Setelah ujian masuk universitas selesai, aku mengira makan malam itu hanyalah pertemuan biasa antara dua keluarga yang sudah saling mengenal selama bertahun-tahun.
Namun hanya dalam beberapa menit, makan malam itu berubah menjadi pemakaman bagi semua kenanganku bersama Marco.
Dan yang paling menyakitkan?
Aku tidak ditikam oleh musuh.
Aku ditikam oleh pria yang dulu pernah kugendong pulang saat lenganku berdarah, sementara dia menangis dan berjanji akan menjagaku seumur hidup.
Kami berada di ruang VIP sebuah restoran terkenal di Quezon City.
Aku datang bersama Mama dan Papa, begitu juga keluarga Marco del Rosario, sahabat masa kecilku sejak taman kanak-kanak.
Dulu kami bertetangga di Antipolo.
Kami tumbuh bersama, sekolah bersama, dan belajar bersama untuk menghadapi ujian masuk universitas.
Di mata orang-orang tua, kami adalah pasangan yang “sudah ditakdirkan.”
Karena itu, saat pelayan menyajikan salmon sinigang dan crispy pata, ibu Marco, Tante Lorna, tersenyum sambil bercanda.
“Kalian berdua ya,” katanya sambil melirik kami. “Hati-hati. Jangan bikin masalah dulu. Lulus kuliah dulu sebelum aku mengurus cucu.”
Orang-orang dewasa tertawa kecil.
Aku hanya tersenyum.
Tetapi Marco tiba-tiba meletakkan sendoknya.
“Ma,” katanya dingin, “aku sudah menyukai orang lain. Bukan Althea.”
Rasanya seperti ada gelas pecah meskipun tidak ada yang jatuh.
Tawa langsung berhenti.
Wajah Mama membeku.
Papa perlahan meletakkan gelas airnya, dan aku bisa merasakan amarahnya mulai mendidih.
Sedangkan aku?
Aku hanya menatap Marco.
Pria yang duduk di depanku bukan lagi anak laki-laki yang kukenal dulu.
Bukan lagi anak yang akan membawakan tasku saat hujan turun.
Bukan lagi anak yang berlari ke rumah kami ketika aku sakit hanya untuk mengantarkan bubur.
Sekarang dia adalah seseorang yang begitu yakin bahwa meskipun dia menyakitiku, aku akan tetap menunggunya.

Sebelum harga diri keluargaku benar-benar hancur, aku tersenyum kepada Tante Lorna.
“Tante,” kataku tenang, “aku juga sudah punya pacar.”
Semua orang langsung terdiam.
Mama yang pertama berbicara.
“Althea? Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Karena selama ini aku fokus belajar,” jawabku. “Setelah ujian selesai, baru kami resmi berpacaran.”
Marco tiba-tiba tertawa.
Tidak keras, tetapi cukup untuk menunjukkan penghinaan.
“Pacar?” katanya. “Althea, jangan berbohong hanya supaya tidak malu. Memangnya siapa yang mau menyukaimu?”
Meja makan kembali sunyi.
Dalam satu detik, seluruh persahabatan kami selama bertahun-tahun berubah menjadi debu.
Aku tidak menjawab.
Bukan karena tidak punya jawaban.
Tetapi karena malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa perlu membuktikan apa pun kepadanya.
Makan malam berakhir dalam suasana yang berat.
Kami berpamitan dengan formal, dingin, dan hampir tidak saling menatap.
Saat keluar dari restoran, aku mengatakan kepada Mama dan Papa bahwa aku ingin berjalan dulu menuju area parkir.
Aku hanya ingin bernapas.
Namun baru beberapa langkah, aku mendengar suara Marco.
“Althea.”
Aku tidak langsung berhenti.
“Althea, sudahlah. Jangan drama.”
Baru saat itu aku menoleh.
Dia berdiri di bawah lampu jalan.
Tinggi, rapi, dan tampan.
Tetapi di matanya terlihat rasa tidak sabar.
Seolah-olah akulah yang merepotkan.
Seolah-olah akulah penyebab suasana makan malam menjadi canggung.
“Aku tahu kamu terluka,” katanya. “Tapi jangan mengarang cerita soal pacar. Nanti jelek kalau sampai tersebar.”
Aku menatapnya.
Selama bertahun-tahun aku mengenalnya, aku tahu persis seperti apa wajahnya saat berbohong, gugup, atau menyembunyikan sesuatu.
Tetapi malam ini berbeda.
Dia tidak sedang berbohong.
Dia benar-benar percaya bahwa tidak ada pria lain yang bisa mencintaiku.
“Marco,” kataku pelan, “ingat saat kita kelas tiga SMA? Waktu kamu dipukuli geng Bryan di gang belakang warnet?”
Wajahnya langsung menegang.
“Waktu tubuhmu penuh darah dan hampir tidak bisa berjalan, aku yang berlari menolongmu. Aku yang menopangmu sampai ke jalan raya. Lenganku patah karena dipukul pipa saat melindungimu.”
Marco mengerutkan kening.
“Althea, kamu tidak perlu memakai itu untuk membuatku merasa bersalah.”
“Aku tidak sedang melakukan itu.”
“Aku ingat,” potongnya. “Aku ingat semuanya. Aku memang pernah bilang akan menjagamu seumur hidup. Dan aku akan melakukannya. Tapi Celina berbeda. Dia membutuhkan aku.”
Saat itulah aku mendengar nama itu.
Celina.
Siswi pindahan saat kelas sebelas.
Pendiam.
Lemah lembut.
Selalu menunduk.
Selalu terlihat menyedihkan.
Katanya hidupnya susah.
Katanya keluarganya keras.
Katanya dia tidak punya teman.
Dan di mata Marco, karena aku kuat, maka aku tidak boleh terluka.
“Celina,” lanjutnya, “tidak punya siapa-siapa untuk bersandar. Sedangkan kamu, Althea, selalu bisa mengurus dirimu sendiri. Kamu selalu kuat.”
Aku tersenyum tipis.
Ternyata menyakitkan ketika kekuatanmu justru dijadikan alasan untuk tidak memilihmu.
“Kalau semua urusannya sudah selesai,” katanya lagi, “kalau dia tidak membutuhkan aku lagi, aku akan kembali kepadamu. Keluargaku tetap menginginkanmu. Pada akhirnya, kamu juga yang akan kunikahi.”
Aku hanya memandangnya.
Dulu mungkin aku akan menangis.
Dulu mungkin aku akan memohon.
Namun sekarang yang kurasakan hanya lelah.
“Kamu tidak perlu kembali,” kataku. “Karena aku benar-benar punya pacar.”
Dia kembali tertawa.
“Althea, dari mana kamu dapat pacar? Kita baru selesai ujian. Hampir setahun penuh kamu hanya belajar. Jangan memaksakan diri.”
Sebelum aku sempat menjawab, ponselnya bergetar.
Begitu melihat layar, ekspresinya langsung berubah.
Suaranya menjadi lembut.
“Celina? Sayang, kenapa kamu menangis? Nilai ujian tidak penting. Aku akan datang sekarang. Jangan takut, aku ada untukmu.”
Dia bahkan tidak menoleh lagi kepadaku.
Dia berlari menuju sudut jalan.
Menuju gadis yang baru sekali kecewa, tetapi menurutnya harus segera diselamatkan.
Sedangkan aku tetap berdiri di bawah lampu jalan.
Tidak menangis.
Tidak mengejar.
Aku mengeluarkan ponselku dan mengetik sebuah pesan.
“Luis, aku sudah selesai di sini. Bisakah aku menemuimu?”
Belum sampai satu detik, balasan sudah datang.
“Di mana kamu? Aku akan menjemputmu.”
Aku tersenyum.
Dan saat berjalan menjauh dari restoran, aku tidak tahu bahwa di seberang jalan, ada seseorang yang melihat Marco meninggalkanku.

Dan orang itulah yang akan menjadi alasan mengapa keesokan harinya, di depan seluruh keluarga del Rosario, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan rumah kami—
Dari dalam mobil itu turun Luis Calderon.
Dan di tangannya terdapat sesuatu yang akan membuat Marco terdiam untuk selamanya.
Mobil hitam mengkilap itu—sebuah Mercedes-Benz Maybach yang hanya bisa dimiliki oleh segelintir orang di distrik elit Manila—berhenti tepat di depan gerbang rumahku.
Suara mesinnya yang halus namun bertenaga langsung memecah keheningan pagi di lingkungan rumah kami. Di teras rumah sebelah, Tante Lorna yang sedang menyiram tanaman hiasnya langsung meletakkan selang air. Matanya membelalak, begitu pula dengan Marco yang kebetulan baru saja keluar ke garasi untuk memanaskan motornya.
Pintu belakang mobil itu terbuka.
Seorang pria muda turun.
Luis Calderon.
Ia mengenakan kemeja putih kasual dengan lengan yang digulung hingga siku, jam tangan Patek Philippe melingkar di pergelangan tangannya, dan postur tubuhnya memancarkan aura otoritas yang tidak bisa dibeli dengan uang. Luis bukan sekadar “pria kaya”. Dia adalah putra tunggal dari keluarga Calderon—pemilik jaringan rumah sakit swasta terbesar dan universitas elit tempat aku dan Marco baru saja menempuh ujian masuk.
Di tangannya, Luis membawa sebuah map kulit berwarna hitam dengan lambang emas terukir di atasnya.
“Althea,” panggil Luis lembut begitu melihatku keluar dari pintu depan. Senyumnya merekah, jenis senyum hangat yang belum pernah ia tunjukkan pada dunia, selain kepadaku.
“Luis,” aku berjalan mendekat, membiarkan dia menggenggam tanganku secara alami di depan mata kepala Marco yang kini membeku di seberang pagar.
Marco berjalan cepat mendekati gerbang kami, wajahnya campur aduk antara syok, tidak percaya, dan ego yang terluka. “Althea… siapa dia? Kamu benar-benar menyewa aktor untuk pamer di depanku?!” tanyanya setengah berbisik, namun nadanya penuh penghinaan yang dipaksakan.
Luis tidak marah. Ia bahkan tidak memandang Marco sebagai ancaman. Dengan perlahan, Luis menyerahkan map kulit di tangannya kepadaku, lalu berbalik menatap Marco.
“Aku Luis Calderon,” kata Luis, suaranya tenang namun memiliki daya tekan yang luar biasa. “Dan aku tidak disewa. Aku adalah pria yang setahun ini berada di perpustakaan yang sama dengan Althea, mengantarkannya pulang setiap malam saat dia kelelahan belajar, dan pria yang memohon kepadanya untuk menjadi kekasihku dua minggu lalu.”
Tante Lorna yang mendengar nama ‘Calderon’ hampir saja menjatuhkan pot bunganya. Seluruh Filipina tahu siapa Calderon.
“Althea, buka mapnya,” ujar Luis lembut sambil mengusap puncak kepalaku.
Aku membuka kancing map tersebut dan mengeluarkan selembar sertifikat resmi berstempel emas dari Calderon Foundation.
Itu adalah Beasiswa Penuh Eksekutif Calderon untuk jurusan Kedokteran. Beasiswa tertinggi yang hanya diberikan kepada satu orang lulusan terbaik dengan nilai ujian mutlak di seluruh negeri. Dan di bawah nama Althea Santos, ada satu klausul tambahan yang ditulis tangan dengan tinta hitam: Fasilitas Klinik dan Laboratorium Riset Mandiri setelah kelulusan.
“Kemarin malam, saat kamu meninggalkan Althea di pinggir jalan demi gadis lain,” kata Luis, matanya mengunci pandangan Marco yang kini mulai memucat, “kamu bilang Althea kuat dan tidak butuh siapa-siapa. Kamu salah. Dia kuat karena dia berjuang, dan dia layak mendapatkan seseorang yang menghargai kekuatannya, bukan seseorang yang menjadikannya cadangan saat pilihan pertamamu gagal.”
Luis maju satu langkah, menatap lurus ke dalam mata Marco. “Sertifikat di tangan Althea adalah bukti bahwa masa depannya sudah berada di puncak yang bahkan tidak akan bisa kamu capai. Dan satu hal lagi…” Luis tersenyum tipis, sangat dingin. “Keluargaku adalah penyandang dana terbesar untuk beasiswa reguler yang diajukan oleh gadismu, Celina. Mulai pagi ini, komite universitas telah membatalkan seluruh subsidinya karena pelanggaran kode etik manipulasi data finansial keluarga.”
“Apa?!” Marco terengah. “Tidak mungkin! Celina miskin, dia—”
“Celina memalsukan dokumen pendapatan orang tuanya untuk mendapatkan belas kasihan universitas, dan belas kasihanmu,” potong Luis tajam. “Sekarang, pergilah selamatkan dia. Dia sangat membutuhkanmu, bukan? Tapi ingat satu hal, Mr. del Rosario…”
Luis merangkul pinggangku dengan posesif, membimbingku masuk ke dalam kursi belakang Maybach-nya.
Sebelum pintu ditutup, Luis menoleh untuk terakhir kalinya pada Marco yang berdiri gemetar di bawah terik matahari pagi.
“Jangan pernah berani menyebut nama Althea lagi di depan umum. Karena di dunia Althea yang baru… kamu bahkan tidak memiliki kualifikasi untuk menjadi orang asing yang menyapanya.”
Pintu mobil tertutup dengan dentuman mewah yang solid. Mobil perlahan melaju, meninggalkan Marco yang terpaku menatap debu jalanan, menyadari bahwa dalam semalam, ia tidak hanya kehilangan gadis yang berjanji melindunginya seumur hidup, tetapi ia juga baru saja menutup pintu menuju masa depan yang paling megah.