Setelah Aku Melahirkan Anak Kembar, Suamiku yang Miliarder Memberiku ₱200 Juta Agar Aku Pergi—Dia Mengira Aku Hanya Membawa Uang, Padahal Aku Juga Membawa Dua Pewaris yang Dia Buang
“Tandatangani.”
Rafael Villareal melempar cek itu ke atas ranjangku seperti selembar sampah.
“₱200 juta. Itu belas kasihan terakhirku untukmu, Maya. Bawa dua anak lemah itu dan enyah dari hidupku.”
Aku baru saja melahirkan anak kembar.
Jahitan operasi di perutku bahkan masih terbuka. Seluruh tubuhku masih gemetar menahan sakit. Di ruang inkubator rumah sakit privat di Makati, dua putra kami terbaring kecil dan merah, berjuang untuk bernapas.
Tapi di mata ayah mereka, mereka bukan anak.
Mereka beban.
Aib.
Di samping Rafael berdiri Celina Monteverde, wanita yang selama ini dia sebut hanya “teman,” meski sejak lama aku tahu dialah yang selalu dipilihnya setiap kali aku menangis sendirian di mansion kami.
Dia mengenakan gaun putih, senyumnya bersih seperti malaikat.
Namun saat berbicara, racunlah yang keluar.
“Maya, jangan pikir Raf kejam,” katanya lembut sambil menggenggam lengan suamiku. “Dokter bilang bayi-bayi itu lahir prematur. Paru-parunya lemah. Bahkan ada kemungkinan mengalami kerusakan otak.”
Dia menatapku dari kepala hingga kaki.
“Keluarga Villareal tidak boleh memiliki pewaris yang… seperti itu.”
Rasanya seperti ada tangan yang meremas jantungku.
Aku mencoba bangun, tetapi rasa sakit dari luka operasi langsung menyambar. Aku mencengkeram selimut begitu erat hingga hampir robek.
“Mereka anakmu, Rafael,” bisikku. “Mereka belum mati. Mereka sedang berjuang.”
Dia menghela napas seolah aku hanya mengganggu rapat bisnisnya.
“Aku pengusaha, Maya. Aku tidak berinvestasi pada sesuatu yang pasti rugi.”
Aku berkedip pelan.
Investasi rugi.
Begitulah dia menyebut darah dagingnya sendiri.
Dua anak yang kudoakan selama sembilan bulan.
“Kalaupun mereka hidup,” lanjutnya, “mereka akan jadi masalah seumur hidup. Nama Villareal tidak boleh runtuh hanya karena belas kasihan.”
Celina tersenyum sambil mengusap perutnya yang masih nyaris datar.
“Lagipula,” katanya, “aku sedang hamil. Bayinya sehat. Kata dokter laki-laki.”
Duniaku terasa berhenti.
Jadi itu alasannya.
Bukan karena dia takut pada kondisi si kembar.
Bukan karena dia tidak sanggup.
Melainkan karena dia sudah punya pengganti.
Anak yang “lebih sempurna.”
Wanita yang “lebih pantas.”
Rafael meletakkan surat cerai di atas dadaku.
“Tandatangani. Dalam satu jam uangnya masuk ke rekeningmu. Tapi kalau kau membuat masalah, Maya, aku pastikan tak ada rumah sakit di Filipina yang akan menerima dua anak itu.”
Air mataku jatuh, tapi bukan lagi karena rasa sakit.
Melainkan karena malu.
Bukan atas apa yang dia lakukan padaku.
Melainkan karena selama tujuh tahun aku mencintai pria tanpa hati.
Tujuh tahun aku berpura-pura menjadi wanita biasa. Tujuh tahun kusembunyikan siapa diriku sebenarnya, karena aku ingin dia mencintaiku bukan karena nama keluarga atau uang, melainkan karena aku adalah Maya.
Tapi aku salah.
Ada orang-orang yang tidak mampu mencintai cahaya.
Mereka hanya ingin memanfaatkannya sampai habis.
Aku mengambil pena.
Rafael sempat terdiam. Mungkin dia mengira aku akan berlutut. Menangis. Memohon.
Aku tersenyum, meski mulutku terasa seperti darah.
“Aku akan tanda tangan.”
Wajah Celina langsung berseri-seri.
Namun aku menatap Rafael lurus.
“Tapi dengarkan aku baik-baik. Mulai hari ini, kau tidak punya anak dariku. Kau tidak akan mengenal mereka. Tidak akan mengakui mereka. Dan tidak akan mencari mereka saat suatu hari nanti kau membutuhkan mereka.”
Dia tertawa dingin.
“Membutuhkan? Dua anak itu?”
Aku menandatangani surat itu.
Satu tanda tangan.
Pernikahanku selesai.
Kebodohanku juga selesai.
Saat mengambil dokumen itu, Rafael berkata, “Bagus. Akhirnya kau tahu tempatmu.”
Sebelum pergi, Celina membungkuk mendekatiku.
“Gunakan uangnya baik-baik ya? Siapa tahu anak-anakmu cuma bertahan tiga tahun.”
Aku tidak menjawab.
Karena kalau aku menjawab, mungkin bukan kata-kata yang keluar dari mulutku.
Saat pintu tertutup, aku mengambil ponsel dari bawah bantal. Aku menelepon nomor yang tidak pernah kugunakan selama tujuh tahun.
Baru satu dering.
“Señorita Maya?” suara pria tua di seberang langsung bergetar. “Ya Tuhan… akhirnya.”
Aku memejamkan mata.
“Mang Ben.”
“Apakah mereka menyakitimu?”
Aku menatap pintu tempat pria yang dulu kupikir rumahku baru saja pergi.
“Kirim tim medis. Jemput aku dan anak-anakku. Sekarang.”
“Segera, Señorita. Lalu bagaimana dengan keluarga Araneta?”
Suaraku berubah dingin.
“Katakan pada Kakek jangan bergerak dulu.”
Aku menarik napas panjang.
“Aku sendiri yang akan menghancurkan Villareal Group.”
Mang Ben terdiam sesaat.

Lalu dia tertawa pelan—bukan karena lucu, tapi seperti seseorang yang sudah lama menunggu hari ini tiba.
“Apa lagi perintah Anda?”
Aku menatap cek di sampingku.
₱200 juta.
Rafael mengira itu uang untuk membungkamku.
Dia tidak tahu…
itu adalah paku pertama untuk peti matinya sendiri…
Tujuh Tahun Kemudian
Ruang rapat utama Villareal Group terasa seperti ruang eksekusi.
Rafael Villareal duduk di ujung meja, wajahnya pucat pasi, rambutnya yang mulai memutih tampak berantakan. Di sampingnya, Celina Monteverde terus menangis, meratapi saham mereka yang anjlok hingga menyentuh dasar jurang dalam waktu kurang dari 24 jam.
“Bagaimana mungkin ini terjadi?!” bentak Rafael, memukul meja kerja. “Siapa yang membeli seluruh utang kita? Siapa pemilik baru Araneta Holdings yang menolak memperpanjang kontrak kerja sama kita?!”
Asisten pribadinya gemetar. “K-kami baru saja mendapat konfirmasi, Tuan Rafael. Pemilik baru Araneta Holdings… dia ada di sini. Dia ingin bertemu langsung dengan Anda untuk menandatangani surat kepailitan Villareal Group.”
Pintu ruang rapat besar itu terbuka.
Sepatu hak tinggi berdetak ritmis di atas lantai marmer. Seorang wanita dengan setelan jas formal berwarna hitam melangkah masuk dengan keanggunan yang mengintimidasi. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya secantik malaikat maut yang siap menjemput mangsa.
Di kanan dan kirinya, dua anak laki-laki berusia tujuh tahun berjalan dengan langkah tegap. Mereka mengenakan setelan jas mini yang persis sama. Wajah mereka adalah cetakan sempurna dari Rafael Villareal—namun dengan tatapan mata yang jauh lebih tajam, cerdas, dan dingin.
Rafael membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak. “Maya…?”
“Lama tidak bertemu, Mantan Suami,” ucap Maya, suaranya seringan angin malam namun sarat akan racun yang mematikan.
“Kau… bagaimana mungkin kau…” Celina menunjuk Maya dengan jari gemetar. “Kau wanita miskin! Anak-anak itu… mereka seharusnya sudah mati!”
Maya tersenyum sinis. Dia memberi isyarat, dan kedua putranya duduk di kursi VIP dengan tenang. Tidak ada tanda-tanda kelemahan fisik, apalagi kerusakan otak. Mereka tumbuh menjadi anak jenius yang bahkan di usia muda sudah menguasai analisis pasar saham.
“Namaku Maya Araneta,” kata Maya sambil melemparkan berkas kepailitan ke hadapan Rafael—persis seperti cara Rafael melempar cek tujuh tahun lalu. “Cucu tunggal dari pewaris tunggal Araneta Group. Aku sengaja menyembunyikan identitasku dulu karena mengira kau mencintaiku tulus. Tapi terima kasih atas pencerahanmu di rumah sakit Makati waktu itu.”
“Maya… tolong…” Rafael merangkak mendekat, matanya menatap kedua anak kembar itu dengan pandangan serakah yang tiba-tiba muncul. “Mereka… mereka anak-anakku, kan? Mereka darah dagingku! Lihat wajah mereka, mereka adalah penerus Villareal!”
Sebelum Rafael bisa menyentuh ujung sepatunya, kedua anak kembar itu berdiri di depan ibu mereka, menghalangi Rafael.
“Jangan sentuh Mommy kami,” ucap si sulung, Leo, dengan suara tegas.
“Pria yang tidak mau berinvestasi pada sesuatu yang ‘pasti rugi’ tidak berhak mendapatkan keuntungan saat investasi itu sukses,” lanjut si bungsu, Noel, mengutip kata-kata kejam Rafael tujuh tahun lalu dengan senyuman mengejek.
Rafael tersentak, wajahnya seketika kehilangan seluruh darahnya. Dia ingat kata-kata itu. Kata-kata yang dia ucapkan saat membuang mereka di inkubator.
“Oh, dan satu hal lagi,” Maya membungkuk, menatap Rafael dan Celina yang kini bersimpuh di lantai. “Kau ingat uang ₱200 juta yang kau berikan dulu? Aku tidak menyentuhnya sepeser pun. Aku menggunakannya untuk membeli saham kosong perusahaanmu lewat pihak ketiga, memanipulasinya, dan menjatuhkan nilainya hingga nol.”
Maya menegakkan tubuhnya, menggandeng tangan kedua putranya.
“Kau benar, Rafael. ₱200 juta itu adalah belas kasihan terakhir. Bedanya, itu adalah belas kasihanmu untuk menghancurkan dirimu sendiri.”
Dengan langkah anggun, Maya berbalik. Leo dan Noel menoleh sekilas, menatap ayah kandung mereka dengan tatapan kosong, seolah melihat seonggok sampah yang tidak berarti, sebelum melangkah pergi mengikuti ibunya.
Di belakang mereka, ruang rapat itu dipenuhi oleh suara histeris Celina dan raungan penyesalan Rafael Villareal. Kerajaan bisnisnya hancur, istrinya melahirkan anak yang ternyata hasil perselingkuhan dengan pria lain, dan dia baru saja kehilangan dua pewaris sejati yang kini akan memimpin dunia bisnis Filipina di bawah nama besar Araneta.
Peti mati itu telah tertutup rapat, dan Rafael mengubur dirinya sendiri di dalamnya.