Posted in

Beberapa menit sebelum pernikahan saya, seorang wanita tunawisma menggenggam tangan saya dan berbisik, “Jika kau menikah dengannya, kau tidak akan hidup lama.” Beberapa jam kemudian, saya melihat pesan di ponsel suami saya… dan seketika itu juga, rasa dingin menjalari tulang punggung saya.

Beberapa menit sebelum pernikahan saya, seorang wanita tunawisma menggenggam tangan saya dan berbisik, “Jika kau menikah dengannya, kau tidak akan hidup lama.” Beberapa jam kemudian, saya melihat pesan di ponsel suami saya… dan seketika itu juga, rasa dingin menjalari tulang punggung saya.

Firasat yang menakutkan

“Jika kau menikah dengan pria itu… kau tidak akan hidup lama.”

Itulah kata-kata pertama yang saya dengar di hari pernikahan saya.

Bukan dari ibu saya.

Bukan dari sahabat saya.

Dan tentu saja bukan dari mantan pacar yang cemburu.

Tetapi dari seorang wanita tunawisma lanjut usia yang berdiri di depan kantor catatan sipil di Jakarta.

Tangannya memegang botol air kosong.

Tangannya gemetar.

Dan dia menatap saya seolah-olah dia sudah tahu bagaimana kisah saya akan berakhir.

Saya Sofia Ramirez.

Tiga puluh tiga tahun.

Mengenakan gaun putih sederhana.

Memegang buket bunga putih.

Dan aku terus meyakinkan diri sendiri bahwa detak jantungku yang berdebar kencang hanyalah kegugupan normal seorang calon pengantin.

Semua orang berkata—
Adrian Castillo adalah pria yang sempurna.

Sukses.

Sopan.

Tampan.

Berstatus.

Tipe pria yang membuat orang berseru, “Kamu sangat beruntung,” meskipun mereka hampir tidak mengenalnya.

Ibuku menangis ketika aku memberitahunya bahwa aku akan menikah.

Sahabatku, Carla, bercanda bahwa aku akhirnya keluar dari klub “selamanya lajang”.

Bahkan rekan-rekanku memperlakukan pertunanganku seperti memenangkan lotre.

Dan aku tersenyum kepada mereka semua.

Karena aku ingin mempercayainya.

Tapi jauh di lubuk hati—
Ada sesuatu yang salah.

Kontrol di balik emosi
Adrian adalah pria yang suka mengendalikan segalanya.

Dia menyebutnya “perlindungan.”

Dia mengambil keputusan dengan cepat.

Dan dia mengharapkan semua orang untuk mengikutinya.

Dia sangat pandai berbicara di depan umum.

Selalu tahu apa yang harus dikatakan. Tapi pagi itu…
Dalam perjalanan ke pesta pernikahan—
Dia sangat pendiam.

Ponselnya selalu menyala.

Setiap kali aku meliriknya…
Dia langsung mematikannya.

Seolah-olah dia menyembunyikan sesuatu.

Ketika kami sampai—
Dia bilang dia perlu menelepon seseorang sebentar.

Dia pergi ke pohon di pinggir jalan.

Dan di sana—
Seorang wanita tua mendekat.

Dia meminta air.

Aku memberikannya.

Bukan karena aku terlalu baik—
Tapi karena tanganku gemetar dan aku perlu melakukan sesuatu untuk menenangkan diri.

Dia minum.

Dia menyeka mulutnya.

Dan tiba-tiba—
Dia meraih pergelangan tanganku.

Tangannya sedingin es.

Dia membuka telapak tanganku.

Dia mendekat.

“Dan dengarkan baik-baik,” bisiknya.

“Jika dia ingin kau menandatangani sesuatu hari ini… jangan tanda tangani.”

Aku membeku.

“Apa?” “Tidak peduli apa yang dia katakan. Tidak peduli seberapa marahnya dia. Katakan padanya nanti. Bukan sekarang.”

Jantungku berdebar kencang.

Aku ingin menyebutnya gila.

Aku ingin mengabaikan semuanya.

Tapi—
Adrian berbalik.

Dan ketika dia melihat wanita yang memegang tanganku—
Ekspresinya berubah.

Mungkin tidak ada orang lain yang memperhatikan.

Tapi aku memperhatikan.

Dia tidak bertanya siapa wanita itu.

Dia tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.

Dia memegang sikuku—
Dengan cukup kuat—
Dan membawaku masuk.

Jebakan di balik janji suci
Dan akhirnya aku menikah dengannya.

Aku menandatangani akta nikah.

Aku tersenyum untuk kamera.

Ibuku menangis bahagia.

Ibunya—
Nyonya Teresa—
Memberikan ciuman dingin di pipiku…
Seolah-olah kesepakatan bisnis baru saja selesai.

Semuanya—
Terlihat normal.

Bahkan indah.

Sampai akhirnya kami masuk ke dalam mobil.

Adrian mengambil setumpuk dokumen dari laci dasbor.

Berwarna krem.

Sederhana.

Namun tiba-tiba emosiku menjadi berat.

“Kita hanya perlu mampir ke kantor notaris,” katanya.

“Ini hanya kontrak jual beli rumah. Hanya formalitas. Kamu tanda tangani sekarang, dan semuanya selesai.”

Tiba-tiba, suara wanita tua itu bergema di kepalaku—“Jangan tanda tangani.”

Aku menatap berkas itu.

Aku menatap suamiku.

Dan untuk pertama kalinya—
Aku menolak.

“Aku tidak akan menandatangani hari ini.”

Dia tidak berteriak.

Dia tidak marah.

Namun tangannya mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Kami terdiam sepanjang perjalanan.

Malam itu—
Di rumah yang seharusnya menjadi rumah pertama kami—
Dia mencium keningku.

Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Lalu dia masuk ke kamar mandi.

Aku—
Berdiri di dapur.

Masih mengenakan gaun pengantin.

Aku mencoba berpikir mungkin aku hanya bereaksi berlebihan.

Dan tiba-tiba—
Ponselnya, di atas meja, menyala.

Sebuah pesan masuk.

Dari nomor yang tidak dikenal.

Hanya satu baris—
“Jadi… apakah dia sudah menandatangani?”

Aku menahan napas.

Darahku membeku.

Dan saat itulah aku mengerti—
Ini bukan pernikahan.

Ini bukan cinta.

Ini jebakan.

Dan aku—
dengan sukarela masuk ke dalamnya.

Dan yang tidak kuketahui…
Ada sesuatu yang jauh lebih buruk menunggu setelah ini…

Aku gemetar. Dengan jari yang kaku, aku mencoba menyentuh layar ponselnya yang masih menyala. Pesan itu diikuti oleh satu pesan lagi dari nomor yang sama:

“Tuan Hernandez sudah tidak sabar. Jika malam ini belum ada tanda tangan, dia akan menarik dukungannya untuk kampanye ayahmu.”

Jantungku serasa berhenti berdetak. Tuan Hernandez? Ayah Adrian adalah seorang politikus senior yang sedang mencalonkan diri sebagai gubernur. Selama ini mereka dicitrakan sebagai keluarga yang bersih dan harmonis. Tapi pesan ini menunjukkan sisi gelap yang jauh dari bayangan siapa pun.

Tiba-tiba, ada satu notifikasi email masuk yang muncul di bagian atas layar. Judulnya: “Polis Asuransi Jiwa & Pengalihan Aset Sofia Ramirez – DRAF FINAL.”

Karena ponsel itu tidak terkunci sepenuhnya akibat notifikasi yang terus masuk, aku berhasil menggeser layar. Di sana, di dalam draf asuransi itu, tertera angka yang membuat kepalaku pening. Sepuluh juta dolar. Dan penerima manfaat tunggal jika terjadi “kematian mendadak” padaku adalah Adrian Castillo.

Wajah Asli Sang Pangeran

Suara air di kamar mandi berhenti.

Aku segera meletakkan ponsel itu kembali ke tempatnya semula, jantungku berdegup sangat kencang hingga telingaku berdenging. Aku harus lari. Tapi pintu apartemen dikunci dengan kode digital yang hanya diketahui Adrian.

Adrian keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan jubah mandi hitam. Ia menatapku, matanya tidak lagi memancarkan kehangatan, melainkan ketajaman seorang pemangsa.

“Kenapa belum ganti baju, Sofia?” tanyanya sambil berjalan mendekati meja dapur. “Dan kenapa ponselku berpindah posisi?”

Aku mundur selangkah, menabrak konter dapur. “Adrian… siapa Tuan Hernandez?”

Ruangan itu seketika menjadi sunyi. Adrian berhenti melangkah. Ekspresi wajahnya berubah drastis—dari ketenangan yang dibuat-buat menjadi seringai dingin yang mengerikan.

“Kau lancang sekali, Sofia,” desisnya. Ia mengambil ponselnya, membacanya sebentar, lalu menatapku lagi. “Aku benci wanita yang terlalu ingin tahu. Padahal jika kau tadi menandatangani surat notaris itu, aku mungkin akan membiarkanmu hidup setidaknya satu atau dua tahun lagi sebagai pajangan di sampingku.”

Antara Hidup dan Mati

Adrian melangkah maju, mencengkeram rahangku dengan satu tangan. Kekuatannya luar biasa. “Keluargaku sedang di ambang kebangkrutan karena hutang kampanye. Kau adalah solusi kami. Kau cantik, dari keluarga baik-baik, dan yang paling penting… kau punya aset warisan dari kakekmu yang cukup untuk menyelamatkan karier ayahku.”

“Kau gila,” bisikku sambil mencoba melepaskan diri.

“Gila? Tidak, ini bisnis. Dan sekarang, karena kau sudah tahu terlalu banyak…” ia merogoh saku jubah mandinya dan mengeluarkan sebuah suntikan kecil berisi cairan bening. “Kita akan membuat ‘malam pertama’ kita menjadi berita duka di koran besok pagi. Serangan jantung karena kelelahan setelah pernikahan… puitis, bukan?”

Tepat saat ia hendak menyuntikkan cairan itu ke lenganku, sebuah gedoran keras terdengar dari pintu depan.

BRAK! BRAK! BRAK!

“POLISI! BUKA PINTUNYA! KAMI MEMILIKI SURAT PERINTAH PENGGELEDAHAN!”

Adrian tertegun. Cengkeramannya mengendur. Aku memanfaatkan momen itu untuk menyikut perutnya sekuat tenaga dan berlari ke arah balkon, berteriak sekencang-kencangnya.

Penyelamat dari Masa Lalu

Pintu apartemen didobrak paksa. Sekelompok polisi masuk, dan di barisan depan, aku melihat sosok yang sangat tidak asing. Wanita gelandangan tadi pagi.

Tapi dia tidak lagi memakai baju compang-camping. Dia mengenakan jaket kulit hitam dan memegang lencana detektif.

“Detektif Sarah, Unit Kejahatan Kerah Putih,” katanya tegas sambil menodongkan senjata ke arah Adrian yang terpaku. “Adrian Castillo, Anda ditahan atas dugaan konspirasi pembunuhan berencana dan penipuan asuransi terhadap tiga istri Anda sebelumnya.”

Tiga istri sebelumnya? Aku jatuh terduduk di lantai, badanku menggigil hebat.

Wanita yang kusangka gelandangan itu menghampiriku dan menyelimutiku dengan jaketnya. “Maaf aku harus menggunakan penyamaran ekstrem tadi pagi. Kami sudah mengintai keluarga Castillo selama dua tahun, tapi kami butuh bukti langsung bahwa dia akan mencoba membunuhmu malam ini untuk menangkapnya.”

Aku menatap Adrian yang kini diborgol dan diseret keluar. Dia terus memaki, wajah tampannya kini tampak seperti monster.

“Siapa mereka sebenarnya?” tanyaku dengan suara serak.

“Mereka adalah pemangsa,” jawab Detektif Sarah pelan. “Dan kau, Sofia, adalah satu-satunya yang berhasil selamat karena kau memilih untuk tidak mengabaikan firasatmu.”

Malam itu, di bawah lampu kota Jakarta yang gemerlap, aku melepas cincin berlian di jariku dan melemparkannya ke lantai. Pernikahanku hanya bertahan tiga jam, tapi setidaknya, aku akan bertahan hidup selamanya.