DUA HARI SETELAH PERNIKAHAN KAMI, AKU DITAMPAR OLEH SUAMIKU KARENA MENOLAK MELAYANI KAKAKNYA YANG MALAS—NAMUN DIA TIDAK MENGIRA APA YANG AKAN AKU LAKUKAN UNTUK MENGHANCURKAN DUNIANYA!
I. Bulan Madu yang Menjadi Mimpi Buruk
Baru dua hari sejak aku melangkah di altar dengan gaun putih yang indah. Aku dan suamiku, Julian, telah berjanji di hadapan Tuhan dan keluarga kami untuk hidup bersama dalam suka dan duka. Aku mengira minggu pertama pernikahan kami akan dipenuhi cinta, kelembutan, dan rencana masa depan yang indah. Tapi aku salah.
Karena rumah kakak Julian, Clara, belum selesai dibangun, Julian memintanya untuk sementara tinggal di unit apartemen kami. Aku setuju karena menganggapnya sudah seperti keluarga.
Namun pada malam kedua pernikahan kami, setelah aku memasak makan malam dengan susah payah selama dua jam di dapur, aku mulai melihat sisi sebenarnya dari keluarga yang kumasuki.
Saat aku sedang merapikan piring di meja makan, aku mendengar teriakan Clara dari ruang tamu. Dia berbaring di sofa sambil bermain ponsel, televisi menyala dengan volume keras.
“Maya! Bawa makananku ke sini! Aku mau makan sambil nonton K-Drama!” perintahnya, seolah-olah aku adalah pelayan yang dibayar.
II. Penolakan dan Tamparan Kejam
Aku berhenti sejenak dan menarik napas dalam-dalam. Aku menatap Julian yang sudah duduk di ujung meja, menunggu untuk dilayani.
“Julian,” kataku dengan tenang, “tolong panggil adikmu. Makanannya sudah siap. Kalau dia mau makan, biarkan dia datang sendiri ke sini.”
Julian mengerutkan kening. “Maya, antar saja ke sana. Dia capek setelah kerja. Masa cuma minta bantuan kecil saja tidak bisa? Kamu istri saya, kamu juga harus mengurus keluarga saya.”
“Aku juga lelah, Julian,” jawabku tegas. “Kita baru dua hari menikah. Aku tidak masuk ke hubungan ini untuk menjadi pelayan pribadi adikmu.”
Mendengar itu, Clara langsung berdiri dan menghampiri kami. “Kak, lihat saja istrimu itu! Baru sebentar sudah mulai melawan. Kalau aku tahu dia begini, aku tidak akan setuju kalian menikah!”

Tanpa membelaku, Julian berdiri dengan wajah memerah. “Kamu istri yang tidak berguna! Itu adikku, kamu harus menghormatinya!”
Sebelum aku sempat menjawab, sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.
Berikut adalah kelanjutan dan babak penutup untuk kisah Anda:
III. Keheningan Sebelum Badai
Rasa panas seketika menjalar di pipi kiriku, meninggalkan bekas merah yang kontras dengan kulitku yang memucat. Sudut bibirku sedikit pecah, mengeluarkan setetes darah. Namun, yang lebih mengejutkan dari rasa sakit fisik itu adalah keheningan yang mendadak mencekam di dalam apartemen.
Julian menatap tangannya sendiri, ada kilat penyesalan yang lewat di matanya, tapi egonya terlalu besar. “M-Maya… makanya jangan memancing amarahku. Kamu yang salah karena keterlaluan pada Clara.”
Clara di sampingnya justru tersenyum puas, melipat tangan di dada seolah baru saja memenangkan sebuah trofi. “Bagus, Kak. Memang harus dikasih pelajaran dari awal biar tidak melonjak.”
Aku tidak menangis. Tidak ada satu tetes pun air mata yang keluar. Aku perlahan menyeka setetes darah di bibirku dengan ujung jari, lalu menatap Julian lurus-lurus di matanya. Rasa cinta yang kupupuk selama tiga tahun pacaran menguap begitu saja, digantikan oleh rasa dingin yang mematikan.
“Dua hari, Julian,” bisikku, suaranya begitu pelan namun sanggup membuat Julian merinding. “Hanya butuh dua hari bagimu untuk menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya.”
Aku berbalik, berjalan masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu. Di luar, aku bisa mendengar Clara mencibir, “Halah, paling cuma mau merajuk di kamar. Biarkan saja, Kak!”
Mereka tidak tahu bahwa di dalam kamar, aku tidak sedang menangis meratapi nasib. Aku membuka laptopku. Jemariku bergerak dengan cepat di atas papan tik. Julian mengira dia adalah pria mapan yang mengizinkanku tinggal di apartemen mewahnya.
Dia lupa… siapa yang sebenarnya memegang kendali atas seluruh dunianya.
IV. Runtuhnya Sang Ilusi
Keesokan paginya, suasana apartemen sangat sunyi. Julian dan Clara mengira aku masih mengurung diri karena sedih. Julian bersiap-siap pergi ke kantor dengan setelan jas rapinya, sementara Clara masih bermalas-malasan di sofa.
Tepat jam 08.00 pagi, pintu apartemen diketuk dengan keras.
Clara membuka pintu sambil mengomel, “Siapa sih pagi-pagi begini—”
Ucapannya terhenti ketika tiga orang pria berjas hitam dengan logo firma hukum ternama berdiri di depan pintu, didampingi oleh dua petugas keamanan gedung.
“Selamat pagi. Kami dari kantor hukum Adiwangsa & Partners, mewakili Ibu Maya Larasati,” kata pengacara paruh baya di depan.
Julian yang mendengar nama firma hukum top itu langsung berlari ke depan pintu dengan wajah panik. “Ada apa ini? Maya? Apa-apaan ini?!”
Aku keluar dari kamar, sudah rapi dengan pakaian formal dan koper di tanganku. Pipi kiriku yang memar sengaja tidak kututupi dengan kosmetik.
“Julian, silakan baca surat pengosongan unit ini,” kataku sambil menyerahkan selembar dokumen legal.
“Pengosongan? Ini apartemenku! Aku yang membayar cicilannya!” teriak Julian berang.
Aku tersenyum sinis. “Cicilan? Julian, apartemen ini dibeli atas nama perusahaan ayahku, PT Larasati Utama. Kamu bisa tinggal di sini karena posisi kamu sebagai Manajer Pemasaran senior di sana. Fasilitas ini diberikan oleh perusahaan, bukan milik pribadimu.”
Wajah Julian seketika memucat.
“Dan untukmu, Clara…” Aku menatap adik iparku yang kini mulai gemetar. “Rumah yang sedang kamu bangun dengan uang pinjaman itu? Bank yang memberikanmu pinjaman adalah anak perusahaan milik keluarga kami. Hari ini, aku sudah meminta mereka meninjau ulang kelayakan kreditmu berdasarkan laporan perilakumu. Kreditmu dibatalkan, dan seluruh dana yang sudah cair harus dikembalikan dalam waktu 30 hari, atau tanahmu disita.”
“Maya! Kamu tidak bisa melakukan ini! Kita sudah menikah!” tergah Julian, mencoba meraih tanganku, namun langsung diadang oleh dua sekuriti gedung.
V. Kehancuran Mutlak
“Pernikahan kita? Sudah selesai,” ujarku dingin. “Pengacaraku sudah mendaftarkan gugatan pembatalan pernikahan (annulment) pagi ini ke pengadilan, dengan bukti visum penyerangan fisik yang kamu lakukan semalam. Kamu tidak akan mendapatkan sepeser pun harta gona-gini, karena secara hukum, pernikahan dua hari ini dianggap tidak pernah ada.”
Sebelum Julian sempat membalas, ponsel di saku jasnya berdering keras. Itu dari Divisi HRD pusat perusahaan tempatnya bekerja.
Julian mengangkatnya dengan tangan gemetar. “Halo, Pak Julian? Berdasarkan keputusan dari Dewan Komisaris per pagi ini, Anda resmi diberhentikan secara tidak hormat dari posisi Manajer Pemasaran atas pelanggaran kode etik berat dan tindak kekerasan. Seluruh fasilitas perusahaan, termasuk mobil dan apartemen, harus dikembalikan hari ini juga.”
Telepon itu terputus. Ponsel Julian merosot dari genggamannya, jatuh ke lantai.
Dalam satu kedipan mata, pria yang semalam menamparku karena merasa menjadi kepala keluarga yang paling berkuasa, kini kehilangan segalanya: pekerjaan, reputasi, mobil, apartemen, bahkan masa depan adiknya.
Clara langsung bersujud di kakiku sambil menangis histeris. “Mbak Maya, maafkan aku! Aku yang salah, aku yang malas! Tolong jangan batalkan kredit rumahku, aku mohon!”
Julian juga ikut berlutut, wajahnya dipenuhi air mata penyesalan yang sangat terlambat. “Maya… tolong beri aku kesempatan kedua. Aku mencintaimu, aku khilaf semalam karena stres kerjaan…”
Aku melangkah mundur, menatap mereka berdua dengan tatapan kosong tanpa belas kasihan.
“Satu tamparan semalam dibayar lunas dengan kehancuran seluruh hidupmu hari ini, Julian,” kataku tegas. “Kalian punya waktu satu jam untuk mengemas baju-baju kalian dalam kantong plastik sebelum sekuriti menyeret kalian keluar dari gedung ini.”
Aku melangkah pergi meninggalkan apartemen itu dengan koperku, dikawal oleh tim pengacaraku. Saat pintu lift tertutup, menyembunyikan jeritan frustrasi Julian dan tangisan histeris Clara, aku tersenyum.
Mereka mengira bisa memperlakukan seorang wanita seperti pelayan setelah pernikahan, namun mereka lupa bahwa wanita yang mereka tindas adalah pemilik dari seluruh dunia yang selama ini mereka nikmati.
PAKK!
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.