MEREKA MENYEMBUNYIKAN KURSI RODANYA AGAR IA DIPERMALUKAN DI HARI PERNIKAHANNYA—NAMUN SEORANG BOSS MAFIA MENGANGKATNYA MENUJU ALTAR DAN MEMBONGKAR RAHASIA PALING GELAP KELUARGANYA!**
I. Tawa Para Iblis
Sudah tiga tahun Elena mengalami kelumpuhan pada separuh tubuhnya akibat kecelakaan mobil yang mengerikan. Hari ini adalah hari pernikahannya. Ia mengenakan gaun pengantin putih yang begitu indah, duduk di tepi ranjang empuk di dalam bridal suite.
Ini bukan pernikahan yang dilandasi cinta, melainkan sebuah transaksi.
Ayah kandungnya sendiri, Don Arturo, bersama ibu tirinya yang kejam, Doña Carmela, telah “menjual” Elena kepada bos mafia paling ditakuti di negeri itu, Lorenzo “Enzo” Valderama. Itulah satu-satunya cara untuk melunasi utang keluarga mereka yang mencapai **triliunan rupiah** kepada sindikat tersebut.
Sesuai rencana, Elena akan menuju altar seorang diri dengan kursi rodanya. Namun ketika ia hendak meraih kursi roda yang biasanya berada di samping tempat tidur, benda itu sudah tidak ada.
Barulah ia menyadari kursi rodanya hilang saat mendengar gelak tawa dari balik pintu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.
“Lihat saja bagaimana dia bisa sampai ke altar sekarang!” ejek Beatrice, saudari tirinya, sambil tertawa nyaring. “Lorenzo pasti marah kalau harus menunggu wanita cacat itu. Mungkin dia harus merangkak di atas karpet merah seperti ulat! Memang pantas buat dia!”
“Biarkan saja dia dipermalukan,” sahut ibu tirinya, Doña Carmela. “Kalau Valderama sampai kesal, mungkin setelah kontrak pernikahan ditandatangani, Elena langsung dibuang ke jalan.”
Suara langkah kaki mereka perlahan menjauh.
Elena kini benar-benar sendirian. Tak berdaya, tubuhnya gemetar karena takut dan malu.
Bagaimana mungkin ia keluar dari kamar?
Mereka berharap ia merangkak di hadapan ratusan tamu undangan dan di depan seorang bos mafia yang terkenal kejam dan tak berbelas kasihan.
Air matanya pun mengalir tanpa bisa ditahan.
—
### II. Kedatangan Monster yang Memiliki Hati
Lima belas menit berlalu.
Semua orang pasti sudah menunggu di dalam gereja.
Elena mengusap air matanya, lalu perlahan menurunkan tubuhnya ke lantai.
Jika ia memang harus merangkak demi menyelamatkan keluarganya dari amukan sindikat mafia, maka ia akan melakukannya.
Namun sebelum kedua lututnya benar-benar menyentuh lantai…
**Brak!**
Pintu kamar terbuka dengan keras.
Seorang pria bertubuh tinggi besar berdiri di ambang pintu.
Ia mengenakan tuksedo hitam yang elegan. Tatapan matanya berwarna biru sedingin es, sementara auranya begitu menakutkan hingga membuat siapa pun enggan menatapnya terlalu lama.
Dialah Lorenzo Valderama.
Bos mafia La Cosa Nostra paling ditakuti di Asia.
Lorenzo memandang Elena yang hampir merangkak di lantai, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Dalam sekejap, ia memahami apa yang telah terjadi.
Elena melihat rahang pria itu mengeras. Tatapan matanya berubah dipenuhi amarah yang mengerikan.

Elena mengira Lorenzo akan murka karena ia terlambat, bahkan mungkin akan menghukumnya.
Namun, alih-alih berteriak…
Lorenzo justru berlutut di hadapannya.
“Di mana kursi rodamu, *mia regina*… ratuku?” tanyanya dengan suara rendah dan lembut…
“M-mereka menyembunyikannya, Tuan Valderama…” bisikku dengan suara bergetar, tidak berani menatap langsung ke dalam manik mata birunya yang sedingin es. “Saya mohon maaf… Saya tidak bermaksud membuat Anda menunggu. Saya… saya akan merangkak sekarang jika itu—”
“Cukup,” potong Lorenzo.
Suaranya tidak keras, namun sarat akan otoritas yang membuat kata-kataku langsung tertahan di tenggorokan.
Sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi, kedua lengan kekar Lorenzo menyusup ke bawah tubuhku. Dengan satu gerakan yang sangat mudah dan protektif, ia mengangkat tubuhku ke dalam dekapannya. Aroma parfum maskulin bercampur tembakau mahal langsung menyeruak ke indra penciumanku. Dada bidangnya terasa hangat dan kokoh.
“Seorang ratu tidak merangkak di hadapan siapa pun, Elena. Terutama tidak di hadapan para kecoak yang mengira mereka bisa menginjakmu,” bisik Lorenzo tepat di dekat telingaku. Suaranya yang semula dingin kini terdengar begitu lembut, namun menyimpan janji pembalasan yang mematikan.
Aku hanya bisa mencengkeram bahu tuksedonya dengan erat saat ia melangkah lebar keluar dari kamar pengantin, membawaku langsung menuju aula katedral tempat ratusan pasang mata telah menunggu.
III. Langkah Menuju Altar
Pintu ganda katedral yang megah terbuka lebar.
Gumam riuh para tamu undangan yang semula mengeluhkan keterlambatan pengantin wanita seketika senyap. Hening mencekam langsung menguasai ruangan luas itu.
Semua orang terbelalak. Di sana, di atas karpet merah yang membentang menuju altar, berdiri sang iblis paling ditakuti, Lorenzo Valderama. Namun, ia tidak sedang berdiri menunggu dengan murka. Ia sedang menggendong pengantinnya dengan begitu terhormat, seolah memegang harta paling berharga di dunia.
Di barisan kursi depan, aku bisa melihat wajah Beatrice dan Doña Carmela yang semula tersenyum penuh kemenangan langsung berubah pucat pasi. Ayahku, Don Arturo, tampak gemetar hebat hingga keringat dingin membasahi dahinya.
Lorenzo berjalan dengan langkah tegap dan tenang. Setiap langkahnya memancarkan aura dominasi yang mutlak. Ketika kami tiba di depan altar, alih-alih menurunkanku, Lorenzo tetap mendekapku erat sambil berbalik menghadap para tamu undangan—dan secara khusus, menghadap ke arah keluargaku.
“Hadirin sekalian,” suara Lorenzo menggema kuat di seluruh sudut katedral melalui mikrofon kerah yang dipakainya. “Sebelum janji suci ini diikat, ada sebuah kebenaran yang harus diluruskan di rumah Tuhan ini.”
Ia menatap tajam ke arah Don Arturo, ibu tiriku, dan Beatrice yang kini tampak seperti terdakwa di kursi pesakitan.
“Keluarga Arturo mengira mereka bisa membodohiku. Mereka menyembunyikan kursi roda Elena, berharap wanita malang ini merangkak dan mempermalukan dirinya sendiri di hari pernikahannya,” lanjut Lorenzo, membuat para tamu undangan mulai berbisik-bisik kaget.
“Namun, yang tidak mereka ketahui adalah… akulah yang memegang seluruh kendali di sini. Dan aku tahu persis alasan sebenarnya mengapa Elena berakhir di kursi roda tiga tahun lalu.”
IV. Kebenaran yang Berdarah
Jantungku mencelos mendengarnya. Aku mendongak, menatap rahang tegas Lorenzo. Apa maksudnya?
Lorenzo memberi isyarat halus dengan kepalanya ke arah sudut katedral. Dua orang anak buahnya yang berpakaian hitam-hitam langsung melangkah maju, menyeret seorang pria paruh baya yang babak belur dan terikat rantai.
“Arturo,” panggil Lorenzo dengan nada sedingin liang kubur. “Kamu mengenali pria ini? Dia adalah kepala mekanik pribadimu tiga tahun lalu.”
Don Arturo hampir terjatuh dari kursinya, wajahnya kini benar-benar putih seperti kertas.
“Tiga tahun lalu, kecelakaan tragis yang membuat Elena kehilangan kemampuan berjalan bukanlah sebuah nasib buruk,” ucap Lorenzo, suaranya menggelegar penuh amarah yang tertahan. “Mekanik ini telah mengaku di bawah interogasiku semalam. Seseorang telah membayarnya untuk menyabotase rem mobil yang dikendarai Elena hari itu.”
Ratusan tamu undangan tersentak fajar. Aku membeku di dalam dekapan Lorenzo. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Kecelakaan itu… disengaja?
“Dan siapakah yang membayar mekanik ini?” Lorenzo menjeda kalimatnya, matanya menyapu barisan depan dengan tatapan yang sanggup membunuh. “Doña Carmela dan putrimu, Beatrice.”
“I-itu tidak benar! Ini fitnah!” teriak Doña Carmela dengan suara melengking panik, sementara Beatrice mulai menangis ketakutan.
“Aku adalah Lorenzo Valderama. Aku tidak pernah melempar tuduhan tanpa bukti,” desis Lorenzo dingin.
Layar proyektor besar di samping altar yang seharusnya menampilkan foto-foto dokumentasi pernikahan kami tiba-tiba menyala. Di sana, terpampang jelas salinan transaksi rekening bank atas nama Carmela kepada sang mekanik, lengkap dengan rekaman suara telepon yang telah dipulihkan oleh tim IT mafia milik Lorenzo.
Dalam rekaman suara itu, terdengar jelas suara Carmela: “Pastikan gadis cacat itu mati, atau setidaknya tidak akan pernah bisa berjalan lagi. Dengan begitu, Arturo hanya akan mewariskan seluruh hartanya pada Beatrice.”
V. Keadilan sang Ratu
Seluruh katedral gempar. Don Arturo menatap istri dan anak tirinya dengan pandangan tidak percaya sekaligus murka, sementara Carmela dan Beatrice langsung jatuh terduduk di lantai, menyadari bahwa hidup mereka telah berakhir di tangan dinasti Valderama.
Lorenzo menunduk menatapku. Tatapan matanya yang semula kejam kini melunak, dipenuhi rasa protektif yang begitu dalam.
“Elena, harimu untuk menderita telah usai,” bisiknya lembut. “Kini, kamu adalah seorang Valderama. Katakan padaku… apa yang ingin kamu lakukan pada orang-orang yang telah merenggut kakimu?”
Aku menghapus sisa air mataku. Rasa takut yang selama tiga tahun ini membelengguku menguap begitu saja, digantikan oleh kekuatan baru yang mengalir di dalam dadaku. Aku menatap ibu tiri dan saudari tiriku yang kini merangkak ketakutan di lantai katedral—persis seperti posisi yang mereka inginkan untukku beberapa menit lalu.
“Tuan Valderama,” ucapku dengan suara tegas yang belum pernah kudengar sebelumnya. “Ambil seluruh aset yang mereka miliki untuk melunasi utang keluarga. Dan biarkan hukum yang mengirim mereka ke tempat yang paling gelap.”
Lorenzo tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kepuasan.
“Keinginanmu adalah perintah bagiku, mia regina.”
Lorenzo memberi isyarat, dan dalam hitungan detik, aparat kepolisian yang ternyata sudah disiapkan oleh Lorenzo di luar katedral langsung masuk dan memborgol Carmela serta Beatrice di hadapan seluruh saksi mata. Don Arturo hanya bisa tertunduk lesu, hancur dalam penyesalan karena telah mengabaikan putri kandungnya sendiri.
Setelah para pengkhianat itu diseret keluar, Lorenzo kembali menatapku. Ia membawaku mendekati pendeta yang berdiri terpaku di altar.
Dengan sangat lembut, Lorenzo mendudukkanku di sebuah kursi beludru indah yang telah disiapkan khusus di depan altar. Ia berlutut di hadapanku, mengambil cincin pernikahan emas bertahtakan berlian hitam yang megah, lalu menyematkannya di jemariku.
“Mulai hari ini, tidak akan ada satu orang pun yang berani membuatmu menangis, Elena,” janji Lorenzo, mengecup punggung tanganku dengan khidmat. “Aku akan menjadi kakimu, pelindungmu, dan duniamu.”
Di hadapan altar tuhan dan di bawah perlindungan sang iblis yang ternyata memiliki hati paling tulus untukku, aku tersenyum. Pernikahan ini mungkin dimulai sebagai sebuah transaksi, tetapi malam ini, aku tahu aku telah menemukan tempat teramanku di dunia.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.