Marco tidak menjawab. Dia hanya menangis, mencengkeram ujung gaun hamilku. “Lia, awalnya mungkin karena itu… aku frustrasi karena ditekan oleh keluarga Helena. Tapi bersamamu, aku menemukan kedamaian. Aku mencintaimu, Lia! Aku benar-benar mencintaimu dan anak kita!”
“Cinta?” Helena mendengus jijik. “Kamu mendekatinya karena kamu tahu dia sebatang kara, Marco. Kamu tahu dia tidak punya siapa-siapa untuk melindunginya jika rencana busukmu ini terbongkar! Kamu memalsukan dokumen pernikahan kalian agar dia tidak bisa menuntutmu secara hukum!”
Pernyataan Helena bagai hantaman gada berkali-kali di kepalaku. Pernikahan kami palsu. Cinta yang kuanggap penyelamat hidupku ternyata hanyalah sebuah proyek investasi seorang pria serakah yang membutuhkan ahli waris.
Tiba-tiba, rasa mulas yang luar biasa hebat mencengkeram perut bagian bawahku. Rasa sakitnya begitu intens hingga membuatku memekik dan jatuh terduduk di lantai.
“Lia!” Marco panik, mencoba membantuku berdiri.
“Jangan sentuh aku!” teriakku histeris. Aku melihat ke bawah. Cairan hangat mulai mengalir membasahi kakiku. Ketubanku pecah. Di usia kandungan tujuh bulan, bayiku terancam lahir prematur akibat syok yang kualami.
Helena menatap cairan itu dengan dingin, lalu berbalik arah menuju pintu. “Ayo kita pergi. Biarkan pria ‘sempurna’ ini mengurus kekacauan yang dia buat sendiri. Dan Marco… pengacaraku akan mengirimkan surat cerai besok pagi. Kamu kehilangan segalanya.”
Saat Helena dan para pengawalnya pergi, menyisakan pintu yang hancur terbuka lebar, aku berpegangan pada kaki meja, berjuang melawan rasa sakit yang mendera tubuh dan jiwaku.
Marco menangis meraung-raung, mencoba menggendongku untuk membawaku ke rumah sakit. Di balik pintu yang didobrak paksa itu, kebenaran telah telanjang bulat: aku tidak pernah memiliki seorang suami. Yang kupunya hanyalah bayiku. Dan demi anak laki-laki di dalam kandunganku ini, aku bersumpah dalam hati, aku akan bertahan hidup—bukan sebagai rahasia Marco, melainkan sebagai ibu yang akan menghapus nama Villanueva dari garis hidup anakku selamanya.