Posted in

Sejak tahun pertama kuliah hingga semester pertama tahun ketiganya, uang saku putriku selalu tetap sebesar Rp550.000 per bulan.

Sejak tahun pertama kuliah hingga semester pertama tahun ketiganya, uang saku putriku selalu tetap sebesar **Rp550.000** per bulan.

Dia tidak pernah mengeluh. Bahkan sering berkata, “Bu, ini sudah cukup kok.”

Saat liburan semester di tahun ketiga, ia pulang ke rumah. Beberapa kali mondar-mandir di sekitar sofa dengan raut wajah ragu-ragu, sebelum akhirnya memberanikan diri berkata,

“Bu, mulai sekarang boleh nggak uang saku saya dinaikkan jadi **Rp1.650.000** per bulan?”

Aku meletakkan sendok dan garpu.

“Tambahan **Rp1.100.000** itu mau dipakai untuk apa?”

“Cuma… sekarang pengeluaran saya memang lebih banyak.”

Aku membuka media sosialnya. Belakangan ini isinya penuh dengan foto makan berdua, dua tiket bioskop, dan sepatu couple.

“Kamu sudah punya pacar?”

Dia mengangguk.

“Memangnya dia tidak mengeluarkan uang?”

“Soalnya… kondisi ekonomi keluarganya kurang baik…”

Aku tertawa kecil, membuat wajahnya langsung memerah karena malu.

“Jangankan menafkahi dirinya sendiri, sekarang malah anakku yang harus mengeluarkan uang untuk membiayai hidupnya?”

### Bagian 1

Hari itu Danica pulang ke rumah. Koper masih tergeletak di dekat pintu, bahkan sepatunya pun belum sempat dirapikan. Ia duduk di sofa sambil terus membongkar-pasang casing ponselnya dengan gelisah.

Aku meletakkan hidangan terakhir, semangkuk semur babi, di atas meja makan.

“Cuci tangan dulu, lalu makan.”

Dia tidak bergerak sedikit pun. Aku menatapnya tajam.

“Ada masalah?”

Danica mengangkat kepala, lalu kembali menunduk.

“Bu…”

“Bilang saja.”

“Untuk semester depan… boleh nggak uang saku saya dinaikkan sedikit?”

Aku meletakkan alat makan.

“Naiknya jadi berapa?”

Tenggorokannya bergerak pelan seolah menelan ludah.

“Jadi **Rp1.650.000**.”

Ruang makan seketika hening. Sup ayam hangat di atas meja masih mengepulkan uap. Aku menatapnya cukup lama.

“Dari tahun pertama sampai sekarang, uang sakumu **Rp550.000** per bulan. Kamu sendiri yang bilang itu sudah cukup. Harga makanan di kantin kampus juga tidak mahal, biaya listrik dan air di asrama pun tidak besar. Baju dan sepatu juga selalu kubelikan terpisah. Sekarang tiba-tiba kamu minta **Rp1.650.000**. Tambahan **Rp1.100.000** itu sebenarnya akan dipakai untuk apa?”

Danica menggenggam ponselnya semakin erat.

“Cuma… memang pengeluaran saya sekarang lebih banyak.”

“Pengeluaran apa?”

“Kalau sama teman-teman kan sesekali juga harus makan di luar.”

“Dulu memangnya kamu tidak pernah pergi makan bersama mereka?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengambil segelas air dan meminumnya.

“Untuk kegiatan organisasi kampus?”

Dia menggeleng.

“Persiapan ujian profesi atau biaya sertifikasi?”

Dia kembali menggeleng.

“Kamu menyewa apartemen?”

“Enggak, Bu. Tetap tinggal di asrama,” jawab Danica dengan suara yang semakin mengecil.

Aku meletakkan gelas dengan perlahan, lalu mengambil ponselku sendiri. Tanpa berkata apa-apa, aku membuka salah satu aplikasi media sosial. Aku tidak perlu mencari jauh-jauh. Di halaman profil publik milik putriku, deretan unggahan terbaru dalam dua bulan terakhir sudah menceritakan segalanya.

Foto dua pasang kaki dengan sepatu couple bermerek di sebuah kafe estetik. Dua lembar tiket bioskop kelas premier. Potret meja makan malam romantis untuk dua orang dengan takarir manis: “Terima kasih hari ini, Semestaku.”

Aku membalikkan layar ponselku ke arahnya.

“Lalu ini apa?”

Danica tersentak. Wajahnya seketika memerah, antara malu dan terkejut karena rahasia yang disimpan rapat-rapat akhirnya terbongkar.

“Kamu sudah punya pacar?” tanyaku langsung, tanpa basa-basi.

Ia ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Iya, Bu. Namanya Kevin. Dia satu jurusan sama saya.”

“Wajar kalau anak kuliahan punya pacar,” ujarku tenang, namun tatapanku tetap mengunci matanya. “Yang tidak wajar adalah permintaan kenaikan uang sakumu yang melonjak tiga kali lipat. Memangnya pacarmu itu tidak pernah mengeluarkan uang sama sekali setiap kali kalian jalan?”

Danica buru-buru menyangkal, mencoba membela pria itu. “Bukan begitu, Bu! Kevin orangnya baik sekali. Cuma… kondisi ekonomi keluarganya memang kurang baik. Ayahnya baru saja di-PHK, dan dia punya dua adik yang masih sekolah. Sering kali dia bahkan tidak punya uang untuk sekadar beli makan siang di kantin.”

Suaranya mulai bergetar, matanya berkaca-kaca menatapku memohon pengertian. “Saya cuma… nggak tega lihat dia susah, Bu. Sebagai pacar, saya cuma mau bantu meringankan bebannya. Uang tambahan itu mau saya pakai untuk bantu biaya makan dia, sesekali belikan dia barang yang dia butuhkan, dan…”

“Dan membiayai kencan kalian?” aku memotong ucapannya.

Aku tertawa kecil, sebuah tawa ironis yang membuat Danica langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Rasa hangat dari semur babi di atas meja seolah menguap, digantikan oleh ketegangan yang pekat.

“Danica, dengarkan Ibu,” kataku dengan nada suara yang melunak namun penuh penekanan. “Jangankan menafkahi dirinya sendiri, sekarang malah anakku—yang statusnya masih menerima uang jatah dari orang tua—yang harus mengeluarkan uang untuk membiayai hidup anak laki-laki orang lain?”

“Tapi Bu, kami saling menyayangi…”

“Sayang tidak bisa dipakai untuk membayar tagihan, Danica. Dan cinta yang sehat tidak akan pernah menuntutmu untuk memeras orang tuamu sendiri demi menjaga harga diri pria lain.” Aku menatap koper di dekat pintu. “Ibu mengirimmu kuliah untuk belajar menjadi wanita yang mandiri dan cerdas, bukan untuk menjadi donatur pribadi dari seorang pria yang bahkan belum tentu menjadi masa depanmu.”

Aku menghela napas panjang, lalu mengambil kembali sendok dan garpu.

“Uang sakumu tetap Rp550.000. Tidak kurang, dan tidak akan lebih satu sen pun. Kalau pacarmu itu memang pria yang bertanggung jawab, dia akan mencari pekerjaan paruh waktu atau beasiswa untuk mengatasi masalah ekonominya, bukan malah mengandalkan dompet pacarnya.”

Danica terdiam. Air matanya menetes satu per satu ke atas pangkuannya. Ia tidak membantah lagi, namun aku tahu, di dalam kepalanya, badai masa muda sedang berkecamuk. Dan aku juga tahu, ini baru permulaan dari ujian kedewasaan yang harus ia hadapi.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.