“Kenapa Mas?”
Satu baskom air cucian beras baru saja mendarat telak di wajah suamiku. Air keruh itu mengalir dari rambut, turun ke hidung, sampai membasahi baju koko putih mahal yang baru kubelikan minggu lalu. Butiran menir putih menempel di dahinya, kontras dengan wajahnya yang memerah karena kaget.
Ruang tamu yang tadinya ramai mendadak sunyi senyap.
Ibu mertuaku yang sedang asyik menata toples nastar langsung mematung. Bapak mertua menatap kami dengan mata melotot, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan. Sementara Giska, adik iparku, berdiri mematung di dekat pintu sambil memegang ponsel. Dia kelihatan bingung, antara harus lanjut merekam konten Lebaran atau berhenti sekarang juga.
Aku meletakkan baskom di atas meja kayu. Tanganku tidak gemetar. Aku tidak menangis. Anehnya, dadaku yang sesak sejak tadi pagi mendadak terasa lega sekali.
“Ini hari Lebaran!” teriak Elang lagi, suaranya naik satu oktaf. “Kamu sengaja mau permaluin aku di depan Bapak sama Ibu?”
Aku menatapnya lurus. Dingin. “Malu? Kamu masih punya rasa malu, Mas?”
Elang melangkah maju, sorot matanya mengancam. “Alea, cukup. Jangan cari gara-gara.”
Aku malah tertawa kecil. Tawa yang hambar. “Justru ini baru permulaan, Mas.”
Di sudut ruangan, Kirei, putri kecil kami, masih berdiri mematung. Tangannya erat memegang dress brokat warna pink yang cantik. Matanya sembab, bekas tangisnya masih jelas.
Baju hadiah dari ayahnya tadi pagi. Masalahnya, baju itu kekecilan, sangat kecil. Jangankan dipakai bergerak, kancing di bagian dadanya saja tidak bisa ditutup.
“Kirei sampai nangis gara-gara bajunya nggak muat di badan,” ucapku, suaraku mulai bergetar karena emosi yang tertahan. “Dan dengan entengnya kamu bilang anak kamu sendiri kegemukan?”
Elang melirik gelisah ke arah orang tuanya. “Kamu lagi emosi, Al. Jangan ngomong sembarangan, nggak enak dilihat Bapak Ibu.”
“Aku ngomong sembarangan?”
Aku merogoh saku gamis, mengeluarkan selembar kertas kecil yang sudah agak lecek, lalu melemparnya ke atas meja.
Bapak mengambil nota itu dengan tangan gemetar. Suasana makin mencekam. Elang mulai tidak tenang, kakinya bergerak-gerak gelisah.
“Itu cuma nota belanja biasa,” potong Elang cepat.
“Iya, memang nota belanja,” sahutku. “Tapi nota belanja buat dua anak.”
Aku mendekat, menatap matanya yang mulai menghindari tatapanku. “Satu buat Kirei, dan satu lagi buat Mika.”
Wajah Ibu mertuaku langsung berubah pucat. “Mika siapa, Elang?” tanya beliau pelan.
Elang diam. Mulutnya terkunci rapat.
Aku tersenyum tipis, jenis senyum yang penuh luka. “Anaknya Vanya, Bu.”
Hening. Kali ini benar-benar sunyi sampai suara detak jam dinding terdengar jelas. Bapak membaca nota itu berulang kali. Di sana tertulis jelas dua ukuran dress yang berbeda. Satu ukuran Kirei dan satu lagi ukuran untuk anak bernama Mika.
“Kirei itu anak kandung kamu, Mas,” ucapku sambil menahan sesak di dada. “Tapi ukuran badan anak orang lain malah lebih kamu hafal di luar kepala.”
“Alea! Jangan fitnah!” bentak Elang.

“Kalau cuma fitnah, kenapa kamu panik sampai keringat dingin begitu?” pancingku.
Elang mencoba meraih tanganku, suaranya merendah, mencoba membujuk. “Ayo masuk kamar. Kita bicarakan baik-baik, jangan bikin keributan di sini.”
Aku langsung menepis tangannya dengan kasar. “Jangan sentuh aku.”
Nada suaraku rendah, tapi penuh penekanan. Elang terdiam.
“Elang cuma bantu teman kantor, Bu,” jawab Elang cepat, seolah sudah menyiapkan skenario itu. “Alea cuma salah paham, dia lagi sensitif.”
Aku tertawa pendek. “Bantu? Bantu sampai rutin kirim uang tiap bulan sementara uang belanja rumah sering kurang?”
“Sabar Alea, bisa jadi Elang memang hanya membantu!” Ibu mencoba membela Elang.
“Bantu sampai beliin baju butik buat anaknya, sementara baju anak sendiri dibeliin asal-asalan?” lanjutku tanpa ampun.
“Elang, benar begitu?” Suara Bapak meninggi, menggelegar di ruang tamu.
Elang makin terpojok. Dia mengusap tengkuknya. “Aku… aku bisa jelasin.”
“Oke, jelasin sekarang. Kenapa uang sekolah Kirei bulan lalu telat dibayar, padahal di hari yang sama kamu bayar tagihan dress butik buat anak perempuan simpananmu itu?” sahutku cepat.
“Dia bukan simpanan!” bentak Elang spontan.
“Nah, berarti memang ada, kan?” balasku telak.
Elang langsung menutup mulutnya. Dia sadar dia baru saja menjebak dirinya sendiri. Giska pelan-pelan menurunkan ponselnya. Wajahnya yang tadi ceria sekarang berubah penuh rasa kasihan sekaligus shock. Dia baru sadar ini bukan drama settingan demi konten.
Aku berjalan mendekati Kirei, mengelus rambutnya yang halus. “Kirei sedih karena bajunya sempit,” ucapku tanpa melepaskan pandangan dari Elang. “Tapi ayahnya malah menghina fisiknya sendiri demi nutupi kesalahan.”
Kirei menunduk, badannya bergetar kecil. Dadaku rasanya mau meledak melihat anakku diperlakukan begitu.
Selama ini aku memilih diam. Aku diam saat sikap Elang mulai dingin. Aku diam saat dia lebih sering menatap layar ponsel daripada menatapku. Aku bahkan tetap diam saat pertama kali menemukan chat mesra dari perempuan itu di ponselnya. Aku mencoba sabar demi keutuhan keluarga.
Tapi pagi ini, batas sabarku sudah habis. Dia tidak hanya menginjak harga diriku, dia bahkan menyakiti hati anakku.
“Kamu sengaja mau hancurin reputasi aku di depan keluarga besar?” tanya Elang dengan rahang yang mengeras.
Aku menatapnya tanpa ada lagi rasa takut. “Reputasi kamu rusak bukan karena aku, Mas.”
Aku menunjuk nota di meja. “Semua karena kelakuan kamu sendiri yang nggak tahu diri.”
Bapak melempar nota itu kembali ke meja. “Benar kamu ada hubungan sama perempuan itu?” tanya Bapak dingin.
Elang menghela napas panjang, terlihat frustrasi. “Cuma dekat, Pak.”
“Dekat sampai biayain hidupnya?” tanyaku lagi.
“Alea, dengar dulu…”
“Apalagi yang mau didengar?!” potong Bapak keras. Beliau terduduk sambil memijat pelipisnya. Aku berani pastikan, sebentar lagi vertigo Bapak akan kambuh karena stres.
Suasana makin panas, tapi aku justru merasa sangat tenang. Beban yang kupikul selama tiga tahun ini rasanya luruh seketika. Akhirnya, topeng suamiku terbuka di depan semua orang.
Giska menatapku ragu. “Kak Alea… Kakak beneran mau cerai?”
Elang mendesis sinis. “Kamu pikir gampang jadi janda? Kamu pikir bisa hidup tanpa uangku?”
Aku menoleh cepat. “Nggak segampang jadi suami bermuka dua, Mas. Kalau soal uang? Sebaiknya kamu pikirkan lagi bagaimana kehidupan di rumah ini terus berjalan sedangkan gajimu pergi entah kemana.”
“Kamu keterlaluan. Jangan sombong, Al!”
“Belum,” jawabku tenang. “Aku bahkan belum menunjukkan semuanya.”
Aku melangkah maju sampai jarak kami hanya beberapa senti. “Kamu tahu kenapa aku nyiram kamu pakai air cucian beras?”
Elang hanya diam, menahan amarah.
“Karena rumah ini terlalu kotor sejak ada kamu berkhianat,” ucapku pelan.
Ibu mertuaku menutup wajah dengan kedua tangannya. “Astaghfirullah…”
Aku menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungku. “Bapak, Ibu, maaf kalau lebaran kali ini berantakan. Tapi aku sudah capek pura-pura bahagia di depan semua orang.”
Aku menunjuk Elang, lalu beralih ke Kirei. “Dia suamiku, dan dia ayah dari anakku. Tapi ternyata, dia lebih sibuk jadi pahlawan buat keluarga orang lain.”
Elang mengepalkan tinjunya. “Alea, stop!”
“Kenapa? Takut borokmu yang lain kebongkar?” tanyaku menantang.
“Ini baru satu nota belanja, Mas. Belum bukti-bukti transfer dan foto kalian di hotel bulan lalu.”
Mata Elang membelalak. Dia tampak goyah. “Kamu jangan macam-macam!”
Aku tersenyum tipis. “Nah, akhirnya keluar juga nada aslimu. Nggak perlu lagi akting jadi suami idaman, kan?”
“Alea!” bentak Ibu mertuaku. “Jangan diperpanjang lagi, malu sama tetangga!”
Aku menoleh pelan pada wanita yang selama ini aku hormati itu. “Bu, masalah ini sudah panjang sejak lama. Aku cuma baru punya keberanian buat buka pintunya hari ini.”
Aku menggendong Kirei, membawanya ke dalam dekapanku. Tubuh kecilnya masih sedikit gemetar. Aku berhenti sejenak.
“Besok, pengacaraku akan datang ke kantor kamu. Aku mau kita selesai.”
Wajah Elang berubah pucat pasi. “Apa? Kamu bercanda? Kamu nggak punya bukti yang kuat buat menggugatku!” teriaknya putus asa.
Aku menatapnya untuk terakhir kali sebelum berbalik arah. “Mas… baru satu lembar nota aja kamu sudah gemetar begini. Memangnya kamu sudah siap kalau aku buka semuanya?