Posted in

DI JUMAT MALAM, SEBUAH TELEPON DARI KEPONAKANKU MEMBONGKAR RAHASIA: AKU PIKIR KELUARGAKU MENCINTAIKU, TERNYATA MEREKA MENJADIKANKU ATM HIDUP DEMI MASA DEPAN ANAK MEREKA

DI JUMAT MALAM, SEBUAH TELEPON DARI KEPONAKANKU MEMBONGKAR RAHASIA: AKU PIKIR KELUARGAKU MENCINTAIKU, TERNYATA MEREKA MENJADIKANKU ATM HIDUP DEMI MASA DEPAN ANAK MEREKA

Ibu tidak pernah memaksaku untuk menikah.
Dia tidak pernah bertanya kapan aku akan punya anak.
Dia tidak pernah mempermalukanku meskipun aku sudah berusia 35 tahun dan masih melajang.

Aku pikir, itu karena dia mencintaiku.

Ternyata, itu karena jika aku menikah… mereka akan kehilangan uang.

Namaku Mara Villanueva, 35 tahun, direktur operasional di sebuah perusahaan teknologi di Bonifacio Global City. Gajiku besar—aku tidak perlu lagi menghitung harga kopi, sepatu, atau tiket pesawat. Aku punya kondo di Taguig, punya tabungan, investasi, dan kehidupan yang diimpikan banyak wanita.

Tapi kebanggaan terbesarku dulu bukanlah pekerjaanku.

Melainkan keluargaku.

Mama, mantan guru sekolah negeri di Pampanga. Papa, seorang pensiunan mekanik yang pendiam. Kak Noel, tiga tahun lebih tua dariku, karyawan di perusahaan logistik. Kak Rhea, istrinya, murah senyum, bicaranya lembut, dan selalu berkata, “Mara, kamu adalah keberuntungan keluarga kita.”

Mereka punya dua orang anak.

Kiko, lima tahun.
Dan Mia, tiga tahun.

Setiap kali aku pulang ke rumah kami di San Fernando, Pampanga, Kiko adalah orang pertama yang menyambutku. Dia akan berlari dengan tangan terbuka, berteriak, “Tante Mara! Aku kangen banget!”

Dan aku pun merasa luluh.

Bagaimana mungkin kamu tidak menyerah pada anak sekecil itu, selembut itu?

Jadi, aku membelikan segalanya.

Set Lego? Aku beli.
Tablet? Aku beli.
Uang sekolah di PAUD swasta? Aku yang bayar.
Susu, vitamin, baju, sepatu, pesta ulang tahun, maskot Jollibee—semuanya, aku.

Bukan karena mereka memaksaku.

Tapi karena aku pikir, itulah arti dari sebuah keluarga.

Tiga tahun lalu, aku membelikan rumah untuk Mama dan Papa di sebuah perumahan bagus di Pampanga. Tidak lunas sekaligus, tapi aku membayar uang mukanya hampir dua juta peso. Aku juga yang membantu cicilan bulanannya.

Ketika Kakak membeli kondo di Quezon City, aku juga yang memberikan uang mukanya. Kak Rhea bilang, “Kami jadi tidak enak padamu, Mara. Tapi ini juga demi anak-anak.”

Aku percaya.

Saat ulang tahun Mama, ada tas desainer. Saat anniversary Kakak, ada staycation di hotel. Saat Natal, ada amplop untuk masing-masing. Bahkan Kak Noel pernah bercanda, “Luar biasa kamu, Adik kecil. Kami bisa terbiasa hidup kaya.”

Aku tertawa saat itu.

Kataku, “Tidak apa-apa. Yang penting kalian bahagia.”

Dan mereka memang bahagia.

Mereka selalu tersenyum setiap kali aku yang membayar.

Tapi ada satu hal yang tidak aku sadari saat itu.

Dari empat pria yang kubawa ke rumah untuk diperkenalkan, tidak ada satu pun yang lolos seleksi.

Yang pertama, Adrian, seorang insinyur perangkat lunak. Baik, pendiam, bertanggung jawab. Mama bilang, “Nak, dia agak pendek untukmu. Nanti orang-orang menertawakanmu.”

Yang kedua, Carlo, punya bisnis kecil sendiri. Kak Noel bilang, “Penghasilannya tidak stabil. Kamu yang akan menghidupinya suatu hari nanti.”

Yang ketiga, Miguel, seorang pengacara. Kak Rhea bilang, “Sepertinya dia sombong. Nanti dia tidak akan menghormatimu.”

Yang keempat, Daniel, seorang dokter. Mama bilang, “Terlalu sibuk. Nanti kamu malah diabaikan.”

Setiap kali, aku mendengarkan mereka.

Karena mereka keluargaku.

Karena aku pikir, mereka melindungiku.

Sampai tibalah Sabtu malam itu.

Aku lelah sepulang dari kantor. Aku berbaring di sofa kondo, baru saja selesai mandi, ketika Kak Rhea mengirim pesan.

“Mara, besok kami bawa anak-anak ke taman bermain indoor di BGC ya? Kamu yang pesan tiketnya. Terus makan siang juga di tempat yang bagus, aku ingin foto-foto yang cantik.”

Aku langsung membalas.

“Siap, Kak. Biar aku yang urus.”

Saat aku sedang mencari aplikasi pemesanan, tiba-tiba Kiko menelepon lewat Messenger.

Aku tersenyum.

Aku pikir dia hanya ingin mengucapkan selamat malam.

Aku angkat.

Tapi tidak ada yang bicara.

Hanya terdengar suara kresek-kresek.

Mungkin dia tidak sengaja menekan tombolnya, pikirku. Aku baru saja akan mematikan telepon ketika mendengar suaranya.

“Lola, kenapa Tante Mara tidak menjawab?”

Kemudian terdengar suara Mama.

Tapi itu bukan suara yang aku kenal selama ini.

Tidak ada kelembutan. Tidak ada kehangatan. Tidak ada cinta.

“Biarkan saja dia. Kalau kita butuh, dia juga pasti akan menjawab.”

Tanganku membeku.

Lalu aku mendengar Kiko.

“Lola, apakah Tante Mara benar-benar akan membelikan rumah besar untukku?”

Mama tertawa.

Bukan tawa bahagia.

Tawa kemenangan.

“Tentu saja. Semua uang tantemu akan jatuh ke tanganmu suatu hari nanti. Toh dia tidak punya anak.”

Rasanya seperti ada air es yang disiramkan ke tengkukku.

Suara Kak Rhea menyahut.

“Makanya dia jangan sampai menikah. Kalau dia menikah, orang lain yang akan menikmati uangnya.”

Genggamanku pada ponsel mengencang.

Kali ini Kak Noel yang bicara.

“Untung saja kita berhasil meyakinkannya kalau tidak ada pria yang pantas untuknya. Dia sangat mudah diyakinkan kalau Mama bilang itu demi kebaikannya sendiri.”

Mereka tertawa.

Bersama-sama.

Dan di tengah tawa mereka, aku mendengar Kiko.

“Kalau aku bilang aku sayang Tante Mara, apa dia akan membelikan Lego lagi?”

Kak Rhea menjawab.

“Iya, Nak. Bilang saja terus kalau dia favoritmu. Tantemu itu lemah kalau dimanja.”

Aku menarik napas, tapi rasanya tidak ada udara.

Dan sebelum aku sempat mematikan panggilan, aku mendengar kalimat terakhir dari Mama.

“Jangan pernah biarkan Mara berkeluarga. Dia adalah rencana pensiun kita.”

Air mataku tidak jatuh. Rasa panas yang membakar di dadaku seketika berubah menjadi kedinginan yang mematikan. Aku mematikan sambungan telepon itu dengan tangan yang sangat tenang—ketenangan yang muncul ketika seseorang baru saja melihat monster di balik topeng orang yang paling ia sayangi.

Aku menatap sekeliling kondo mewahku. Segala sesuatu di sini adalah hasil kerja kerasku, namun bayang-bayang mereka ada di mana-mana. Foto keluarga di atas meja rias kini tampak seperti sekumpulan orang asing yang sedang mengincar mangsanya.

“Rencana pensiun, ya?” bisikku pada kesunyian ruangan.

Malam itu, aku tidak tidur. Aku duduk di depan laptop, bukan untuk bekerja, tapi untuk membedah seluruh “kebaikan” yang telah kuberikan. Aku memeriksa rekening bank, cicilan rumah di Pampanga, dan deposito pendidikan untuk Kiko serta Mia.


Minggu Pagi: Jamuan Terakhir

Minggu pagi, mereka datang ke BGC sesuai rencana. Kak Rhea tampil maksimal dengan gaun barunya, siap untuk sesi foto “estetik”. Mama dan Papa turun dari mobil dengan senyum lebar yang biasanya membuatku merasa hangat, tapi kali ini, senyum itu terlihat seperti seringai rakus.

“Mara! Sayang, tiketnya sudah dipesan, kan? Kiko sudah tidak sabar!” seru Kak Rhea sambil mencoba memelukku.

Aku menghindar dengan halus, pura-pura merapikan tas. “Tentu. Tapi sebelum kita masuk, ada sesuatu yang ingin kusampaikan di restoran.”

Di sebuah restoran mewah yang biasanya aku yang membayar seluruh tagihannya, aku memesan meja yang paling tenang. Mereka memesan makanan termahal tanpa ragu, seperti biasa.

“Ma, Pa, Kak Noel,” kataku membuka pembicaraan setelah makanan datang. “Aku punya berita besar. Aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku bulan depan.”

Hening. Garpu Kak Noel berdenting jatuh ke piring.

“Apa maksudmu, Mara? Berhenti? Kamu kan direktur!” suara Mama meninggi, nada bicaranya persis seperti di telepon semalam—tanpa kelembutan.

“Aku lelah. Aku ingin berkeliling dunia dan menggunakan seluruh tabunganku untuk diriku sendiri. Jadi, rumah di Pampanga? Aku akan menjualnya. Cicilan kondo Kak Noel? Kalian harus mengurusnya sendiri mulai bulan depan.”

“Kamu gila?!” teriak Kak Rhea, wajah manisnya menghilang berganti kemarahan. “Bagaimana dengan sekolah anak-anak? Bagaimana dengan masa depan mereka?”

“Masa depan mereka adalah tanggung jawab orang tuanya, bukan ‘ATM hidup’ mereka,” jawabku tenang sambil menatap lurus ke mata Mama.

“Mara, kamu tidak bisa egois begini! Kami ini keluargamu!” Papa yang biasanya diam akhirnya bersuara, nadanya penuh tuntutan.


Kebenaran yang Dingin

Aku mengeluarkan ponselku dan memutar rekaman panggilan semalam. Suara tawa mereka, rencana mereka agar aku tetap melajang, dan kalimat Mama tentang “rencana pensiun” bergema di meja makan itu.

Wajah mereka berubah menjadi pucat pasi. Kak Rhea mencoba meraih ponselku, tapi aku menariknya menjauh.

“Kiko bilang dia menyayangiku hanya untuk Lego, kan?” aku menatap Kiko yang tampak bingung. “Maaf, Kiko. Mulai hari ini, tidak ada Lego. Tidak ada iPad. Tidak ada sekolah swasta.”

Aku berdiri, mengenakan kacamata hitamku. “Aku sudah membayar pengacara untuk mengurus pengalihan aset. Rumah di Pampanga akan kujual minggu depan. Kalian punya waktu 30 hari untuk pindah kembali ke rumah lama Papa yang kecil itu.”

“Mara! Kamu tidak boleh melakukan ini pada ibumu sendiri!” Mama mulai menangis histeris, mencoba memainkan kartu rasa bersalah yang biasanya berhasil melumpuhkanku.

“Aku bukan anak durhaka, Ma. Aku hanya berhenti menjadi korban,” kataku sambil meletakkan selembar uang 1.000 peso di atas meja. “Ini untuk membayar kopiku. Sisanya? Silakan kalian bayar sendiri. Anggap saja ini latihan pertama untuk masa pensiun kalian yang sebenarnya.”

Aku berjalan keluar dari restoran itu tanpa menoleh ke belakang. Untuk pertama kalinya dalam 35 tahun, bahuku terasa ringan. Aku tidak lagi membawa beban masa depan orang lain di atas punggungku.

Aku masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan memblokir seluruh nomor mereka. Saat aku melaju meninggalkan BGC, aku melihat pantulan diriku di spion: seorang wanita yang bebas, kaya, dan akhirnya… benar-benar dicintai oleh dirinya sendiri.