Posted in

DI HARI ULANG TAHUN MERTUAKU, AKU PULANG UNTUK MENYIAPKAN HIDANGAN, TAPI YANG KU TEMUKAN DIA DUDUK SENDIRIAN DI MEJA, HANYA SEGELAS AIR DI DEPANNYA, SEMENTARA SELURUH KELUARGA BERLEHA-LEHA DI SOFA MENUNGGUKU SEPERTI PEMBANTU**

DI HARI ULANG TAHUN MERTUAKU, AKU PULANG UNTUK MENYIAPKAN HIDANGAN, TAPI YANG KU TEMUKAN DIA DUDUK SENDIRIAN DI MEJA, HANYA SEGELAS AIR DI DEPANNYA, SEMENTARA SELURUH KELUARGA BERLEHA-LEHA DI SOFA MENUNGGUKU SEPERTI PEMBANTU**

## BAGIAN 1 — Aku Pulang Lebih Awal untuk Menyiapkan Bihun dan Ayam Kecap, Tapi yang Kutemukan adalah Seorang Ayah Tua yang Tersenyum Meski Belum Makan Apa-apa

Aku pulang lebih awal dari klinik hari itu.

Bukan karena tidak ada pasien.
Bukan juga karena aku terlalu lelah.

Aku minta izin kepala perawat karena hari itu ulang tahun mertuaku, Mang Renato. Dia sudah berusia 69 tahun, dan beberapa minggu terakhir terus berkata bahwa dia tidak perlu perayaan besar.

Tapi aku tahu arti sebenarnya dari ucapan orang tua seperti itu.

Kalau mereka bilang “tidak usah repot-repot”, biasanya maksudnya: *“tolong tetap ingat aku.”*

Malam sebelumnya, aku sendiri yang membeli ayam, daging babi, udang, sayuran untuk capcay, bihun untuk bihun goreng, dan sebuah kue bulat yang sudah aku pesan di toko kecil dekat pasar.

Rencanaku sederhana: begitu pulang, aku langsung masuk dapur.

Aku akan memasak ayam kecap, bihun, lumpia, sup asam udang, dan ayam goreng untuk anak-anak.

Sederhana.
Tapi lengkap.
Hangat.
Penuh hormat.

Saat pintu lift lantai lima terbuka, aku sudah mendengar keributan dari unit kami.

Bukan suara wajan.
Bukan suara pisau.
Bukan suara minyak mendidih.

Yang terdengar adalah tawa dari video TikTok, suara kulit kacang dikupas, anak-anak berteriak berebut remote, dan suara keras seorang pria menonton vlog sabung ayam.

Dadaku langsung terasa sesak.

Begitu pintu kubuka, rasanya seperti masuk ke ruang tunggu terminal.

Penuh.

Kakak iparku, Arman, sedang rebahan di sofa dengan satu kaki di atas bantal hadiah yang dulu kubelikan untuk Mang Renato saat Natal.

Dia bahkan tidak melepas sepatunya.

Di sampingnya ada istrinya, Lani, sedang live jualan di ponsel sambil memegang es teh.

Di kursi lain ada Jessa, adik bungsu, dan suaminya Ogie, sibuk mengupas biji semangka.

Anak-anak mereka berlarian di ruang tamu, menggunakan meja kecil sebagai lintasan mainan mobil.

Pot bunga kesayangan Mang Renato, berisi sampaguita kecil, sudah jatuh ke lantai dan hampir terinjak-injak.

Tidak ada yang peduli.

Tidak ada yang mengingat ini hari ulang tahun.

Aku berhenti di pintu.

Di sana aku melihat Mang Renato.

Dia duduk sendirian di meja makan.

Pakaiannya rapi, kemeja putih yang sudah disetrika, yang kubelikan bersama Nico dari gaji terakhirku.

Rambutnya disisir rapi.

Sedikit bedak masih ada di lehernya.

Di depannya hanya segelas air.

Tidak ada piring.
Tidak ada sendok.
Tidak ada nasi.
Tidak ada makanan sama sekali.

Saat dia melihatku, dia langsung berdiri.

—Maya, kamu sudah datang.

Dia tersenyum.

Tapi senyum itu seperti kertas basah. Rapuh.

Aku menahan sesak di tenggorokan.

—Pa, sudah makan?

Dia tidak langsung menjawab.

Sebelum dia bicara, Lani dari sofa menyahut:

—Akhirnya, chef keluarga datang juga.

Dia tertawa, tapi aku tidak.

Jessa bahkan tidak menoleh.

—Kak Maya, kamu lama sekali. Anak-anak sudah lapar.

Aku melihat jam dinding.

05.30 sore.

—Kalian datang jam berapa?

Ogie menjawab sambil meludah kulit biji semangka ke tisu:

—Jam 12. Kami datang lebih awal dong. Kan ulang tahun Papa.

—Kalau dari siang kalian di sini, kenapa tidak ada makanan?

Ruang tamu tiba-tiba sunyi.

Arman menatapku seperti aku yang salah.

—Maya, kamu kan yang paling bisa masak. Wajar kalau kamu yang siapkan.

Aku meletakkan tasku perlahan di kursi.

—Wajar?

Jessa mengangkat alis.

—Jangan mulai. Kalau kami masak, kamu juga pasti komentar.

Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke dapur.

Begitu lampu dapur kubuka, tanganku langsung dingin.

Kompor bersih.

Terlalu bersih.

Tidak ada bekas masakan sama sekali.

Tidak ada minyak. Tidak ada wajan panas. Tidak ada sisa bawang.

Aku membuka kulkas.

Ayam sudah hilang.

Babi sudah hilang.

Udang sudah hilang.

Bihun sudah sobek plastiknya.

Yang tersisa hanya setengah kol yang menghitam dan dua tomat.

Aku memanggil mereka.

—Di mana bahan-bahan yang aku beli semalam?

Lani menjawab duluan:

—Oh ayam itu? Sudah aku air fryer untuk anak-anak. Mereka lapar.

Jessa tersenyum santai:

—Udangnya aku bawa pulang dulu. Anak kecilku suka banget. Sayang kalau tidak dimakan.

Ogie mengangkat bahu:

—Babi tidak kami sentuh. Lama masaknya. Gas mahal.

Aku keluar dari dapur.

Aku menatap satu per satu.

—Jadi kalian datang siang, makan ayamnya, bawa pulang udang, habiskan dapur, lalu membiarkan Papa duduk di meja hanya dengan segelas air?

Arman mengerutkan wajah.

—Kamu lebay. Kita ini keluarga.

—Keluarga?

Kata itu seperti menusuk.

Di keluarga ini, kalau butuh uang, kita “keluarga”.
Kalau bayar listrik, Nico.
Kalau check-up Papa, aku.
Kalau ulang tahun, aku juga yang masak.
Kalau ada utang, semuanya hilang atas nama “keluarga”.

Mang Renato memegang lenganku.

—Maya, sudah. Nanti Nico datang. Kita beli saja bihun dari luar.

Suaranya pelan.

Bukan karena marah.
Tapi karena sudah terbiasa menahan.

Aku menarik napas dalam.

—Pa, saya buatkan mie dulu. Tidak boleh hanya minum air.

Lani langsung berdiri.

—Jangan dulu. Kalau kamu masak mie, bagaimana pesta ini? Kita kan banyak.

Aku menatapnya.

—Kalian mau aku masak untuk semua?

—Ya tentu. Ini ulang tahun Papa. Harus ada bihun, lauk, kue. Jangan seperti hari biasa.

—Siapa yang beli kue?

Diam.

—Siapa yang beli bihun?

Masih diam.

—Siapa yang bayar semuanya?

Tidak ada yang menjawab.

Arman batuk kecil.

—Maya, jangan semua dihitung uang. Suami kamu kan mampu.

Aku tertawa kecil. Tidak ada humor di dalamnya.

Sebelum aku menjawab, terdengar kunci di pintu.

Nico masuk.

Dia membawa kotak kue di satu tangan, dan plastik obat Papa di tangan lain.

Dia berhenti.

Melihat ruang tamu.

Melihat dapur.

Melihat ayahnya duduk dengan segelas air.

Dia meletakkan kue.

—Papa sudah makan?

Tidak ada yang menjawab.

—Aku tanya sekali lagi. Papa sudah makan?

Mang Renato tersenyum paksa.

—Tidak apa-apa, Nak. Aku belum lapar.

Nico menatapku.

—Maya, kompor dipakai?

Aku menggeleng.

—Tidak.

Dia diam beberapa detik.

Lalu dia keluar.

Jessa tersenyum sinis.

—Drama lagi.

Beberapa menit kemudian, Nico kembali.

Dia membawa kantong plastik dari warung bawah.

Dia mengeluarkan lima bungkus mie instan.

Menjatuhkannya di meja.

Suara itu tidak keras.

Tapi terasa seperti sesuatu di rumah ini pecah.

—Ini pesta kalian malam ini.

Lalu dia mengeluarkan amplop cokelat.

Dia taruh di samping mie.

—Tapi sebelum makan, kita buka dulu semua utang, struk, dan kebohongan.

Wajah Jessa langsung pucat.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, seluruh ruangan benar-benar diam.

BAGIAN 2 — Amplop Cokelat dan Batas Kesabaran yang Habis

Nico membuka amplop cokelat itu dengan tenang. Terlalu tenang, hingga ruangan terasa mencekam.

Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas. Kertas tagihan, bukti transfer, dan surat teguran dari bank.

—Jessa, ini surat peringatan ketiga untuk motor Ogie yang memakai namaku. Sudah tiga bulan tidak dibayar.

Jessa langsung membuang muka, pura-pura sibuk dengan ponselnya.

—Dan ini, — Nico beralih ke Arman, — bukti transfer uang pengobatan Papa bulan lalu. Kamu bilang kamu yang pegang uangnya, tapi kenapa klinik menelepon Maya karena pembayarannya menunggak? Ke mana uangnya, Mas?

Arman berdehem, wajahnya memerah.

—Nico, waktu itu anakku butuh bayar SPP. Lagipula, kamu kan banyak uang. Jangan pelit sama saudara sendiri.

Lani ikut menimpali, suaranya melengking membela suaminya.

—Iya, Nico! Kamu dan Maya ini keterlaluan. Cuma karena masalah makanan dan uang sedikit, kalian mempermalukan kami di depan anak-anak? Kami ini datang untuk merayakan ulang tahun Papa!

Kebenaran yang Menampar

Maya melangkah maju, menjajari suaminya. Rasa takutnya sudah hilang, digantikan oleh harga diri yang telanjur diinjak-injak.

—Merayakan? — suara Maya bergetar, namun tegas. — Kalian datang jam 12 siang. Kalian menghabiskan semua bahan makanan yang kubeli dengan uang gajiku. Kalian membiarkan Papa kelaparan, duduk sendiri tanpa sepiring nasi pun di mejanya, sementara kalian bersenang-senang di sofa?

Maya menunjuk pot bunga Mang Renato yang hancur di lantai.

“Itu bukan merayakan. Kalian hanya menumpang makan gratis, merusak rumah kami, dan memperlakukan Papa seperti pajangan!”

Ogie berdiri, mencoba menantang Nico.

—Sudahlah! Kalau tidak ikhlas, kami pulang! Repot amat. Ayo Jessa, bawa anak-anak. Keluarga macam apa ini, pelitnya setengah mati.

—Tunggu, — potong Nico tajam. Langkah Ogie terhenti.

Nico mengambil lima bungkus mie instan di meja dan memasukkannya kembali ke kantong plastik. Dia melemparkan plastik itu ke pelukan Arman.

—Bawa ini. Ini makanan terakhir yang kalian dapatkan dari rumahku. Mulai besok, aku akan memblokir semua nomor kalian. Tagihan motor akan kuserahkan ke debt collector, dan jangan pernah mengemis sepeser pun lagi padaku atau Maya.

Akhir yang Hangat untuk Mang Renato

Ruang tamu mendadak riuh dengan makian dan gerutu. Arman, Lani, Jessa, dan Ogie bergegas pergi sambil menghentakkan kaki, membawa anak-anak mereka yang menangis karena bingung.

Pintu unit apartemen tertutup dengan dentuman keras.

Seketika, rumah menjadi sunyi. Sunyi yang melegakan.

Maya berlutut di depan kursi Mang Renato. Dia menggenggam tangan mertuanya yang gemetar.

—Pa… maafkan Maya. Acara ulang tahun Papa jadi hancur begini.

Mang Renato menggeleng perlahan. Air mata menetes di pipinya yang keriput, namun senyumnya kali ini tidak lagi seperti kertas basah. Senyum itu tulus, penuh rasa syukur.

—Tidak, Maya. Justru Papa yang berterima kasih. Selama ini Papa diam karena tidak ingin kalian bertengkar. Tapi malam ini, Papa sadar… Papa tidak sendirian. Papa punya kamu dan Nico. Itu sudah lebih dari cukup.

Nico tersenyum, mengusap bahu ayahnya, lalu menatap Maya dengan tatapan penuh terima kasih.

—Ayo, Pa. Kita ganti baju, — ucap Nico hangat. — Kita tidak butuh pesta besar dengan orang-orang yang memanfaatkan kita. Malam ini, kita bertiga makan di restoran buffet hotel yang baru buka itu. Papa bisa makan apa saja sepuasnya.

Sebuah Awal yang Baru

Malam itu, mereka bertiga meninggalkan rumah yang berantakan.

Di dalam mobil, Mang Renato duduk di depan bersama Nico, tertawa mendengar cerita suaminya tentang pasien-pasien lucu di klinik hari itu. Maya melihat mereka dari kursi belakang, merasakan kehangatan yang sesungguhnya menjalar di dadanya.

Tidak ada bihun goreng buatan rumah, tidak ada lumpia, dan tidak ada keramaian palsu.

Namun di dalam mobil kecil itu, di antara tawa seorang ayah yang dihargai dan ketulusan anak-menantu yang melindungi, perayaan ulang tahun yang sesungguhnya baru saja dimulai.