Enam bulan kemudian, aku bertemu dengannya lagi di rumah sahabat terbaikku.
Dan pada saat itu juga, dia mengetahui bahwa akulah wanita yang pernah membohonginya…
Dulu, aku pernah berpura-pura menjadi seorang pengusaha sukses demi berkenalan dengan seorang pria tampan di internet.
Padahal kenyataannya, saat itu aku hanyalah mahasiswi tingkat akhir yang masih hidup dari uang saku orang tuaku.
Namun karena terbawa suasana, aku dengan bangga mengaku sebagai pemilik jaringan kedai kopi terkenal di Indonesia.
Aku tidak menyangka dia akan mempercayaiku.
Bukan hanya percaya.
Dia bahkan sangat mengagumiku.
Setiap hari, dia selalu mengucapkan selamat pagi dan selamat malam.
Sesekali dia bahkan serius bertanya tentang rahasia kesuksesanku dalam berbisnis.
Awalnya, aku hanya berniat bercanda selama beberapa hari.
Tetapi satu kebohongan berubah menjadi ratusan kebohongan hanya untuk menutupi kenyataan.
Saat aku sadar bahwa aku benar-benar mencintainya, semuanya sudah terlambat.
Aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya.
Apalagi mengakui bahwa aku hanyalah seorang mahasiswi biasa.
Karena itu, sebulan sebelum wisuda, aku menghilang dengan kemauanku sendiri.
Aku memblokir semua akunnya.
Mengganti nomor telepon.
Dan memutus semua komunikasi.
Kupikir kami tidak akan pernah bertemu lagi.
Sampai enam bulan kemudian.
Sahabat terbaikku, Bella, mengajakku bekerja sementara di resor milik keluarganya.
“Kami sedang kekurangan orang.”
“Bantu saja selama beberapa minggu.”
Aku langsung menyetujuinya.
Namun baru saja memasuki lobi resor, aku melihat seorang pria berdiri di depan meja resepsionis.
Dia mengenakan kemeja putih sederhana.
Tubuhnya tinggi.
Dan memiliki aura dingin yang membuat orang enggan mendekat.
Namun bukan penampilannya yang membuat napasku terhenti.
Melainkan suaranya.
Suara yang pernah menemaniku dalam ribuan panggilan setiap malam.
Aku terpaku.
Bella menarik tanganku.
“Apa yang kamu lihat?”
Aku menunjuk pria itu.
“Siapa dia?”
“Sepupuku.”
Jawab Bella santai.
“Dia baru pulang dari luar negeri untuk mengelola resor ini.”
Dunia seakan runtuh.
Aku memaksakan senyum.
“Namanya siapa?”
“Marco.”
Aku hampir kehabisan napas.
Karena Marco juga nama pria yang pernah kucintai secara online.
Aku mencoba menenangkan diri.
Banyak orang memiliki nama yang sama.
Pasti hanya kebetulan.
Namun malam itu, saat kami makan malam bersama, aku mendengar kepala pelayan berkata:
“Tuan Marco, ternyata akun game lama Anda masih aktif.”
Marco tersenyum tipis.
“Aku sudah tidak memakainya lagi.”
“Sejak aku ditipu dan ditinggalkan seseorang, aku berhenti bermain.”
Garpu di tanganku terjatuh.
Klang!
Suara itu menggema ke seluruh ruangan.
Semua orang menoleh ke arahku.
Termasuk Marco.
Selama beberapa detik, dia menatapku.
Alisnya sedikit berkerut.
Seolah sedang mencoba mengingat sesuatu.
Aku segera mengalihkan pandangan.
Namun sejak saat itu, aku bisa merasakan bahwa dia mulai memperhatikanku.
Dan keadaan menjadi semakin menakutkan pada hari-hari berikutnya.
Ke mana pun aku pergi.
Marco seolah selalu berada di sana.
Saat aku berada di area kolam renang, dia ada di sana.
Saat aku membantu di restoran, dia juga datang.
Bahkan ketika aku bersembunyi di gudang untuk beristirahat.
Begitu membuka pintu, wajahnya langsung muncul di hadapanku.
Seolah-olah dia sengaja mengawasiku.
Hingga pada suatu malam yang diguyur hujan deras.
Listrik di seluruh resor tiba-tiba padam.
Aku membawa senter sambil memeriksa fasilitas.
Tiba-tiba seseorang menarikku masuk ke sebuah ruangan gelap.
Pintu tertutup keras.
Sebelum aku sempat berteriak, sebuah suara dingin berbisik di dekat telingaku.
“Sampai kapan kamu akan terus bersembunyi dariku?”
Tubuhku membeku.
Kilatan petir di luar menerangi wajah pria di hadapanku.
Marco.
Dia menatapku.
Mata dinginnya kini dipenuhi emosi yang selama ini dia pendam.
Dia mengambil ponselnya.
Dan menunjukkan foto lama dari akun yang pernah kugunakan untuk berbicara dengannya.
Lalu dia tersenyum.
Senyum yang membuat seluruh tubuhku gemetar.
“Akhirnya aku menemukanmu.”
“Pengusaha terkenal pemilik jaringan kedai kopi itu…”
“Atau sebaiknya aku memanggilmu mahasiswi biasa yang telah membohongiku selama satu tahun?”
Aku bahkan belum sempat memikirkan jawaban.
Ketika tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dengan keras.
Seorang wanita berteriak panik.
“Tuan Marco!”
“Terjadi sesuatu!”
“Pak Rafael mengalami kecelakaan!”
Wajah Marco langsung berubah.
Sementara aku membeku di tempat.
Karena ketika pintu terbuka, aku melihat kalung yang dikenakan wanita itu.
Di sana tergantung sebuah liontin tua.
Satu-satunya kenang-kenangan yang ditinggalkan ayahku yang menghilang lima belas tahun lalu…
BERSAMBUNG…
Bagian selanjutnya dari kisah ini ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca keseluruhan cerita…
Semoga harimu menyenangkan! 👇

Aku langsung mengejar wanita itu.
Namun Marco lebih cepat dariku.
Dia segera membawa Pak Rafael ke rumah sakit.
Aku ikut bersama mereka.
Sepanjang perjalanan, mataku tak pernah lepas dari liontin tua yang tergantung di leher wanita itu.
Liontin berbentuk bulan sabit.
Liontin yang sama persis dengan milikku.
Dulu, ayahku membelahnya menjadi dua bagian.
Beliau berkata bahwa suatu hari nanti, kedua bagian itu akan kembali bertemu.
Tetapi lima belas tahun lalu…
Ayahku menghilang dalam sebuah kecelakaan kapal.
Dan sejak hari itu, aku tak pernah melihatnya lagi.
Di rumah sakit, Pak Rafael akhirnya berhasil diselamatkan.
Namun ketika aku sedang berdiri di luar ruang ICU, wanita tadi tiba-tiba menghampiriku.
Air matanya mengalir deras.
“Kamu…”
“Apakah namamu Sofia?”
Aku membeku.
Wanita itu gemetar.
Lalu perlahan mengeluarkan foto lama yang sudah memudar.
Di foto itu…
Ada seorang pria muda yang sedang menggendong seorang anak perempuan berusia lima tahun.
Dan anak itu…
Adalah aku.
Air mata langsung memenuhi mataku.
“Darimana Ibu mendapatkan foto ini?”
Wanita itu menangis.
“Aku adik ayahmu…”
“Dua puluh tahun lalu aku bekerja di luar negeri.”
“Saat aku kembali, kakakku sudah menghilang.”
“Kami mencarimu selama bertahun-tahun.”
Tubuhku melemas.
Ternyata…
Aku masih memiliki keluarga.
Dan selama lima belas tahun ini, mereka tidak pernah berhenti mencariku.
Saat itulah dokter keluar dari ruang ICU.
Pak Rafael sadar.
Dan hal pertama yang beliau lakukan adalah memintaku masuk.
Begitu melihatku.
Pria tua itu langsung menangis.
“Sofia…”
Tubuhku bergetar.
Karena suara itu…
Suara itu sama persis dengan suara ayahku.
Beliau mengangkat tangan yang gemetar.
Dan menunjukkan liontin yang separuhnya selama ini kusimpan.
Ternyata…
Pak Rafael.
Pemilik resor terbesar di Bali.
Pria yang selama ini dipanggil semua orang sebagai “Tuan Rafael”.
Adalah ayah kandungku.
Lima belas tahun lalu, beliau mengalami kecelakaan kapal.
Beliau kehilangan ingatan.
Dan baru tiga tahun terakhir ingatannya mulai kembali sedikit demi sedikit.
Namun beliau tidak pernah berhenti mencari putri kecilnya.
Tangisku pecah.
Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun…
Aku kembali memeluk ayahku.
Dan menangis seperti anak kecil.
Di sampingku, Marco hanya terdiam.
Matanya memerah.
Malam itu, setelah semua orang pergi.
Aku akhirnya memberanikan diri menatapnya.
“Maaf…”
“Aku sudah membohongimu.”
“Aku bukan pengusaha sukses.”
“Aku cuma mahasiswi biasa.”
“Aku pengecut.”
“Aku takut kehilanganmu.”
Air mata mengalir di wajahku.
Namun Marco malah tertawa pelan.
Lalu dia mengeluarkan ponselnya.
Dan menunjukkan sesuatu yang membuatku terkejut.
Sebuah akun media sosial.
Akun palsu.
Dengan foto mobil mewah.
Rumah besar.
Dan berbagai penghargaan bisnis.
Aku menatapnya dengan bingung.
Marco tersenyum malu.
“Kalau begitu kita impas.”
“Aku juga membohongimu.”
“Aku bukan pengusaha yang baru pulang dari luar negeri.”
“Aku hanya seorang manajer biasa yang ditunjuk pamanku untuk membantu mengelola resor.”
“Keluarga kami bahkan sering menggodaku karena terlalu sederhana.”
Aku terpaku.
“Kamu… juga berbohong?”
Dia mengangguk.
Dan kami berdua tertawa sambil menangis.
Ternyata…
Dua orang bodoh.
Yang sama-sama takut tidak dicintai.
Justru saling menemukan.
Enam bulan kemudian.
Aku melanjutkan kuliah pascasarjana.
Sedangkan Marco membuka sebuah kedai kopi kecil.
Kedai itu tidak besar.
Tidak mewah.
Tetapi setiap sudutnya dipenuhi foto-foto kami.
Di hari pembukaan.
Marco berlutut di depan semua orang.
Dan mengeluarkan sebuah cincin.
Dengan mata yang berkaca-kaca, dia berkata:
“Dulu aku jatuh cinta pada seorang pengusaha sukses yang bahkan tidak pernah benar-benar ada.”
“Tetapi sekarang…”
“Aku lebih mencintai wanita sederhana yang berdiri di depanku.”
“Sofia…”
“Maukah kamu menikah denganku?”
Sambil menangis dan tertawa, aku mengangguk.
Dan seluruh ruangan dipenuhi tepuk tangan.
Setahun kemudian.
Cabang kedua kedai kopi kami dibuka.
Bukan karena kami kaya.
Tetapi karena kami membangunnya bersama.
Dan di depan pintu setiap cabang, selalu ada satu tulisan kecil yang kami pasang:
“Kejujuran mungkin datang terlambat.”
“Tetapi cinta sejati akan tetap menemukan jalannya.”
TAMAT.