Posted in

Pada Malam Pernikahan Kami, Suamiku Menamparku karena Aku Terlambat Tiga Detik Menyajikan Teh. Seluruh Keluarganya Berkata Bahwa “Menantu Memang Harus Didisiplinkan dengan Kekerasan, Itu Tradisi Keluarga.” Namun Tiga Menit Kemudian, Orang yang Berlutut di Lantai Sambil Menjerit Kesakitan… Justru Putra Satu-satunya Mereka.**

Pada Malam Pernikahan Kami, Suamiku Menamparku karena Aku Terlambat Tiga Detik Menyajikan Teh. Seluruh Keluarganya Berkata Bahwa “Menantu Memang Harus Didisiplinkan dengan Kekerasan, Itu Tradisi Keluarga.” Namun Tiga Menit Kemudian, Orang yang Berlutut di Lantai Sambil Menjerit Kesakitan… Justru Putra Satu-satunya Mereka.**

## BAGIAN 1

“Isabella!”

“Begitukah caramu dididik? Hanya menyajikan secangkir teh saja tidak becus!”

Bersamaan dengan bentakan dingin itu…

**Plak!**

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku.

Kepalaku terlempar ke samping karena kerasnya pukulan itu.

Jepit rambut yang kupakai terlepas dan berdering saat jatuh ke lantai marmer.

Telinga kananku langsung berdenging.

Rasanya seperti ribuan lebah berdengung di dalamnya.

Aku merasakan rasa asin bercampur logam dari darah di sudut bibirku.

Tubuhku kehilangan keseimbangan hingga membentur dinding dengan keras.

Lampu kristal di langit-langit tampak berputar di hadapanku.

Pipi kiriku terasa panas.

Dalam hitungan detik, aku bisa merasakan pipiku mulai membengkak.

Padahal malam ini seharusnya…

Menjadi malam paling membahagiakan dalam hidupku.

Malam pertamaku sebagai istri sah Adrian Mendoza.

Setelah hampir tiga tahun berpacaran, aku benar-benar percaya bahwa akhirnya aku telah menemukan pria yang akan menemaniku seumur hidup.

Namun hanya karena…

Aku terlambat beberapa detik menyajikan teh…

Pria yang pernah berjanji akan melindungiku selamanya…

Justru menjadi orang pertama yang menyakitiku.

Ia mengibaskan tangannya yang baru saja menamparku.

Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Bahkan ada senyum tipis di sudut bibirnya.

“Bagus.”

“Biar kamu belajar patuh.”

“Mulai sekarang…”

“Di rumah ini…”

“Perintah Ayah adalah hukum.”

Aku perlahan menyentuh pipiku yang membengkak.

Panas.

Perih.

Namun yang jauh lebih menyakitkan…

Adalah kenyataan bahwa ia sama sekali tidak ragu melukai istrinya sendiri.

Tiba-tiba ibu mertuaku, Carmen Mendoza, berdiri.

“Adrian…”

“Kurasa itu sudah keterlaluan…”

Namun sebelum sempat mendekat…

Sebuah suara dingin menghentikannya.

“Duduk.”

Yang berbicara adalah ayah mertuaku.

Roberto Mendoza.

Ia menekan bahu istrinya dengan kuat hingga wanita itu kembali duduk di sofa.

Ia bahkan tidak menoleh kepadaku.

Seolah keberadaanku sama sekali tidak berarti.

Ia menyesap tehnya dengan tenang sebelum berkata dingin,

“Kalau menantu baru tidak dididik sejak hari pertama…”

“Suatu saat nanti dia akan menguasai seluruh keluarga.”

“Beberapa tamparan itu hal yang biasa.”

“Itulah tradisi keluarga Mendoza.”

Aku membeku.

**Tradisi?**

Apakah ini yang mereka sebut sebagai keluarga?

Aku memandang tiga orang yang berdiri di hadapanku.

Suamiku, Adrian.

Ayah mertuaku, Roberto.

Dan ibu mertuaku, Carmen.

Tidak satu pun dari mereka menganggap apa yang baru saja terjadi sebagai sesuatu yang salah.

Sebaliknya…

Mereka justru tampak bangga.

Adrian menyeringai.

Tatapannya penuh kesombongan.

Seolah aku hanyalah seekor hewan peliharaan yang baru berhasil dijinakkannya.

Saat itulah aku benar-benar mengerti.

Pria yang kucintai selama tiga tahun…

Ternyata tidak pernah benar-benar ada.

Pria yang setiap hari mengantarkanku ke kantor.

Pria yang selalu membelikanku sarapan.

Pria yang rela begadang saat aku sakit.

Pria yang berkali-kali berkata,

“Aku tidak akan pernah membiarkanmu menangis.”

Semua itu…

Hanyalah sebuah sandiwara yang dimainkan dengan sangat sempurna.

Topeng yang ia kenakan sampai hari pernikahan kami.

Kini setelah aku resmi menjadi istrinya…

Ia tidak perlu berpura-pura lagi.

Melihat aku tetap diam…

Senyumnya semakin lebar.

“Kenapa?”

“Sudah takut?”

“Berlututlah.”

“Minta maaf kepada Ayah.”

“Mungkin aku masih mau memaafkanmu.”

Aku hanya menatapnya tanpa berkata apa pun.

Aku tidak menangis.

Aku tidak memohon.

Aku juga tidak gemetar.

Mungkin itu pertama kalinya ia merasa ada sesuatu yang berbeda.

Wajahnya langsung berubah kesal.

“Apa?”

“Kamu masih tidak mau patuh?”

Ia melangkah cepat mendekat.

Sekali lagi ia mengangkat tangannya.

“Kalau satu tamparan belum cukup…”

“Berarti kamu butuh tamparan yang kedua.”

Tangannya meluncur lurus ke arah pipi kananku.

Aku tidak menghindar.

Aku juga tidak memejamkan mata.

Aku hanya menatapnya perlahan.

Wanita lembut yang selama ini ia kenal…

Seakan menghilang dalam sekejap.

Digantikan oleh tatapan dingin setajam es.

Saat telapak tangannya tinggal beberapa sentimeter lagi dari wajahku…

Aku bergerak.

Tangan kiriku terangkat dengan cepat.

Bukan untuk menangkis tamparannya…

Melainkan mencengkeram pergelangan tangannya.

**Plak!**

Aku menggenggam pergelangannya dengan kuat di udara.

Ia langsung terdiam.

Matanya membelalak.

“Apa…”

Ia bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya…

Ketika aku memutar pergelangan tangannya ke sudut yang paling menyakitkan.

**Krek!**

Suara sendinya yang bergeser terdengar jelas memenuhi ruang tamu.

“Aaaahhh!”

Adrian menjerit kesakitan.

Bersamaan dengan teriakannya…

Roberto dan Carmen langsung berdiri.

Keduanya terpaku.

Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.

Menantu yang mereka kira lemah…

Pendiam…

Dan mudah dikendalikan…

Ternyata mampu menjatuhkan putra mereka hanya dalam hitungan detik.

Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir (bagian penutup) dari cerita tersebut:

BAGIAN 2 (TAMAT)

“Lepas! Sialan, lepaskan tanganku, Isabella!” jerit Adrian, tubuhnya terpaksa membungkuk ke lantai menahan rasa sakit yang luar biasa dari pergelangan tangannya yang terkunci.

Aku tidak melepaskannya. Sebaliknya, aku melangkah maju dan melayangkan satu tendangan sapuan tepat ke belakang lututnya.

Bugh!

Adrian kehilangan keseimbangan dan ambruk, berlutut dengan keras di atas lantai marmer dingin. Pria yang tiga menit lalu berdiri dengan penuh keangkuhan, kini berlutut di bawah kakiku sambil mengerang kesakitan, memegangi tangannya yang mulai membiru.

“Isabella! Apa yang kamu lakukan?! Kamu sudah gila?!” teriak Roberto, ayah mertuaku, wajahnya memerah karena murka. “Berani-beraninya kamu menyentuh putraku di rumah ini!”

Aku menatap Roberto dengan dingin, lalu melepaskan cengkeramanku dari Adrian yang langsung mengerang sambil berguling di lantai. Aku berjalan perlahan menuju meja, mengambil selembar kain tisu, dan menyeka darah di sudut bibirku dengan tenang.

“Tradisi keluarga Mendoza, bukan?” tanyaku dengan nada santai, namun sarat akan ancaman. “Mendidik anggota keluarga dengan kekerasan agar tahu cara patuh. Aku hanya sedang mempraktikkan tradisi yang baru saja Anda ajarkan, Ayah Mertua.”

“Kurang ajar!” Roberto berniat melangkah maju untuk memukulku, namun langkahnya terhenti saat aku merogoh ponsel dari kantong gaun pengantinku dan menekan sebuah tombol.

Layar televisi besar di ruang tamu tiba-tiba menyala, menampilkan sebuah siaran langsung dari kamera tersembunyi yang merekam seluruh kejadian di ruangan ini sejak awal—termasuk saat Adrian menamparku, dan pengakuan Roberto tentang ‘tradisi kekerasan’ mereka.

“Kalian mengira aku adalah gadis desa yatim piatu yang lemah dan bisa kalian injak-injak setelah pernikahan ini, kan?” ucapku sambil tersenyum tipis. “Kalian salah besar.”

Adrian mendongak sambil meringis menahan sakit. “K-kamu… siapa sebenarnya kamu?”

“Tiga tahun lalu, ayahmu, Roberto Mendoza, menjebak perusahaan ayah kandungku hingga bangkrut dan membuat ayahku terkena serangan jantung hingga tiada,” ujarku, menatap Roberto yang seketika memucat. “Aku mengubah namaku, mendekati putramu, dan berpura-pura menjadi wanita penurut hanya untuk satu tujuan: menghancurkan keluarga ini dari dalam.”

Roberto gemetar, menyadari situasi telah berbalik. “K-kamu… putri dari Jonathan?”

“Tepat sekali,” jawabku tegas. “Dan rekaman video malam ini? Video ini tidak hanya dikirim ke pihak berwajib atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga, tetapi juga telah disiarkan secara otomatis ke seluruh mitra bisnis dan pemegang saham Mendoza Group. Besok pagi, saham kalian akan anjlok, dan nama baik yang kalian banggakan akan hancur lebur.”

“Isabella… tolong…” Carmen, ibu mertuaku, tiba-tiba jatuh berlutut sambil menangis, memohon belas kasihan. “Jangan lakukan ini pada kami…”

Aku tidak memedulikan tangisannya. Aku berjalan menuju pintu besar rumah mewah itu, lalu berbalik untuk menatap mereka satu terakhir kalinya. Adrian masih meringis di lantai, sementara Roberto terduduk lemas di sofa, menyadari bahwa seluruh kekaisaran bisnisnya telah runtuh dalam waktu tiga menit saja.

“Pernikahan ini sudah berakhir bahkan sebelum malam pertama dimulai,” ucapku dingin. “Nikmatilah sisa malam kalian, karena besok, polisi dan surat kebangkrutan yang akan menyambut kalian.”

Aku membuka pintu, melangkah keluar ke dalam kegelapan malam dengan kepala tegak. Angin malam menyapu wajahku, menghilangkan rasa perih di pipiku. Air mata tidak pernah jatuh dari mataku, karena malam ini, keadilan untuk ayahku telah ditegakkan, dan topeng keluarga Mendoza telah dihancurkan selamanya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.