Posted in

Baru Saja Aku Duduk di Acara Jamuan, Seorang Pelayan Memaksaku Minum Susu Formula Bayi. Lalu “Baby Princess” Menyuruhku Berlutut dan Menjilati Susu yang Tumpah. Aku Hanya Tersenyum dan Berkata, “Panggil Delapan Kakakmu.”

Baru Saja Aku Duduk di Acara Jamuan, Seorang Pelayan Memaksaku Minum Susu Formula Bayi. Lalu “Baby Princess” Menyuruhku Berlutut dan Menjilati Susu yang Tumpah. Aku Hanya Tersenyum dan Berkata, “Panggil Delapan Kakakmu.”

BAGIAN 1

Aku baru saja duduk di meja sebuah jamuan mewah di hotel bintang lima kawasan SCBD, Jakarta…

Seorang pelayan langsung menghampiriku.

Di tangannya ada sebotol susu formula bayi.

Tanpa basa-basi, ia menyodorkannya ke depan mulutku.

“Nona Sofia…”

“Ini susu yang dibuat dengan suhu tepat 37,5°C, sesuai perintah Anda.”

Aku mengernyit.

“Maaf…”

“Sepertinya Anda salah orang.”

“Lagipula aku sudah dewasa.”

“Kenapa aku harus minum susu formula bayi?”

Aku bahkan belum selesai berbicara…

Tiba-tiba seorang wanita bergaun putri berwarna merah muda berlari menghampiri.

Rambutnya dipenuhi pita.

Di tangannya tergenggam boneka.

Begitu melihat wajahku…

Ekspresinya langsung berubah gelap.

“Pantas saja!”

“Aku sudah curiga!”

“Berani sekali kamu meniruku!”

Dengan marah ia merebut botol susu itu.

Lalu membantingnya ke lantai marmer.

PRAANG!

Susu langsung tumpah ke mana-mana.

Ia menunjukku dengan angkuh.

“Berlutut!”

“Jilat semua susu yang tumpah itu!”

Aku terdiam beberapa detik.

Lalu perlahan menunjuk kepalaku sendiri.

“Permisi…”

“Kamu baik-baik saja?”

“Ada yang salah dengan kepalamu?”

Kupikir dia akan semakin marah.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Ia tiba-tiba duduk di lantai.

Menghentak-hentakkan kaki.

Menangis meraung-raung.

Persis seperti anak kecil berusia tiga tahun.

“Baby di-bully!”

“Panggil Kakak-Kakak!”

Dalam sekejap…

Semua tamu menoleh ke arah kami.

Suara bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.

“Habislah wanita itu.”

“Dia salah cari lawan.”

“Berani-beraninya menyinggung Baby Princess.”

Seorang pria menggelengkan kepala.

“Apa dia tidak tahu?”

“Delapan pewaris keluarga terkaya di Jakarta sangat tergila-gila pada Baby Princess.”

“Siapa pun yang membuatnya menangis…”

“…tidak akan berakhir baik.”

Seorang wanita lain ikut berbisik,

“Kalau jadi dia…”

“…aku lebih baik langsung berlutut.”

“Nyawa jauh lebih penting daripada harga diri.”

Aku hanya tersenyum.

Delapan pewaris?

Cerita itu terdengar sangat familiar.

Aku bahkan tak bisa menahan tawa.

Baru beberapa tahun aku meninggalkan Indonesia…

Ternyata delapan anak pungut yang dulu kubesarkan…

Kini benar-benar sudah besar kepala.

Aku hanya berharap…

Mereka belum lupa…

Siapa orang pertama yang memberi mereka makan saat mereka hampir mati kelaparan.

Sementara Baby Princess masih menangis di lantai…

Aku menoleh santai ke arah orang-orang di sekitarku.

“Dia sebenarnya siapa?”

“Kenapa aku belum pernah mendengar nama keluarga Villanueva sebelumnya?”

“Apakah mereka keluarga baru di kalangan elite?”

Semua orang langsung menatapku.

Seolah melihat hantu.

“Hah?”

“Kamu tidak kenal Baby Princess?”

Seorang wanita segera menjelaskan.

“Nama aslinya Sofia Villanueva.”

“Katanya…”

“…delapan tuan muda itu hanya bertemu dengannya sekali.”

“Sejak saat itu…”

“…mereka langsung tergila-gila padanya.”

“Dia suka bersikap manja seperti anak kecil.”

“Dia ingin diperlakukan seperti bayi seumur hidup.”

“Itulah sebabnya seluruh kalangan elite memanggilnya Baby Princess.”

Aku menyeringai tipis.

Sepertinya…

Bukan hanya menjadi kaya.

Otak delapan anak nakal itu…

Juga ikut bermasalah.

Seorang pria lain mendekat.

“Belum dengar soal insiden susu bulan lalu?”

Aku menggeleng.

“Apa yang terjadi?”

Ia berkata pelan,

“Hanya Baby Princess yang boleh minum susu dengan suhu tepat 37,5°C.”

“Selisih setengah derajat saja…”

“…dia tidak mau meminumnya.”

“Ada pelayan yang salah membuatnya.”

“Seharusnya 37,5°C.”

“Yang disajikan justru 38°C.”

“Katanya bibir Baby Princess langsung memerah.”

“Delapan tuan muda itu murka.”

“Keesokan harinya…”

“…pelayan itu dikabarkan mengalami patah di kedua lengannya.”

Aku tertawa kecil.

Tiga puluh delapan derajat?

Bahkan lebih dingin daripada air yang biasa kupakai mandi.

Lalu…

Masih ada yang percaya suhu seperti itu bisa membuat bibir melepuh?

Yang lebih lucu lagi…

Ada orang yang memakai alasan seperti itu…

Untuk menghancurkan hidup orang lain.

Sementara itu…

Sofia mengangkat dagunya dengan bangga.

“Memang pantas.”

“Mulut Baby sangat sensitif.”

“Kurang sedikit saja…”

“…bibirku bisa terluka.”

“Wajar kalau Kakak-Kakak membelaku.”

Perlahan senyumku menghilang.

Di dalam benakku…

Satu per satu wajah delapan anak itu kembali terbayang.

Ada yang dulu berebut makanan dengan anjing liar.

Ada yang tidur di bawah kolong jembatan.

Ada yang hampir mati kelaparan.

Akulah yang membawa mereka pulang.

Akulah yang membesarkan mereka.

Baru beberapa tahun aku pergi…

Mereka berubah menjadi seperti ini?

Aku menggeleng pelan.

“Katamu…”

“Kakak-Kakakmu sedang dalam perjalanan, kan?”

“Bagus.”

“Panggil mereka.”

“Aku juga ingin bicara dengan mereka.”

Sofia langsung terdiam.

Sesaat kemudian ia berdiri dan menunjukku dengan marah.

“Memangnya kamu siapa berani memanggil mereka?”

“Jangan mentang-mentang wajahmu sedikit mirip Baby…”

“…lalu berpikir mereka akan menyukaimu!”

“Di seluruh dunia…”

“…hanya aku yang dicintai Kakak-Kakakku!”

Aku hanya menghela napas.

Berdebat dengan orang yang kekanak-kanakan…

Hanya membuang waktu.

Aku memandang ke sekeliling.

“Ada yang tahu daftar tamu malam ini?”

“Apakah delapan tuan muda itu akan datang?”

Seseorang mengangguk.

“Biasanya…”

“…mereka tidak pernah menghadiri acara seperti ini.”

“Tapi kalau Baby Princess ada di sini…”

“…mereka pasti datang.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

“Aku akan menunggu mereka.”

Baru saja aku hendak duduk kembali…

Sofia kembali berteriak.

“Hei!”

“Aku belum mengizinkanmu pergi!”

“Kamu membuat Baby sedih!”

Ia langsung menarik lengan seorang wanita tua bertubuh gemuk di sampingnya.

“Bibi!”

“Wanita ini menindasku!”

“Ajari dia sopan santun!”

Wanita tua itu segera melangkah mendekat.

Tatapannya penuh kebencian.

“Perilaku macam apa ini?”

“Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun?”

“Kalau ibumu gagal mendidikmu…”

“…biar aku yang mengajarimu!”

Selesai berkata demikian…

Ia mengangkat tangannya.

Bersiap menampar wajahku.

Namun sebelum telapak tangannya menyentuh pipiku…

Aku sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.

Dalam waktu yang bersamaan…

Aku mengangkat tangan satunya.

PLAAAK!

Suara tamparan keras menggema di seluruh ballroom.

BAGIAN 2 (TAMAT)

Wanita tua itu terhuyung mundur, memegangi pipinya yang langsung memerah seketika. Seluruh aula kembali tersentak dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada yang menyangka aku akan membalas, apalagi di depan Sofia “Baby Princess” Villanueva.

“Kamu… kamu berani menamparku?!” jerit wanita tua itu histeris.

“Ibuku mendidikku dengan sangat baik,” kataku dengan nada sedingin es, sambil menyeka tanganku menggunakan tisu kain di meja. “Dia mengajariku untuk tidak pernah membiarkan anjing menggigitku tanpa memukulnya kembali.”

Sofia langsung menjerit, menghentakkan kakinya lebih keras. “Kamu keterlaluan! Kakak-kakakku akan membunuhmu! Mereka sudah sampai!”

Tepat saat itu, pintu ganda ballroom terbuka lebar. Delapan pria berjas mahal dengan aura intimidasi yang kuat melangkah masuk secara bersamaan. Mereka adalah delapan pewaris takhta bisnis tertinggi di Jakarta—anak-anak terlantar yang dulu kuselamatkan dari kerasnya jalanan.

Melihat kedatangan mereka, Sofia langsung berlari sambil menangis dramatis, menjatuhkan dirinya ke pelukan pria yang berdiri paling depan—Jonathan, si sulung.

“Kak Jo! Kakak semua! Wanita miskin itu menindas Baby! Dia membanting susu Baby, memaki Baby, bahkan menyuruh pelayan menampar Bibi!” adu Sofia sambil terisak manja.

Delapan pria itu seketika menatap ke arahku dengan tatapan membunuh. Saking marahnya, aura di sekitar mereka membuat para tamu undangan mundur teratur karena ketakutan.

“Siapa yang berani menyentuh adik kami?” suara dingin Jonathan menggema, matanya menyapu tajam sebelum akhirnya terkunci pada wajahku.

Satu detik. Dua detik.

Senyum tipis terukir di wajahku saat aku perlahan berdiri dari kursi, melipat tangan di dada, dan menatap mereka satu per satu. “Jonathan. Erlangga. Christian. Gavin…” Aku menyebutkan nama mereka satu per satu hingga anak kedelapan. “…Kalian benar-benar sudah tumbuh besar ya. Sampai-sampai lupa cara menggunakan mata dan otak kalian.”

Begitu suaraku terdengar, tubuh kedelapan pria perkasa itu langsung membeku seketika.

Wajah Jonathan yang tadinya dipenuhi amarah, mendadak berubah pucat pasi. Pegangannya pada Sofia terlepas begitu saja. Di belakangnya, Erlangga dan Christian bahkan hampir menjatuhkan ponsel mereka.

“Kak… Kak Elena?” bisik Jonathan dengan suara bergetar hebat, nyaris tak terdengar.

Sofia yang tidak menyadari perubahan atmosfer itu langsung berteriak, “Kak Jo, kenapa dilepas? Cepat suruh pengawal patahkan tangannya! Dia meniru namaku, dia menyuruh Baby berlutut menjilat susu!”

“DIAM!” bentak Jonathan dengan suara menggelegar. Bukan kepadaku, melainkan kepada Sofia.

Sofia tersentak kaget, wajah manjanya berganti ketakutan yang mendalam. Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, delapan pria yang biasanya menguasai ekonomi kota itu tiba-tiba melangkah maju serempak—lalu berlutut serendah-rendahnya di hadapanku.

Seluruh penonton di ballroom serentak menahan napas. Beberapa investor bahkan menjatuhkan gelas anggur mereka hingga pecah. Delapan penguasa Jakarta… berlutut?

“Kak Elena… Demi Tuhan, kami tidak tahu kalau itu Kakak,” Erlangga angkat bicara dengan suara bergetar, kepalanya menunduk dalam-dalam ke lantai marmer. “Kami bodoh, kami buta karena mengira wanita ini adalah anak kecil yang dulu pernah Kakak ceritakan…”

Aku berjalan mendekati mereka, menginjak genangan susu yang tumpah di lantai dengan sepatu hak tinggiku. Aku berhenti tepat di depan Jonathan.

“Dulu, saat kalian berebut makanan dengan anjing dan hampir mati kelaparan di kolong jembatan, aku mengajarkan kalian untuk menjadi kuat agar bisa melindungi orang lain. Bukan untuk menjadi tiran yang mematahkan lengan orang hanya karena masalah suhu susu,” kataku, suaranya pelan namun menusuk hingga ke tulang mereka.

“Kami salah, Kak… Tolong ampuni kami,” bisik Christian, air mata mulai mengalir di wajahnya yang biasanya garang di dunia bisnis.

Aku melirik Sofia yang kini terduduk lemas di lantai, menyadari bahwa seluruh topeng “Princess” dan pelindungnya telah lenyap dalam sekejap. Wanita tua yang tadi ingin menampar daku pun sudah gemetar ketakutan di pojok ruangan.

“Kalian merintis bisnis menggunakan modal pertama yang kuberikan dari hasil keringatku,” ujarku dingin. “Mulai malam ini, aku menarik kembali seluruh hak veto dan saham 51% di setiap perusahaan kalian. Kembali ke dasar. Jika dalam satu tahun kalian tidak bisa membersihkan nama baik kalian dari sifat arogan ini, aku sendiri yang akan menghancurkan apa yang kubangun.”

“Baik, Kak. Kami terima,” jawab Jonathan tanpa berani membantah sedikit pun. Bagi mereka, kehilangan harta tidak ada apa-apanya dibandingkan kehilangan restu dari wanita yang sudah mereka anggap sebagai ibu dan penyelamat hidup mereka.

Aku berbalik, mengambil tas tanganku, dan berjalan melewati delapan pria yang masih berlutut dengan khidmat. Sebelum melangkah keluar dari pintu ballroom, aku berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Bersihkan kekacauan ini. Dan pastikan wanita itu…” aku menunjuk Sofia dengan daguku, “…belajar cara meminum susunya sendiri tanpa merepotkan dunia.”

Aku melangkah keluar ke udara malam Jakarta yang segar. Delapan anak nakal itu memang butuh pelajaran keras, dan malam ini, sang mentor telah kembali untuk mendisiplinkan kerajaannya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.