TUNANGAN PUTRAKU MENGAKU SEBAGAI PEWARIS KAYA YANG BARU KEMBALI DARI LUAR NEGERI

Dia meminta agar seluruh aset keluarga kami dipindahkan atas namanya sebelum pernikahan.

Sampai seorang wanita tiba-tiba muncul di depan pintu rumah kami…

“Bu, Minggu malam nanti aku akan membawa seseorang untuk makan malam bersama.”

Suara putraku, Adrian Wijaya, terdengar penuh kegembiraan di telepon.

Aku yang sedang merapikan roti di toko roti keluarga kami di Bandung langsung terdiam.

“Pacarmu?”

Adrian terdiam dua detik sebelum tertawa.

“Aku memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Ibu. Kami sudah berpacaran hampir enam bulan.”

Aku terkejut.

Adrian adalah tipe orang yang hanya fokus pada pekerjaan.

Sejak lulus kuliah, belum pernah sekali pun dia memperkenalkan seorang wanita kepadaku.

“Baiklah. Bawa dia ke sini.”

Hari Minggu pun tiba.

Aku menyiapkan makan malam istimewa di rumah yang berdampingan dengan toko roti keluarga kami.

Tepat pukul enam sore, bel pintu berbunyi.

Adrian masuk terlebih dahulu.

Di belakangnya, seorang wanita muda berpakaian elegan mengikuti.

Mulai dari gaun bermerek, sepatu mahal, hingga jam tangan yang dikenakannya, semuanya tampak dipilih dengan sangat teliti.

Namun yang paling menarik perhatianku adalah matanya.

Selalu mengamati.

Seolah diam-diam sedang menilai harga dari setiap benda di sekitarnya.

“Bibi, ini pertama kalinya kita bertemu.”

Dia tersenyum sambil menyerahkan sebuah kotak besar.

“Saya membawa sedikit hadiah untuk Bibi.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat satu set perhiasan berlian yang sangat mewah.

Adrian langsung berkata dengan bangga,

“Bagus, kan, Bu? Katanya dibuat khusus di luar negeri.”

Aku hanya tersenyum.

Memang indah.

Tetapi yang lebih menarik perhatianku adalah sertifikat yang menyertainya.

Ada kesalahan kecil pada cap resminya.

Kesalahan yang sangat kecil.

Orang biasa mungkin tidak akan menyadarinya.

Tetapi aku menyadarinya.

Karena selama lebih dari dua puluh tahun, aku pernah bekerja di industri perhiasan.

Makan malam berlangsung dengan menyenangkan.

Wanita itu terus menceritakan tentang keluarganya.

Katanya ayahnya adalah pengusaha sukses di Singapura.

Ibunya memiliki banyak properti.

Dan dia sendiri pernah belajar di sekolah-sekolah bergengsi di luar negeri.

Adrian mendengarkannya dengan mata penuh kekaguman.

Sedangkan aku hanya diam.

Setelah makan malam selesai.

Adrian keluar untuk menjawab telepon.

Tiba-tiba wanita itu duduk di depanku.

Senyuman manis di wajahnya menghilang.

“Bibi.”

Dia perlahan meletakkan cangkir teh.

“Saya rasa lebih baik kita bicara terus terang.”

Aku menatapnya.

“Silakan.”

“Adrian sangat mencintai saya.”

“Aku tahu.”

“Dan kami serius ingin menikah.”

Aku mengangguk.

“Itu hal yang baik.”

Dia tersenyum.

Lalu mengeluarkan sebuah map dari tasnya.

Dan meletakkannya di atas meja.

“Tapi sebelum menikah, saya punya beberapa syarat.”

Aku membuka map itu.

Halaman pertama berisi tentang rumah mewah.

Halaman kedua mengenai mobil impor mahal.

Halaman ketiga tentang uang tunai senilai 5 miliar rupiah.

Dan di halaman terakhir…

tertulis bahwa seluruh kepemilikan toko roti keluarga kami harus dipindahkan atas namanya setelah pernikahan.

Aku mengangkat kepala.

“Ini benar-benar keinginanmu?”

“Ya.”

Jawabannya tenang.

“Keluarga saya kaya. Saya tidak bisa menikah tanpa jaminan.”

Aku menutup map itu.

“Adrian tahu tentang ini?”

“Dia pasti akan setuju.”

“Dan orang tuamu?”

“Saya menentukan hidup saya sendiri.”

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya malam itu.

“Kenapa Bibi tertawa?”

Aku menatapnya lurus.

“Kau bilang keluargamu kaya.”

“Ya.”

“Orang tuamu tinggal di luar negeri.”

“Ya.”

“Kalau begitu…”

Aku mengambil sebuah amplop dari laci.

“…mengapa wanita di foto ini masih berjualan sayur di pasar tradisional dua bulan lalu?”

Senyumnya langsung membeku.

Aku meletakkan foto-foto lainnya satu per satu.

Dan setiap kali sebuah foto jatuh di atas meja…

wajahnya semakin pucat.

“Anda…”

Suaranya bergetar.

“Dari mana Anda mendapatkan foto-foto itu?”

Tepat pada saat itu.

Pintu rumah terbuka.

Adrian masuk kembali.

“Bu, kalian sedang membicarakan apa?”

Sebelum aku sempat menjawab.

Wanita itu tiba-tiba berdiri.

Wajahnya sangat pucat.

Tatapannya tertuju ke arah pintu.

Seolah melihat hantu.

Aku dan Adrian serempak menoleh.

Di luar rumah.

Berdiri seorang wanita paruh baya dengan seragam petugas kebersihan.

Di tangannya terdapat ponsel tua yang sudah usang.

Begitu melihat wanita muda itu…

air matanya langsung jatuh.

“Nak…”

Gelas yang dipegang wanita muda itu terlepas dari tangannya.

Jatuh ke lantai.

Dan pecah berkeping-keping.

Pada saat itulah…

aku tahu bahwa dia tidak akan bisa lagi menyembunyikan rahasia terbesar dalam hidupnya.

Bagian selanjutnya dari cerita ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca keseluruhan cerita… Semoga harimu menyenangkan! 👇

Air mata wanita paruh baya itu terus mengalir.

“Nak…”

Suara itu penuh kerinduan dan rasa sakit yang telah dipendam selama bertahun-tahun.

Seluruh tubuh gadis itu gemetar.

“Bu…”

Suara lirih itu membuat Adrian membeku.

Aku pun terdiam.

“Bu?” ulang Adrian dengan wajah bingung.

Bukankah selama ini dia mengatakan bahwa ibunya adalah seorang pemilik perusahaan properti di luar negeri?

Mengapa wanita yang berdiri di depan kami justru seorang petugas kebersihan?

Wanita itu melangkah perlahan.

“Aku hanya ingin melihatmu sekali saja.”

“Aku tidak datang untuk meminta uang.”

“Aku hanya mendengar dari tetangga bahwa kamu akan menikah…”

“Tapi sudah berbulan-bulan nomor teleponku diblokir.”

Gadis itu langsung menangis.

“Bu, jangan…”

“Tolong pulang…”

Namun wanita itu menggeleng sambil tersenyum pahit.

“Aku sudah pulang berkali-kali.”

“Tapi setiap kali, satpam apartemenmu mengusirku.”

“Aku hanya ingin melihat apakah kamu baik-baik saja.”

Suasana di ruang makan menjadi sunyi.

Adrian menatap tunangannya dengan tatapan asing.

“Jadi…”

“Semua yang kamu katakan selama ini bohong?”

Tubuh gadis itu semakin gemetar.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah kami, dia menangis sejadi-jadinya.

“Maaf…”

“Aku hanya takut.”

Takut?

Semua orang terdiam.

“Aku takut kalau kalian tahu siapa aku sebenarnya…”

“Kalian akan memandang rendah aku.”

“Aku takut kehilangan Adrian.”

“Dan aku takut… menjadi seperti ibuku.”

Wanita paruh baya itu langsung menutup mulutnya.

Air matanya jatuh semakin deras.

“Aku memang hanya petugas kebersihan.”

“Aku memang miskin.”

“Tapi selama dua puluh lima tahun…”

“Aku tidak pernah malu memiliki anak sepertimu.”

“Tapi hari ini…”

“Aku baru tahu bahwa anakku ternyata malu memiliki ibu seperti aku.”

Kalimat itu membuat gadis itu jatuh berlutut.

“Bu…”

“Aku salah…”

Tangisnya pecah.

Dan pada saat itulah…

Aku melihat sesuatu yang berbeda.

Bukan keserakahan.

Bukan kepura-puraan.

Melainkan seorang anak yang telah tersesat terlalu jauh karena rasa rendah diri.


Malam itu, Adrian masuk ke kamarku.

“Bu…”

“Maaf karena aku tidak melihat semua ini.”

Aku tersenyum pelan.

“Kesalahan terbesar bukanlah terlahir miskin.”

“Tetapi melupakan orang yang telah membesarkanmu.”

Adrian menundukkan kepala.

“Kalau begitu…”

“Apakah Ibu menolak pernikahan kami?”

Aku terdiam beberapa saat.

Lalu menjawab pelan.

“Itu tergantung.”

“Apakah dia ingin menjadi menantuku…”

“Atau ingin menjadi pemilik toko roti kita?”


Keesokan harinya.

Pagi-pagi sekali.

Bel rumah berbunyi.

Saat aku membuka pintu…

Gadis itu berdiri di sana.

Namun kali ini tidak ada tas bermerek.

Tidak ada jam tangan mahal.

Tidak ada sepatu mewah.

Dia hanya mengenakan pakaian sederhana.

Dan di sampingnya…

Ibunya berdiri dengan mata sembab.

Begitu melihatku, gadis itu langsung berlutut.

“Bibi…”

“Tidak…”

“Ibu…”

Air matanya jatuh tanpa henti.

“Aku tidak pantas memanggil Ibu seperti itu.”

“Tapi…”

“Bisakah Ibu memberiku kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik?”

Lalu dia mengeluarkan map yang sama dari tasnya.

Dan merobek seluruh isinya di depan kami.

“Aku tidak menginginkan rumah.”

“Aku tidak menginginkan mobil.”

“Aku tidak menginginkan uang.”

“Aku hanya ingin menikah dengan Adrian.”

“Dan mulai sekarang…”

“Aku ingin bisa menggandeng tangan ibuku di depan semua orang.”

Wanita paruh baya itu langsung menangis dan memeluk putrinya erat-erat.

Aku pun tidak bisa menahan air mataku.

Karena aku akhirnya mengerti.

Kemiskinan tidak pernah memalukan.

Yang memalukan adalah melupakan asal usul dan orang-orang yang telah berkorban demi kita.


Enam bulan kemudian.

Pernikahan Adrian dan Nadia berlangsung sederhana.

Tidak ada pesta mewah.

Tidak ada mahar miliaran rupiah.

Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga.

Saat Nadia berjalan menuju pelaminan…

Dia tidak menggandeng seorang pengusaha kaya.

Bukan pula seorang wanita bangsawan.

Melainkan tangan ibunya yang kasar karena terlalu lama memegang sapu dan kain pel.

Dan sambil menangis, Nadia berkata di depan semua tamu:

“Harta terbesar dalam hidup saya…”

“Bukanlah perhiasan atau uang.”

“Melainkan wanita yang selama ini diam-diam bekerja keras agar saya bisa hidup lebih baik.”

“Itu adalah ibu saya.”

Seluruh ruangan langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan.

Dan aku tahu…

Hari itu, bukan hanya seorang menantu yang datang ke keluargaku.

Tetapi seorang anak yang akhirnya menemukan jalan pulang.

TAMAT.