Posted in

Setelah aku dipukuli oleh suamiku berkali-kali, aku membawa anakku kabur—tetapi ternyata dialah yang selalu melaporkan lokasi kami, sehingga di kehidupanku yang kedua, aku meninggalkan mereka berdua.

Setelah aku dipukuli oleh suamiku berkali-kali, aku membawa anakku kabur—tetapi ternyata dialah yang selalu melaporkan lokasi kami, sehingga di kehidupanku yang kedua, aku meninggalkan mereka berdua.

Tiga kali aku kabur bersama anakku.

Tiga kali juga kami ditemukan oleh suamiku yang hampir membunuhku karena pukulan.

Aku mengira ada mata yang selalu mengikuti setiap gerakanku.

Aku tidak tahu bahwa anak yang selama ini aku lindungi justru orang yang berulang kali memberi tahu di mana aku bersembunyi.

Yang paling menyakitkan, aku baru mengetahui semuanya setelah aku mati di tangan suamiku sendiri.

Aku Teresa Villanueva, 34 tahun, istri seorang juru masak di warung kecil di Quezon City.

Di mata orang lain, Marvin adalah orang yang rajin dan humoris. Dia pandai bergaul dengan pelanggan. Saat warung ramai, dia bergerak cepat dan selalu tersenyum.

Tapi di rumah, senyumnya hilang.

Sedikit keasinan pada makanan, tamparan.

Seragam anak kami tidak disetrika, pukulan.

Aku terlambat lima menit pulang dari pasar, semalaman aku dikurung di kamar sambil dipukuli sampai kepalan tangannya pegal.

Aku beberapa kali mencoba melapor.

Tapi setiap kali aku melihat anak kami, Paolo, diam berdiri di sudut, aku takut kami benar-benar kehilangan rumah dan makanan.

Jadi aku hanya lari.

Setiap kali aku berhasil menabung sedikit, aku membawa Paolo dan kami pindah ke kamar kontrakan murah di tempat lain.

Kadang di Marikina.

Kadang di Antipolo.

Kadang sampai ke Bulacan.

Tapi sejauh apa pun aku lari, Marvin selalu datang beberapa hari kemudian.

Seperti hantu.

Seperti iblis yang bisa mencium ketakutanku di mana pun aku bersembunyi.

Pada kali terakhir dia menemukan kami, aku tidak bisa berjalan dengan benar selama tiga bulan. Sampai tetangga harus membantuku ke kamar mandi.

Banyak orang mengatakan aku harus berhenti kabur.

“Kalau begitu kamu malah akan lebih celaka.”

“Bertahan saja demi anakmu.”

“Memang begitu sifat laki-laki kalau marah.”

Tapi aku tidak menyerah.

Aku tidak bisa menerima bahwa aku akan selamanya menjadi samsak pukul suamiku.

Masalahnya, aku tidak diberi kesempatan untuk kabur lagi.

Suatu malam, warung kami sangat ramai. Seorang pelanggan meminta tambahan chili garlic. Dia sudah dua kali meminta, jadi Marvin bilang harus bayar tambahan sepuluh peso (≈ Rp 2.800).

Pelanggan itu tertawa, mengira dia bercanda.

Dengan tenang aku berkata, “Sudahlah, Marvin. Itu cuma sedikit cabai.”

Satu kalimat sederhana.

Tapi itu cukup untuk membuatnya meledak.

Di depan orang-orang, dia menarik rambutku dan membenturkan aku ke lantai. Dia menendangku sementara para pelanggan berlarian keluar.

Saat dia belum puas, dia menyeretku ke panci besar berisi kuah mendidih.

Sebelum semuanya gelap, aku melihat Paolo di pintu.

Dia sudah berusia 12 tahun saat itu.

Aku mengira dia akan meminta bantuan.

Aku mengira dia akan menangis.

Tapi dia hanya menatapku seolah akulah yang bersalah.

“Ini juga salah Mama,” katanya dingin. “Kenapa selalu melawan Papa?”

Setelah tubuhku mati, seolah-olah jiwaku tertinggal di warung itu.

Aku melihat Paolo mendekati keluarga-keluargaku dan meminta mereka memaafkan ayahnya.

Aku melihat dia meminta semua orang untuk tidak melapor ke polisi.

“Papa sebenarnya baik kalau Mama tidak memancingnya,” katanya. “Nanti siapa yang akan merawat aku kalau dia dipenjara?”

Sementara aku, perempuan yang mati di tangan suaminya, tetap disalahkan orang-orang.

Katanya aku terlalu keras kepala.

Katanya aku tidak pandai bersosialisasi.

Katanya aku sendiri yang memalukan suamiku hanya karena chili garlic sepuluh peso.

Aku kira itu akhir semuanya.

Tapi saat aku membuka mata lagi, aku berdiri di depan terminal bus di Cubao.

Aku memegang koper lama kami.

Aku menggenggam tangan Paolo erat.

Hari itu adalah hari pertama kami kabur.

Aku hidup lagi.

Aku menarik napas dalam dan menariknya ke arah bus.

Tapi tiba-tiba dia meronta.

“Lepaskan aku!” teriaknya. “Aku tidak mau ikut kamu!”

Aku terdiam.

Ini pernah terjadi juga.

Tapi di kehidupan sebelumnya, aku mengira dia hanya takut meninggalkan rumah.

Jadi aku memeluknya dan meyakinkannya semuanya akan baik-baik saja.

Kali ini, aku tidak lagi buta.

“Kenapa kamu tidak mau ikut?” tanyaku.

Dia mendengus.

“Papa kan yang menyakitimu. Dia tidak pernah menyakitiku.”

Seperti ada tangan yang meremas hatiku.

Aku perlahan melepaskan tangannya.

“Kalau begitu aku saja yang pergi,” kataku.

Aku berbalik dan menarik koper.

Tapi beberapa langkah kemudian Paolo memeluk kakiku.

“Jangan pergi!” teriaknya marah.

Aku kira dia sadar.

Tapi yang dia katakan berikutnya membuatku membeku.

“Kalau Mama pergi, siapa yang masak? Siapa yang mencuci? Siapa yang mengurus Papa? Aku juga lapar!”

Aku tidak langsung menjawab.

Anak yang hampir membunuhku berkali-kali ternyata tidak takut kehilangan aku.

Dia takut kehilangan pembantu.

“Umurmu sudah 12 tahun,” kataku. “Kamu sudah bisa mengambil makanan sendiri.”

“Tapi itu tugasmu!” katanya. “Kamu ibu!”

“Dan ayahmu sudah 36 tahun. Dia punya tangan dan kaki. Dia tidak akan mati tanpa aku.”

Wajahnya pucat, tapi dia justru semakin marah.

“Makanya kamu dipukuli Papa karena kamu sombong! Pasti kamu punya laki-laki lain!”

Aku tidak bisa menahan diri.

Aku menamparnya.

Mata Paolo membelalak.

Lalu dia mengangkat tangan seperti akan membalas.

Aku menatapnya.

“Apa kamu juga akan menusuk ibumu suatu hari nanti?” tanyaku dingin.

Dia tidak menjawab.

Sebaliknya, dia membuka smartwatch yang selama ini aku belikan dengan susah payah.

“Aku akan lapor ke Papa,” katanya. “Aku akan bilang kita di mana.”

Aku membeku.

Semua ingatan kabur tentang pelarian kami kembali.

Apartemen murah di Marikina.

Kamar di Antipolo.

Rumah kecil di Bulacan.

Di setiap tempat itu, hanya beberapa hari sebelum Marvin datang.

Dia bukan hantu.

Dia bukan iblis yang bisa melihat jauh.

Ada satu orang yang selalu memberi tahu lokasiku.

Aku merebut smartwatch Paolo.

“Kamu?” tanyaku gemetar. “Kamu yang memberitahu dia di mana kita tinggal?”

Dia menghindari tatapanku sebentar.

Lalu mengangkat dagunya.

“Iya. Karena Papa yang bekerja untuk kita. Kamu cuma memikirkan dirimu sendiri.”

“Kamu tahu dia memukulku.”

“Tapi dia selalu minta maaf! Kamu saja yang tidak mau diam!”

Saat dia mencoba mengambil kembali smartwatch itu, aku menjatuhkannya ke lantai.

Layar retak.

Dia menjerit.

“Ganti! Kamu jahat sekali!”

Aku menatap pecahan jam itu.

Lalu aku menatap anakku yang memilih ayahnya yang hampir membunuhku.

“Bilang saja ke papa kamu untuk belikan yang baru,” kataku.

Sebelum dia lari, aku mengantarnya naik taksi kembali ke rumah. Saat sampai, aku meninggalkannya di depan pintu dengan kunci.

Aku tidak masuk.

Aku tidak menoleh.

Aku langsung pergi ke terminal dan naik bus pertama keluar dari Metro Manila.

Keesokan harinya aku sudah di Angeles City.

Aku menggadaikan cincin pernikahanku dan mendapat ₱3.800 (≈ Rp 1.064.000).

Aku menemukan kamar kecil sewa seharga ₱1.500 per bulan (≈ Rp 420.000). Dindingnya tipis. Kipasnya tua. Tidak ada ranjang, jadi aku hanya tidur di tikar.

Tapi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidur tanpa takut ditendang dari pintu.

Malamnya aku memasak mi.

Aku menumis bawang putih, bawang, dan cabai.

Saat aroma pedas itu muncul, aku menangis.

Di kehidupan lamaku, aku mati karena chili garlic seharga ₱10 (≈ Rp 2.800).

Sekarang aku bisa makan sendiri dengan tenang.

Setiap suapan seperti bukti bahwa aku masih hidup.

Saat aku selesai makan, ponselku berbunyi.

Nama Marvin muncul di layar.

Tanganku gemetar.

Aku diam beberapa detik mendengar sunyi di luar pintu sebelum menjawab.

Tapi yang terdengar pertama bukan suara Marvin.

Suara Paolo.

Dia menangis keras di telepon.

“Ma! Di mana kamu? Pulanglah! Tolong aku!”

Ada suara keras di belakangnya.

Lalu anakku berteriak:

“…Aduh, Papa! Sakit! Jangan pukul lagi!”

Suara benda tumpul menghantam daging terdengar jelas lewat speaker ponselku, disusul dengan jeritan melengking Paolo yang selama ini belum pernah kudengar.

Lalu, suara Paolo menghilang, digantikan oleh napas berat yang sangat kukenal. Suara Marvin.

“Teresa,” desis Marvin, suaranya dipenuhi amarah yang tertahan. “Kau pikir kau bisa lari lagi? Anak sialan ini bilang kau membuangnya di depan rumah. Ke mana kau pergi, pelacur? Pulang sekarang, atau anakmu ini tidak akan selamat!”

Di kehidupan pertamaku, suara itu akan membuat seluruh sendiku lemas. Aku akan menangis, memohon ampun, dan menyerahkan diriku kembali ke neraka demi menyelamatkan anakku.

Tapi sekarang, aku hanya menatap mangkuk mi di depanku yang masih mengepulkan uap hangat.

“Dia anakmu, Marvin. Bukan anakku saja,” kataku, suaraku terdengar begitu tenang, bahkan mengejutkan diriku sendiri. “Kau selalu bilang dia anak kebanggaanmu yang penurut, bukan? Sekarang, kalian berdua bisa hidup bersama.”

“Teresa! Sialan kau! Jangan bercanda—”

“Aku tidak bercanda,” potongku sengit. “Paolo bilang kau orang baik. Dia bilang kau memukulku karena aku yang memancingmu. Dia selalu membelamu, Marvin. Dia bahkan merusak pelarianku berkali-kali demi mengembalikan aku kepadamu agar kalian punya pelayan. Sekarang, pelayan kalian sudah tidak ada. Selamat menikmati hidup baru kalian.”

“Mama! Tolong aku, Ma! Papa memukulku karena bajunya belum dicuci! Aku lapar, Ma!” suara Paolo menyela dari kejauhan, meratap histeris. Dia terdengar persis seperti diriku di kehidupan lalu.

Menyakitkan? Sedikit. Bagaimanapun, aku pernah mengandungnya. Tapi rasa sakit itu langsung menguap ketika aku mengingat pandangan dinginnya saat aku sekarat di lantai warung dalam genangan kuah mendidih.

“Ini juga salah Mama. Kenapa selalu melawan Papa?” Kata-kata itu adalah racun yang membunuh naluri keibuanku.

“Belajarlah mencuci sendiri, Paolo. Kamu sudah 12 tahun,” kataku datar.

“Teresa! Kalau kau tidak pulang dalam waktu tiga jam, aku bersumpah—”

Sebelum Marvin menyelesaikan ancamannya, aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Tanpa ragu, aku menekan tombol merah. Aku mengeluarkan kartu SIM dari ponsel tua itu, mematahkannya menjadi dua, dan melemparkannya ke tempat sampah bersama sisa bumbu mi.

Malam itu, Angeles City diguyur hujan deras. Suara rintik hujan yang menghantam atap seng kamar sewaanku terasa seperti lagu pengantar tidur yang paling merdu. Tidak ada ketukan pintu yang kasar. Tidak ada langkah kaki berat yang membuat jantungku copot.

Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, aku tertidur dengan senyuman.

Satu tahun berlalu.

Aku mengubah namaku menjadi Elisa. Aku bekerja di sebuah toko kue kecil di dekat Angeles University Foundation. Pemiliknya, seorang wanita paruh baya yang baik hati, mengajariku cara membuat roti. Tanganku yang dulu penuh memar, kini harum mentega dan vanila. Aku punya tabungan sendiri, kamar yang lebih layak, dan yang terpenting: kedamaian.

Suatu hari, saat sedang merapikan koran bekas di toko, sebuah berita lokal di pojok halaman kriminal menarik perhatianku.

“Seorang Pria di Quezon City Ditangkap Setelah Menganiaya Anak Kandungnya Hingga Cacat”

Aku membaca artikel itu tanpa ekspresi. Marvin ditangkap setelah para tetangga akhirnya melapor karena tidak tahan mendengar jeritan Paolo setiap malam. Tanpa kehadiran diriku sebagai samsak pelampiasan, Marvin mengubah anak emasnya menjadi target baru. Paolo mengalami patah tulang kaki yang parah karena tidak disembuhkan dengan benar, dan Marvin kini menghadapi hukuman belasan tahun penjara.

Di akhir artikel, ada foto kecil Paolo yang kurus kering di kursi roda, didampingi oleh pekerja sosial.

Aku menatap foto itu cukup lama. Apakah aku merasa bersalah? Tidak. Mereka berdua menuai apa yang mereka tanam. Jika di kehidupan lalu aku mati karena mereka, maka di kehidupan ini, mereka hancur karena ego mereka sendiri.

Aku melipat koran itu, membuangnya ke tempat sampah, lalu kembali ke dapur. Aroma roti manis yang baru matang memenuhi ruangan. Aku mengambil sebuah roti, menggigitnya perlahan, dan menatap langit biru dari jendela toko.

Teresa Villanueva sudah mati di kehidupan lalu. Dan Elisa, wanita yang berdiri di sini sekarang, akhirnya berhasil pulang ke rumah yang sesungguhnya: kebebasannya sendiri.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.