Saya membawa anak saya ke check-up rutin, tapi ada tambahan “tes kecocokan sumsum tulang” di formulir laboratorium. Perawat bilang suami saya yang menandatanganinya. Saat saya datang ke Room 407, ada seorang anak perempuan di sana memakai gelang kaki yang hilang milik anak saya—dan dia memanggil suami saya “Daddy”.
—
## Bagian 1
Saya membawa Mila ke klinik di Quezon City untuk pemeriksaan kesehatan sebelum masuk Kinder.
Usianya baru lima tahun. Rambutnya dikuncir dua, dan masih memeluk boneka kelinci pink yang dia panggil “Bunny Ate”.
Seharusnya semuanya normal.
Tinggi.
Berat.
Tes mata.
Tes telinga.
Sampai seorang perawat menyerahkan formulir permintaan lab tambahan kepada saya.
Saya membacanya cepat.
Lalu mata saya berhenti di baris terakhir.
HLA typing — tes kecocokan sumsum tulang.
Saya pikir saya salah lihat.
“Permisi,” saya menunjuk baris itu. “Ini apa?”
Perawat berhenti menempelkan barcode pada tabung darah.
“Ini tes untuk mengetahui apakah seseorang cocok menjadi donor sumsum tulang, Ma’am.”
Saya tertawa kecil karena terdengar tidak masuk akal.
“Ini hanya check-up sekolah anak saya. Siapa yang menambahkan ini?”
Perawat melihat layar komputernya.
Lalu menyebut nama yang membuat punggung saya langsung dingin.
“Tuan Rafael Dizon, suami Anda.”
Saya terdiam beberapa detik.
Mila duduk di kursi kecil di samping saya, kakinya bergoyang, tidak tahu apa-apa.
“Tidak mungkin,” kata saya. “Dia tidak pernah bilang apa-apa.”
Perawat tampak canggung.
“Tercatat di sistem bahwa beliau yang meminta tes tambahan tiga hari lalu. Ada persetujuan elektronik dari kedua orang tua.”
“Kedua orang tua?”
Saya mengambil tablet itu.
Di layar, di bawah formulir persetujuan, ada tanda tangan Rafael.
Dan di sebelahnya, tanda tangan saya.
Tapi saya tidak pernah menandatangani.
Mirip sekali dengan tanda tangan saya. Terlalu mirip. Tapi ada sedikit perbedaan di ekor huruf terakhir.
Kami sudah menikah tujuh tahun.
Dia tahu bagaimana saya menandatangani dokumen.
Saya mencoba tetap tenang.
“Saya boleh lihat file terkait?”
Perawat ragu, lalu menarik berkas lain yang terselip di bawah.
Nama pasien: Amara Dizon.
Usia: 7 tahun.
Diagnosis: acute lymphoblastic leukemia.
Wali: Rafael Dizon.
Catatan: membutuhkan donor sumsum tulang dari keluarga inti.
Suara di telinga saya seperti berdengung.
Dizon.
Nama keluarga suami saya.
Saya menurunkan suara.
“Di mana kamar anak ini?”
Perawat langsung menarik kembali berkas itu.
“Maaf, ini informasi rahasia.”
Saya menatapnya.
“Saya mengerti. Tapi wali di dokumen itu suami saya. Dan anak yang dites kompatibilitas adalah anak saya. Menurut Anda, saya harus bertanya ke siapa sekarang? Polisi? Pengacara? Atau direktur rumah sakit?”
Wajahnya pucat.
Beberapa detik kemudian dia berkata pelan.
“Building B, lantai empat. Room 407.”
Saya menggendong Mila.
Dia memeluk leher saya.
“Mommy, aku sakit ya?”
Saya mengeratkan pelukan.
“Tidak, sayang. Kamu tidak sakit.”
“Kenapa Mommy takut?”
Saya melihat pantulan wajah saya di pintu lift.
Saya tidak terlihat seperti seorang istri.
Saya terlihat seperti ibu yang hampir kehilangan kendali.
“Karena ada orang yang pikir dia bisa mengambil sesuatu yang milikmu tanpa izin Mommy.”
Lift terbuka di lantai empat.
Bangsal anak-anak sunyi. Terlalu sunyi.
Di ujung lorong ada Room 407.
Pintunya sedikit terbuka.
Saya hendak mengetuk ketika terdengar suara anak dari dalam.
“Mommy, Daddy Rafael kapan datang?”
Saya membeku.
Seorang perempuan keluar.
Sekitar 30-an. Gaun linen krem, rambut diikat rendah. Wajahnya sederhana, terlihat lembut.
Tipe perempuan yang terlihat “baik”.
Dia melihat saya.
Lalu Mila.
Matanya panik sesaat.
“Kalian…?”
“Tessa Villanueva-Dizon,” kata saya. “Istri Rafael.”
Senyumnya langsung kaku.
Saya melewatinya dan melihat ke dalam kamar.
Di tempat tidur, ada seorang anak perempuan. Pucat, kurus, memegang komik Jollibee lama.
Dia menatap saya.
Mata itu.
Hidung itu.
Cara mengerutkan kening itu.
Persis Rafael.
Tidak perlu tes DNA.
Mila turun dari gendongan saya dan melihat sekeliling kamar.
Tiba-tiba dia menunjuk pergelangan anak itu.
“Mommy…”
Suaranya sangat kecil.
“Itu gelangku… yang bunga sampaguita.”
Saya menatap.
Di pergelangan Amara, ada gelang emas kecil yang dijadikan bracelet. Ada liontin berbentuk sampaguita.
Di belakangnya terukir tiga huruf: M.V.D.
Mila Villanueva Dizon.
Gelang itu hilang setelah ulang tahunnya tahun lalu.
Mila menangis sampai demam.
Rafael waktu itu memeluknya dan berkata, “Daddy akan belikan yang lebih bagus.”
Saya menatap perempuan di depan saya.
“Siapa namamu?”
Dia menelan ludah.
“Lani Reyes.”
Saya tersenyum tipis.
“Kalau begitu jelaskan. Kenapa anakmu memakai nama belakang suamiku, memanggilnya Daddy, memakai gelang anakku, dan kenapa anakku dimasukkan ke tes sumsum tulang untuk anakmu?”
Lani belum sempat menjawab.
Dari ujung lorong, suara yang sangat saya kenal terdengar.
“Tessa?”
Saya menoleh.
Rafael berdiri di sana.

Di tangannya ada kantong chicken arroz caldo dari tempat favorit Mila.
Tapi di kantong itu tertulis:
Untuk Amara. Dari Daddy.
Bagian 2
Rafael menjatuhkan kantong kertas di tangannya. Mangkuk plastik di dalamnya pecah, mengalirkan bubur panas ke atas lantai koridor rumah sakit yang putih bersih. Bau jahe dan ayam seketika menyeruak, berbaur dengan aroma obat yang tajam.
“Tessa… apa yang kamu lakukan di sini?” suara Rafael bergetar, matanya beralih panik antara saya, Mila, dan Lani yang kini bersembunyi di belakang tubuhnya.
“Aku?” Saya membetulkan posisi berdiri Mila, menggenggam jemari kecil anak saya erat-erat. “Aku hanya mengantar Mila untuk tes kesehatan sekolah, Rafael. Tapi sepertinya, kamu punya agenda lain untuk sumsum tulang anakku.”
Rafael mematung. Wajahnya yang biasa tenang dan berwibawa sebagai pengacara korporat di Ortigas kini tampak hancur berantakan.
“Tessa, dengarkan aku dulu,” Rafael mencoba melangkah maju, tangannya terangkat seolah ingin menenangkan saya. “Amara sakit sakral. Dia menderita leukemia. Dia butuh donor yang cocok, dan Mila… Mila adalah satu-satunya harapan kakaknya.”
“Kakak?” Saya tertawa dingin, sebuah tawa yang membuat perawat di meja jaga lorong menoleh ketakutan. “Anakku tidak punya kakak. Dia anak tunggal. Dan perempuan di dalam sana adalah hasil dari tujuh tahun pernikahan kita yang ternyata penuh dengan bangkai kebohonganmu!”
Lani Reyes tiba-tiba keluar dari balik punggung Rafael, matanya berkaca-kaca dengan raut wajah memelas. “Mrs. Dizon, tolong… saya tahu saya salah. Saya tidak meminta uang Anda, saya tidak meminta Rafael meninggalkan Anda. Tapi Amara tidak bersalah. Tolong selamatkan putri kami…”
“Diam!” bentak saya, kilatan amarah di mata saya membuat Lani tersentak mundur. “Jangan berani-berani kamu mengemis kehidupan anakmu dengan cara menumbalkan anakku!”
Saya menatap Rafael lurus-lurus. Pria yang selama tujuh tahun ini saya rawat, saya dukung kariernya dari bawah menggunakan seluruh dana dan pengaruh keluarga besar Villanueva.
“Kamu memalsukan tanda tanganku di formulir laboratorium medis,” kata saya, suara saya meluncur pelan namun setajam pisau bedah. “Kamu mencuri gelang emas Mila untuk diberikan pada anak harammu. Dan sekarang, kamu berniat mengeksploitasi tubuh anakku demi menebus dosa masa lalumu?”
“Tessa! Amara juga darah dagingku! Aku tidak bisa membiarkannya mati!” Rafael akhirnya membentak frustrasi, egonya terluka karena disudutkan. “Hanya beberapa mililiter sumsum tulang, Mila tidak akan mati karena itu! Kamu egois sekali sebagai sesama ibu!”
Mendengar kalimat itu, seluruh rasa sakit di hati saya menguap, digantikan oleh hawa dingin yang mematikan.
“Egois?” Saya tersenyum, mengeluarkan ponsel dari tas kerja saya. “Mari kita lihat siapa yang akan kehilangan segalanya karena keegoisan ini, Rafael.”
Di depan mata mereka, saya menekan tombol panggil cepat ke nomor ayah saya, pemilik Villanueva Medical Group—jaringan rumah sakit swasta tempat kami berdiri saat ini.
Begitu panggilan tersambung, saya berbicara tanpa keraguan sedikit pun:
“Papa, batalkan seluruh subsidi perawatan atas nama Amara Dizon di Room 407 sekarang juga. Keluarkan pasien dari daftar prioritas transplantasi rumah sakit kita sebelum matahari terbenam.”
“Tessa! Jangan gila! Kamu membunuh anakku!” Rafael berteriak histris, mencoba merebut ponsel saya, namun saya dengan cepat mundur dilindungi oleh dua petugas keamanan rumah sakit yang baru saja datang setelah mendengar keributan.
“Dia bukan anakku, Rafael. Dan mulai hari ini, kamu bukan lagi bagian dari keluarga Villanueva,” kata saya dingin. “Sampaikan pada pengacaramu untuk bersiap. Aku tidak hanya akan menggugat cerai, tapi aku akan memastikan kamu dipenjara karena pemalsuan dokumen medis dan pelanggaran hak anak.”
Saya menggendong Mila kembali, menaruh kepala kecilnya di bahu saya agar dia tidak perlu melihat monster yang selama ini dia panggil “Daddy”.
Sembari melangkah menuju lift, saya menoleh ke arah Rafael yang kini berlutut di lantai koridor, meratapi bubur yang tumpah bersama dengan seluruh masa depan dan karier yang baru saja saya hancurkan dalam satu panggilan telepon.