Posted in

BOS MAFIA MENCULIK SAUDARA KEMBAR YANG SALAH—KINI DIA HARUS MENYAMAR SEBAGAI ISTRI KEJAM PRIA ITU DEMI BERTAHAN HIDUP!**

BOS MAFIA MENCULIK SAUDARA KEMBAR YANG SALAH—KINI DIA HARUS MENYAMAR SEBAGAI ISTRI KEJAM PRIA ITU DEMI BERTAHAN HIDUP!**

## I. Aroma Mesiu dan Parfum Mewah

Aroma mesiu bercampur parfum mahal. Bau itu adalah satu-satunya yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup.

Dua menit sebelumnya, yang kupikirkan hanya sisa macaroni panggang di dalam kulkas apartemen kecilku. Aku berjalan menyusuri gang sempit dan gelap di belakang restoran tempatku bekerja ketika semuanya terjadi begitu cepat. Sebuah tangan besar berbalut sarung tangan kulit hitam menutup mulutku. Bahkan sebelum sempat berteriak, pandanganku berputar. Dunia di sekelilingku terasa seperti komidi putar rusak yang berputar semakin kencang, hingga akhirnya semuanya tenggelam dalam kegelapan.

Saat membuka mata, aku sudah terbaring di atas ranjang empuk berselimut sutra. Kamarnya sangat luas, dipenuhi furnitur bernuansa emas dan hitam yang memancarkan kemewahan.

Pintu kamar perlahan terbuka.

Seorang pria masuk.

Aku langsung mengenal wajahnya—**Dante Navarro**.

Dia adalah bos mafia paling ditakuti di seluruh Jakarta, penguasa dunia bawah yang namanya membuat siapa pun gemetar. Namun, lebih dari itu, dia juga suami saudara kembarku, **Mira**.

“Jadi kau pikir kau bisa kabur, Mira?” ucap Dante dengan suara sedingin es. Ia melangkah mendekat, mencengkeram daguku dengan kuat, lalu menatap lurus ke mataku.

“Setelah kau mencoba menjual rahasia organisasi kita kepada musuh, kau pikir aku akan membiarkanmu hidup?”

Mataku membelalak.

Aku adalah **Maya**, hanya seorang koki biasa. Saudara kembarku, Mira, yang sudah sepuluh tahun tak pernah kutemui, memilih hidup di dunia gelap dan menikah dengan pria ini.

Dante mengira aku adalah istrinya yang telah mengkhianatinya.

Aku hampir membuka mulut untuk mengatakan yang sebenarnya.

Namun ketika mataku menangkap pistol yang terselip di pinggangnya, semua kata-kata langsung tertahan di tenggorokan.

Aku tahu aturan dunia mafia.

Tidak ada saksi yang dibiarkan hidup.

Kalau dia tahu telah menculik orang yang salah, aku pasti akan dibunuh.

Aku harus berpura-pura.

Aku harus menjadi Mira.

## II. Penyamaran yang Mustahil

Hari-hari berikutnya, rumah mewah milik Dante berubah menjadi penjara bagiku.

Mira yang asli dikenal sebagai wanita berhati dingin, berani, dan kejam. Dari bisik-bisik para pelayan, aku mengetahui bahwa Mira hanya minum kopi hitam tanpa gula, gemar merokok, dan tak segan menampar siapa pun yang melakukan kesalahan saat melayaninya.

Semua itu benar-benar bertolak belakang denganku.

Suatu pagi, saat sarapan bersama Dante di meja makan yang panjang, tanpa sadar aku menuangkan banyak susu dan gula ke dalam kopiku.

Aku juga lupa memarahi pelayan yang keliru meletakkan garpu.

Sebaliknya, aku malah tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadanya.

Pisau di tangan Dante berhenti memotong steak.

Ia mengangkat kepala dan menatapku dengan sorot mata penuh kecurigaan.

Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir (ending) dari cerita tersebut dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan langsung ke bahasa Indonesia gaul/sastra (bahasa Indonesia) sesuai dengan atmosfer aslinya, diikuti dengan versi bahasa Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia formal (atau jika Anda bermaksud bahasa Indonesia, ini dia).

Namun, karena Anda meminta “viết cái kết bằng tiếng indo” (tulis akhir cerita dalam bahasa Indonesia), berikut adalah bab penutup yang dramatis dan penuh ketegangan dalam Bahasa Indonesia:

III. Antara Hidup dan Kebenaran (Akhir Cerita)

“Sejak kapan kau menjadi begitu manis, Mira?” tanya Dante, nadanya datar namun sarat akan ancaman. Ia meletakkan pisaunya perlahan, menghasilkan dentingan tajam yang membuat jantungku hampir copot.

Aku menelan ludah, berusaha menyembunyikan tanganku yang gemetar di bawah meja. Otakku berputar cepat. Aku harus berpikir seperti Mira. Dingin, manipulatif, dan tak terduga.

“Manis?” Aku memaksakan sebuah tawa sinis, lalu mendorong cangkir kopi bersusu itu hingga tumpah ke atas taplak meja putih yang bersih. Pelayan di dekat kami langsung tersentak ketakutan.

Aku menatap Dante dengan tatapan paling tajam yang bisa kukumpulkan. “Aku hanya bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja, Dante. Dan pelayan ini… dia beruntung aku sedang tidak ingin mengotori tanganku pagi ini.”

Dante terdiam beberapa detik, menatapku intens seolah mencoba menguliti jiwaku. Perlahan, ketegangan di wajahnya mencair, digantikan oleh senyum miring yang misterius.

“Bagus,” bisiknya, berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat ke arahku. Ia membungkuk, berbisik tepat di telingaku, “Karena malam ini, musuh-musuh kita akan datang. Dan aku butuh istriku yang kejam berada di sampingku untuk menghabisi mereka.”

Saat ia melangkah pergi, aku mengembuskan napas yang sedari tadi kutahan. Aku berhasil lolos kali ini. Namun, saat melihat bayangan diriku di cermin besar ruang makan, aku sadar satu hal: Maya yang lugu telah mati di gang sempit itu.

Mulai hari ini, demi bertahan hidup, aku harus menjadi monster yang lebih mengerikan dari Mira yang asli. Permainan baru saja dimulai, dan aku tidak boleh kalah.

Catatan: Jika yang Anda maksud dengan “tiếng indo” adalah Bahasa Indonesia, teks di atas adalah kelanjutan yang pas dengan gaya bahasa novel lokal. Semoga membantu kelanjutan ceritamu!

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.