Posted in

SANG MILIARDER BERPURA-PURA PERGI DINAS UNTUK MEMERGOKI PENGASUH ANAK-ANAKNYA… TAPI APA YANG DILIHATNYA SAAT DIAM-DIAM PULANG KE RUMAH MEMBUATNYA TERDIAM KARENA TERLALU TERKEJUT.

**SANG MILIARDER BERPURA-PURA PERGI DINAS UNTUK MEMERGOKI PENGASUH ANAK-ANAKNYA… TAPI APA YANG DILIHATNYA SAAT DIAM-DIAM PULANG KE RUMAH MEMBUATNYA TERDIAM KARENA TERLALU TERKEJUT.**

Pintu rumah itu bahkan tidak mengeluarkan bunyi sedikit pun.

Adrian Villanueva sendiri yang melumasi engselnya dengan oli malam sebelumnya, menyiapkan jebakan yang menurutnya sempurna. Rumah itu diselimuti keheningan yang menipu—jenis keheningan yang biasanya datang sebelum badai. Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.

Tangannya yang kokoh, dibalut sarung tangan kulit hitam, perlahan memutar gagang pintu.

Di tangan satunya, ia membawa sebuah koper kerja. Bukan karena benar-benar akan digunakan, melainkan sebagai bagian dari sandiwaranya.

Pada jam itu, seharusnya ia sudah berada di dalam pesawat menuju konferensi bisnis di Singapura.

Seharusnya ia tidak berada di rumah itu—agar pengasuh baru tersebut memiliki kesempatan menunjukkan wajah aslinya.

Adrian membenci ketidakpastian.

Sejak istrinya meninggal, hidupnya berubah menjadi rangkaian jadwal, aturan, dan kesunyian yang harus dipatuhi.

Dalam enam bulan terakhir, ia sudah memecat empat pengasuh.

Satu karena terlambat lima menit.

Satu lagi karena bermain ponsel saat menyuapi si kembar.

Dan yang lainnya karena tertawa terlalu keras di rumah yang masih berduka.

Namun Elena berbeda.

Terlalu muda.

Terlalu minim pengalaman.

Dan menurut Bu Rosa, kepala pengurus rumah tangga yang paling dipercaya Adrian, gadis itu “terlalu kasar” untuk standar keluarga mereka.

“Saya sudah bilang, Tuan,” bisik Bu Rosa pagi tadi dengan wajah seolah penuh kekhawatiran.

“Kalau Tuan tidak di rumah, gadis itu melakukan hal-hal aneh.”

“Anak-anak itu tidak pernah menangis, Tuan. Itu tidak normal. Bayi seharusnya menangis. Kalau mereka tidak menangis… mungkin mereka dibungkam atau ditakut-takuti.”

Kata-kata itu terus membakar pikiran Adrian saat ia membuka pintu.

Ketakutan seorang ayah duda adalah bahan bakar yang berbahaya.

Ia bisa berubah menjadi kemarahan bahkan sebelum bukti ditemukan.

Adrian melangkah masuk dengan hati-hati.

Kopernya ia letakkan perlahan.

Lalu ia mendengarkan.

Ia mengira akan mendengar tangisan.

Ia berharap menemukan Elena tertidur di sofa.

Atau televisi yang menyala terlalu keras.

Namun suara yang didengarnya membuat langkahnya terhenti di ruang keluarga.

Itu bukan tangisan.

Bukan pula suara televisi.

Itu adalah tawa.

Tawa yang keras dan bebas.

Bukan sekadar cekikikan, melainkan tawa yang keluar dari perut karena terlalu bahagia.

Tawa yang sudah lebih dari setahun tidak pernah terdengar di rumah itu.

Tawa anak-anaknya.

Nico dan Mateo.

Perut Adrian terasa menegang.

Apa yang membuat mereka tertawa seperti itu?

Rasa penasaran dan kegelisahan bercampur menjadi satu.

Ia berjalan perlahan menyusuri lorong, sementara sepatu mahalnya nyaris tidak bersuara di lantai kayu yang mengilap.

Ia mengikuti suara kebahagiaan itu—sesuatu yang terasa hampir asing di rumah yang telah lama sunyi.

Ketika sampai di ambang ruang keluarga, pemandangan yang terlihat di depannya begitu aneh dan sulit dipercaya hingga otaknya membutuhkan beberapa detik untuk memahaminya.

Ruang keluarga yang biasanya tampak seperti museum minimalis dengan warna-warna netral kini berubah menjadi panggung permainan yang berantakan.

Dan di tengah semua itu ada Elena.

Ia tidak sedang duduk membacakan cerita.

Ia juga tidak sedang menyiapkan susu botol.

Gadis berambut hitam panjang itu justru berbaring telentang di atas karpet krem besar.

Namun yang lebih mengejutkan Adrian adalah penampilannya.

Ia masih mengenakan seragam biru terang yang dipaksa Bu Rosa untuk dipakai agar rumah terlihat “lebih elegan”.

Tetapi di kedua tangannya…

terpasang sarung tangan karet kuning seperti yang biasa digunakan untuk membersihkan kamar mandi atau mencuci piring berminyak.

“Ayo, naiklah, para pahlawanku!” teriak Elena dari lantai dengan senyum lebar yang penuh keceriaan.

Adrian sampai berkedip karena tidak percaya.

Anak-anaknya.

Para pewarisnya.

Si kembar Nico dan Mateo yang bahkan belum genap berusia satu tahun…

sedang berdiri di atas tubuh pengasuh mereka.

Benar-benar berdiri.

Seperti menara manusia kecil yang dipenuhi kegembiraan.

Nico berdiri di atas dada Elena dengan sepatu kecil warna-warni, sementara Mateo berusaha menjaga keseimbangan di atas perutnya.

Dan keduanya tertawa sekeras-kerasnya.

Untuk pertama kalinya sejak istrinya meninggal…

rumah itu kembali dipenuhi tawa anak-anak.

Adrian mematung. Skenario yang sudah ia susun di kepalanya—tentang seorang pengasuh kejam yang menakut-nakuti bayinya—hancur berkeping-keping dalam satu detik.

Ia memperhatikan detail gerakan Elena. Kedua tangan gadis itu yang dibalut sarung tangan karet kuning tidak sedang memegang sapu atau pembersih kimia. Tangan itu terentang kokoh di sisi tubuh Nico dan Mateo, membentuk pagar pengaman yang tak terlihat untuk menjaga agar si kembar tidak goyah dan terjatuh. Elena menjadikan dirinya sendiri sebagai matras pelindung, membiarkan tubuhnya diinjak demi memicu tawa paling murni dari dua bocah kecil yang haus akan kehangatan.

“Satu… dua… tiga… boom!” Elena berseru riang sambil menurunkan tubuh si kembar perlahan ke atas karpet tebal, lalu menggelitik perut mereka bergantian. Nico dan Mateo memekik kegirangan, berguling-guling di atas karpet krem yang selama ini dilarang keras oleh Bu Rosa untuk dikotori.

“Tuan Adrian?”

Sebuah suara berbisik penuh keterkejutan terdengar dari arah belakang. Adrian menoleh dan mendapati Bu Rosa berdiri di sana, memegang nampan perak dengan wajah yang mendadak pias. Ia tidak menyangka tuannya akan kembali secepat ini.

“Lihat itu, Tuan,” bisik Bu Rosa cepat, mencoba membalikkan keadaan. “Sangat tidak sopan! Dia membiarkan putra-putra Tuan bermain di lantai sekotor itu, dan lihat penampilannya! Benar-benar kasar dan berbahaya—”

“Cukup, Bu Rosa,” potong Adrian. Suaranya rendah, namun dinginnya sanggup menghentikan kalimat Bu Rosa seketika.

Mendengar suara asing itu, Elena langsung menoleh. Senyum di wajahnya memudar, digantikan ekspresi terkejut dan ketakutan saat melihat sang miliarder berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam. Ia buru-buru bangkit berdiri, menuntun si kembar ke belakang tubuhnya seolah ingin melindungi mereka.

“T-Tuan Adrian… Anda sudah kembali?” Elena menunduk, meremas sarung tangan karet kuningnya dengan cemas. “Maafkan saya. Saya tahu saya melanggar aturan rumah ini. Tapi…”

“Kenapa kamu memakai sarung tangan itu, Elena?” tanya Adrian, melangkah masuk ke dalam ruangan.

Elena menggigit bibirnya ragu, melirik ke arah Bu Rosa yang kini mulai berkeringat dingin. “Itu… Bu Rosa meminta saya membersihkan seluruh toilet lantai atas dengan cairan asam kuat tepat di jam bermain anak-anak. Saya menolak karena baunya terlalu menyengat dan bisa mengganggu pernapasan Nico dan Mateo. Tapi Bu Rosa bilang, jika saya tidak menyelesaikannya sekarang, saya akan dipecat.”

Elena menarik napas dalam, memberanikan diri menatap mata Adrian. “Jadi, saya membawa sarung tangan ini ke bawah. Saya memutuskan untuk bermain dengan si kembar dulu karena mereka sedang merindukan Anda dan terus menangis sejak pagi. Saya… saya hanya ingin mereka bahagia, Tuan. Setelah ini, Anda boleh memecat saya.”

Adrian terdiam. Matanya beralih ke arah Bu Rosa.

Sebagai seorang pebisnis ulung, Adrian langsung bisa membaca seluruh situasi. Bu Rosa sengaja memberikan beban kerja yang mustahil dan tidak masuk akal agar Elena mengabaikan anak-anak, membuat si kembar menangis, lalu menggunakan hal itu sebagai alasan untuk menyingkirkan Elena—sama seperti yang ia lakukan pada empat pengasuh sebelumnya demi mempertahankan kendali mutlak di mansion ini.

“Bu Rosa,” panggil Adrian tenang, namun auranya begitu menekan.

“Y-ya, Tuan?”

“Berikan kunci mansion kepada saya. Anda dipecat. Detik ini juga.”

Bu Rosa terbelalak. “Tuan! Saya sudah mengabdi pada keluarga ini selama bertahun-tahun! Gadis ini berbohong—”

“Saya tidak butuh pelayan yang pandai menata rumah tapi mencoba membunuh jiwa anak-anak saya dengan kesunyian,” kata Adrian tegas. “Pergi dari sini sebelum saya meminta tim hukum saya memeriksa kembali laporan keuangan mansion yang selama ini Anda kelola.”

Mendengar ancaman hukum itu, Bu Rosa bungkam seribu bahasa. Dengan wajah merah padam menahan malu dan amarah, ia meletakkan nampan peraknya lalu berjalan pergi meninggalkan mansion.

Ruang keluarga kembali hening, namun kali ini keheningannya terasa hangat.

Adrian melepas sarung tangan kulit hitamnya, melempar kopernya ke sembarang tempat, lalu berjalan mendekati Elena. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun, garis-garis kaku di wajah sang miliarder melunak. Ia mengulas sebuah senyuman tipis namun tulus.

“Terima kasih, Elena. Kamu tidak dipecat,” kata Adrian lembut. “Mulai hari ini, tugasmu hanya satu: pastikan tawa itu tidak pernah hilang lagi dari rumah ini. Dan singkirkan sarung tangan kuning itu, kamu tidak akan pernah perlu membersihkan toilet lagi.”

Nico dan Mateo tiba-tiba merangkak mendekat, masing-masing memeluk satu kaki Adrian sambil mendongak dan berceloteh riang. Adrian berlutut, merengkuh kedua putranya ke dalam pelukan yang selama ini terasa kaku, namun kini terasa begitu penuh.

Sandiwara dinasnya hari itu gagal total, tetapi jebakan yang ia pasang justru membawanya pulang ke sebuah tempat yang sudah lama hilang dari hidupnya: sebuah rumah yang sesungguhnya.