Posted in

KEKHAWATIRAN ORANG TUAKU KARENA PACARKU SEORANG BINARAGAWATI**

KEKHAWATIRAN ORANG TUAKU KARENA PACARKU SEORANG BINARAGAWATI**

Saat pertama kali aku memperkenalkan pacarku, **Andrea Santos**, kepada orang tuaku, kupikir semuanya akan berjalan biasa saja.

Ternyata aku salah.

Baru saja pintu rumah terbuka, Mama langsung melihat Andrea yang mengenakan kaus polo ketat. Pakaiannya sebenarnya biasa saja, tetapi yang luar biasa adalah kedua lengannya yang berotot, seolah-olah punya “kode pos” sendiri.

Mama langsung menelan ludah.

“Nak…” bisiknya kepadaku. “Dia rajin olahraga ya?”

“Iya, memang kenapa, Ma?”

“Soalnya… kelihatannya dia sanggup mengangkat kulkas kita sendirian.”

Tepat saat itu Papa keluar dari dapur.

Begitu melihat Andrea, beliau langsung terdiam.



“Selamat sore, Pak,” sapa Andrea dengan sopan.

Ia mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Papa menyambutnya.

Beberapa detik kemudian, wajah Papa langsung meringis.

“Nak…” katanya setelah melepaskan tangan Andrea. “Kenapa rasanya tulang tanganku seperti tertinggal di genggamannya?”

Andrea hanya tersenyum malu.

“Maaf ya, Pak. Saya sudah terbiasa latihan deadlift.”

Papa mengangguk pelan.

“Saya tidak tahu itu olahraga… atau nama alat penghancur.”

Saat makan malam, Mama berusaha mencairkan suasana.

“Andrea, hobimu apa?”

“Saya suka ke gym, Bu.”

“Selain itu?”

“Tinju.”

“Lalu?”

“Powerlifting.”

“Lalu?”

“Kadang-kadang MMA.”

Mama terdiam.

Papa terdiam.

Bahkan kipas angin pun seolah ikut diam.

Malam harinya aku mendengar Mama dan Papa mengobrol di ruang tamu.

“Kelihatannya dia baik ya.”

“Iya.”

“Tapi aku tetap agak takut.”

“Aku juga.”

“Kenapa?”

“Aku bingung… dia ini pacar anak kita atau bodyguard?”

Seminggu kemudian kami mengajak Andrea ikut liburan keluarga ke sebuah resor.

Di sana kami bermain bola voli.

Pamanku berkata,

“Andrea, pelan-pelan saja ya.”

Andrea tersenyum.

“Siap, Om.”

Baru servis pertama…

Bolanya langsung melesat.

Bukan ke lapangan lawan.

Melainkan entah ke kampung sebelah.

Konon katanya, sampai sekarang masih ada warung yang atapnya pernah bolong gara-gara bola voli itu.

Papa semakin yakin Andrea bukan orang biasa ketika suatu hari mobil kami mogok.

Mesinnya tidak mau menyala.

Kami menelepon Andrea.

Begitu datang, ia hanya melihat mobil itu sebentar.

“Apa masalahnya, Pak?”

“Nggak bisa hidup.”

Andrea mengangguk.

Lalu…

Ia mendorong mobil itu.

Sendirian.

Ke arah tanjakan.

Padahal rem tangan masih aktif.

Papa hanya bisa melongo.

“Nak…”

“Iya, Pak?”

“Kalau nanti kalian bertengkar…”

“Iya?”

“Jangan coba-coba membalas ya.”

Namun kejadian paling lucu terjadi ketika seekor kecoak masuk ke rumah.

Seperti biasa…

Mama menjerit.

Papa berlari.

Aku naik ke atas kursi.

Sedangkan Andrea?

Ia hanya mendekat.

Mengambil sandal.

Menatap kecoak.

Menatap sandal.

Menatap kecoak lagi.

Tiba-tiba…

Kecoaknya terbang keluar lewat jendela.

Bukan karena terkena sandal.

Melainkan…

Karena keburu ketakutan.

Beberapa bulan berlalu.

Orang tuaku mulai menyadari bahwa Andrea sebenarnya sangat baik hati.

Dialah yang selalu membantu mengangkat belanjaan.

Memperbaiki kursi yang rusak.

Mengganti galon air seolah-olah hanya mengangkat botol air mineral.

Perlahan-lahan rasa takut mereka pun menghilang.

Hingga suatu hari aku mendengar Papa mengobrol dengan tetangga.

“Benarkah pacar anakmu berotot sekali?”

Papa tersenyum bangga.

“Betul.”

“Kamu nggak takut?”

“Dulu iya.”

“Kalau sekarang?”

“Sekarang sudah tidak.”

“Kenapa?”

“Waktu badai kemarin, ada pohon tumbang di depan rumah.”

“Lalu?”

“Dia memindahkannya.”

“Dia menelepon petugas?”

“Bukan.”

“Terus bagaimana?”

“Diangkat sendiri.”

Sejak hari itu Papa benar-benar bangga pada Andrea.

Kalau ada tamu datang, beliau selalu memperkenalkannya.

“Sudah kenal pacar anak saya?”

“Belum.”

“Sini, saya kenalkan.”

Begitu Andrea datang…

“Selamat siang semuanya.”

Papa langsung berbisik kepada tamunya,

“Kalau salaman, jangan lama-lama ya. Saya sudah pernah merasakannya.”

Semua orang langsung tertawa.

Sementara Andrea hanya tersenyum polos, sama sekali tidak sadar bahwa seluruh keluargaku sudah yakin dia sanggup mengangkat mobil, kulkas, lemari, bahkan mungkin rumah sekalipun kalau sedang semangat….

Babak 1: Ujian Sesungguhnya di Malam Lamaran

Satu tahun berlalu, hubungan kami semakin serius. Aku memutuskan bahwa ini saatnya untuk melamar Andrea. Malam itu, kami mengadakan makan malam formal di sebuah restoran mewah untuk mempertemukan kedua keluarga. Andrea tampil sangat anggun malam itu—meskipun gaun malamnya tetap harus dipesan khusus agar muat di bagian lingkar bahu dan bisepnya yang menakjubkan.

Papa dan Mama sudah tampil rapi. Suasana berjalan sangat hangat sampai tiba-tiba, segerombolan pemuda mabuk yang membuat keonaran di jalanan masuk ke area restoran. Mereka berteriak, memecahkan botol, dan mulai memeras kasir serta menakut-nakuti para pengunjung.

Salah satu pemuda bertubuh kekar dan bertato berjalan ke arah meja kami. Ia menatap sombong dan menggebrak meja. “Heh, tua bangka! Serahkan dompetmu!” gertaknya pada Papa.

Papa langsung gemetar. Mama hampir pingsan karena ketakutan. Aku bersiap berdiri untuk melindungi orang tuaku, meskipun aku tahu peluangku menang sangat tipis.

Namun, sebelum aku sempat maju, sebuah tangan kekar yang lembut namun sekeras baja menahan bahuku.

Babak 2: Definisi “Urusan Selesai”

Andrea berdiri perlahan. Gaun malamnya yang anggun tidak bisa menyembunyikan postur tubuhnya yang menjulang tegap bagai benteng pertahanan.

Pemuda bertato itu tertawa mengejek, “Oh, mau jadi pahlawan, Nona cantik? Memangnya kau bisa ap—”

Belum sempat pemuda itu menyelesaikan kalimatnya, Andrea maju satu langkah, mencengkeram kerah jaket kulit pria itu dengan satu tangan, lalu mengangkatnya beberapa sentimeter dari lantai. Hanya dengan SATU tangan.

Wajah pemuda itu yang tadinya merah karena alkohol langsung berubah pucat pasi dalam sekejap. Teman-temannya yang melihat pemandangan tidak masuk akal itu langsung berhenti berteriak. Suasana restoran mendadak hening, seketika berubah menjadi sunyi senyap seperti perpustakaan.

“Tempat ini adalah tempat makan yang tenang. Dan kalian mengganggu makan malam calon mertuaku,” ucap Andrea dengan suara lembut, namun dengan tatapan mata yang dingin menembus jiwa.

Andrea tidak memukulnya. Ia hanya menoleh ke arah meja kosong di sebelahnya, lalu dengan gerakan santai seperti memindahkan bantal, ia melempar pemuda bertato itu tepat ke atas sofa restoran. Teman-teman pemuda itu langsung pontang-panting menggotong bos mereka dan lari tunggang-langgang keluar dari restoran sebelum Andrea sempat mengambil ancang-ancang tinju.

Babak 3: Akhir yang Manis (dan Kokoh)

Seluruh pengunjung restoran bertepuk tangan riuh. Papa yang tadinya ketakutan, perlahan menegakkan punggungnya, membenarkan letak dasinya, lalu menatap orang-orang di sekitar dengan senyum paling lebar yang pernah kulihat.

Beliau berdiri, menepuk bahu Andrea dengan bangga (tentu saja pelan-pelan agar tangan Papa tidak cidera), lalu berteriak kepada pengunjung restoran, “Lihat?! Itu calon menantu saya! Bodyguard? Bukan! Dia binaragawati kelas internasional!”

Acara lamaran malam itu pun sukses besar. Andrea menerima cincin dariku, dan saat kami berpelukan, aku bisa mendengar bunyi tulang rusukku sedikit bergemertak karena pelukan bahagianya. Tapi tidak apa-apa, aku sudah terbiasa.

Beberapa bulan kemudian, di hari pernikahan kami, ada satu tradisi yang biasanya dilakukan: pengantin pria menggendong pengantin wanita saat memasuki rumah baru.

Namun, saat kami tiba di depan pintu depan, Papa berbisik kepadaku, “Nak, demi keselamatan tulang belakangmu, biarkan tradisinya dibalik saja kali ini.”

Aku menatap Andrea, dan Andrea mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum lebar. Detik berikutnya, Andrea dengan mudah mengangkatku ala bridal style ke dalam dekapannya, membawaku melewati ambang pintu seolah-olah aku hanya sekarung beras ringan.

Papa, Mama, dan para tamu undangan bersorak sorai sambil memotret momen bersejarah itu. Aku mungkin tidak menikahi wanita biasa yang lemah lembut, tetapi aku tahu, di dalam dekapannya yang sekuat baja, hidupku dan seluruh keluargaku akan selalu aman, hangat, dan terlindungi selamanya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.