Posted in

Aku setiap bulan mengirim ₱18.000 kepada anakku yang kuliah di Manila. Itu belum termasuk biaya kuliah dan kos

Aku setiap bulan mengirim ₱18.000 kepada anakku yang kuliah di Manila. Itu belum termasuk biaya kuliah dan kos. Tapi saat dia pulang liburan Natal, tiba-tiba dia meminta ₱55.000 per bulan. Lalu muncul notifikasi GCash bertuliskan: “butuh DP motor untuk kakak di rumah.” Saat itulah aku mengerti—dia bukan hanya sedang jatuh cinta, tapi sedang dijadikan “dompet hidup” oleh seluruh keluarga laki-laki itu.

Bagian 1: Pertama kali anakku yang baik meminta uang, tapi dia terlihat seperti sedang membayar utang orang lain

Dari tahun pertama sampai semester awal tahun ketiga kuliah, uang bulanan anakku Camille tetap: ₱18.000.

Biaya kuliahnya aku bayar terpisah.

Kosnya juga aku transfer langsung ke pemiliknya.

Handphone, laptop, seragam magang, buku, fotokopi materi—semua aku tanggung.

₱18.000 itu hanya untuk makan, ongkos jeepney, kebutuhan pribadi, dan sesekali kopi bersama teman.

Camille bukan anak yang boros.

Dia sering mengirim pesan:

— Ma, aku makan di kantin saja sudah cukup. Jangan kirim lebih. Perbaiki saja atap rumah kita.

Kadang aku bertanya apakah dia ingin ganti handphone, karena layarnya sudah retak.

Dia hanya tersenyum.

— Ma, ini masih bisa dipakai setahun. Masih bisa telepon, masih jelas untuk foto kuliah.

Saat itu aku hampir menangis.

Aku bekerja 7 tahun sebagai pembantu rumah tangga di Dubai. Sepulangnya aku membuka warung kecil di Quezon City, menjual makan siang untuk sopir tricycle dan pekerja kantor.

Aku tahu setiap peso tidak jatuh dari langit—semuanya penuh keringat, minyak, dan sabun cuci piring.

Karena itu aku percaya anakku paham.

Tapi saat liburan Natal itu, Camille berbeda.

Biasanya dia langsung memelukku dan berlari ke dapur mencari lauk.

Tapi kali ini dia hanya meletakkan koper, melepas sepatu, lalu duduk di sofa.

Ia bahkan belum melepas jaketnya.

Jarinya memutar casing HP biru muda.

Aku meletakkan pancit di meja.

— Cuci tangan, kita makan.

Dia tidak bergerak.

— Camille, ada apa?

Dia menatapku ragu.

— Ma…

— Katakan saja.

— Bisa tambah uang bulanan aku semester depan?

Aku mengelap tangan.

— Berapa?

Dia menunduk.

— Jadi ₱55.000 per bulan.

Kedai kecil itu langsung hening.

Hanya suara sup mendidih yang terdengar.

— Berapa?

— ₱55.000.

Aku meletakkan handuk.

— Dulu kamu bilang ₱18.000 cukup.

— Iya, Ma.

— Kuliahmu aku bayar.

— Iya.

— Kosmu aku transfer langsung.

— Iya.

— Jadi tambahan ₱37.000 itu untuk apa?

Dia menggenggam HP-nya kuat.

— Hidup di Manila mahal, Ma.

Aku menatapnya lama.

— Tahun pertama tidak mahal. Tahun kedua tidak mahal. Kenapa tahun ketiga tiba-tiba jadi tiga kali lipat?

Dia diam.

— Kamu pindah sekolah?

— Tidak.

— Sewa kamar sendiri?

— Tidak.

— Ada kursus tambahan?

— Tidak.

— Sakit?

Dia menggeleng.

— Jadi ada orang lain yang memakai uangmu.

Dia langsung menatap.

— Ma, jangan bilang begitu.

Aku membuka HP dan melihat Facebook-nya.

Setengah tahun terakhir, semuanya berubah.

Dulu foto perpustakaan, makanan murah, kopi sederhana.

Sekarang: tiket bioskop berdua, milk tea berdua, gelang pasangan, sepatu pasangan.

Ada foto di mall—dua tangan saling bergenggaman.

Ada jam tangan pria yang terlihat baru.

Aku menatapnya.

— Kamu punya pacar?

Wajah Camille memerah.

Dia mengangguk.

— Namanya?

— Paolo.

— Satu kampus?

— Tidak. Dia sekolah teknik di Caloocan.

— Keluarganya?

Dia ragu.

— Tidak terlalu baik, Ma.

Aku tertawa kecil.

Dia langsung pucat.

Aku tidak merendahkan orang miskin.

Aku pernah membagi satu bungkus mie untuk dua kali makan.

Yang aku takutkan adalah orang miskin yang tidak mau berdiri sendiri tapi malah menarik orang lain ikut jatuh.

— Paolo kerja?

— Dia sibuk sekolah.

— Ada beasiswa?

— Tidak.

— Keluarganya kirim uang?

— Ibunya sakit. Dia punya adik kecil.

Aku mengangguk.

— Jadi dia tidak bisa menghidupi dirinya sendiri.

Mata Camille langsung merah.

— Ma!

Aku menatapnya.

— Dia tidak bisa menghidupi dirinya sendiri, tapi dia membiarkan anakku meminta ₱37.000 tambahan tiap bulan.

Dia berdiri.

— Ma, kamu belum kenal dia!

— Aku kenal kamu.

Air matanya jatuh.

— Aku hanya ingin membantu dia sedikit.

— Sedikit itu berapa?

Dia tidak menjawab.

Tiba-tiba HP-nya menyala di meja.

Notifikasi GCash muncul:

Paolo: “Babe, jangan lupa DP motor kakak besok. Sudah aku bilang ke rumah.”

Tangannya gemetar.

Dia cepat membalik HP.

Tapi sudah terlambat.

Aku sudah melihatnya.

— Jadi ₱55.000 itu bukan untuk hidupmu di Manila.

— Tapi untuk kehidupan seluruh keluarga Paolo.

Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian cerita tersebut:

Bagian 2: Batas Antara Cinta dan Kebodohan

Camille langsung berlutut di depanku. Air matanya menghapus sisa-sisa bedak murah di pipinya.

“Ma, tolong… Paolo berjanji akan mengembalikannya setelah dia lulus dan bekerja. Kakaknya butuh motor itu untuk jadi ojek online, supaya bisa bantu biaya berobat ibunya. Kalau bukan aku yang bantu, siapa lagi, Ma? Aku sayang sama dia.”

Aku menatap anak tunggalku. Dada ini rasanya sesak, seperti dihantam batu besar. Tujuh tahun di Dubai, menahan rindu dan makian majikan, lalu pulang ke rumah untuk membakar kulit di depan wajan panas setiap hari—semua itu agar Camille punya masa depan. Bukan agar dia menjadi mesin ATM bagi keluarga pria yang bahkan belum tentu menjadi suaminya.

“Camille,” suaraku terdengar sangat dingin, bahkan membuat diriku sendiri takut. “Berdiri.”

Dia menggeleng, memeluk lututku. “Ma, sekali ini saja…”

“Berdiri, Camille!” bentakku.

Dia terlonjak, perlahan berdiri sambil sesenggukan. Aku mengambil HP-nya yang terbalik di meja, membalikkan layarnya, lalu mengetik sesuatu di sana.

“Ma! Mau apa?!” Camille panik, mencoba merebut ponselnya.

Aku menjauhkan HP itu dari jangkauannya. Aku mengirim pesan balasan kepada Paolo melalui akun GCash-nya yang terhubung dengan ruang obrolan mereka:

“Ini ibunya Camille. Mulai bulan depan, uang bulanan Camille dipotong menjadi ₱10.000. Jika kamu butuh uang DP motor, silakan datang ke warungku di Quezon City. Kita hitung berapa utang yang sudah anakku bayar untukmu.”

Detik itu juga, ponsel Camille sunyi. Tidak ada balasan.

“Kamu lihat?” kataku sambil melempar HP itu ke sofa. “Laki-laki yang katanya mencintaimu itu bahkan tidak punya keberanian untuk membalas pesan ibumu.”

“Mama jahat! Mama menghancurkan hubungan kami!” teriak Camille, lalu berlari masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.

Malam itu, makanan di meja mendingin tanpa disentuh. Aku duduk sendirian di warung yang sudah sepi, menatap jalanan Quezon City yang basah oleh sisa hujan. Aku tahu, jika aku melembut sekarang, aku akan kehilangan Camille selamanya. Dia harus bangun dari mimpi buruk yang dia kira adalah dongeng cinta.

Bagian 3: Kebenaran yang Pahit

Tiga hari berikutnya adalah siksaan. Camille mengurung diri, menolak makan, dan hanya menangis. Namun, pada hari keempat, sebuah taksi berhenti di depan warung.

Seorang wanita paruh baya turun bersama seorang pemuda berjaket lusuh. Itu Paolo dan ibunya. Wajah Camille langsung cerah saat melihat mereka dari jendela kamar, dia berlari keluar, mengira kekasihnya datang untuk berjuang.

Namun, kenyataan tidak seindah drama televisi.

“Anda ibunya Camille?” tanya wanita itu tanpa basa-basi, suaranya ketus. “Anak Anda berjanji akan membantu kami. Gara-gara pesan Anda, anak saya stres dan tidak mau kuliah! Kami sudah telanjur memesan motor itu!”

Aku menuangkan air putih ke gelas, lalu duduk dengan tenang. “Siapa yang memesan motor?”

“Kami! Tapi Camille yang bilang dia punya uang lebih dari ibunya yang punya usaha di Manila!” jawab wanita itu tanpa malu.

Aku menatap Paolo, pemuda yang dipuja anakku. Dia hanya menunduk, sibuk memainkan kunci motor lama di tangannya, bahkan tidak berani menatap mataku. Dia menyembunyikan tubuhnya di balik punggung ibunya yang mengomel.

“Camille,” panggilku lambat. Anakku berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi. “Kemari.”

Dia berjalan mendekat, matanya menatap Paolo, berharap pria itu menggandeng tangannya atau membelanya. Tapi Paolo justru memalingkan wajah.

“Dengar,” kataku pada ibu Paolo. “Uang yang dipakai Camille untuk membelikan anakmu baju, sepatu, dan makanan selama ini adalah uang makannya sendiri. Dia menahan lapar di Manila agar anakmu terlihat keren di mall. Dan sekarang, kalian meminta ₱55.000 sebulan? Dari mana kalian pikir uang itu berasal? Dari keringat saya menjual makanan seharga ₱50 per porsi kepada sopir-sopir di luar sana!”

Ibu Paolo mendengus. “Kalau tidak ikhlas, tidak usah sok kaya! Ayo, Paolo, cari perempuan lain yang lebih berguna. Lagipula, anak pelayan di Dubai tidak cocok dengan calon insinyur seperti kamu!”

Plak!

Bukan aku yang menampar meja, tapi Camille.

Anakku maju dengan napas memburu, air matanya menetes, tapi kali ini bukan karena sedih—melainkan karena murka. Dia menatap Paolo yang tetap diam membisu saat ibunya menghina pekerjaanku.

“Keluar,” bisik Camille, suaranya bergetar.

“Apa kamu bilang?!” sahut ibu Paolo.

“Aku bilang KELUAR!” teriak Camille, suaranya menggema di seluruh kedai. “Paolo, keluar dari sini! Jangan pernah hubungi aku lagi! Kembalikan semua barang yang aku belikan, atau aku akan laporkan kakakmu ke polisi karena memakai uangku untuk jaminan motor!”

Melihat Camille mengamuk, ibu dan anak itu ketakutan. Mereka segera berbalik dan pergi dengan terburu-buru, menyetop taksi pertama yang lewat.

Bagian 4: Pulang ke Rumah

Malamnya, suasana kedai kembali sunyi. Camille duduk di sebelahku di dekat kompor yang sudah mati. Bahunya berguncang hebat saat dia menangis, tapi kali ini, dia mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Maaf, Ma… Maafkan aku,” bisiknya di sela tangis. “Aku sangat bodoh. Aku mengira dengan memberi semua yang aku punya, dia akan tetap tinggal dan menyayangiku. Aku lupa kalau uang itu adalah darah dan keringat Mama.”

Aku mengusap rambutnya, mencium puncak kepalanya yang berbau matahari. Rasa perih di hatiku perlahan sirna, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. Anakku yang baik telah kembali.

“Cinta itu menumbuhkan, Camille, bukan memeras,” kataku lembut. “Laki-laki yang baik tidak akan membiarkan wanitanya mengemis pada ibunya demi menghidupi keluarganya sendiri.”

Dia mengangguk dalam pelukanku.

Januari tiba, dan Camille kembali ke Manila untuk melanjutkan semester barunya. Tidak ada lagi permintaan ₱55.000. Uang bulanannya tetap ₱18.000.

Minggu lalu, dia mengirimiku sebuah foto melalui Viber. Foto sebuah handphone baru, yang dibelinya sendiri dari uang hasil bekerja paruh waktu sebagai asisten dosen di kampusnya. Di bawah foto itu, dia menulis pesan singkat yang membuat semua lelahku menguap tak berbekas:

Ma, lihat. Aku bisa membeli ini dengan hasil kerjaku sendiri. Mulai sekarang, uang Mama cukup untuk perbaiki atap rumah kita saja. Biar aku yang menjaga masa depanku sendiri.