Posted in

Di pesta perayaan untuk “topnotcher” di Quezon City, Mama mengangkat gelasnya dan menyebut sepupu perempuanku sebagai satu-satunya kebanggaan keluarga Santos. Namun karena terlalu banyak minum, Tante tanpa sengaja menyebut angka 1,4 juta peso untuk biaya bimbingan ujian, kondominium, dan tutor privat. Aku menatap kedua tanganku yang penuh bekas luka bakar akibat pekerjaan paruh waktu, lalu mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh ruangan terdiam:

Di pesta perayaan untuk “topnotcher” di Quezon City, Mama mengangkat gelasnya dan menyebut sepupu perempuanku sebagai satu-satunya kebanggaan keluarga Santos. Namun karena terlalu banyak minum, Tante tanpa sengaja menyebut angka 1,4 juta peso untuk biaya bimbingan ujian, kondominium, dan tutor privat. Aku menatap kedua tanganku yang penuh bekas luka bakar akibat pekerjaan paruh waktu, lalu mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh ruangan terdiam:

“Jadi, hanya aku yang tidak boleh hidup tanpa kelaparan?”

**Bagian 1**

Sejak aku berusia enam tahun, sudah ada aturan di rumah keluarga Santos.

Kalau bukan peringkat satu di kelas, tidak ada makan malam.

Kalau tidak mendapat beasiswa, urusan buku sekolah tanggung sendiri.

Kalau tidak punya uang sendiri, jangan meminta.

Ayahku, Ramon Santos, menyebut itu sebagai “tempaan hidup”.

Ibuku, Lorna, menyebutnya “mengajarkan nilai setiap peso”.

Bagiku, itu adalah masa kecil yang dihabiskan dengan menelan nasi bersama air mata.

Saat kelas tiga SD, aku sudah berjualan yema di depan sekolah.

Saat kelas satu SMP, aku mencuci gelas di toko tetangga.

Saat kelas satu SMA, aku bekerja shift malam di tempat fotokopi dekat España, lalu masuk sekolah keesokan harinya dengan rambut berbau tinta.

Suatu kali aku demam dan meminta 80 peso untuk membeli obat.

Mama meletakkan buku catatan pengeluaran di atas meja dan bertanya dengan dingin:

“Peringkat berapa kamu minggu ini?”

“K-kedua, Ma.”

Ia langsung menutup buku itu.

“Kalau begitu, tahan saja.”

Aku pikir memang seperti itulah aturan di rumah kami.

Aku pikir jika perutku lapar, itu salahku sendiri karena aku belum cukup hebat.

Sampai Bianca datang.

Bianca adalah putri sepupu Ayah dari Iloilo. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, sehingga Ayah membawanya ke Manila untuk diasuh.

Sejak hari pertama ia tinggal di rumah kami, Mama langsung memberinya kamar terbesar.

Ada AC.

Ada meja belajar baru.

Ada tirai putih.

Bahkan ada organ elektronik—alat musik yang pernah kupinjam dari sekolah dan membuat Mama memarahiku karena katanya “tidak ada gunanya”.

Ayah mengusap kepala Bianca dengan penuh kasih sayang. Suaranya begitu lembut sampai aku sempat mengira salah dengar.

“Mulai sekarang, kamu hanya perlu belajar dengan baik. Kami tidak akan membiarkanmu kekurangan apa pun.”

Saat itu aku berada di dapur, tangan masih basah oleh sabun.

Aku ingin bertanya: lalu bagaimana denganku?

Tetapi aku tidak bertanya.

Karena di rumah itu, anak yang baik adalah anak yang diam.

Bianca sangat pandai membuat orang iba.

Suaranya pelan.

Selalu menundukkan kepala.

Setiap kali memanggil Ayah dan Mama dengan sebutan Paman Ramon dan Bibi Lorna, seolah setiap kata disertai air mata.

Dan setiap kali ia menangis, akulah yang selalu terlihat bersalah.

“Mara, kamu kakaknya. Kamu tidak akan mati hanya karena mengalah sedikit.”

Jadi aku terus mengalah.

Mengalah soal kamar.

Mengalah soal buku.

Mengalah soal lauk terakhir di meja makan.

Aku terus bekerja.

Aku terus membayar biaya sekolahku sendiri dengan beasiswa dan gaji kerja paruh waktu.

Dan aku terus mendengar Ayah berkata:

“Anak-anak lain masa depannya cerah dan rapi. Kamu? Bau minyak goreng terus.”

Saat berusia delapan belas tahun, aku mendapatkan beasiswa penuh untuk jurusan Teknik Lingkungan di UP Diliman.

Aku tidak memberi tahu siapa pun.

Bukan karena ingin merahasiakannya.

Tetapi karena saat aku membawa surat penerimaan ke rumah, seluruh keluarga sedang sibuk mengukur gaun Bianca untuk resital pianonya.

Mama hanya melirik sekilas surat itu.

“Kalau kamu diterima, tetap urus dirimu sendiri. Kami tidak punya uang untuk memelihara orang yang hanya tahu belajar.”

Aku melipat kembali surat itu.

Sejak saat itu aku mengerti: prestasiku hanya berharga jika tidak merepotkan mereka.

Tiga tahun berlalu.

Bianca lulus ujian lisensi akuntan dan diberitakan media lokal sebagai salah satu topnotcher termuda di Quezon City.

Ayah dan Mama mengadakan pesta besar di sebuah hotel di Timog Avenue.

Panggung dipenuhi bunga putih.

Foto besar Bianca terpajang di tengah.

Di layar LED berkedip tulisan:

**“Kebanggaan Keluarga Santos.”**

Aku dipanggil pulang hanya untuk membantu membagikan hadiah.

Tak seorang pun memperkenalkanku sebagai anak kandung mereka.

Bahkan ada kerabat yang mengira aku staf hotel.

Saat sedang menata gelas di meja, Tante Cora, kakak Mama, tiba-tiba menarik tangan Mama. Ia mabuk dan berbicara keras:

“Lorna, kamu benar-benar berani berinvestasi. Tahun terakhir Bianca saja ada review center di Makati, tutor Ateneo, kondominium dekat kampus… pasti sudah lebih dari 1,4 juta peso, kan?”

Seluruh meja tertawa.

Mereka memuji Mama karena katanya pandai bertaruh pada orang yang tepat.

Aku membeku di tempat.

**1,4 juta peso.**

Dulu bahkan 80 peso untuk obat pun tidak ada untukku.

Aku pernah makan roti pandesal basi di belakang toko fotokopi karena tidak punya uang makan.

Aku pernah berjalan kaki dari Diliman ke Sampaloc saat hujan demi menghemat ongkos jeepney.

Tetapi mereka punya 1,4 juta peso untuk Bianca.

Aku meletakkan baki di meja.

Pelan.

Tetapi cukup keras untuk membuat semua orang menoleh.

Aku menatap Mama.

“Ma, bukankah aturan di rumah kita adalah tidak boleh menjadi beban?”

Wajahnya langsung pucat.

Ayah mengernyit.

“Mara, ini hari bahagia saudaramu.”

Aku tertawa.

“Saudaraku?”

Aku memandang Bianca di atas panggung. Ia mengenakan gaun warna sampanye, kukunya mengilap, dan gelang emas melingkar di pergelangan tangannya—jenis perhiasan yang dulu Mama bilang hanya pantas untuk “anak yang baik”.

“Aku kira harus jadi nomor satu dulu baru boleh makan.”

“Aku kira kalau ingin sekolah, harus pakai uang sendiri.”

“Aku kira bahkan saat demam, tidak ada obat kalau bukan peringkat satu.”

Aku menoleh kepada Tante Cora.

“Tante, benar tidak? Bianca pernah kerja paruh waktu tidak?”

Tante Cora tampak bingung.

“Kerja paruh waktu? Bianca? Aduh, tangannya saja tidak tahu cara memegang pisau untuk mengupas buah.”

Ruangan langsung sunyi.

Ayah berdiri.

“Cukup!”

Aku menatapnya.

“Aku hanya bertanya. Aturan di rumah kita itu benar untuk semua orang, atau hanya tali yang dipasang di leherku?”

Wajah Ayah memerah.

Ia naik ke panggung dan merebut mikrofon.

“Dengar semuanya!”

“Anak saya yang satu ini sejak kecil memang egois. Dia tidak bisa menerima bahwa sepupunya lebih hebat, jadi dia merusak pesta ini.”

Mama mencoba menariknya, tetapi ia menepis tangan Mama.

“Itu uang saya. Saya bebas menghabiskannya untuk siapa pun.”

“Bianca membawa kehormatan bagi keluarga Santos. Kalau kamu?”

Ia menunjuk kedua tanganku.

“Lihat itu. Perempuan yang seumur hidup hanya mencuci piring dan mengangkat baki, lalu berani membandingkan dirinya dengan seorang topnotcher?”

Bisik-bisik mulai terdengar.

Bianca menangis sambil menutupi mulutnya.

“Kak Mara, kalau memang kamu membenciku, maaf. Aku tidak tahu kalau kehadiranku membuatmu sesakit ini…”

Begitu kalimat itu selesai, Ayah menamparku di depan semua orang.

Pipiku terasa panas.

Seluruh ruang acara menjadi hening.

Mama tidak membelaku.

Ia hanya memeluk Bianca.

Ayah melemparkan selembar kertas putih ke atas meja.

“Kamu mau memutuskan hubungan keluarga? Silakan. Tulis.”

“Tulis bahwa mulai hari ini kamu bukan lagi anak keluarga Santos.”

“Tulis bahwa kamu secara sukarela melepaskan hak atas semua harta keluarga.”

“Dan semua biaya yang sudah saya keluarkan untuk membesarkanmu akan saya hitung. Kalau tidak kamu bayar, kamu tidak akan bisa lari ke mana pun.”

Aku menatap kertas itu.

Aku menatap mata dingin kedua orang tuaku.

Aku mengambil pulpen.

Tepat ketika ujung pulpen menyentuh kertas, Bianca mendekat ke telingaku. Suaranya begitu pelan hingga hanya aku yang bisa mendengarnya.

“Tulis saja, Kak.”

“Lagipula, dana kuliahmu sudah lama habis kupakai.”

Kata-kata Bianca yang berbisik seperti bisaan ular itu membuat segalanya menjadi sangat jernih. Semua potongan teka-teki yang selama belasan tahun ini membuatku mempertanyakan harga diriku sebagai seorang anak, akhirnya jatuh di tempat yang tepat.

Aku tidak kekurangan kasih sayang karena aku tidak cukup hebat. Aku dihancurkan secara sengaja agar mereka bisa menghidupi anak orang lain.

Aku menatap kertas putih di atas meja, lalu perlahan mengangkat kepalaku untuk menatap Ayah, Mama, dan Bianca. Tidak ada lagi air mata. Rasa sakit di pipiku akibat tamparan Ayah mendadak hilang, digantikan oleh gelombang dingin yang menenangkan.

“Dana kuliahku?” tanyaku dengan suara yang cukup lantang, memotong isak tangis palsu Bianca. “Maksudmu, dana perwalian yang ditinggalkan oleh mendiang kakek dari pihak Ibu khusus untuk pendidikan anak kandung Lorna Santos?”

Wajah Mama yang tadinya pucat kini berubah menjadi seputih kertas. Ia langsung menarik lengan Bianca, mencoba menyuruhnya diam, tetapi semuanya sudah terlambat.

Beberapa kerabat di barisan depan mulai saling berbisik. Mereka semua tahu tentang warisan kakek, tetapi selama ini mereka mengira uang itu habis karena aku “tidak becus” sekolah dan memilih menjadi pekerja kasar.

“Mara! Jangan mengada-ada kamu! Cepat tanda tangani surat itu dan pergi dari sini!” bentak Ayah, suaranya bergetar, mencoba menyembunyikan kepanikan yang mulai merayap di matanya.

Aku tidak menandatangani surat pelepasan hak itu. Alih-alih, aku merogoh tas kainku yang kusam dan mengeluarkan sebuah map jilid plastik berwarna biru yang sejak tadi kubawa. Aku meletakkannya di atas meja, tepat di samping kertas putih milik Ayah.

“Aku memang berniat memutuskan hubungan dengan kalian malam ini, Ayah. Tapi bukan dengan cara yang menjebak seperti ini,” kataku sambil membuka map tersebut.

“Ini adalah salinan resmi dari bank mengenai akun perwalian atas namaku. Dua minggu lalu, sebagai mahasiswi tingkat akhir Teknik Lingkungan UP Diliman, aku berhak mengakses laporan historis akun tersebut.” Aku membalik halamannya satu per satu, memperlihatkan deretan angka kepada para tamu di meja depan.

“Tiga tahun lalu, tepat saat aku harus masuk kuliah dan kalian bilang uang rumah tangga sedang kritis, ada penarikan sebesar 800.000 peso. Tanda tangan di sini dipalsukan, dilakukan oleh Lorna Santos. Dan coba tebak ke mana uang itu pergi?” Aku menatap Bianca yang kini mulai mundur selangkah. “Uang itu masuk ke rekening review center dan pembayaran uang muka kondominium mewah di Makati atas nama Bianca.”

“Mara, cukup! Kamu mempermalukan Ibumu sendiri!” Ayah berteriak, mencoba merebut map itu, tetapi aku dengan cepat menariknya menjauh.

“Yang mempermalukan keluarga ini adalah keserakahan kalian sendiri!” suaraku meninggi, memotong kalimat Ayah dengan wibawa yang belum pernah mereka dengar dariku selama ini. “Kalian membiarkan anak kandung kalian kelaparan, bekerja shift malam sampai mata berdarah, dan mencuci piring dengan tangan penuh luka bakar, hanya untuk membiayai gaya hidup mewah seorang keponakan yang bahkan tidak tahu cara mengupas buah!”

Aku menatap lurus ke arah kamera LED yang masih menampilkan wajah Bianca sebagai “Kebanggaan Keluarga”.

“Bianca adalah topnotcher Akuntansi, bukan? Luar biasa. Tapi mari kita lihat apakah lisensinya akan tetap berlaku jika Dewan Regulasi Profesional (PRC) tahu bahwa seluruh biaya pendidikannya berasal dari hasil penggelapan dana dan pencurian hak asasi seorang anak.”

“Kak Mara… tolong jangan…” Bianca akhirnya menangis beneran. Ia berlutut di atas panggung, gaun sampanyenya yang mahal kini terseret di lantai. “Kalau Kakak melakukan itu, karierku hancur sebelum dimulai…”

“Kamu tidak memikirkan karierku saat kamu memakan makananku, Bianca,” jawabku dingin.

Aku beralih menatap Ayah yang masih memegang mikrofon dengan tangan gemetar.

“Ayah bilang Ayah mau menghitung semua biaya yang sudah Ayah keluarkan untuk membesarkanku? Silakan. Hitung!” Aku melemparkan sebuah buku catatan kecil yang kumuh ke atas meja. “Di dalam situ ada catatan setiap peso yang kuhasilkan sejak usia enam tahun. Uang yema, uang cuci gelas, uang fotokopi. Aku bahkan membayar sewa kamar sempit di belakang dapur itu kepada Mama setiap bulan sejak aku berusia 14 tahun.”

“Jika kita hitung secara hukum, ditambah dengan 800.000 peso dana kuliahku yang kalian curi… kalianlah yang berutang padaku, Ramon dan Lorna Santos. Kalian berutang masa kecilku, kalian berutang kesehatanku, dan kalian berutang setiap tetes darah yang keluar dari luka bakar di tanganku.”

Aku mengambil pulpen, lalu di bawah surat pernyataan yang dibuat Ayah, aku menuliskan satu kalimat dengan tulisan yang tegas:

“Hubungan ini terputus bukan karena aku menyerah, melainkan karena aku menolak menjadi korban dari pencuri yang berkedok orang tua.”

Aku meletakkan pulpen itu kembali. Aku menatap Mama yang kini menyembunyikan wajahnya di dada Ayah, menangis karena malu yang luar biasa di depan seluruh kerabat besar Santos.

“Besok pagi, pengacaraku dari firma hukum universitas akan mengirimkan surat tuntutan resmi pidana atas penggelapan dana perwalian. Kembalikan setiap peso milikku, atau kita selesaikan ini di pengadilan Quezon City,” kataku dengan tenang.

Aku mengambil map biruku, membalikkan badan, dan berjalan menjauh dari altar penuh bunga putih itu. Saat aku melangkah melewati pintu keluar aula hotel mewah di Timog Avenue tersebut, para tamu memberikan jalan untukku dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada lagi yang berani menatapku seolah aku adalah staf hotel yang rendah.

Aku keluar ke udara malam Quezon City yang sejuk. Angin menerpa wajahku, menghapus sisa rasa panas dari tamparan Ayah.

Untuk pertama kalinya dalam 23 tahun hidupku, perutku tidak terasa lapar. Karena malam ini, aku telah memberi makan jiwaku dengan keadilan yang selama ini kurindukan. Aku berjalan menjauh tanpa menoleh lagi, siap menyongsong masa depanku sendiri yang kubangun dengan kedua tanganku yang terluka—tangan yang kini terasa jauh lebih mulia daripada tangan seorang pemenang yang hidup dari hasil curian.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.