Posted in

Malam Ketika Ibu Orang Lain Memenuhi Kulkasku dengan Kenangan tentang Anaknya, Aku Baru Sadar Bahwa Aku Hanyalah Tamu di Rumahku Sendiri

Malam Ketika Ibu Orang Lain Memenuhi Kulkasku dengan Kenangan tentang Anaknya, Aku Baru Sadar Bahwa Aku Hanyalah Tamu di Rumahku Sendiri

Ketika aku pulang dari shift malam di call center Ortigas, ujung celanaku masih basah oleh hujan dan tenggorokanku masih sakit setelah delapan jam menghadapi pelanggan yang menyebalkan, aku melihat lagi Aling Corazon berada di dapur kami.

Dia tidak mengetuk pintu.

Dia juga tidak meminta izin.

Dia berdiri di depan kulkas yang terbuka, seolah-olah dialah pemilik kondominium yang juga kubayar cicilannya setiap bulan, sambil satu per satu memasukkan wadah plastik berisi sup, abon adobo, bubur, sup daging sapi, dan berbagai makanan lain yang bahkan tidak pernah kuminta.

Di lantai, belanjaanku berserakan.

Toples ikan asin pedas yang kubeli di pasar akhir pekan Salcedo jatuh. Tutupnya pecah. Minyaknya menyebar di ubin putih.

Di sampingnya ada masker wajahku, terinjak plastik dan terkena noda kuah.

Aku menatapnya.

Dia menatapku.

Tidak ada rasa terkejut di wajahnya. Tidak ada rasa malu.

Seolah-olah justru aku yang mengganggunya.

“Oh, ternyata kamu sudah pulang.”

Dia tetap merapikan kulkas.

“Aku sudah menyingkirkan barang-barangmu yang tidak berguna. Sayang tempatnya. Miguel butuh makanan sungguhan, bukan kalengan dan mi instan.”

Miguel.

Pria yang seharusnya akan menikah denganku tiga minggu lagi.

Pria yang kucintai selama tujuh tahun sejak kami sama-sama memulai karier di BPO kecil di Makati.

Pria yang sampai sekarang masih tidak bisa mengingat hari ulang tahunku.

Aku mengeluarkan ponsel dan memotret toples yang pecah, maskerku di lantai, kulkas yang terbuka, dan Aling Corazon yang bahkan tidak berhenti melakukan pekerjaannya.

Aku mengirimkannya kepada Miguel.

【Apa kamu mengganti kode pintu lagi dan memberitahunya lagi?】

Beberapa menit kemudian barulah dia membalas.

【Tidak. Aku cuma mengembalikannya ke kode lama karena aku terus lupa yang baru.】

Aku tersenyum tanpa suara.

Kode lama itu adalah tanggal ulang tahun Isabel.

Isabel Reyes.

Mantan pacar Miguel.

Perempuan yang mengalami kecelakaan lima tahun lalu, selamat, tetapi tidak pernah benar-benar sadar kembali.

Perempuan yang sekarang berada di fasilitas perawatan pribadi di Quezon City.

Perempuan yang tidak lagi berbicara, tetapi kehadirannya masih lebih keras dalam hubungan kami daripada diriku sendiri.

Aku menarik napas panjang.

Aku mengetik:

【Ulang tahunnya masih lebih mudah kamu ingat daripada ulang tahunku?】

Tapi tidak kukirim.

Aku menghapusnya.

Saat menatap layar, aku mendengar Aling Corazon menendang mi instan yang jatuh dari lemari.

“Lihat ini. Begini caramu memberi makan Miguel?”

Perlahan aku mengangkat kepala.

Dia berdiri seperti seorang ibu yang mendapati anaknya kelaparan.

“Dulu waktu Miguel masih bersama Isabel, meski anakku lelah belajar di tempat bimbingan, dia tetap mempelajari resep untuk asam lambung Miguel. Bubur jahe. Ikan kukus. Sup yang tidak berminyak. Dia tahu mana yang dilarang dan mana yang boleh.”

Dia memegang sebungkus mi instan hanya dengan dua jari, seolah itu sampah.

“Kalau kamu? Ini yang akan kamu berikan kepada calon suamimu?”

Aku tidak menjawab.

Sudah dua tahun dia berbicara kepadaku seperti itu.

Sudah dua tahun dia masuk ke rumah kami dengan kode yang terus dikembalikan Miguel.

Sudah dua tahun dia menyentuh barang-barangku, menata dapur sesuai keinginannya, menyimpan piring yang katanya dulu dibawa Isabel, dan menyingkirkan barang-barangku seolah aku ini sebuah kontaminasi.

Awalnya aku menahannya.

Karena aku kasihan.

Karena Miguel bilang Aling Corazon sudah kehilangan anaknya meski anak itu masih hidup.

Karena katanya rasa sakit seorang ibu yang setiap hari menatap tubuh anaknya yang tidak lagi mengenalinya adalah sesuatu yang tidak akan kupahami.

Aku mencoba memahami.

Tapi ada rasa sakit yang bukan izin untuk menyakiti orang lain.

“Aku tidak tahu takdir macam apa yang membawa kamu kepada Miguel.”

Aku menatapnya.

Matanya memerah, tetapi suaranya tajam.

“Kalau kecelakaan itu tidak terjadi, mereka sudah lama menikah. Mungkin aku sudah punya cucu sekarang. Mungkin anakku sudah bahagia. Dia tidak akan terikat pada perempuan yang bahkan tidak tahu cara mencintai dengan benar.”

Ada sesuatu yang menusuk dadaku.

“Anakku,” katanya.

Padahal Miguel bukan anak kandungnya.

Tetapi dari nada suaranya, seolah hanya Isabel yang berhak atas hidup Miguel, dan kami semua hanyalah penghalang sementara.

Aku membuka kamera lagi. Diam-diam kurekam kulkas, lantai, wajah Aling Corazon, dan kata-kata yang keluar dari mulutnya tanpa rasa takut.

Aku mengirimkannya kepada Miguel.

Kali ini dia membalas cepat.

【Sebenarnya kamu mau aku bilang apa?】

Lalu langsung disusul pesan lain.

【Tante Corazon sudah cukup menderita. Kalau dia berkata sesuatu, biarkan saja. Jangan dibesar-besarkan.】

Aku menatap minyak merah yang merambat di sela-sela ubin.

Perlahan minyak itu masuk ke celah lantai, seperti noda yang sekalipun digosok tetap meninggalkan bekas.

Bagian 2 — Ketika Bayang-Bayang Masa Lalu Mengambil Alih Rumah yang Kubeli dengan Keringatku Sendiri

“Jangan dibesar-besarkan,” aku menggumamkan kata-kata Miguel di bawah napas BPO-ku yang lelah.

Tujuh tahun. Tujuh tahun aku menemaninya dari bawah, dari masa-masa kami berbagi satu porsi nasi bento di emperan toko swalayan, hingga akhirnya kami mampu mencicil kondominium ini. Kondominium yang 60% uang mukanya berasal dari tabungan insentif malamku. Namun malam ini, di bawah lampu neon dapur yang dingin, aku sadar bahwa namaku yang tertera di dokumen kepemilikan tidak ada artinya. Di mata Miguel dan Aling Corazon—ibu dari Isabel—aku hanyalah pengontrak sementara yang kebetulan bertugas membayar tagihan.

Aling Corazon menutup pintu kulkas dengan bantingan keras. Dia berbalik, membersihkan tangannya dengan serbet bermotif bunga matahari yang dulu kubeli di Divisoria.

“Besok Miguel ada janji temu dengan dokter spesialis Isabel di Quezon City,” kata Aling Corazon sambil membenahi tas besarnya. “Aku sudah menyiapkan sup tulang sapi kesukaannya di wadah biru. Ingatkan dia untuk memakannya sebelum pergi. Jangan sampai asam lambungnya kambuh lagi karena makanan sampahmu.”

Dia melangkah melewatiku begitu saja, tanpa melihat minyak ikan asin yang tumpah, tanpa rasa bersalah telah menginjak masker wajahku. Pintu depan berbunyi klik saat dia keluar, meninggalkan keheningan yang mencekam bersama aroma adobo yang menguasai udara.

Aku berlutut di atas ubin dingin. Bukan untuk menangis, melainkan untuk membersihkan pecahan kaca dan genangan minyak merah di lantai. Tanganku bergerak mekanis, menyeka ubin putih hingga bersih kembali, sebersih keputusanku yang mendadak mengkristal di dalam kepala.

Aku mengambil ponselku, membuka aplikasi perbankan, dan memeriksa sisa rekening bersama yang kami buat untuk biaya pernikahan tiga minggu lagi.

Rp45.000.000. Itu adalah uang yang kami kumpulkan untuk memesan katering, gaun, dan biaya sewa gedung di Intramuros. Tanpa ragu, kutarik seluruh nominal tersebut ke rekening pribaliku—menyisakan saldo nol rupiah yang mutlak. Aku adalah petugas kepatuhan internal di kepalaku sendiri malam ini; jika sebuah investasi terus-menerus mendatangkan kerugian emosional, maka likuidasi adalah satu-satunya jalan keluar.

Pukul dua dini hari, pintu depan terbuka. Miguel masuk dengan langkah gontai, kemeja kantornya kusut, dan wajahnya membawa beban berat yang selalu dia bawa setiap kali habis mengunjungi fasilitas perawatan Isabel.

Dia melihatku duduk di sofa ruang tamu yang gelap, hanya diterangi oleh cahaya dari layar ponselku.

“Kamu belum tidur?” tanyanya, suaranya terdengar lelah namun ada nada kesal yang tertahan. “Soal pesan tadi… kamu tidak perlu sekaku itu pada Tante Corazon, Mara. Dia hanya rindu memasak untuk seseorang. Sejak Isabel tidak bisa makan makanannya lagi, dia kehilangan arah.”

“Lalu kenapa dia tidak memasak di rumahnya sendiri, Miguel?” tanyaku, suaraku begitu tenang hingga membuat Miguel menghentikan langkahnya menuju kamar.

“Mara, tolonglah. Kita mau menikah tiga minggu lagi. Jangan mulai dengan drama cemburu pada perempuan yang bahkan tidak bisa membuka matanya,” kata Miguel sambil memijat pelipisnya.

“Aku tidak cemburu pada Isabel, Miguel,” aku berdiri, menyalakan lampu ruang tamu, membuat ruangan seketika terang benderang. “Aku kasihan padanya. Tapi aku jauh lebih kasihan pada diriku sendiri. Tujuh tahun aku bersamamu, tapi rumah ini diatur dengan kode ulang tahunnya. Kulkas ini diisi dengan makanan untuk mengenang seleranya. Dan kamu… kamu bahkan tidak ingat kalau besok adalah hari ulang tahunku.”

Miguel terpaku. Matanya membelalak kecil, mencoba mengingat-ingat kalender di kepalanya, namun terlambat. Keheningan yang menyusul di antara kami adalah konfirmasi paling jujur yang kubutuhkan.

Bagian 3 — Mengembalikan Kunci, Mengambil Kembali Hidupku

“Mara, aku… aku minta maaf. Akhir-akhir ini urusan kantor dan biaya perawatan Isabel benar-benar menyita pikiranku—”

“Biaya perawatan Isabel?” kutinggikan satu alisku. “Maksudmu, uang yang diam-diam kamu ambil dari rekening pernikahan kita untuk menutupi kekurangan biaya fasilitasnya bulan lalu? Kamu pikir aku tidak memeriksa mutasi rekening, Miguel?”

Wajah Miguel mendadak pucat pasi. Kebohongannya yang paling rapat kini telanjang di depan matanya.

“Aku akan menggantinya, Mara! Aku bersumpah! Aku cuma meminjamnya sebentar karena Tante Corazon menangis kehabisan obat untuk Isabel!” Miguel mencoba mendekat, meraih tanganku, namun aku mundur selangkah.

“Tidak perlu diganti,” kataku sambil meletakkan sebuah map transparan di atas meja kopi. Di dalamnya ada dokumen pembatalan sewa gedung pernikahan sepihak yang sudah kuurus via email sejam yang lalu, beserta surat pemisahan aset kondominium. “Karena pernikahan itu tidak akan pernah ada.”

“Mara! Apa kamu gila?! Cuma karena masalah ini kamu membatalkan pernikahan kita?!” Miguel berteriak, frustrasi dan panik mulai menguasai suaranya.

“Ini bukan cuma tentang malam ini, Miguel. Ini tentang masa depanku yang tidak ingin kuhabiskan sebagai hantu di dalam rumahku sendiri,” aku berjalan ke kamar, mengambil koper besar yang sudah kupak sejak dia belum pulang. Semua barangku, bajuku, dan produk perawatan wajahku sudah ada di dalam sana. Rumah ini mendadak terasa begitu luas karena tidak ada lagi barangku yang tersisa.

Aku kembali ke ruang tamu, meletakkan kunci cadangan kondominium di atas meja.

“Sesuai hukum kepemilikan bersama, karena uang mukanya sebagian besar dari uangku, aku memberikanmu waktu tiga puluh hari untuk membeli bagian sahamku di kondominium ini. Jika dalam tiga puluh hari kamu tidak bisa melunasinya, tim legal bank tempatku bekerja akan melelang unit ini secara resmi,” ujarmu dingin.

“Kamu tahu aku tidak punya uang sebanyak itu, Mara! Dari mana aku bisa membayar bagianmu?!” Miguel berlutut di depan koperku, matanya mulai berkaca-kaca karena sadar bahwa jaring pengaman finansial dan emosional yang selama tujuh tahun ini menopangnya telah runtuh.

“Mungkin kamu bisa meminta bantuan Aling Corazon. Atau mungkin, kamu bisa menjual kenangan-kenangan Isabel yang selama ini kalian agungkan di dapur ini,” jawabku tanpa emosi.

Aku menarik gagang koperku, melangkah menuju pintu depan. Sebelum membukanya, aku menoleh ke arah dapur—ke arah kulkas yang penuh dengan wadah plastik biru milik Aling Corazon.

“Satu hal lagi, Miguel. Sampaikan pada Tante Corazon, mulai besok dia bebas mengubah kode pintu ini sesuka hatinya. Dia bisa memasak bubur jahe, sup tanpa minyak, atau apa pun yang dia mau untukmu. Karena mulai detik ini… kamu bukan lagi urusanku.”

Brak.

Pintu kondominium kututup dengan mantap.

Saat aku melangkah keluar dari lobi gedung menuju jalanan Ortigas, hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah dan udara malam yang bersih. Aku merogoh ponselku, memesan taksi online menuju hotel terdekat dari kantorku.

Sebuah notifikasi kalender muncul di layar tepat saat jam menunjukkan pukul dua belas malam: “Selamat Ulang Tahun, Mara. Waktunya hidup untuk dirimu sendiri.”

Aku tersenyum, menghapus air mata yang sempat mengambang di sudut mataku, dan melangkah masuk ke dalam taksi dengan perasaan paling bebas yang pernah kurasakan dalam tujuh tahun terakhir.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.