AKU MEMBANTU MENJEMPUT ANAK TETANGGA DARI PRESCHOOL HINGGA DUA KALI, TAPI DIA SELALU MEMARAHI AKU KARENA DIKATAKAN LAMBAT; PADA KALI KETIGA AKU MENOLAK, DI SITULAH SELURUH GRUP CONDO MENGETAHUI SESUATU YANG MENGERIKAN YANG DIA LAKUKAN MENGGUNAKAN NAMAKU**
—
## Bagian 1 — Dia tersenyum manis di depan lift, menyelipkan kartu penjemputan anaknya ke tanganku, lalu pergi begitu saja; tapi kemacetan dua belas menit justru dijadikannya alasan agar aku yang terlihat bersalah
Pukul 16.15 sore, hujan baru saja reda di Manila.
Aku sedang mengganti sepatu, satu tangan memegang kunci mobil, tangan lain membawa tas kecil berisi air dan banana bread untuk anak laki-lakiku, ketika bel pintu tiba-tiba berbunyi.
Kupikir itu petugas keamanan apartemen yang akan mengantar tagihan listrik atau air.
Tapi saat kubuka pintu, Mariel berdiri di lorong.
Dia tetangga baru yang pindah ke unit seberang kami sekitar tujuh bulan lalu. Kulitnya putih, rambutnya sedikit bergelombang, selalu wangi parfum manis, dan ketika berbicara suaranya lembut seperti penuh perhatian.
Di tangannya ada milk tea yang masih penuh topping boba.
Dia tersenyum padaku.
—Lara, kamu mau jemput Nico, kan?
Aku mengangguk.
—Iya, jam lima dia pulang sekolah hari ini.
Dia langsung tampak lega, seolah itu jawaban yang dia tunggu.
—Syukurlah. Basti juga satu sekolah dengan Nico. Bisa tolong sekalian dia pulang bersamamu?
Aku terdiam.
Basti adalah anak Mariel yang berusia lima tahun. Dia satu preschool dengan Nico, tapi berbeda kelas. Aku sudah beberapa kali melihatnya di taman bermain apartemen, anak yang pendiam dengan mainan dinosaurus hijau yang selalu dia peluk.
Aku bertanya:
—Kamu ada urusan hari ini?
Mariel mengusap pelipisnya, berpura-pura lelah.
—Kepalaku sakit, mungkin karena hujan lalu panas tiba-tiba. Baru juga bersih-bersih lantai, masih basah. Kamu kan juga ke sana, cuma satu anak tambahan saja, tidak akan merepotkan.
Ucapannya terdengar ringan.
Tapi tangannya sudah menyodorkan kartu penjemputan Basti.
Aku menatap kartu plastik itu, lalu wajah Mariel yang seolah yakin aku akan setuju.
Ada sesuatu yang mengganjal di dadaku.
Kami tidak dekat.
Hanya tetangga satu lantai. Saling sapa di lift. Pernah dia meminjam payung saat hujan deras. Pernah juga aku memberinya satu bungkus mangga kering karena kebetulan aku membeli terlalu banyak.
Sampai di situ saja.
Tapi di apartemen seperti ini, kalau kamu terlalu dingin, kamu bisa jadi bahan omongan. Apalagi di tempat kecil seperti ini, gosip lebih cepat menyebar daripada lift.
“Kita harus menjaga hubungan baik,” kata orang-orang.
Aku ragu.
—Apakah Basti ikut denganku?
Mariel langsung tersenyum.
—Tentu saja. Aku akan telepon gurunya. Kamu cukup tunjukkan kartunya.
Dia menyelipkan kartu itu ke tanganku.
—Terima kasih banyak ya. Kamu benar-benar penyelamatku.
Sebelum aku sempat menjawab, dia sudah kembali masuk ke unitnya dan menutup pintu.
Aku berdiri beberapa detik di depan pintu, memegang kartu dingin itu.
Nico berlari keluar dari dalam rumah, masih menarik ransel kecilnya di lantai.
—Mommy, kenapa berdiri di situ?
Aku memasukkan kartu itu ke tas.
—Kita juga akan menjemput Basti hari ini.
Mata Nico berkedip.
—Basti tahu?
Aku berhenti sejenak.
—Mungkin ibunya sudah bilang.
Dari apartemen ke preschool di Quezon City, biasanya hanya 18 menit. Tapi hari itu, setelah hujan, jalanan macet parah—jeepney, taksi, motor, mobil pribadi, dan tricycle semuanya menumpuk di persimpangan.
Sangat macet.
Aku duduk di mobil, melihat waktu berjalan lambat.
16:50.
16:56.
17:03.
Pesan dari Mariel muncul.
“Sudah sampai?”
Aku menjawab:
“Hampir sampai. Macet.”
Dia hanya membalas dengan emoji senyum.
Saat tiba di gerbang sekolah, area tunggu penuh orang tua. Ada yang membawa payung, bayi, bahkan ada yang video call dengan keluarga di kampung.
Aku menjemput Nico lebih dulu.
Dia berlari keluar dan memeluk kakiku, wajahnya masih ada bekas krayon.
—Mommy, aku menggambar pesawat luar angkasa hari ini.
Aku mengusap kepalanya.
—Bagus sekali. Ayo kita ke kelas Basti.
Aku menyerahkan kartu ke guru kelas sebelah.
Guru itu menatap kartu lalu menatapku.
—Apakah Anda ibu Basti?
Aku menggeleng.
—Saya tetangganya. Ibu Basti meminta saya menjemputnya bersama Nico.
Guru itu ragu.
—Kami perlu konfirmasi telepon.
Aku langsung menelepon Mariel.
Dia cepat menjawab, tapi yang pertama dia katakan bukan tentang anaknya.
—Kenapa lama sekali?
Aku berusaha tenang.
—Guru perlu konfirmasi. Tolong bicara dengan mereka dulu.
Mariel menghela napas, seperti prosedur sekolah itu merepotkan.
—Berikan saja teleponnya.
Guru berbicara dengannya, menanyakan beberapa hal, baru setelah itu Basti dikeluarkan.
Dia berdiri di belakang guru, memeluk dinosaurus hijau, menatapku dengan takut.
Aku berlutut agar sejajar dengannya.
—Basti, aku Tante Lara, tetangga kalian. Ibumu meminta aku menjemputmu bersama Nico.
Dia tidak menjawab.
Nico menarik lenganku pelan.
—Mommy, dia takut.
Aku tersenyum pada Basti.
—Tidak apa-apa. Kamu duduk saja di sebelah Nico. Kita langsung pulang, nanti kamu akan bertemu ibumu.
Di perjalanan ke mobil, Basti terus menoleh ke belakang. Aku harus berjalan pelan, satu tangan memegang Nico, satu lagi memegang ransel Basti agar dia tidak hilang di keramaian.
Saat keluar gerbang, Basti tiba-tiba berkata pelan:
—Aku lapar.
Nico langsung berkata:
—Mommy, kita punya banana bread.
Aku mengambil banana bread, tapi berhenti.
Kalau hanya Nico yang makan, Basti bisa merasa tidak nyaman.
Kalau aku memberinya tanpa izin ibunya, Mariel bisa menuduhku macam-macam.
Akhirnya aku membeli dua ensaymada kecil di bakery depan sekolah. Satu untuk Nico, satu untuk Basti.
Aku bahkan mengirim foto ke Mariel.
“Basti bilang lapar. Aku beli ensaymada di bakery depan sekolah. Masih tersegel.”
Dia tidak membalas.
Perjalanan pulang masih macet.
Di kursi belakang, dua anak itu mulai berbicara. Nico bercerita tentang pesawat luar angkasanya. Basti awalnya diam, lalu ikut bercerita tentang lagu di sekolah.
Mendengar mereka, rasa kesalku sedikit mereda.
Tidak ada salahnya anak-anak.
Itu yang kupikirkan.
Tapi begitu mobil masuk basement, ponselku bergetar.
Pesan dari Mariel:
“Kalian sudah sampai? Basti tidak biasa makan terlambat.”
Dadaku langsung sesak.
Aku tidak jalan-jalan.
Tidak berhenti.
Tidak dibayar.
Aku hanya membantu.
Tapi nada pesannya seperti aku pegawai yang terlambat mengantar sesuatu.
Saat lift terbuka di lantai 12, Mariel sudah menunggu di depan pintu.
Dia tidak memakai sandal rumah. Dia memakai sandal rapi, rambut tertata, lip gloss masih ada.
Milk tea-nya tinggal setengah.
Begitu melihat Basti, dia langsung menarik anak itu.
Lalu menatap ponselnya.
—Kenapa kalian terlambat 12 menit?
Aku terdiam.
Nico menatapku.
Aku menarik napas panjang.
—Macet. Dan guru harus konfirmasi dulu. Basti juga takut di awal, jadi sedikit lama.
Mariel mengerutkan dahi.
—Tapi kamu tahu dia cepat lapar. Kalau anak lapar, bisa sakit perut.
Aku menyerahkan kantong roti.
—Dia bilang lapar, jadi aku beli ensaymada untuk mereka. Dari bakery dekat sekolah. Masih tersegel.
Mariel menatap kantong itu.
Dia tidak langsung mengambilnya.
Lalu dia menunduk ke Basti.
—Kamu benar-benar lapar, sayang?
Basti menatapku, lalu ibunya.
Pelan dia berkata:
—Aku sudah makan roti.
Wajah Mariel sedikit berubah.
Dia mengambil kantong itu dengan dua jari, seperti terpaksa.
—Lain kali bisa lebih cepat? Kamu tahu ramai di gerbang. Kalau kamu tahu akan antri, harusnya berangkat lebih awal.
Kata “lain kali” itu membuat dadaku dingin.
Tidak akan ada lain kali.
Aku hanya membantu sekali.
Aku menatapnya.
—Mariel, aku membantu karena kamu bilang kamu sakit.
Dia langsung tersenyum, seperti tidak mendengar nada suaraku.
—Aku tahu, aku tahu. Kamu memang baik.
Setelah itu dia menarik Basti masuk ke unitnya.
Tanpa terima kasih.
Tanpa bertanya apakah aku kesulitan.
Pintu tertutup.
Nico berdiri di sampingku, masih memegang tas kecilnya.
Pelan dia bertanya:
—Mommy, Tita Mariel marah sama kamu?
Aku berlutut melepas sepatunya.
—Mungkin dia hanya khawatir pada Basti.
Nico menoleh.
—Tapi kamu sudah belikan dia roti.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Malam itu, setelah Nico tidur, aku baru membuka ponsel.
Di grup penghuni lantai 12, lebih dari 30 pesan muncul.
Pesan pertama dari Mariel.
“Ada orang yang mau bantu jemput anak tapi sangat tidak bertanggung jawab. Anak sampai lapar saat pulang sekolah, dan tetap terlambat. Jujur saja, kalau soal anak tidak bisa sembarangan.”
Ada yang bertanya:
“Siapa itu, Mariel?”
Dia menjawab dengan emoji tertawa.
“Tidak usah dibahas. Kita akan ketemu di apartemen juga.”
Yang lain berkata:
“Benar juga. Kalau sudah janji harus tanggung jawab.”
“Kasihan anaknya kalau sampai kelaparan.”
Aku menatap layar, setiap kata seperti jatuh ke dadaku.
Belum sempat aku membalas, ada pesan pribadi dari Mariel:
“Besok datang lebih awal ya. Basti tadi makan dua mangkuk nasi. Mungkin dia sangat lapar.”
Tanganku dingin.
Dan di saat itu, muncul screenshot di grup.

Gambar dari kamera lorong.
Aku sedang berjalan keluar lift, bersama Nico dan Basti.
Caption Mariel:
“Inilah yang saya maksud. Tapi lihat saja wajah anak saat pulang, menyakitkan sekali.”
BAGIAN 2 — Kebohongan yang Terbongkar di Depan Pintu
Kali kedua aku menjemput Basti, itu adalah sebuah kesalahan besar.
Aku melakukannya demi meredam drama di grup chat. Saat sampai, Basti menumpahkan sedikit air mineral di celananya. Mariel, bukannya berterima kasih karena aku sudah menempuh kemacetan, justru memelototi noda basah itu di depan tetangga lain.
—Lara, kamu tidak bisa menjaga anak kecil untuk tidak menumpahkan air? Baju ini mahal, kamu tahu?
Dia bahkan tidak bertanya apakah Nico dan Basti selamat di jalan. Dia hanya peduli pada reputasi dan penampilannya sendiri.
Hari Ketiga: Batas yang Akhirnya Putus
Hari Selasa, dua hari kemudian.
Mariel mengirim pesan pukul 15.00: “Lara, jemput Basti. Aku harus ke salon.”
Kali ini, aku tidak membalas “oke”. Aku sedang memimpin rapat virtual dengan klien di Singapura.
Aku membalas singkat: “Maaf, Mariel. Aku tidak bisa. Aku ada meeting penting sampai sore.”
Pesan balasan datang dengan cepat, penuh kemarahan: “Jangan egois! Kamu cuma kerja dari rumah. Tinggalkan saja laptopmu sebentar. Basti tidak akan makan kalau kamu tidak menjemputnya.”
Aku mematikan ponsel. Aku tidak akan membiarkan anakku, Nico, melihat ibunya dijadikan pesuruh oleh orang asing yang tidak tahu diri.
Sesuatu yang Mengerikan
Keesokan harinya, suasana apartemen terasa berbeda.
Saat aku membuka pintu untuk membuang sampah, ada dua pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam berdiri di depan unit unit Mariel. Mereka tidak mengetuk pintu, mereka menggedornya.
Lalu, salah satu dari mereka berjalan ke arah unitku.
Jantungku berdegup kencang.
—Apakah Anda penghuni unit 12-B? —tanya pria itu, menatap kertas di tangannya.
—Ya. Ada apa?
—Mariel Santos mencantumkan nama, nomor telepon, dan unit Anda sebagai penjamin utama dalam aplikasi pinjaman online high-interest miliknya.
Duniaku berhenti berputar.
—Apa? Saya tidak pernah menandatangani apa pun!
—Dia menggunakan fotokopi KTP Anda—mungkin Anda pernah meminjamkan dokumen untuk urusan administrasi apartemen?—untuk memverifikasi identitas penjamin. Dia sudah gagal bayar selama dua bulan.
Tiba-tiba, ponselku bergetar hebat. Grup WhatsApp Condo berisik sekali.
Puluhan pesan masuk dalam hitungan detik.
Ternyata, kolektor itu tidak hanya datang padaku. Mariel telah melakukan hal yang sama pada tiga tetangga lainnya. Dia menggunakan identitas kami, nomor telepon kami, dan unit kami sebagai jaminan untuk barang-barang mewah dan pinjaman yang tidak pernah dia bayar.
Tetapi, yang paling mengerikan bukan sekadar soal uang.
Di grup itu, seorang tetangga mengirimkan tangkapan layar dari sebuah situs jual beli barang bekas. Mariel ternyata menggunakan namaku untuk menjual barang-barang curian—barang-barang yang dia ambil dari paket milik tetangga lain di lobi apartemen.
Dia mencantumkan namaku sebagai penjual: “Lara – Penghuni Unit 12-B. Terpercaya.”
Seluruh grup meledak.
“Lara, apa maksudnya ini? Paket bukuku hilang minggu lalu dan sekarang ada di akunmu?” tulis Pak RT.
“Aku juga! Sepatuku hilang, dan akun Mariel menjualnya dengan referensi Lara?”
Mariel keluar dari unitnya saat para kolektor masih menggedor pintunya. Dia mencoba memprotes, tapi begitu melihat puluhan tetangga sudah berdiri di lorong, dia terdiam.
Dia mencoba menunjukku.
—Ini salah dia! Dia yang mengizinkan saya menggunakan alamatnya!
Aku menatapnya dengan tenang, lalu mengangkat ponselku.
—Aku sedang merekam percakapan ini, Mariel. Dan aku baru saja menelepon pihak keamanan gedung serta kepolisian.
Ruangan itu hening.
Mariel akhirnya menyadari bahwa permainan “tetangga baik” yang dia mainkan untuk menutupi kejahatannya telah berakhir. Topengnya retak, dan untuk pertama kalinya, bukan aku yang terlihat panik, melainkan dia yang gemetar ketakutan di depan semua orang yang selama ini dia tipu.
Setelah semua kekacauan ini terungkap dan Mariel akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib, suasana di apartemen perlahan kembali tenang, meski kepercayaan antar tetangga sempat terguncang.
Menurutmu, apakah sebaiknya Lara melaporkan Mariel ke pihak berwajib atas pencurian identitas dan penipuan, ataukah ia harus mencoba menyelesaikannya secara kekeluargaan di dalam gedung apartemen terlebih dahulu?