Posted in

1 BULAN SETELAH ANAKKU MASUK KULIAH, AKU MENGETAHUI ADA GRUP MESSENGER KELUARGA SUAMIKU BERNAMA “HANYA UNTUK DARAH SEJATI” — DAN AKU, PEREMPUAN YANG MEMBELI RUMAH YANG MEREKA TINGGALI, ADALAH SATU-SATUNYA YANG TIDAK ADA DI DALAMNYA

1 BULAN SETELAH ANAKKU MASUK KULIAH, AKU MENGETAHUI ADA GRUP MESSENGER KELUARGA SUAMIKU BERNAMA “HANYA UNTUK DARAH SEJATI” — DAN AKU, PEREMPUAN YANG MEMBELI RUMAH YANG MEREKA TINGGALI, ADALAH SATU-SATUNYA YANG TIDAK ADA DI DALAMNYA

## BAGIAN 1: SCREENSHOT DI TENGAH HUJAN

Satu bulan setelah Miguel pindah ke Cebu untuk kuliah, aku mengiriminya pesan sederhana.

“Apa uang sakumu cukup? Jangan terlalu hemat. Makan yang benar ya.”

Saat itu aku sedang di dapur, bau bawang masih menempel di jari saat aku menggoreng bangus. Di luar, hujan deras mengguyur Manila. Suara air menghantam atap tetangga seperti genderang tanpa henti di malam yang lelah.

Miguel hampir langsung membalas.

—Cukup, Ma. Setiap hari ada yang kirim ke grup keluarga. Nenek 500 lewat GCash, Tante Lorna 300, Paman Ben kirim pulsa. Bahkan masih ada sisa untuk print materi kuliah.

Aku terdiam.

Sendok masak yang kupegang jatuh ke wajan.

Aku menatap pesan itu lama sekali, sampai aku tidak sadar minyak panas menyiprat ke tanganku.

Grup keluarga?

Kami punya satu grup Messenger bernama “Rumah Kita”. Isinya hanya empat orang: aku, suamiku Renato, Miguel, dan ibu mertua Corazon.

Terakhir kali grup itu aktif adalah enam bulan lalu, saat Miguel mengirim foto surat penerimaan kuliah.

Sejak itu, sunyi.

Aku langsung bertanya:

—Grup apa itu, Nak?

Miguel mengirim screenshot.

Hanya satu gambar.

Tapi cukup untuk membuat leherku terasa dingin.

Di bagian atas tertulis jelas:

“Pamilyang Dela Cruz — Dugo, Dasal, Damayan.”

Tiga puluh satu anggota.

Ada ibu mertuaku Corazon.

Ada Lorna.

Ada Ben.

Ada sepupu, bibi, paman, dan entah siapa lagi.

Bahkan ada teman gereja ibu mertua yang bukan keluarga Dela Cruz.

Tapi aku tidak ada.

Tidak ada Marissa Santos.

Tidak ada ibu dari Miguel.

Tidak ada perempuan yang membayar sekolah, rumah sakit, utang, perbaikan rumah, listrik, air, dan semua “keadaan darurat” mereka.

Aku memperbesar screenshot itu.

Beberapa pesan masih terlihat.

Nenek Corazon:
—Kasihan Miguel jauh dari rumah. Kirim uang saja ke dia, jangan bilang ke ibunya. Dia terlalu ketat soal uang.

Lorna:
—Benar. Menantu kita itu seperti penjaga bank. Kasihan Miguel, Dela Cruz tapi seperti harus minta ke ibunya sendiri.

Ben:
—Tidak apa-apa. Kita saling bantu. Yang penting sesama darah. Yang bukan darah, tetap tamu meskipun tinggal lama.

Aku membaca ulang.

“Tamu.”

Dua kata itu seperti pisau.

Dua puluh tahun aku menikah dengan Renato. Aku yang membeli rumah itu dengan uangku sendiri.

Aku yang membayar hampir semuanya.

Aku yang menanggung keluarga ini.

Tiba-tiba ponselku berdering.

Panggilan dari “Mama Corazon”.

Biasanya aku akan menjawab dengan lembut.

Tapi malam itu aku hanya menatap nama itu.

Seolah itu bukan ibu, tapi seseorang yang sudah lama duduk di rumahku dan diam-diam menghabiskanku.

Aku jawab.

Suaranya langsung masuk, cepat dan penuh semangat.

—Marissa, kamu sudah bayar kursi pijat yang aku kirim itu? Tinggal dua di live itu!

Aku tidak menjawab.

—Pilih warna cokelat ya. Hitamnya kelihatan murah. Pakai kartu kamu saja. Kartu Renato masih dipakai untuk Miguel.

Aku tertawa kecil.

—Oh jadi keluarga kalian ternyata banyak yang peduli ya.

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

—Tiga puluh satu orang di grup itu semuanya darah. Kalian bisa patungan satu kursi pijat saja kan?

Sunyi.

Lalu dia bertanya:

—Kamu sudah lihat grupnya?

Aku langsung mengerti.

Dia tidak menyangkal.

Dia tidak bertanya.

Dia tahu.

Dadaku seperti runtuh.

—Jadi kalian sengaja tidak memasukkanku?

Dia menarik napas.

—Jangan dibesar-besarkan. Itu grup keluarga. Kamu sibuk. Kami tidak mau mengganggu.

Aku melihat sekeliling dapur.

Semua di rumah itu kubeli.

Aku yang membayar.

Aku yang menopang.

Aku bertanya:

—Aku tidak dimasukkan karena sibuk, atau karena aku bukan Dela Cruz?

Suaranya meninggi.

—Marissa, jangan melawan orang tua. Kamu itu menantu saja. Bukan darah. Tidak peduli berapa lama kamu di sini, kamu tidak akan pernah jadi Dela Cruz.

Aku memejamkan mata.

Dua puluh tahun pengorbanan terasa seperti lelucon.

Aku menutup telepon.

Lalu membuka kontak Messenger.

Corazon Dela Cruz — hapus.

Lorna Dela Cruz — hapus.

Ben Dela Cruz — hapus.

Semua keluarga yang hanya datang saat butuh uang, bantuan, atau “sedikit tolong”.

Hapus semua.

Saat aku selesai, suara kunci terdengar di pintu.

Renato pulang lebih cepat.

Dia masuk tanpa salam.

—Mama telepon. Dia menangis. Katanya kamu bicara kasar padanya.

Aku menuang air.

—Kalau sesak napas, bawa ke dokter.

Dia mengernyit.

—Marissa, jangan begitu. Dia sudah tua.

Aku menatapnya.

—Kamu pulang untuk memarahi aku?

Dia duduk.

—Kamu terlalu stres. Ini cuma kursi pijat. Jangan dibesar-besarkan.

Aku menatapnya lama.

Dan aku sadar: dua puluh tahun aku mendengar kalimat yang sama.

“Cuma.”

“Sedikit.”

“Tidak apa-apa.”

Dan semua “cuma” itu berubah menjadi beban yang menghancurkanku.

Aku bertanya:

—Renato, kamu ada di grup itu?

Dia diam.

Satu detik.

Cukup.

—Grup apa?

Aku tersenyum.

—“Pamilyang Dela Cruz — Dugo, Dasal, Damayan.”

Dia tidak menjawab.

Aku melanjutkan:

—Kamu admin?

Dia menghindari tatapan.

—Itu cuma grup keluarga.

Aku berkata pelan:

—Aku satu-satunya yang tidak ada.

Dia menjawab dingin:

—Secara teknis, kamu memang bukan darah Dela Cruz.

Sunyi.

Lalu ponselku menyala.

Screenshot baru dari Miguel.

Pinned post.

Ditulis oleh Renato.

Satu kalimat:

“Setelah ulang tahun Miguel, kita bahas pemindahan rumah di Quezon ke nama Dela Cruz. Sudah terlalu lama atas nama Marissa.”

Aku menatap suamiku.

Dia juga melihat layar itu.

BAGIAN 2: SURAT SERTIFIKAT DI TENGAH BADAI

Ramon—maksudku Renato—berdiri mematung di tengah dapur. Keheningan di antara kami malam itu terasa lebih mencekam daripada gemuruh badai di luar rumah Quezon City ini. Kalimat yang ia tulis di pin postingan grup rahasia itu masih menyala di layar ponselku, seolah menelanjangi seluruh kelicikan yang ia bungkus dengan wajah polos selama dua puluh tahun pernikahan.

“Bahas pemindahan rumah ke nama Dela Cruz?” ulangku, suaraku sedatar garis mati di monitor rumah sakit. “Sudah terlalu lama atas nama Marissa? Begitu kata-katamu, Renato?”

Renato mencoba melangkah maju, tangannya gemetar meraih udara kosong. “Marissa, itu… itu cuma obrolan santai di grup. Mama yang terus-menerus mendesakku. Kamu tahu sendiri bagaimana ambisi Mama agar keluarga Dela Cruz punya warisan tetap di Manila. Aku hanya meredam suasananya!”

“Meredam suasana dengan merencanakan penjarahan aset pribadiku?” Aku terkekeh. Suara tawaku terdengar begitu asing, hambar, dan penuh dengan rasa jijik yang tak lagi tertahankan.

Aku berjalan menuju ruang kerja kecilku, membuka laci besi berkunci sandi yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun di rumah ini—termasuk suamiku. Aku mengeluarkan map kulit berwarna hitam, lalu melemparkannya ke atas meja makan, tepat di samping piring bangus goreng yang minyaknya mulai membeku.

“Buka, Renato. Lihat baik-baik dokumen yang mau kalian pindah namakan itu,” perintahku tegas.

Dengan tangan gemetar, Renato membuka map tersebut. Di halaman pertama terpampang sertifikat tanah asli rumah berlantai dua di Quezon City ini. Pada kolom pemilik, tertulis dengan tinta tebal yang sah secara hukum: MARISSA SANTOS.

Tidak ada nama Renato Dela Cruz. Dan yang paling penting, di halaman berikutnya, ada selembar dokumen yang dinotariskan dua puluh tahun lalu sebelum kami mengucap janji di altar: Perjanjian Pemisahan Harta Pranikah (Prenuptial Agreement).

“Darah Sejati” yang Kehilangan Tempat Berteduh

Renato menatap lembaran kertas itu dengan wajah yang kian memucat. Ia baru ingat bahwa sebelum kami menikah, mendiang ayahku—seorang pengusaha tekstil yang jeli—memaksanya menandatangani perjanjian itu karena tahu sifat malas dan parasit dari keluarga Dela Cruz.

“Kamu… kamu menyimpan berkas aslinya di sini?” bisik Renato parau.

“Tentu saja. Kalian mengira aku bodoh karena selama dua puluh tahun ini aku diam dan selalu membayar semua tagihan kalian?” Aku melangkah mendekat, menatap lurus ke dalam matanya yang kini dipenuhi ketakutan.

“Aku mendanai kuliah Miguel karena dia adalah anakku. Tapi aku membayar utang judi Paman Ben, membelikan cincin emas Tante Lorna, dan membiayai gaya hidup ibumu karena aku mengira kita adalah keluarga. Namun malam ini, ‘Darah Sejati’ kalian sendiri yang mengingatkanku bahwa aku hanya seorang tamu yang punya banyak uang.”

Tepat saat itu, pintu depan rumah diketuk dengan kasar. Ibu mertuaku, Corazon, masuk dengan payung basah yang meneteskan air ke atas lantai marmer yang baru saja aku bersihkan. Di belakangnya ada Lorna dan Ben. Rupanya, setelah telepon tadi diputus, Corazon langsung mengerahkan pasukannya untuk mendesakku.

“Marissa! Kamu benar-benar keterlaluan!” pekik Corazon begitu melihatku. “Hanya karena masalah grup Messenger, kamu memutus kontak kami semua? Kamu mau memutus tali silaturahmi keluarga Dela Cruz?!”

Aku menatap wanita tua itu, lalu melirik Lorna dan Ben yang berdiri di belakangnya dengan angkuh.

“Ibu Corazon,” ucapku, memanggilnya dengan nama formal untuk pertama kali dalam dua puluh tahun. “Rumah yang Ibu pijak ini dibeli dengan uang warisan ayahku. Kursi yang biasa Ibu duduki, makanan yang kalian telan setiap minggu, semuanya berasal dari keringatku, perempuan yang bukan ‘darah sejati’ kalian.”

Lorna mencibir, “Jangan sombong, Marissa! Kalau bukan karena menikah dengan Renato, kamu tidak akan punya nama di keluarga ini!”

“Kalau begitu, silakan ambil kembali nama kalian,” jawabku tenang sambil mengambil ponselku. Aku menekan tombol panggil pengeras suara kepada pengacaraku, Atty. Santos, yang sudah bersiap sejak tiga puluh menit lalu.

Akhir dari Sebuah Kemurahan Hati

“Selamat malam, Atty. Santos. Tolong bacakan status hukum rumah Quezon City dan tindakan yang bisa kita ambil malam ini,” ujarku.

Dari seberang telepon, suara tegas sang pengacara terdengar sangat jelas di ruang tamu yang mendadak sunyi:

“Selamat malam, Ibu Marissa. Berdasarkan sertifikat sah dan perjanjian pranikah, rumah tersebut adalah aset mutlak milik Ibu pribadi. Mengingat adanya bukti digital berupa rencana pemalsuan dokumen dan pengambilalihan aset secara ilegal dari grup chat yang dikirimkan tadi, Ibu berhak mengeluarkan siapa pun yang tidak memiliki hak kepemilikan. Surat perintah pengosongan rumah sudah saya siapkan, dan perpanjangan hak tinggal untuk Saudara Renato Dela Cruz resmi dibatalkan per malam ini.”

Mendengar itu, payung di tangan Corazon jatuh ke lantai. Lorna dan Ben langsung saling berpandangan dengan wajah panik.

“Renato! Lakukan sesuatu! Dia mau mengusir kita?!” jerit Corazon, memukul pundak anaknya.

Namun Renato hanya diam membeku di samping meja makan. Ia tahu, secara hukum, posisi keluarganya sudah hancur total. Segala rencana licik mereka di grup “Darah Sejati” justru menjadi senjata utama yang mematikan bagi mereka sendiri.

“Besok pagi, truk pindahan akan datang,” kataku sambil berjalan menuju pintu kamar utama dan menguncinya dari dalam, meninggalkan mereka berempat di ruang tamu yang dingin. “Silakan bawa semua ‘Darah Sejati’ kalian keluar dari rumahku. Mulai besok, carilah tempat tinggal baru yang bisa kalian bayar dengan doa dan kebanggaan darah kalian sendiri.”

Dari balik pintu yang terkunci, aku bisa mendengar suara pertengkaran hebat antara Renato dan ibunya, tangisan Lorna, dan makian Ben yang perlahan-lahan meredup ditelan derasnya hujan Manila.

Aku duduk di tepi tempat tidur, melihat foto Miguel di ponselku. Anakku telah aman di Cebu, dan esok hari, aku akan menyusulnya. Dua puluh tahun masa tamuku di keluarga Dela Cruz telah berakhir, dan malam ini, aku akhirnya menjadi pemilik mutlak atas hidupku sendiri.

Wajahnya pucat.