Suamiku mengambil sampel jantung anak kami yang sedang koma untuk menyelamatkan anak perempuan lain… dan ketika aku mengetahui kebenarannya, aku tidak lagi mengenal pria yang selama ini menjadi suamiku.
“Hasinya cocok… terima kasih, Marco. Nino akhirnya punya harapan.”
Pesan itu muncul di ponsel suamiku, tersimpan dengan nama “Kak Liza”. Dalam sekejap, aku melihat wajah Marco membeku sebelum ia buru-buru merebut ponselnya dari tanganku, seolah ada sesuatu yang tidak boleh kulihat.
Aku berdiri terpaku sementara seluruh tubuhku perlahan terasa dingin.
Pada saat yang sama, pikiranku langsung tertuju pada putriku, Isla, yang hingga kini masih tidak sadarkan diri di ICU sebuah rumah sakit di Jakarta setelah mengalami kecelakaan.
— Marco… apa maksudnya “cocok”?
Ia menelan ludah dan mengalihkan pandangan.
Hanya dari gerakan sederhana itu, aku sudah merasa ada jawaban besar yang sedang ia sembunyikan.
— Anak kakakku… Nino… dia punya penyakit jantung serius dan butuh transplantasi secepatnya.
Mendengar kata “jantung”, rasanya seperti ada pisau yang menusuk dadaku berulang kali.
Napas mulai terasa berat ketika aku mencoba menghubungkan semua kepingan yang ada.
— Sampel itu dari siapa? Siapa yang kamu gunakan untuk tes kecocokan?
Marco tidak menjawab.
Namun diamnya jauh lebih keras daripada penjelasan apa pun.
— MARCO! DARI SIAPA?!
Tangannya menggenggam ponsel erat-erat.
Bibirnya bergetar sebelum akhirnya ia memaksa dirinya mengatakan kebenaran.
— …dari Isla.
Dunia seakan berputar.
Aku mundur beberapa langkah lalu jatuh ke lantai, seolah seluruh tenagaku hilang dalam satu detik.
— Rina!
Ia mencoba membantuku berdiri, tetapi aku langsung mendorongnya menjauh.
— Apa kamu sudah gila?! Anak kita sedang koma, dan kamu mengambil sampel darinya untuk menggunakan jantungnya bagi anak lain?!
— Dengarkan dulu. Nino sudah tidak punya banyak waktu. Dokter bilang kalau dia tidak dioperasi dalam seminggu, dia tidak akan selamat—
— LALU BAGAIMANA DENGAN ISLA?!
Aku berteriak sambil menangis.
Setiap kata terasa meledak dari dalam dadaku.
— Dia baru delapan tahun! Dia belum bangun! Dia bahkan belum sempat memanggilku “Mama” lagi sejak kecelakaan itu!
Aku menarik kerah bajunya.
Seluruh tubuhku gemetar ketika mencoba memahami bagaimana ia bisa melakukan hal seperti itu.
— Apa rencanamu? Menunggu sampai dia benar-benar meninggal lalu mengambil jantungnya?
Marco tidak menjawab.
Dan dalam keheningan itu, duniaku runtuh sepenuhnya.
Aku melepaskannya dan mundur.
Yang tersisa hanyalah rasa sakit dan kekecewaan.
— Operasinya belum dilakukan, kan?
Ia ragu sejenak sebelum menjawab pelan.
— Besok…
— Batalkan sekarang juga. Tidak seorang pun boleh menyentuh anakku tanpa izinku!
— Tapi—
— Tidak ada tapi!
Pada saat itu, ponselnya kembali bergetar.
Di layar, aku bisa membaca pesan-pesan yang masuk berturut-turut.
【Marco… aku tahu seharusnya aku tidak mengganggumu lagi…】
【Tapi Nino baru saja sadar dan terus memanggil namamu…】
【Bisakah kamu datang sekali lagi? Setidaknya penuhi permintaan terakhirnya…】
Tanganku gemetar ketika membaca setiap kalimat.
Nada pesan itu bukan sekadar permohonan biasa.
Ada kedekatan yang seharusnya tidak ada.
— Siapa dia sampai bisa bicara seperti itu kepadamu?
Marco terdiam.
Dan diamnya membuat kecurigaanku semakin kuat.
— Kalau kamu tidak mau menjawab, aku akan mencari tahu sendiri.
Aku keluar rumah dan naik taksi menuju rumah sakit di Jakarta Selatan tempat Nino dirawat.
Sepanjang perjalanan, amarah di dadaku semakin membesar.
Sesampainya di sana, aku langsung menuju ruang perawatan.
Ketika pintu kubuka, aku melihat pemandangan yang sama sekali tidak kuduga.
Seorang wanita duduk di samping ranjang Nino sambil merawatnya dengan penuh perhatian.
Begitu ia mengangkat wajah, aku langsung mengenalinya.
— Kak Liza…
Ia berdiri dan memaksakan senyum.
Namun keterkejutan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
— Rina… kenapa kamu di sini…
Aku melangkah mendekat perlahan.
— Kamu masih punya rasa malu? Kenapa kamu mengirim pesan seperti itu kepada suamiku? Dan kenapa kamu ingin mengambil jantung anakku?
Matanya langsung memerah.
Air mata mengalir seolah ia sudah terbiasa berada dalam situasi seperti ini.
— Rina, kamu salah paham. Aku hanya khawatir pada anakku dan tidak punya siapa-siapa lagi untuk meminta bantuan—
— Khawatir? Jadi karena itu kamu ingin mengambil nyawa anakku?!
— Nino akan meninggal tanpa transplantasi—
— Dan anakku bukan manusia?!
Tiba-tiba pintu terbuka.
Marco masuk dengan napas terengah-engah dan langsung berdiri di antara kami, seolah aku yang harus dihentikan.
— Rina, apa yang kamu lakukan? Kondisi Nino sudah seperti ini, kenapa kamu masih membuat keributan?!
Saat itulah sisa kepercayaanku benar-benar hancur.
Karena aku tahu persis siapa yang sedang ia lindungi.
— Katakan padaku. Siapa sebenarnya dia bagimu?
Marco terdiam.
Di belakangnya, Liza menangis seperti dialah korban dalam semua ini.
— Maaf… semua ini salahku…
— Ini bukan salahmu!
Marco langsung menoleh untuk menenangkannya sebelum kembali menatapku dengan kemarahan di matanya.
— Ya, dulu dia wanita yang pernah kucintai. Tapi itu sudah berakhir! Sekarang dia tidak punya siapa-siapa lagi, jadi aku hanya membantunya!
— Bisakah kamu berhenti berpikir yang bukan-bukan?!
Ruangan mendadak sunyi.
Rasa sakit di dalam diriku perlahan berubah menjadi ketenangan yang dingin.
Aku menatap pria yang dulu berjanji hanya akan mencintaiku dan tidak akan pernah meninggalkan kami.
Kini rasanya seperti melihat orang asing.
Aku menarik napas panjang sebelum berbicara dengan tenang namun tegas.
— Marco… kita akan bercerai.
Matanya membelalak.
Liza pun menatapku dengan terkejut.
Namun aku belum selesai.
— Aku akan membawa Isla pergi. Dan aku akan mengungkap semuanya agar semua orang tahu seperti apa ayah yang rela mengambil jantung anaknya sendiri yang bahkan belum meninggal.
Tiba-tiba pintu kembali terbuka.
Seorang perawat masuk dengan wajah panik.
— Keluarga Nino! Kondisinya tiba-tiba memburuk. Kami harus segera menyiapkan transplantasi darurat sekarang juga!
Wajah Marco langsung pucat.

Liza menangis histeris.
Sementara aku tetap berdiri di tempat.
Karena jauh di lubuk hatiku, aku tahu bahwa jika operasi itu benar-benar dimulai, mungkin aku akan kehilangan anakku untuk selamanya.
Suasana ruangan mendadak menjadi sangat kacau. Liza menjerit histeris sambil memeluk tubuh Nino yang mulai kejang, sementara Marco tampak panik dan langsung mencengkeram pundak perawat itu.
“Dokter di mana?! Siapkan ruang operasi! Ambil donornya sekarang!” teriak Marco, suaranya menggema penuh keputusasaan—keputusasaan yang, ironisnya, bukan untuk putri kandungnya sendiri.
Mendengar kata ‘ambil donornya’, darahku mendidih. Aku melangkah maju dan berdiri tepat di depan Marco, menatapnya dengan tatapan paling mematikan yang pernah kupunya.
“Langkah satu kaki saja keluar dari ruangan ini untuk menyentuh Isla, Marco,” bisikku, suaraku begitu dingin hingga membuat Marco tersentak. “Aku bersumpah kamu akan keluar dari rumah sakit ini dengan borgol polisi.”
“Rina! Tolong punya hati nurani! Isla sedang koma, peluangnya tipis! Tapi Nino bisa selamat hari ini kalau kita bertindak!” Marco balas membentak, air mata frustrasi mulai mengalir di wajahnya.
“Dia anakmu, Marco! Isla anak kandungmu!” teriakku menjerit, meluapkan seluruh rasa sakit yang sejak tadi kutahan. “Kamu bukan dokter yang berhak menentukan peluang hidupnya! Kamu ayahnya, tapi kamu bertingkah seperti algojo bagi anakmu sendiri!”
Sebelum Marco sempat membalas, ponselku di saku jaket bergetar panjang. Sebuah panggilan masuk dari dokter spesialis anak yang merawat Isla di ICU Jakarta Pusat. Jantungku berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, aku mengangkatnya.
“Halo, Ibu Rina?” suara Dokter siuman di seberang telepon terdengar terengah-engah, namun ada nada mendesak yang luar biasa. “Ibu harus segera ke ICU sekarang. Ini mukjizat… Denyut jantung dan respons otak data klinis Isla tiba-tiba meningkat tajam. Putri Ibu… Isla baru saja menggerakkan jarinya dan membuka mata.”
Mendengar kalimat itu, ponsel hampir saja terlepas dari genggamanku. Air mataku luruh seketika, bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang tak terbendung.
“Dia bangun, Dok? Anak saya bangun?!” tanyaku memastikan, memastikan bahwa aku tidak sedang berhalusinasi.
“Benar, Ibu. Isla sudah melewati masa kritisnya. Silakan segera datang ke mari.”
Aku menutup telepon. Aku menatap Marco yang membeku di tempatnya. Dia jelas mendengar apa yang baru saja dikatakan dokter melalui pengeras suara ponselku. Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah menjadi seputih kertas. Kegilaan dan rencana terselubungnya untuk mendonorkan jantung Isla hancur berkeping-keping oleh mukjizat kehidupan anak kami sendiri.
“Isla… bangun?” bisik Marco lambat, langkahnya goyah ke belakang.
“Ya. Anak yang ingin kamu ambil jantungnya itu memilih untuk hidup,” kataku, menatapnya dengan rasa muak yang teramat sangat. “Dan mulai detik ini, kamu tidak punya hak lagi atas dirinya.”
Aku membalikkan badan, mengabaikan tangisan Liza yang semakin histeris karena kondisi Nino yang terus menurun, serta panggilan gagap Marco yang mencoba mengejarku. Aku berlari menyusuri koridor rumah sakit, meninggalkan masa laluku yang busuk, menuju tempat di mana putriku sedang menungguku.
Tiga Bulan Kemudian…
Kehidupan di paviliun kecil daerah Bogor terasa jauh lebih menenangkan. Sore itu, udara terasa sejuk, dan dari jendela aku bisa melihat Isla yang berusia delapan tahun sedang duduk di kursi roda di halaman, tertawa kecil sambil menyuapi seekor kucing liar. Fisiknya belum pulih total, tetapi binar kehidupan di matanya telah kembali sepenuhnya.
Pernikahanku dengan Marco resmi berakhir. Proses perceraian berjalan sangat cepat setelah aku menyerahkan bukti pesan singkat dan rekaman percakapan di rumah sakit kepada pihak kepolisian dan pengacara. Marco terbukti melakukan pelanggaran berat terkait rencana manipulasi medis dan pengambilan sampel tanpa persetujuan ibu kandung.
Meskipun ia tidak sampai dipenjara karena operasi itu belum sempat terlaksana, nama baik dan kariernya hancur total. Ia dipecat secara tidak hormat dari perusahaannya, dan seluruh hak asuh Isla jatuh sepenuhnya ke tanganku, tanpa hak wali bagi Marco.
Bagaimana dengan Nino? Anak itu akhirnya selamat setelah mendapat donor resmi dari daftar tunggu darurat nasional tepat di malam kritisnya. Namun, Marco harus membayar seluruh biaya operasi tersebut dengan menjual aset-asetnya, termasuk rumah kami, demi membantu Liza—wanita dari masa lalunya yang kini justru meninggalkannya setelah tahu Marco jatuh miskin dan tak lagi punya apa-apa.
Pintu pagar depan berbunyi, mengagetkanku dari lamunan. Seorang kurir mengantarkan sebuah surat. Ketika kubuka, itu adalah surat dari Marco yang dikirimkan melalui pengacaranya. Surat itu berisi permohonan maaf yang panjang, meminta izin untuk sekadar melihat Isla dari jauh.
Aku meremas surat itu, lalu membuangnya ke tempat sampah tanpa ragu.
Ada pengampunan untuk kesalahan biasa, tetapi tidak ada tempat kembali bagi seorang ayah yang siap menukar nyawa darah dagingnya sendiri demi masa lalu. Aku menatap Isla yang melambaikan tangan ke arahku dengan senyum lebar.
“Mama, sini! Kucingnya lucu banget!” panggilnya dengan suara cempreng yang sangat kurindukan.
Aku tersenyum, melangkah keluar menemui putriku. Hatiku kini sekuat baja. Pria yang dulu kupanggil suami mungkin telah menjadi orang asing yang paling mengerikan, tetapi di atas puing-puing pengkhianatannya, aku telah berhasil menjaga dan menyelamatkan duniaku yang sebenarnya.