Posted in

DI ACARA SYUKURAN RUMAH BARU ADIK IPARKU, TUNANGANNYA MEROBEK AMPLop HADIAHKU DI DEPAN SEMUA TAMU

DI ACARA SYUKURAN RUMAH BARU ADIK IPARKU, TUNANGANNYA MEROBEK AMPLop HADIAHKU DI DEPAN SEMUA TAMU

Aku tidak menangis.

Aku juga tidak berdebat.

Aku hanya diam-diam memungut setiap potongan kertas yang jatuh ke lantai, memasukkannya ke dalam tas tanganku, lalu pergi.

Dua puluh menit kemudian, telepon suamiku berdering tanpa henti.

Saat melihat layar ponselnya, wajahnya langsung pucat.

Sementara itu, aku sudah duduk tenang di sebuah bangku di dalam kompleks perumahan kami, menunggu panggilan berikutnya.

Aku sudah menikah selama empat tahun.

Keluarga suamiku memang tidak kaya, tetapi selama ini mereka memperlakukanku dengan baik.

Atau setidaknya, itulah yang kupikirkan.

Nama adik iparku adalah Mia.

Sejak kecil, dia selalu menjadi anak kesayangan keluarga.

Ketika dia mengumumkan akan menikah dengan seorang pegawai kantor bernama Daniel, semua orang ikut bahagia.

Namun semakin lama aku mengenalnya, semakin kuat perasaanku bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada pria itu.

Dia suka pamer.

Suka mencari perhatian.

Dan yang paling mencolok, dia sangat terobsesi dengan uang.

Beberapa kali kami makan bersama, dan setiap kali itu pula dia berusaha mencari tahu gaji, aset, dan pekerjaanku.

Aku hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.

Karena sejak menikah, aku tidak pernah menceritakan latar belakang keluargaku kepada siapa pun.

Aku menginginkan hidup yang sederhana.

Aku tidak ingin orang memandangku secara berbeda.

Karena itu, selain suamiku, hampir tidak ada yang tahu apa pekerjaan orang tuaku.

Di mata keluarga suamiku, aku hanyalah seorang pegawai kantor biasa.

Pergi bekerja setiap hari.

Menerima gaji di akhir bulan.

Menjalani hidup sederhana seperti orang lain.

Dan aku sudah merasa cukup bahagia dengan itu.

Sampai hari ini tiba.

Hari pesta syukuran rumah baru.

Akhirnya Daniel berhasil membeli rumahnya sendiri.

Aku mendengar bahwa dia memiliki utang yang cukup besar untuk mendapatkannya.

Sepanjang pesta, dia terus menceritakan betapa keras perjuangannya membeli rumah tersebut.

Para tamu memujinya.

Dan itu membuatnya semakin besar kepala.

Aku dan suamiku datang lebih awal.

Sebagai ucapan selamat, aku menyiapkan sebuah amplop berisi uang.

Hadiah itu kuberikan secara pribadi.

Jumlahnya memang tidak terlalu besar.

Tetapi cukup untuk menunjukkan ketulusanku.

Ketika acara hampir selesai, para tamu mulai menyerahkan hadiah mereka.

Ada yang memberikan microwave.

Ada yang memberikan kipas angin.

Ada yang memberikan satu set panci baru.

Ketika giliranku tiba.

Aku tersenyum dan menyerahkan amplop itu kepada Mia.

“Selamat untuk kalian berdua. Semoga bahagia di rumah baru.”

Baru saja amplop itu berpindah tangan ketika Daniel tiba-tiba berbicara.

“Tunggu dulu.”

Semua orang langsung menoleh kepadanya.

Dia menyeringai.

“Kakak iparku orang terpelajar. Kurasa dia tidak keberatan kalau semua orang tahu isi amplop ini, kan?”

Suasana langsung menjadi canggung.

Aku tetap tersenyum.

“Nilai hadiah tidak ditentukan oleh jumlahnya, melainkan oleh niatnya.”

“Benar.”

Daniel mengangguk.

“Tapi aku penasaran.”

Dia merebut amplop itu dari tangan Mia.

Lalu membukanya di depan semua orang.

Uang di dalamnya jatuh ke lantai.

Dia menghitungnya dengan cepat.

Kemudian tertawa keras.

“Hanya segini?”

Seluruh rumah langsung hening.

Senyum Mia membeku.

Suamiku mengernyit marah.

Dengan tenang aku bertanya,

“Ada masalah?”

Dia menatapku dengan penuh penghinaan.

“Tidak juga.”

“Hanya saja aku terkejut. Kupikir kamu bisa memberi lebih banyak.”

Dia mengangkat uang yang dipegangnya.

“Lihat ini.”

“Ini hadiah dari kakak iparku untuk rumah baru kami.”

“Padahal rumah ini nilainya miliaran rupiah.”

Bisik-bisik mulai terdengar di sekeliling.

Aku langsung mengerti.

Dia sedang mempermalukanku.

Suamiku berdiri.

“Daniel, cukup.”

Tetapi Daniel tidak berhenti.

Dia memandangku dengan senyum sinis.

“Katanya kamu berasal dari keluarga kaya.”

“Aku pikir kamu akan membantu keluarga.”

“Ternyata cuma omong kosong.”

Aku menatap pria di hadapanku.

Dan dalam hati, aku justru ingin tertawa.

Selama empat tahun.

Aku selalu berusaha bersikap baik.

Setiap ada acara, aku selalu menyiapkan hadiah dengan tulus.

Jika ada yang membutuhkan bantuan, aku selalu siap membantu.

Namun baru saat itulah aku menyadari.

Ada orang-orang yang menganggap kebaikanmu sebagai kewajiban.

Dan ketika kamu tidak memberikan apa yang mereka inginkan.

Tiba-tiba kamu menjadi orang jahat di mata mereka.

Aku hendak berdiri dan pergi.

Ketika Daniel melakukan sesuatu yang membuat semua orang terkejut.

Dia mengambil amplop itu.

Lalu merobeknya di depan semua tamu.

Suara kertas yang robek terdengar jelas di seluruh ruangan.

Potongan-potongannya jatuh berserakan di lantai.

“Simpan saja.”

Dia tersenyum dingin.

“Kami tidak butuh sedekah seperti ini.”

Mia terkejut.

“Apa yang kamu lakukan?”

Suamiku sangat marah.

“Kamu sudah gila?”

Tetapi Daniel tetap tersenyum.

Senyum penuh kesombongan.

Aku membungkuk.

Memungut setiap potongan kertas dengan tenang.

Aku tidak berdebat.

Aku tidak marah.

Dan aku bahkan tidak menatapnya lagi.

Setelah semua potongan itu kukumpulkan.

Aku memasukkannya ke dalam tas.

Lalu berdiri.

“Semoga kalian bahagia di rumah baru.”

Suaraku begitu tenang hingga aku sendiri terkejut.

Setelah mengatakan itu.

Aku berbalik.

Dan pergi.

Tanpa menoleh lagi.

Di luar sudah gelap.

Angin bertiup pelan.

Aku berjalan perlahan di dalam kompleks perumahan.

Ponselku terus bergetar.

Tetapi aku tidak mengangkatnya.

Aku duduk di sebuah bangku.

Menatap lampu-lampu rumah di sekitar.

Lalu membuka daftar kontak.

Jariku berhenti pada satu nama yang sudah lama tidak kuhubungi.

Aku menekan tombol panggil.

Tidak lama kemudian seseorang menjawab.

“Anakku?”

Suara yang sangat kukenal.

Aku tersenyum tipis.

“Ayah.”

“Aku sudah membuat keputusan.”

“Aku akan kembali bekerja.”

Dia terdiam beberapa detik.

Lalu aku mendengar tawanya yang bahagia.

“Akhirnya! Jadi kamu bersedia kembali?”

Aku menatap langit malam.

“Ya.”

“Kurasa sudah waktunya.”

Tepat saat itu.

Panggilan lain masuk.

Dari suamiku.

Disusul oleh ibu mertuaku.

Lalu Mia.

Dalam waktu kurang dari satu menit.

Lebih dari sepuluh panggilan tak terjawab muncul di layar.

Aku belum tahu apa yang sedang terjadi.

Ketika tiba-tiba ponsel ayahku juga berdering.

Dia mengangkatnya.

Baru beberapa detik berlalu.

Ekspresinya langsung berubah.

“Apa?!”

Dia segera berdiri.

“Semua kontrak dibatalkan?”

Aku tertegun.

Orang di seberang telepon terus berbicara.

Wajah ayahku perlahan menjadi serius.

Beberapa saat kemudian.

Dia bertanya dengan suara pelan,

“Kamu yakin ketua baru perusahaan itu sendiri yang menandatangani perintah tersebut?”

Saat mendengar kalimat itu.

Detak jantungku langsung bertambah cepat.

Karena hanya sedikit orang yang tahu.

Bahwa besok.

Adalah hari pertama resmi ketua baru perusahaan itu menjabat.

Dan orang tersebut…

adalah aku.

Tepat pada saat itu.

Suamiku menelepon untuk yang kedua puluh tiga kalinya.

Aku menatap layar yang terus berkedip.

Lalu perlahan mengangkat teleponnya.

Dari seberang sana terdengar suaranya yang penuh kepanikan.

“Sayang… kamu di mana? Ada masalah besar…”

Aku menggenggam ponsel erat.

Perlahan berdiri.

Lalu mengajukan satu pertanyaan yang langsung membuatnya terdiam.

“Sayang… kamu di mana? Ada masalah besar. Bank tempat Daniel mengajukan KPR dan perusahaan properti yang membangun kompleks perumahannya baru saja membatalkan seluruh kerja sama secara sepihak! Rumah baru mereka… terancam disita malam ini juga karena status kreditnya mendadak dinyatakan bermasalah!”

Aku menarik napas panjang, membiarkan keheningan malam menyelimuti suaraku sebelum menjawab.

“Mengapa kamu meneleponku, Mas? Bukankah Daniel bilang mereka tidak butuh sedekah dari orang biasa sepertiku?”

Suamiku terdengar megap-megap di seberang telepon, seolah oksigen di sekitarnya baru saja habis. “Sayang, tolong jangan bercanda. Daniel baru saja mendapat telepon dari direktur utamanya. Katanya, keputusan pembatalan ini datang langsung dari perintah pemilik tunggal Mahardika Group—perusahaan konglomerat yang membawahi bank dan developer tersebut. Dan… dan direktur itu menyebut namamu, Elena Mahardika! Sayang, apa semua ini ada hubungannya denganmu?”

Aku tersenyum tipis, menatap potongan amplop robek yang mengintip dari balik tas tanganku.

“Mas, apakah Daniel masih ada di dekatmu? Tolong aktifkan pengeras suaranya. Aku ingin dia mendengar ini.”

Hening beberapa detik, terdengar suara grasak-grusuk cemas, disusul suara isak tangis Mia dan napas berat Daniel yang memburu penuh ketakutan.

“Sudah, Sayang… sudah loudspeaker,” bisik suamiku pasrah.

“Daniel,” panggilku tenang. “Kamu benar. Nilai rumah barumu itu miliaran rupiah. Tapi kamu lupa memeriksa satu hal: tanah tempat rumahmu berdiri, bank yang membiayai utangmu, hingga perusahaan tempatmu bekerja mencari nafkah… semuanya berada di bawah kaki keluarga yang amplopnya baru saja kamu robek.”

“K-Kak Elena… maafkan aku, aku tidak tahu! Aku cuma bercanda tadi!” Suara Daniel terdengar bergetar hebat, merangkak memohon di balik telepon. Kesombongannya beberapa menit lalu runtuh total berganti kepanikan yang menjijikkan.

“Tidak ada kamus bercanda dalam bisnis, Daniel. Kamu ingin pamer kemewahan, maka aku akan menumpas kemewahan itu sampai ke akarnya. Mulai besok, kamu bukan lagi karyawan di anak perusahaan kami, dan kurasa tidak akan ada perusahaan di negeri ini yang sudi menerima pekerja yang memiliki catatan hitam dari Mahardika Group.”

Skakmat untuk Sang Penindas

Aku langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu ratapan mereka lebih lanjut.

Malam itu juga, aku pulang ke rumah utama keluargaku, meninggalkan kesederhanaan semu yang selama ini kujaga. Ayahku menyambutku di depan pintu dengan senyum bangga yang luar biasa.

“Selamat datang kembali di rumah yang sesungguhnya, Ketua Elena,” ujar Ayah sambil menyerahkan berkas resmi perusahaan yang siap kutandatangani esok pagi.

Keesokan harinya, aku melangkah masuk ke gedung pencakar langit Mahardika Group mengenakan setelan blazer hitam formal, dikawal oleh jajaran direksi yang membungkuk hormat. Tidak ada lagi Elena si pegawai kantor biasa yang sederhana.

Di lobi gedung, aku melihat pemandangan yang menggelikan. Daniel dan Mia sedang berlutut di depan resepsionis, menangis histeris memohon untuk bertemu dengan “Ketua Baru” demi menyelamatkan nasib mereka. Penampilan Daniel berantakan, jauh dari kesan pria perlente yang kemarin malam meremehkanku.

Ketika langkah kakiku mendekat, Daniel mendongak. Matanya terbelalak sempurna saat melihat puluhan bodyguard dan direktur top tunduk di belakangku.

“E-Elena…?” bisiknya dengan bibir memutih.

Aku berhenti tepat di hadapannya, menatapnya dari atas ke bawah tanpa emosi. Aku merogoh tas tanganku, mengeluarkan potongan-potongan kertas amplop hadiah yang kemarin dia robek, lalu menjatuhkannya tepat di depan lututnya.

“Ini sisa hadiah dari rumah barumu yang akan disita minggu depan,” kataku dingin, suaraku menggema di lobi yang luas. “Simpan saja. Anggap ini sedekah terakhir dariku untuk membantu biaya kemiskinan yang akan segera kalian hadapi.”

Setelah itu, aku berjalan melewati mereka begitu saja menuju lift eksekutif. Pintu lift tertutup, mengaburkan suara teriakan histeris Daniel yang menyerukan namaku penuh penyesalan. Selama empat tahun aku memilih mengalah untuk menjaga kedamaian, namun kini mereka harus belajar dengan cara yang keras: bahwa orang yang paling diam, sering kali adalah orang yang memiliki kekuatan untuk meruntuhkan duniamu dalam satu kedipan mata.