Posted in

SELAMA ENAM BULAN, WANITA YANG TINGGAL DI DEPAN RUMAHKU TERUS-MENERUS MENUDUH AKULAH PENCURI SURAT-SURAT DI SELURUH KOMPLEKS… HINGGA PADA HARI AKU PINDAH, KAMI MENEMUKAN SESUATU DI DALAM KOTAK SURAT TUA YANG MEMBUAT NAPASKU TERHENTI*

*SELAMA ENAM BULAN, WANITA YANG TINGGAL DI DEPAN RUMAHKU TERUS-MENERUS MENUDUH AKULAH PENCURI SURAT-SURAT DI SELURUH KOMPLEKS… HINGGA PADA HARI AKU PINDAH, KAMI MENEMUKAN SESUATU DI DALAM KOTAK SURAT TUA YANG MEMBUAT NAPASKU TERHENTI**

### 01

Saat pindah ke sebuah kompleks yang tenang di dekat pusat kota, aku mengira akhirnya menemukan lingkungan dengan tetangga-tetangga yang baik.

Sampai aku bertemu dengan Bu Rosita.

Dia tinggal tepat di rumah seberang tempat tinggalku.

Pada hari pertama, dia bahkan datang membawa roti manis sebagai sambutan.

Keesokan harinya, dia bertanya tentang pekerjaanku.

Hari ketiga, dia mulai tertarik dengan jam berapa aku berangkat dan pulang.

Dan memasuki minggu kedua…

Tiba-tiba dia mengatakan bahwa surat-suratnya sering hilang.

Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya.

Lagipula, surat atau paket yang terselip sesekali adalah hal yang wajar.

Namun suatu pagi, ketika aku hendak berangkat kerja, aku mendapati Bu Rosita berdiri di depan gerbang rumahku.

Kedua tangannya bertolak pinggang.

Tatapannya tajam.

*”Sampai kapan kamu mau terus berpura-pura?”*

Aku terdiam.

*”Maksud Ibu apa?”*

Dia langsung mengeluarkan setumpuk tagihan.

*”Sudah tiga bulan surat-suratku hilang.”*

*”Aku sudah bertanya kepada semua orang.”*

*”Kamu satu-satunya orang baru di sini.”*

*”Aku tidak percaya ini cuma kebetulan.”*

Aku sampai mengira salah dengar.

*”Ibu menuduh saya mengambil surat-surat Ibu?”*

*”Kalau bukan kamu, siapa lagi?”*

Suaranya keras.

Hanya dalam beberapa menit, beberapa kepala mulai muncul dari jendela rumah sekitar.

Semua mata tertuju kepadaku.

Aku mencoba menjelaskan.

*”Saya tidak pernah sekalipun menyentuh kotak surat Ibu.”*

*”Kalau begitu kenapa surat-surat itu hilang?”*

Tanyanya dengan tegas.

*”Saya sudah tinggal di sini lebih dari dua puluh tahun.”*

*”Masalah ini baru muncul sejak kamu datang.”*

Kata-katanya terdengar seperti vonis.

Sebelum sempat menjawab, dia sudah berbalik dan pergi.

Namun semuanya tidak berhenti di situ.

Setiap kali ada surat yang hilang, dia langsung datang ke rumahku.

Kadang tagihan listrik.

Kadang dokumen bank.

Kadang paket dari kerabat.

Dan setiap kali itu terjadi, dia berdiri di depan gerbang sambil berteriak.

*”Kembalikan surat-surat itu!”*

*”Jangan pura-pura tidak tahu!”*

*”Aku akan melaporkanmu ke pihak berwenang!”*

Awalnya aku masih berusaha membela diri.

Namun lama-kelamaan aku menyerah.

Karena aku sadar, apa pun yang kukatakan, dia tidak akan percaya.

Suatu sore yang hujan, ketika pulang kerja, aku melihat tiga orang berdiri di depan rumah.

Bu Rosita.

Pengelola kompleks.

Dan seorang satpam.

Perasaanku langsung tidak enak.

Pengelola kompleks membuka pembicaraan.

*”Sudah ada banyak laporan mengenai surat yang hilang.”*

*”Kami perlu melakukan pemeriksaan.”*

Aku melirik Bu Rosita.

Dia tersenyum aneh.

Seolah sudah yakin bahwa akulah pelakunya.

Aku membuka pintu rumah.

*”Silakan. Periksa semuanya.”*

Hampir satu jam mereka memeriksa setiap sudut.

Rekaman CCTV.

Halaman.

Garasi.

Bahkan gudang kecil di belakang rumah.

Mereka tidak menemukan apa pun.

Tidak satu surat pun.

Tidak satu paket pun.

Tidak ada bukti apa pun.

Pengelola kompleks berdeham pelan.

*”Mungkin kami masih perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut.”*

Namun Bu Rosita tidak mau menerimanya.

*”Saya yakin dia menyembunyikannya di tempat lain.”*

*”Saya tahu dia pelakunya.”*

Kemarahanku mulai memuncak.

*”Apakah Ibu punya bukti?”*

*”Tidak.”*

*”Kalau begitu kenapa terus menuduh saya?”*

Dia menatapku lurus.

Suaranya dingin.

*”Karena firasat saya tidak pernah salah.”*

Aku tersenyum tipis.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena putus asa.

Dua bulan berlalu.

Gosip menyebar ke seluruh kompleks.

Setiap kali aku lewat, selalu ada bisikan.

Setiap kali menerima paket, selalu ada mata yang mengawasi.

Perlahan-lahan aku menjadi orang yang dijauhi semua orang.

Tidak ada lagi yang mengundangku ke acara lingkungan.

Sapaan pun semakin jarang.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk pergi.

Bukan karena aku bersalah.

Melainkan karena aku sudah sangat lelah.

Saat menjual rumah itu, aku bahkan mengalami kerugian besar.

Teman-temanku bilang aku membuat keputusan yang salah.

Tetapi aku hanya menginginkan satu hal.

Pergi dari tempat itu.

Hari kepindahan pun tiba.

Truk datang sejak pagi.

Kotak demi kotak diangkut keluar.

Rumah itu perlahan menjadi kosong.

Saat sedang memeriksa barang-barang terakhir, tiba-tiba seorang teknisi listrik berteriak.

*”Bu!”*

Aku menoleh.

Dia berdiri di samping deretan kotak surat tua milik kompleks.

Wajahnya tampak sangat terkejut.

*”Tolong lihat ini.”*

Aku menghampiri.

Dia menunjuk sebuah ruang tersembunyi di balik panel logam tua.

*”Saya membukanya untuk mengganti kabel.”*

*”Saya tidak mengerti kenapa ada ruang seperti ini…”*

Aku mengintip ke dalam.

Dan dalam sekejap…

Rasanya waktu berhenti.

Di balik dinding itu tersusun puluhan surat yang sudah tertutup debu.

Paket-paket yang tak pernah dibuka.

Dokumen-dokumen yang telah lama hilang.

Dan tepat di bagian paling atas…

Ada sebuah amplop tua berwarna kuning.

Nama penerimanya tertulis jelas.

Bu Rosita sendiri.

Namun bukan surat-surat itu yang membuat tubuhku membeku.

Melainkan benda yang berada di dasar tumpukan.

Sebuah buku catatan kecil.

Halaman-halamannya sudah kusam.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Dan ketika membaca baris pertama…

Jantungku seakan berhenti berdetak.

Karena orang yang dengan teliti mencatat seluruh surat yang hilang selama enam bulan terakhir…

Adalah orang yang sama yang selama ini terus-menerus menuduhku.

Bu Rosita.

Tepat pada saat itu, terdengar suara dari belakangku.

*”Jangan lanjutkan membaca.”*

Aku langsung berbalik.

Bu Rosita berdiri beberapa meter dariku.

Wajahnya pucat.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang nyata di matanya.

Dan di tangannya…

Ada sebuah kunci.

Persis sama dengan kunci rahasia pada ruang tersembunyi di belakang kotak surat.

Aku menggenggam buku catatan itu lebih erat.

Sementara dia perlahan mendekat.

Lalu berkata dengan suara rendah.

*”Ada rahasia yang seharusnya tidak kamu ketahui.”*

Saat dia mencoba merebut buku itu dari tanganku…

Selembar kertas terlipat jatuh dari sela-sela halaman.

Kertas itu meluncur ke tanah.

Tanpa sengaja mataku membaca kalimat pertama yang tertulis di sana.

Dan darahku langsung terasa membeku.

Karena nama yang tertulis pada dokumen rahasia itu bukanlah nama Bu Rosita…

Melainkan nama seseorang yang selama ini diyakini telah lama meninggal dunia.

Dan pada saat itulah aku sadar…

Surat-surat yang hilang hanyalah awal dari sebuah rahasia yang jauh lebih besar.

Nama yang tertera di dokumen resmi itu adalah nama ayah kandungku sendiri, yang kata Ibu telah meninggal dalam kecelakaan belasan tahun lalu sebelum aku pindah ke kota ini.

Di sana tertulis: Laporan Medis Pasien Jiwa Khusus – Rumah Sakit Sanatorium Kota. Dan statusnya? Masih hidup, namun disembunyikan di bawah pengawasan ketat dengan identitas palsu yang dibiayai penuh oleh… Bu Rosita.

Tanganku bergetar hebat hingga kertas itu hampir terlepas. Napasku memburu, sementara potongan-potongan teka-teki dalam hidupku mendadak saling terhubung secara paksa. Alasan mengapa Bu Rosita begitu tertarik dengan jam kerja serta kepindahanku sejak hari pertama, alasan mengapa dia sengaja menciptakan huru-hara tentang surat-surat hilang demi memeriksa setiap sudut rumahku—dia bukan sedang menuduhku mencuri. Dia sedang memastikan apakah aku pindah ke sini secara kebetulan, atau karena aku sedang melacak keberadaan Ayah.

“Kembalikan buku itu, Nak,” suara Bu Rosita kini tak lagi meninggi penuh amarah seperti biasanya. Suaranya melunak, bergetar oleh keputusasaan yang mendalam. Kunci di tangannya gemetaran. “Kamu tidak mengerti… ini demi kebaikanmu. Demi keselamatanmu juga.”

“Demi kebaikanku?!” suaraku meninggi, memecah keheningan halaman yang dipenuhi barang-barang pindahanku. Para petugas truk pengangkut bahkan menghentikan aktivitas mereka, memandang kami dengan bingung. “Ibu menyembunyikan ayahku selama belasan tahun! Ibu membuatku menjadi buronan gosip di kompleks ini, merusak hidupku selama enam bulan, hanya untuk menutupi ini?!”

Aku membuka lembaran buku catatan kecil itu dengan kasar. Di dalamnya, Bu Rosita tidak hanya mencatat surat yang hilang. Dia mencatat setiap gerak-gerikku, surat-surat resmi dari pengadilan yang sengaja dia cegat agar tidak pernah sampai ke tanganku, dan memo internal tentang dana kompensasi besar dari kasus masa lalu Ayah yang seharusnya menjadi hak milikku. Surat-surat berharga dari bank dan firma hukum yang sengaja dia “hilangkan” dan simpan di kotak rahasia ini agar aku tetap hidup dalam kesulitan keuangan dan memilih pergi dari sini.

“Ayahmu… dia tidak seperti yang kamu bayangkan,” Bu Rosita melangkah maju, air mata mulai menggenang di kerutan wajahnya yang menua. “Dia tidak gila. Dia disembunyikan karena dia memegang bukti korupsi besar belasan tahun lalu. Ibu tirimu yang dulu, organisasi tempatnya bekerja… mereka masih mencari Ayahmu. Jika kamu menerima surat-surat warisan itu, namamu akan muncul di sistem, dan mereka akan menemukan kalian berdua.”

Dia menunjuk ke arah tumpukan surat di dalam panel logam. “Aku sengaja mengambil semua surat itu. Aku sengaja membuatmu tidak betah dan dicap buruk di sini agar kamu segera pindah ke tempat yang lebih aman. Menuduhmu adalah satu-satunya caraku untuk masuk ke rumahmu dan memeriksa apakah ada orang asing yang mengintaimu!”

Aku tertegun, menatap dokumen di tanganku lalu beralih pada wanita tua di hadapanku. Plot twist ini terlalu besar untuk dicerna dalam hitungan detik. Rasa benci, bingung, dan rindu yang teramat sangat bercampur aduk di dalam dadaku.

Tepat pada saat itu, ponsel di saku celanaku bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan singkat. Dengan tangan gemetar, aku membuka layar ponselku.

“Mereka tahu Miguel sudah menemukan kotak surat itu. Pergi dari sana sekarang.”

Aku mengangkat kepala, menatap Bu Rosita yang ternyata juga baru saja melihat ponselnya sendiri. Wajah wanita tua itu mendadak kehilangan seluruh warnanya, jauh lebih pucat daripada saat rahasianya terbongkar.

Sebuah mobil hitam dengan kaca gelap pekat perlahan berhenti di ujung jalan kompleks, menutup jalan keluar truk pindahanku.

Aku menjatuhkan buku catatan itu, menggenggam erat dokumen medis Ayah, dan menatap Bu Rosita. Kami tidak lagi menjadi musuh yang saling tuduh. Detik itu juga, aku sadar bahwa pelarianku yang sesungguhnya baru saja dimulai.