Posted in

Setelah ujian masuk perguruan tinggi selesai, Gabriel Villanueva bertanya kepadaku di universitas mana aku akan kuliah.**

Setelah ujian masuk perguruan tinggi selesai, Gabriel Villanueva bertanya kepadaku di universitas mana aku akan kuliah.**

Aku terdiam beberapa detik sebelum menjawab,

**”Di Universitas Indonesia.”**

Ia mengangguk pelan, lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Namun beberapa minggu sebelum perkuliahan dimulai, aku sudah menggenggam surat penerimaan dari **University of Southern California**—surat yang selama ini kusimpan sebagai rahasia.

Aku berangkat sendirian ke Amerika Serikat.

Begitu pesawat mendarat di Los Angeles, ponselku dipenuhi notifikasi.

**Lima puluh tujuh panggilan tak terjawab.**

Semuanya dari Gabriel.

Tanpa ragu, aku melepas kartu SIM, memandanginya sejenak, lalu membuangnya ke tempat sampah di bandara.

Tiga tahun berlalu.

Suatu malam di sebuah hotel mewah di Beverly Hills.

*”Check-in, please.”*

Dua paspor diletakkan di hadapanku.

Saat aku mengangkat kepala, tatapanku langsung bertemu dengan sepasang mata dingin yang begitu kukenal.

Gabriel Villanueva.

Seolah waktu berhenti berputar.

Sebelum sempat berkata apa pun, seorang wanita yang menggandeng lengannya erat menatapku dari ujung kepala sampai kaki.

Sofia Ramirez.

Ia tersenyum sinis.

*”Isabella Reyes?”*

*”Aku benar-benar tidak menyangka kamu ternyata memang bekerja sebagai resepsionis di hotel ini.”*

*”Aku dengar rumor itu, tapi kupikir hanya gosip.”*

Aku hanya menerima paspor mereka dengan tenang.

Salam yang hampir keluar dari bibirku kutelan kembali.

Beberapa menit kemudian proses check-in selesai.

Saat hendak menyerahkan dua kartu akses kamar, Gabriel mengembalikan salah satunya ke meja resepsionis.

Dengan suara pelan ia berkata,

*”Batalkan satu kamar.”*

*”Aku dan Sofia tidur bersama.”*

Sofia langsung tersenyum sambil semakin merapat ke lengannya.

Sebelum masuk lift, ia masih sempat menoleh kepadaku.

Matanya dipenuhi rasa kemenangan.

Pukul setengah satu dini hari, telepon di meja resepsionis berbunyi.

Suara Gabriel terdengar dari seberang.

*”Kami butuh seprai baru.”*

Aku segera menghubungi petugas housekeeping.

Pukul dua dini hari, telepon kembali berbunyi.

*”Ganti lagi seprainya.”*

*”Maaf, Pak. Petugas housekeeping sudah selesai bertugas.”*

Ia terdiam beberapa detik.

*”Kalau begitu kamu saja yang naik.”*

Itu bukan permintaan.

Melainkan perintah.

Saat aku tiba di penthouse suite, pintunya terbuka.

Gabriel berdiri di depanku.

Tubuhnya hanya dibalut handuk putih.

Dari pintu kamar mandi yang terbuka sedikit, Sofia muncul sambil tersenyum.

Pipinya memerah.

*”Maaf ya, Bella.”*

*”Kamu jadi harus begadang gara-gara kami.”*

*”Tenang saja, kami akan berusaha tidak merepotkanmu lagi nanti.”*

Aku mengabaikannya.

Aku mengganti seprai dengan tenang.

Sambil bekerja aku berkata,

*”Layanan housekeeping darurat setelah pukul dua belas malam dikenakan biaya tambahan sebesar **40 dolar AS** untuk setiap permintaan.”*

Ruangan itu langsung hening.

Senyum Sofia menghilang.

Sementara Gabriel justru tertawa pelan.

Ia mengambil selembar uang **50 dolar AS** dari dompetnya lalu melemparkannya ke atas tempat tidur di dekatku.

*”Kamu benar-benar tidak berubah, Isabella.”*

*”Uang tetap menjadi hal yang paling penting bagimu.”*

Aku mengambil uang itu dengan tenang, memasukkannya ke saku, lalu pergi sambil membawa seprai kotor.

Kupikir semuanya sudah selesai.

Namun ketika pintu lift hampir menutup, sebuah tangan menahannya.

Gabriel.

Ia berdiri diam di hadapanku.

Kini ia lebih tinggi.

Lebih dewasa.

Lebih dingin.

Namun matanya…

Masih sama seperti saat kami berusia delapan belas tahun.

*”Apa kamu tidak marah?”* tanyanya.

Aku mengernyit.

*”Kenapa aku harus marah?”*

*”Karena Sofia.”*

*”Karena dia bersamaku.”*

*”Karena aku memilih dia, bukan kamu.”*

Aku terdiam beberapa detik.

Lalu menjawab,

*”Selamat untuk kalian.”*

*”Semoga kalian bahagia.”*

Aku menekan tombol **Close**.

Namun sebelum pintu lift menutup, ia kembali menahannya.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun…

Aku melihat kemarahan.

Dan juga luka.

*”Kenapa dulu kamu meninggalkanku?”*

*”Kenapa kamu berbohong?”*

*”Aku bertanya kamu akan kuliah di mana, dan kamu bilang Universitas Indonesia.”*

*”Aku menunggumu di sana hampir satu semester.”*

*”Setiap hari aku datang ke Fakultas Teknik hanya untuk mencarimu.”*

*”Tapi kamu tidak pernah muncul.”*

*”Seolah-olah kamu menghilang dari dunia.”*

Ia berhenti sejenak.

*”Kenapa kamu melakukan itu kepadaku, Isabella?”*

Aku melepaskan tangannya dari pintu lift.

Lalu menunjuk kamera CCTV di atas.

*”Tuan Villanueva, jika Anda tidak menjauh dari lift sekarang juga, saya akan memanggil petugas keamanan.”*

Ia menatapku tanpa suara.

Dan untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun…

Aku melihat seluruh tenaganya seolah lenyap.

*”Isabella…”*

*”Apa dulu kamu benar-benar mencintaiku?”*

Aku memejamkan mata sesaat.

Saat kubuka kembali, tak ada lagi emosi di wajahku.

*”Itu sudah tidak penting lagi sekarang.”*

*”Dan kalau kamu ingin tahu yang sebenarnya…”*

*”Aku sudah lama berhenti mencintaimu.”*

Tiga tahun sebelumnya.

Malam sebelum ujian masuk perguruan tinggi.

Aku membawa sebuah jimat keberuntungan yang telah kudoakan untuknya di sebuah gereja tua di Jakarta.

Rencananya akan kuberikan sebelum ia mengikuti ujian.

Namun ketika tiba di depan rumahnya di kawasan elite Menteng, aku mendengar suara ayahnya dari dalam.

*”Gabriel, kudengar akhir-akhir ini kamu sering bersama gadis penerima beasiswa itu.”*

*”Jangan bilang kamu serius dengannya.”*

Gabriel tertawa ringan.

Tanpa sedikit pun keraguan.

*”Memangnya kenapa aku harus serius?”*

*”Aku cuma bersenang-senang saja, Dad.”*

*”Aku tahu apa yang kulakukan.”*

Malam itu…

Seolah ada sesuatu yang hancur di dalam diriku.

Saat itulah aku mengerti siapa diriku dalam hidupnya.

Bukan impiannya.

Bukan masa depannya.

Bukan cinta sejatinya.

Aku hanyalah mainan yang sesaat menghiburnya.

Aku hampir saja melepaskan beasiswa ke Amerika demi tetap tinggal di Indonesia.

Aku hampir mengorbankan masa depanku demi dirinya.

Untung saja aku mengetahui kenyataan itu sebelum semuanya terlambat.

Aku dibesarkan sebagai anak seorang sopir angkot di Jakarta.

Kami empat bersaudara.

Dan karena aku satu-satunya anak perempuan, akulah yang selalu pertama kali diminta berkorban saat keluarga kekurangan uang.

Aku tidak boleh bermimpi.

Aku tidak boleh meminta.

Aku tidak boleh mengeluh.

Karena itu, ketika menjadi siswa terbaik di Jakarta dan memperoleh beasiswa penuh di sekolah swasta paling bergengsi, aku tahu itulah satu-satunya kesempatan untuk mengubah hidupku.

Namun di sekolah itu…

Aku hanyalah murid miskin yang masuk ke dunia anak-anak para pengusaha dan pejabat.

Dan orang pertama yang membuat hidupku sulit…

Adalah Gabriel Villanueva.

Pewaris **Villanueva Group**.

Pria paling populer di sekolah.

Dan laki-laki pertama yang kucintai.

Namun ada satu hal yang tidak pernah ia ketahui.

Alasan sebenarnya aku meninggalkan Indonesia…

Bukan karena aku berhenti mencintainya.

Melainkan karena pada malam ketika aku mendengar percakapannya dengan sang ayah…

Aku juga mendengar sesuatu yang seharusnya tidak kudengar.

Sebuah rahasia.

Rahasia yang membuat, tiga hari kemudian…

Ada orang-orang yang mulai membuntutiku.

Seminggu setelahnya…

Seseorang mencoba menerobos masuk ke rumah kami di Jakarta pada tengah malam.

Dan tepat sebelum aku naik pesawat menuju Amerika…

Seorang pria menyodorkan sebuah amplop kepadaku sambil berbisik,

**”Kalau kamu ingin keluargamu tetap hidup, jangan pernah kembali ke Indonesia.”**

Dan yang lebih tidak diketahui Gabriel…

Tanda tangan di bagian bawah surat itu…

Adalah milik ayahnya sendiri…

Akhir Cerita: Runtuhnya Topeng Kebohongan

Keesokan paginya, lobi hotel mewah di Beverly Hills itu tampak benderang oleh siraman cahaya matahari.

Gabriel melangkah keluar dari lift dengan wajah kuyu dan kantung mata yang menghitam—jelas ia tidak bisa tidur semalaman. Di sampingnya, Sofia berjalan dengan dagu terangkat seperti biasa, meski matanya memancarkan kekesalan karena sikap dingin tunangannya sejak semalam.

Saat melewati meja resepsionis, Sofia sengaja berhenti. Ia mengetukkan kuku-kuku jarinya yang dicat merah ke atas meja marmer, menatapku dengan pandangan merendahkan.

“Isabella, pelayananmu semalam cukup bagus. Ini uang tip untukmu. Ambil ini untuk menyambung hidup,” ucap Sofia sambil melemparkan selembar uang 100 dolar AS ke hadapanku.

Aku menatap uang kertas itu datar, lalu mengalihkan pandangan langsung ke mata Gabriel. Ia segera membuang muka, sementara rahangnya mengeras dan tangannya mengepal di dalam saku celana.

Tepat pada saat itu, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah pintu masuk utama.

Sekelompok pria berjas hitam rapi berjalan masuk dengan terburu-buru, dipimpin oleh General Manager hotel bintang lima ini. Melihat rombongan itu, Sofia langsung merapikan sikapnya dan berbisik manja ke telinga Gabriel, “Sayang, lihat itu. Mereka jajaran direksi dari grup konglomerat pemilik hotel ini. Kata papamu, hari ini mereka ada rapat penting dengan pewaris baru yang akan mengambil alih.”

Namun, hal yang sama sekali tidak mereka duga terjadi.

General Manager itu sama sekali tidak melirik ke arah Gabriel maupun Sofia. Rombongan berjas hitam itu melangkah lurus ke arah meja resepsionis, lalu membungkuk hormat 90 derajat tepat di hadapanku.

“Selamat pagi, Nona Reyes. Laporan audit komprehensif untuk kuartal ini sudah siap di ruang rapat VIP. Masa magang observasi Anda di semua departemen telah selesai. Silakan naik untuk mengambil alih posisi Anda sebagai Direktur Eksekutif Wilayah yang baru.”

Suasana di lobi seketika hening mencekam. Uang 100 dolar dari Sofia masih tergeletak mengenaskan di atas meja.

“A-Apa? Direktur?” Sofia terpekik kaget. Wajahnya pucat pasi, menatapku dan General Manager itu bergantian dengan bibir gemetar. “Tidak mungkin! Dia hanya gadis miskin dari Jakarta yang…”

Aku melepas papan nama “Isabella – Receptionist” dari dadaku, lalu tersenyum tenang.

“Beasiswa penuh dari University of Southern California (USC) tidak hanya memberiku ilmu, Sofia, tapi juga koneksi dengan konsorsium investasi terbesar di Amerika Serikat. Aku bekerja dari posisi terbawah selama tiga tahun ini untuk memahami seluk-beluk operasional, bukan karena aku butuh uang recehmu.”

Aku lalu mengalihkan pandangan kepada Gabriel. Pria itu berdiri mematung, wajahnya pucat pasi dan bibirnya bergetar hebat.

“Isabella… kamu…” gumamnya parau.

Aku merogoh saku jas dan mengeluarkan sebuah perekam suara kecil serta salinan dokumen rahasia, lalu meletakkannya di atas meja, mendorongnya perlahan ke hadapan Gabriel.

“Gabriel, tiga tahun lalu kamu bertanya apakah aku pernah mencintaimu. Jawabannya adalah ya. Tapi cinta itu mati pada malam aku berdiri di depan gerbang rumahmu di Menteng.”

Aku menurunkan nada suaraku, hanya menyisakan volume yang cukup didengar oleh mereka berdua.

“Aku mendengar semua ucapanmu kepada papamu malam itu. Dan aku juga mendengar rencana kotor papamu yang bersekongkol menyuap pejabat demi memuluskan proyek tanah negara, lalu menumbalkan anak buahnya. Malam itu, papamu tahu aku mendengar semuanya. Dia mengancam nyawa keluargaku agar aku pergi sejauh mungkin dari Indonesia.”

Gabriel mundur satu langkah. Matanya melebar penuh syok saat menatap dokumen di atas meja—sebuah surat ancaman dengan tanda tangan asli papanya sendiri yang dikirimkan kepadaku tiga tahun lalu.

“Tidak… Papa tidak mungkin melakukan itu… Aku tidak tahu apa-apa, Isabella! Aku mencarimu seperti orang gila!” teriak Gabriel frustrasi. Ia mencoba melangkah maju untuk meraih tanganku, namun dua petugas keamanan berbadan tegap segera menghadangnya.

“Kamu tidak tahu karena kamu adalah tuan muda yang selalu dilindungi di dalam istanamu. Kamu menganggap perasaanku sebagai mainan, sementara keluargamu menganggap nyawa keluargaku seperti sampah,” jawabku dingin. Kutatap kehancuran di mata pria yang dulu sangat kucintai itu tanpa ada sedikit pun rasa benci yang tersisa. Hanya kekosongan.

“Saat ini, Villanueva Group sedang berada di bawah penyelidikan internasional atas kasus pencucian uang dan ancaman keselamatan jiwa. Dokumen asli dan rekaman suara ini sudah diserahkan ke FBI serta Kepolisian Indonesia dua jam yang lalu.”

Aku memberi isyarat kepada petugas keamanan.

“Tolong antar tamu-tamu ini keluar. Hotel kami tidak menerima tamu yang memiliki risiko keterlibatan kasus kriminal berat.”

Sofia seketika lemas dan terduduk di lantai lobi, menyadari bahwa dinasti kaya yang selama ini ia agung-agungkan akan segera runtuh. Sementara Gabriel hanya berdiri membisu, air matanya perlahan menetes jatuh di atas lembaran dokumen konspirasi papanya. Ia menatapku, menyadari bahwa jarak di antara kami kini bukan lagi tentang status sosial, melainkan jurang takdir yang tak akan pernah bisa diseberangi lagi.

Aku membalikkan badan, berjalan anggun diiringi jajaran direksi menuju lift eksekutif.

Saat pintu lift berlapis emas itu tertutup perlahan, aku melihat bayanganku di dinding kaca—sosok yang kuat, mandiri, dan sepenuhnya bebas. Masa lalu pahit di Jakarta telah usai, dan kini, hidup Isabella Reyes yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.