Posted in

KETIKA SUAMIKU MENANDATANGANI SURAT PERCERAIAN SAMBIL TERANG-TERANGAN MENGHIBUR MANTAN KEKASIHNYA, DIA MENGIRA AKU HANYA MENGANCAM AKAN PERGI… HINGGA SATU PESAN MENGUBAH SEGALANYA…

KETIKA SUAMIKU MENANDATANGANI SURAT PERCERAIAN SAMBIL TERANG-TERANGAN MENGHIBUR MANTAN KEKASIHNYA, DIA MENGIRA AKU HANYA MENGANCAM AKAN PERGI… HINGGA SATU PESAN MENGUBAH SEGALANYA…**

Saat aku sendiri yang mengajukan perceraian, suamiku masih sibuk menghibur mantan kekasihnya yang katanya sedang tidak enak badan.

Dia bahkan tidak mengangkat kepalanya.

“Akhirnya kamu juga yang minta cerai?”

Selama lima tahun pernikahan kami, setiap kali bertengkar, dialah yang selalu pertama kali mengucapkan kata “cerai”.

Dan setiap kali itu pula, dia yakin akulah yang akan lebih dulu mengalah dan meminta maaf.

“Kenapa?”

tanyanya.

Aku menunjuk layar ponselnya yang penuh dengan pesan-pesan penyemangat untuk mantan kekasihnya.

“Masih kurang jelas alasannya?”

Dia mengernyit.

“Dia cuma lagi sedih, jadi aku menghiburnya. Kami hanya teman.”

Lalu dia tersenyum tipis.

“Kalau kamu memang tidak percaya, ya sudah, kita cerai saja.”

Aku meletakkan surat perjanjian perceraian yang sudah kutandatangani di hadapannya.

“Baik. Tanda tangani.”

Dia sempat terdiam sesaat sebelum langsung membubuhkan tanda tangannya.

“Terserah kamu mau bagaimana.”

Bukan karena dia mengabulkan permintaanku.

Melainkan karena dia sama sekali tidak percaya bahwa aku benar-benar sanggup mengakhiri pernikahan kami.

Namun kali ini…

Aku benar-benar ingin bercerai.

Dan aku juga tidak ingin mengejarnya lagi.

Satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu hanyalah gesekan pena di atas kertas.

Setelah selesai menandatangani, dia mendorong kembali berkas itu ke arahku.

“Ambil.”

Nada suaranya tetap dingin, seolah hanya sedang memberi perintah.

Tepat saat itu, mantan kekasihnya melakukan panggilan video.

Dia langsung mengangkatnya.

“Terima kasih sudah selalu ada buat aku…”

Suara wanita itu bergetar.

“Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah tidak sanggup.”

Dia tersenyum lembut.

“Jangan berpikir yang macam-macam. Kamu kan baru saja putus.”

“Aku juga sebenarnya sedih…”

kata wanita itu dengan manja.

“Hanya saja kamu tidak menyadarinya.”

Aku hanya menundukkan kepala dalam diam.

Selama bertahun-tahun…

Setiap kali wanita itu bersedih…

Suamiku selalu menjadi orang pertama yang muncul.

Saat dia sakit…

Bahkan dini hari pun suamiku akan datang menemuinya.

Saat ulang tahunnya…

Hadiahnya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.

Sedikit saja perubahan emosinya…

Suamiku langsung menyadarinya.

Sedangkan yang paling sering dia berikan kepadaku…

Hanyalah kata “cerai”.

Aku menarik napas panjang.

“Besok aku akan pergi.”

Dia menoleh.

“Benarkah? Kalau memang mau pergi, ya pergi saja.”

Tiba-tiba mantan kekasihnya ikut berbicara.

“Kak masih di situ?”

Suamiku tersenyum.

“Iya. Kami baru saja menandatangani surat perceraian.”

Wanita itu berpura-pura terkejut.

“Bukan gara-gara aku, kan?”

Lalu dia sengaja meninggikan suaranya.

“Kak, jangan salah paham ya. Kami benar-benar cuma teman.”

Aku tersenyum tipis.

Kalau memang hanya teman…

Seharusnya tidak perlu berkali-kali menjelaskan.

Suamiku langsung membelanya.

“Ini tidak ada hubungannya dengan kamu.”

“Dia saja yang terlalu banyak berpikir.”

“Kami tumbuh bersama sejak kecil.”

“Apa salahnya?”

Dia memang benar.

Di hati suamiku…

Mantan kekasihnya selalu menjadi prioritas.

Walaupun mereka sudah lama berpisah.

Wanita itu tidak pernah kehilangan tempat istimewa di hatinya.

Aku berkata dengan tenang,

“Benar. Memang tidak ada hubungannya.”

“Karena itu aku juga tidak akan menghalangi kalian lagi.”

Dia mengerutkan kening.

“Kamu tahu sendiri hubungan kami seperti apa.”

“Aku tahu.”

Aku mengambil surat perjanjian itu lalu keluar dari ruangan.

Di belakangku, wanita itu kembali bertanya.

“Kamu tidak mau membujuk Kak?”

Suamiku langsung menjawab.

“Tidak perlu.”

“Nanti juga dia berhenti marah sendiri.”

Saat itulah aku benar-benar sadar.

Bukan berarti dia tidak tahu cara membujuk.

Dia tahu.

Hanya saja…

Bukan aku yang ingin dia bujuk.

Aku mulai mengemas barang-barangku.

Semua dokumen penting kumasukkan ke dalam koper.

Saat melihat akta nikah kami, aku hanya mengambil salinan milikku sendiri.

Aku masih akan membutuhkannya.

Dia bersandar di kusen pintu.

“Jadi kamu benar-benar mau pergi?”

“Aku akan pindah.”

Dia tersenyum sinis.

“Sudahlah, jangan berlebihan.”

“Nanti juga kamu kembali.”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya terus membereskan barang-barangku.

Dia kembali berkata,

“Cuma gara-gara beberapa pesan, kamu langsung ingin bercerai.”

“Kamu memang terlalu sempit cara berpikirnya.”

Aku menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku merasa sangat lelah.

“Baiklah.”

“Kalau menurutmu aku picik, anggap saja begitu.”

Aku sudah tidak ingin menjelaskan apa pun lagi.

Keesokan harinya.

Aku menarik koper keluar dari rumah.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

“Selama dua hari ke depan, mantan pacarku akan menginap di sini.”

Itu bukan pertanyaan.

Melainkan perintah.

“Terserah.”

Dia melanjutkan,

“Kamu juga harus datang.”

“Nanti dia mengira kamu masih marah padanya.”

Aku tidak menjawab.

Dia melihat jam tangannya.

“Aku jemput dia dulu.”

Saat dia hendak membuka pintu…

Aku memanggilnya.

“Tunggu.”

Dia menoleh.

Wajahnya penuh percaya diri.

Mungkin dia mengira…

Aku akan meminta maaf lagi seperti biasanya.

Namun dengan tenang aku hanya bertanya,

“Besok kamu ada waktu?”

“Kalau ada, ayo kita selesaikan proses perceraian di kantor.”

Ekspresinya langsung berubah.

“Kamu serius?”

“Sudahlah, jangan drama.”

Aku berkata dengan tenang,

“Bagaimanapun juga semua prosesnya harus diselesaikan.”

Dengan kesal dia memotong ucapanku.

“Semua orang tahu kamu tidak bisa hidup tanpa aku.”

“Cukup.”

Setelah berkata begitu…

Dia menutup pintu lalu pergi.

Malam harinya.

Aku mengirim pesan.

“Besok jam sembilan pagi. Jangan lupa.”

Lama sekali baru dia membalas.

Dia mengirim pesan suara.

Namun saat kudengarkan…

Bukan suara suamiku yang terdengar.

Melainkan suara mantan kekasihnya.

“Kak, memang ada apa besok jam sembilan? Sekarang kami sedang di pesta penyambutan yang dia adakan khusus untukku. Kakak mau ikut?”

Tak lama kemudian…

Terdengar suara lain dari seberang sana.

“Astaga, Kak… nyaman sekali ya membalas chat pakai ponselnya. Memangnya kamu tidak takut dia cemburu?”

Berikut adalah kelanjutan dan bab penutup (ending) untuk cerita drama romantis Anda, ditulis dalam bahasa Indonesia dengan gaya yang emosional, tegas, dan penuh kepuasan (satisfying):

Pesan suara itu terputus. Di latar belakang, aku bahkan bisa mendengar tawa samar suamiku yang terdengar begitu lepas—suara tawa yang sudah bertahun-tahun tidak pernah kudengar di rumah ini.

Aku tidak membalas. Aku hanya menyimpan rekaman itu, lalu mengirimkan satu pesan terakhir yang akan mengubah segalanya.

“Aku sudah mengosongkan rumah dan memindahkan seluruh sisa saham keluarga serta aset operasional atas namaku dari perusahaanmu. Besok jam 9 pagi, pengacara keluargaku yang akan menunggumu di pengadilan. Nikmati pestanya.”

Dia lupa satu hal. Pernikahan ini bukan hanya tentang cinta, tapi tentang bagaimana keluargaku menyokong bisnisnya yang hampir bangkrut lima tahun lalu. Selama ini aku bertahan karena statusnya sebagai suamiku. Kini, penyangga itu telah runtuh.

Hari Sidang Perceraian

Keesokan harinya, pukul 08.45 pagi.

Ponselku berdering tanpa henti. Puluhan panggilan tak terjawab dari suamiku masuk bertubi-tubi, diikuti rentetan pesan teks yang penuh kepanikan.

  • “Apa-apaan ini?! Kenapa rekening operasional perusahaan dibekukan?!”
  • “Kenapa investor utama kita tiba-tiba menarik diri?!”
  • “Kamu di mana?! Angkat teleponku!”

Aku tidak sudi mengangkatnya. Aku melangkah masuk ke ruang pengadilan dengan setelan formal yang elegan, didampingi oleh tim pengacara terbaik.

Tepat pukul sembilan, pintu ruang tunggu terbuka kasar. Suamiku—tidak, pria yang hampir menjadi mantanku itu—muncul dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, matanya merah, dan pakaiannya kusut. Tidak ada lagi sisa-sisa pria sombong yang kemarin malam tertawa di pesta.

Di belakangnya, mantan kekasihnya mengekor dengan wajah ketakutan, menyadari bahwa “pesta” mereka telah berakhir menjadi bencana finansial.

“Raya! Apa maksud semua ini?!” suaranya meninggi, mencoba mengintimidasi seperti biasanya. “Kamu mau menghancurkanku hanya karena masalah sepele kemarin?!”

Pengacaraku langsung berdiri menghadangnya, namun aku memberi isyarat agar dia mundur. Aku menatap pria di hadapanku ini dengan tatapan paling dingin yang pernah kupunya.

“Masalah sepele?” aku tersenyum tipis, sangat tenang. “Kamu yang bilang aku tidak bisa hidup tanpamu. Jadi, aku hanya ingin membuktikan siapa yang sebenarnya tidak bisa hidup tanpa siapa.”

Dia tertegun. Tubuhnya gemetar saat menyadari bahwa kali ini aku benar-benar tidak sedang bermain drama.

“Raya, tolong… kita bisa bicarakan ini baik-baik,” suaranya tiba-tiba melunak, memohon. “Aku dan dia… kami benar-benar cuma teman. Aku bersumpah!”

Mantan kekasihnya maju, mencoba memegang lenganku sambil menangis buaya. “Kak, maafkan aku… ini semua salahku. Jangan ceraikan dia, jangan hancurkan perusahaannya…”

Aku menarik tanganku dengan jijik.

“Kalian tidak perlu berakting lagi di depanku. Mulai hari ini, kalian bebas bersama tanpa perlu bersembunyi di balik kata ‘teman’.” Aku menatap suamiku untuk terakhir kalinya. “Tanda tangani berkas finalnya di dalam. Jangan buat dirimu semakin memalukan.”

Akhir Cerita (Penutup)

Satu jam kemudian, prosesi itu selesai. Surat cerai resmi legal.

Aku berjalan keluar dari gedung pengadilan, menghirup udara segar yang sudah lama tidak kurasakan. Beban berat di pundakku selama lima tahun seketika sirna.

Di belakangku, mantan suamiku terduduk lemas di kursi taman pengadilan, menatap kosong ke arah surat cerai dan ponselnya yang terus berdering dari pihak bank yang menagih utang. Mantan kekasihnya? Wanita itu sudah menjauh sambil sibuk menelepon orang lain—menunjukkan tabiat aslinya yang langsung pergi saat pria itu tidak lagi memiliki harta.

Aku masuk ke dalam mobilku tanpa menoleh ke belakang lagi. Sambil tersenyum, aku mematikan nomor ponsel lamaku dan membuang kartunya ke tempat sampah.

Pernikahan yang penuh air mata itu telah usai, dan lembaran baruku yang jauh lebih indah baru saja dimulai.

TAMAT

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.