Posted in

DI RESEPSI PERNIKAHANKU, TUNANGANKU MENYAJIKAN SISA MAKANAN KRU KEPADA AYAHKU, SEMENTARA MANTAN KEKASIHNYA MENIKMATI SATU EKOR BABI PANGGANG UTUH DI MEJA VIP; SAAT AYAH HANYA TERSENYUM DAN BERKATA MAKANANNYA TETAP ENAK, SAAT ITULAH AKU MELETAKKAN CINCINKU DI ATAS MEJA

DI RESEPSI PERNIKAHANKU, TUNANGANKU MENYAJIKAN SISA MAKANAN KRU KEPADA AYAHKU, SEMENTARA MANTAN KEKASIHNYA MENIKMATI SATU EKOR BABI PANGGANG UTUH DI MEJA VIP; SAAT AYAH HANYA TERSENYUM DAN BERKATA MAKANANNYA TETAP ENAK, SAAT ITULAH AKU MELETAKKAN CINCINKU DI ATAS MEJA

Bagian 1: Saat aku melihat mereka menyembunyikan hidangan terbaik untuk tamu-tamu kaya dan mendorong kedua orang tuaku ke meja paling pojok, pernikahanku mulai hancur bahkan sebelum pidato pertama selesai.

Saat kami berkeliling ruang resepsi untuk menyapa para tamu, Adrian Montenegro menggenggam pinggangku erat, seolah mengingatkanku bahwa aku harus terus tersenyum meski pipiku sudah terasa kaku.

Di balik dinding kaca ballroom, lampu-lampu Jakarta masih berkilauan. Di dalam, lampu kristal memancarkan cahaya mewah, para pelayan lalu-lalang, sementara alunan biola terus memainkan lagu yang katanya merupakan lagu favorit kami.

Katanya lagu favorit kami.

Padahal sebenarnya itu adalah lagu favorit Adrian dan perempuan yang kini duduk di meja VIP di sisi kanan ruangan.

Clarissa Villanueva.

Perempuan yang dulu pernah ia cintai.

Perempuan yang katanya sudah lama ia lupakan.

Perempuan yang malam itu mengenakan gaun berwarna champagne yang bahkan tampak lebih pantas dikenakan seorang pengantin daripada gaun sebagian besar pendamping pengantin wanita.

Saat kami tiba di meja kedua orang tuaku, keningku langsung berkerut.

Mereka ditempatkan di sudut paling belakang ballroom, nyaris menempel dengan pintu menuju area dapur. Para pelayan yang membawa piring-piring kotor terus berlalu-lalang di samping mereka.

Ayah mengenakan beskap yang disewa khusus untuk hari itu. Bahunya sedikit kebesaran, lengannya agak kependekan, dan terlihat jelas ia menjaganya dengan sangat hati-hati sampai hampir tak berani bergerak dari kursinya.

Ibu mengenakan kebaya yang ia jahit sendiri. Pada bagian lengan terdapat sulaman bunga melati yang dikerjakannya selama berminggu-minggu, karena katanya seorang ibu hanya sekali melihat putri satu-satunya menikah.

Begitu melihatku, mereka langsung tersenyum.

Senyum yang lelah.

Senyum yang penuh rasa sungkan.

Senyum yang dipaksakan agar aku tidak khawatir.

Di depan mereka hanya ada dua piring nasi yang sudah dingin, masing-masing dengan sepotong kecil ayam, serta sepiring sayur yang warnanya sudah hampir pudar.

Itu bukan menu yang kupilih.

Aku membayar paket makan malam lengkap.

Seafood premium, roast beef, babi panggang, dessert station, serta pelayanan khusus untuk keluarga mempelai pria dan wanita.

Namun di meja orang tuaku, makanan yang tersaji justru terlihat seperti jatah makan staf.

Sebelum sempat berkata apa pun, seorang pelayan datang membawa teko kecil berisi es teh. Jelas berasal dari dapur belakang karena tanpa hiasan, bahkan gelasnya pun berbeda dengan yang digunakan di meja-meja lain.

Aku hendak mengambil segelas sparkling grape juice dari baki pelayan lain, tetapi Adrian langsung menahan tanganku.

Genggamannya begitu kuat.

“Sudahlah, Liana.”

Aku menatapnya perlahan.

“Apa maksudmu, sudahlah?”

Ia tetap tersenyum di depan kedua orang tuaku, tetapi suaranya rendah dan dingin.

“Mereka juga tidak akan tahu bedanya. Buat mereka semua rasanya sama saja. Sayang kalau minuman premium diberikan ke sini.”

Seolah ada air es yang disiramkan ke tengkukku.

Aku memandang Ayah.

Entah beliau tidak mendengar, atau sengaja berpura-pura tidak mendengar.

Ia mengambil gelas es teh itu dengan kedua tangan. Sebelum meminumnya, ia bahkan sempat mengusap telapak tangannya menggunakan sapu tangan tua yang dibawanya dari kampung.

“Enak sekali, Nak. Dingin. Jauh lebih segar daripada yang kami minum selama perjalanan tadi.”

Aku menggigit bibir bagian dalam agar tidak menangis.

Mereka menempuh perjalanan hampir sembilan jam dari kampung menggunakan bus ekonomi.

Padahal aku sudah berkali-kali meminta mereka naik pesawat, atau setidaknya bus eksekutif ber-AC.

Aku bahkan mengirim Rp8.000.000 agar mereka tidak perlu berhemat.

Namun saat tiba kemarin, yang mereka bawa hanyalah dua keranjang anyaman, satu kotak telur asin, tiga botol sambal udang fermentasi, dan satu kantong besar kacang kenari khas daerah.

“Sayang uangnya kalau dipakai naik pesawat, Nak.”

Begitulah kata Ibu sambil membersihkan debu di sandalnya.

“Lebih baik kami bawakan makanan yang dulu kamu suka. Masih ingat? Waktu pulang sekolah, kamu bisa menghabiskan telur asin walau tanpa lauk.”

Ayah tertawa kecil sambil mengeluarkan sebuah kotak mungil.

“Ini juga ada cokelat isi sedikit minuman keras. Dulu waktu kamu kecil selalu melihatnya di toko, tapi kami belum mampu membelinya. Sekarang akhirnya kami bisa membeli yang besar.”

Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Mereka bahkan mengembalikan Rp5.000.000 dari uang yang kukirim.

Mereka menambahkan tabungan mereka sendiri hingga jumlahnya menjadi Rp13.000.000.

“Supaya nanti saat Adrian memanggil kami Ayah dan Ibu, kami punya sesuatu untuk diberikan kepadanya.”

Begitulah kata Ibu.

Namun sebelum resepsi dimulai, Adrian justru menghapus bagian acara di mana kami seharusnya menghampiri kedua orang tua, mencium tangan mereka, dan menyampaikan ucapan terima kasih secara resmi.

“Itu kampungan, Liana.”

Katanya sambil memperbaiki susunan acara bersama wedding organizer.

“Tidak perlu drama seperti itu. Ini bukan balai desa.”

Aku melihat bagaimana wajah Ayah langsung berubah muram.

Amplop berisi uang itu masih tersimpan di saku beskapnya.

Meski sudah duduk di meja paling belakang, ia berkali-kali mengusap bagian dada beskapnya, memastikan uang hasil tabungan berbulan-bulan itu tidak hilang.

Kini, sambil memegang segelas es teh murah, ia kembali tersenyum kepadaku.

“Pernikahanmu indah sekali, Nak. Rasanya seperti di film.”

Aku tak sanggup menjawab.

Dari sisi lain ballroom, tawa Clarissa terdengar nyaring.

Aku menoleh.

Di mejanya tersaji seekor babi panggang utuh, platter keju impor, udang bakar jumbo, dan tiga botol wiski mahal yang sama sekali tidak pernah kusetujui dalam menu akhir.

Ayah Clarissa, Don Roberto Villanueva, bahkan nyaris tak melirik botol itu ketika Adrian menuangkan minuman untuknya.

“Om Roberto, kata Clari ini minuman favorit Om. Jangan sungkan. Kalau masih kurang, saya akan minta dibawakan lagi.”

Don Roberto tertawa.

Saat mengangkat gelas, tanpa sengaja ia menyenggol salah satu botol hingga jatuh dan pecah.

Aroma alkohol langsung memenuhi ruangan.

Harga satu botol itu setara gaji hampir satu bulan pekerja biasa.

Namun Adrian bahkan tidak berkedip.

“Ambil yang baru.”

Perintahnya kepada pelayan.

“Cepat. Ini meja VIP.”

VIP.

Ayah mantan kekasihnya adalah VIP.

Sedangkan kedua orang tuaku duduk di meja paling belakang, tepat di samping pintu dapur.

Ibu perlahan menarik lengan Ayah.

“Pak Nestor, boleh aku coba sedikit? Biar nanti aku juga bisa bilang pernah mencicipi minuman orang kaya di pesta pernikahan anak kita.”

Ayah terdiam.

Ia memandang gelasnya yang tinggal sedikit, lalu dengan hati-hati menyerahkannya kepada Ibu.

“Pelan-pelan ya, Mila. Nanti tumpah ke kebayamu. Kamu sudah capek menjahitnya.”

Ibu menerimanya dengan kedua tangan.

Ia menyeruput sedikit, lalu wajahnya langsung berbinar.

“Wah… enak sekali. Memang beda ya minuman hotel.”

Saat itulah tawa pertama terdengar dari meja VIP.

Tidak terlalu keras.

Namun cukup jelas bagi siapa pun yang memang ingin menghina.

“Baru minum es teh hotel saja sudah seperti menang lotre.”

Suara lain menyusul.

“Pantas Adrian dulu tidak pernah mau menunjukkan keluarga pengantinnya. Benar-benar orang kampung.”

Yang lain ikut tertawa.

“Parah ya, Clari. Kalau yang menikah sama Adrian itu kamu, ballroom ini pasti kelihatan cocok. Sekarang malah seperti ada tamu yang salah masuk.”

Aku langsung menoleh.

Yang berbicara adalah Marco Villanueva, adik Clarissa.

Ia bersandar santai di kursinya sambil memegang ponsel dan diam-diam merekam meja kedua orang tuaku.

Di layar ponselnya kulihat wajah Ayah diperbesar.

Bahkan sudah ada draf caption:

“Kalau baru pertama kali datang ke resepsi hotel.”

Penglihatanku mulai kabur.

Clarissa memegang tangan Marco, tetapi bukan untuk menghentikannya.

Ia hanya tersenyum tipis, seolah pura-pura merasa tidak enak.

Lalu ia memandang Adrian.

Dan Adrian?

Ia sama sekali tidak marah.

Tidak malu.

Yang justru terlihat adalah rasa kesalnya kepadaku karena mengetahui aku menyaksikan semuanya.

Ia mendekat dan berbisik pelan.

“Liana, jangan bikin keributan. Jangan rusak malam kita cuma gara-gara sedikit makanan dan minuman.”

Sedikit makanan.

Sedikit minuman.

Sedikit harga diri kedua orang yang telah membesarkanku.

Aku menarik napas panjang.

Aku sendiri tidak tahu dari mana keberanian itu datang.

Namun detik berikutnya, aku berjalan lurus menuju meja VIP milik Clarissa.

Beberapa tamu langsung berhenti berbicara.

Permainan biola terdiam.

Pelayan yang membawa botol wiski baru ikut membeku.

Aku mengambil seluruh baki udang bakar, platter keju, dan botol wiski baru yang sedianya diberikan kepada Don Roberto.

Lalu kubawa semuanya ke meja kedua orang tuaku.

Botol itu kubanting pelan di atas meja hingga terdengar bunyi keras.

Ibu terkejut.

Mata Ayah membelalak.

“Nak, jangan begitu. Nanti kamu dimarahi.”

Aku tersenyum.

Tetapi aku tahu itu bukan senyuman.

“Ayah, Ibu… silakan makan.”

Aku menatap Adrian.

“Malam ini, kedua orang tuaku adalah tamu VIP.”

Rahang Adrian mengeras.

Ia berjalan cepat menghampiriku hingga hampir menginjak ujung gaunku.

“Liana, kembalikan semua itu.”

Seluruh ballroom kini sunyi.

Clarissa ikut berdiri.

Matanya memerah, tetapi dengan cara yang menunjukkan ia sudah terbiasa menjadikan air mata sebagai senjata.

“Liana, tolong. Jangan mempermalukan Adrian di pesta pernikahannya sendiri.”

Aku tertawa.

Awalnya pelan.

Lalu semakin jelas.

“Pernikahannya sendiri?”

Aku melepaskan cincin dari jariku.

Kami bahkan belum resmi menikah secara agama. Dokumen sipil masih berada di map milik wedding organizer, dan masih ada satu perjanjian lagi yang ingin ia suruh kutandatangani setelah resepsi selesai.

Aku mengangkat cincin itu.

Lalu meletakkannya di samping piring ayam dingin yang mereka sajikan untuk Ayah.

“Kalau ini memang pesta pernikahannya sendiri, biar dia lanjutkan sendirian.”

Wajah Adrian langsung memucat.

Dan sebelum ia sempat mengatakan apa pun, aku mengangkat suaraku hingga terdengar ke seluruh ballroom.

“Namun sebelum aku pergi, aku ingin semua orang tahu mengapa keluarga mempelai wanita diberi makan sisa-sisa makanan…”Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian cerita (Bagian 2) dari kisah Liana:

BAGIAN 2 (TAMAT)

“Liana! Cukup! Kamu sudah gila?!” Adrian berteriak, wajahnya yang semula putih bersih kini memerah padam karena murka. Ia mencoba mencengkeram pergelangan tanganku, namun dengan cepat aku menghindar.

“Jangan sentuh aku dengan tangan yang baru saja menuangkan minuman untuk orang-orang yang menghina orang tuaku, Adrian,” kataku dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan.

Aku berjalan menuju panggung utama, tempat mikrofon pembawa acara berada. Wedding Organizer mencoba menghalangiku, namun aku menatap mereka dengan tatapan yang begitu tajam hingga mereka mundur teratur. Aku menyambar mikrofon itu, menyalakannya, dan suaraku bergema di setiap sudut ballroom mewah tersebut.

“Selamat malam, para tamu yang terhormat,” ujarku, memotong alunan musik pengiring yang mendadak mati. “Saya ingin menyampaikan kebenaran kecil di balik kemegahan pesta malam ini. Pesta yang kalian hadiri sekarang, gedung mewah ini, dan semua hidangan premium di meja VIP… 70% biayanya dibayar menggunakan uang tabungan saya dan hasil penjualan tanah sawah milik ayah saya di kampung.”

Bisik-bisik riuh langsung menjalar bagai api di antara ratusan tamu.

“Liana, turun dari sana!” Don Roberto, ayah Clarissa, ikut berdiri dengan wajah tersinggung.

“Kenapa, Don Roberto? Anda tersinggung?” tanyaku retoris dari atas panggung. “Tuan Adrian Montenegro yang terhormat ini, memohon-mohon bantuan modal kepada ayah saya agar dia bisa terlihat setara dengan lingkaran sosial Anda. Namun malam ini, setelah uang kami terkuras, dia memperlakukan orang tua saya seperti pengemis. Dia memberikan makanan sisa kru kepada ayah saya, sementara mantan kekasihnya menikmati babi panggang utuh dari hasil keringat keluarga kami!”

Runtuhnya Topeng Sang Miliarder Palsu

Clarissa mulai menangis terisak di pelukan ibunya, mencoba mencari simpati. Sementara Adrian berlari menaiki tangga panggung, matanya menyiratkan kepanikan yang luar biasa. Reputasi sebagai pengusaha muda sukses yang selama ini ia bangun di depan keluarga Villanueva hancur lebur dalam hitungan menit.

“Turun, Liana! Kita bicarakan ini di belakang!” bisik Adrian dengan geram saat ia berhasil mencapai panggung.

Aku menurunkan mikrofon sejenak, menatapnya dengan senyum paling meremehkan yang pernah kumiliki. “Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Pernikahan ini batal.”

Aku berbalik, mengabaikan Adrian yang mematung, lalu berjalan turun menghampiri meja Marco Villanueva. Adik Clarissa itu masih memegang ponselnya, namun wajahnya kini pucat pasi karena rekamannya justru berbalik mempermalukan kakaknya sendiri.

Aku merebut ponsel dari tangan Marco, melihat video Ayah yang sedang diperbesar di layarnya, lalu menjatuhkan ponsel mahal itu ke lantai dan menginjaknya dengan tumit sepatu hak tinggiku hingga layarnya hancur berkeping-keping.

“Jangan pernah berani merendahkan ayahku lagi,” desisku di depan wajah Marco yang ketakutan.

Langkah Keluar dengan Kepala Tegak

Aku berjalan kembali ke meja paling pojok. Ayah dan Ibu sudah berdiri. Ibu memegang tanganku dengan gemetar, air matanya menetes, bukan karena sedih, melainkan karena cemas memikirkan masa depanku.

“Nak… maafkan Ayah dan Ibu. Gara-gara kami, pernikahanmu—”

“Tidak, Ayah,” potongku tegap, menggenggam tangan legam Ayah yang kasar karena puluhan tahun bekerja di ladang. “Ayah dan Ibu adalah alasan kenapa aku terselamatkan dari monster malam ini. Ayo kita pulang.”

Ayah menatapku lama, lalu senyum tulus yang paling hangat terukir di wajah tuanya. Ia merengkuh pundakku. “Ayo, Nak. Bus ke kampung masih ada yang berangkat tengah malam nanti.”

Kami bertiga berjalan beriringan melintasi karpet merah ballroom. Di belakang kami, suasana berubah menjadi kekacauan total. Beberapa vendor mulai berbisik panik karena tahu sisa pembayaran paket pernikahan yang jatuh tempo malam ini tidak akan pernah kulunasi. Adrian berteriak-teriak frustrasi berdebat dengan Don Roberto yang merasa tertipu dengan kekayaan palsu Adrian.

Saat kami tiba di lobi hotel, aku melepas tiara di rambutku dan melemparkannya ke tempat sampah. Gaun pengantin ini terasa begitu ringan sekarang, tidak lagi memberatiku dengan kepalsuan.

Akhir yang Adil

Tiga bulan berlalu sejak malam yang menggempar itu.

Aku tidak pernah kembali ke apartemen Adrian. Melalui pengacara, aku mengirimkan somasi keras dan berhasil memaksa Adrian mengembalikan uang modal milik Ayah yang sempat ia pakai, setelah aku mengancam akan membawa bukti penipuan dan penggelapan dana tersebut ke ranah hukum. Tanpa uang dari keluargaku, bisnis Adrian goyang dan ia terjerat utang di mana-mana.

Keluarga Villanueva? Begitu tahu Adrian tidak sekaya yang dikira, Don Roberto langsung membatalkan semua rencana investasi dan menjauhkan Clarissa dari Adrian. Pengkhianatan mereka berakhir dengan saling menyalahkan dalam kebangkrutan.

Sore ini, aku duduk di beranda rumah panggung milik orang tuaku di kampung. Udara terasa bersih, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang penuh kepalsuan. Ibu keluar membawa nampan berisi kopi hangat dan sepiring kacang kenari yang dikupasnya sendiri.

Ayah berjalan mendekat dari arah sawah, masih mengenakan capingnya, lalu tersenyum lebar melihatku.

“Kacangnya manis, rasanya pas,” kata Ayah sambil duduk di sampingku.

Aku bersandar di bahu Ayah yang kokoh. Istana megah di Jakarta boleh saja runtuh, namun di sini, di bawah atap sederhana ini, aku tahu hargaku dan martabat keluargaku tetap berdiri tegak, tak ternilai oleh apa pun.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.