Posted in

Seorang resepsionis hotel di BGC menelepon saya pukul delapan pagi, mengatakan bahwa saya belum membayar satu “intimate kit” di presidential suite. Saya menatap folder yang belum tersentuh di meja saya di Ortigas. Tadi malam saya lembur sampai hampir jam satu dini hari, tetapi di sistem mereka, “saya” katanya sedang berada di tempat tidur bersama suami saya.

Seorang resepsionis hotel di BGC menelepon saya pukul delapan pagi, mengatakan bahwa saya belum membayar satu “intimate kit” di presidential suite. Saya menatap folder yang belum tersentuh di meja saya di Ortigas. Tadi malam saya lembur sampai hampir jam satu dini hari, tetapi di sistem mereka, “saya” katanya sedang berada di tempat tidur bersama suami saya.

**Bagian 1**

Telepon saya berdering tepat setelah saya menyesap kopi pertama.

Suara perempuan di seberang terdengar lembut.

“Selamat pagi, Ibu Althea Ramos. Kami dari Luntian Grand BGC menelepon. Tadi malam ada biaya tambahan di presidential suite: satu intimate kit dan dua botol sampanye. Karena belum diselesaikan di front desk, kami sudah membebankannya ke kartu membership Pearl Black Anda.”

Saya terdiam di tengah dapur kecil kami di Pasig.

Kopi masih panas di tangan saya, tapi jari-jari saya tiba-tiba dingin.

“Tadi malam?” ulang saya. “Anda yakin tadi malam?”

“Ya, Bu. Sekitar pukul 23.38 Anda check-in bersama Tuan Miguel Santos.”

Miguel Santos.

Suami saya.

Saya tidak berkata apa-apa.

Tadi malam saya masih di kantor di Ortigas sampai hampir jam satu pagi menyelesaikan proposal proyek rumah sakit swasta di Cebu. Satpam gedung bahkan masih meminta tanda tangan saya saat keluar. Ada CCTV di lift. Saat pulang, saya sangat lelah sampai hampir tidak sempat melepas sepatu sebelum tertidur di sofa.

Tapi menurut hotel, saya ada di BGC.

Di presidential suite.

Bersama suami saya.

Saya langsung menelepon Miguel.

Dia menjawab setelah tiga kali dering. Suaranya masih mengantuk.

“Ada apa, sayang?”

“Kamu ke Luntian Grand tadi malam?”

Dia diam setengah detik.

Hanya setengah detik.

Tapi cukup untuk menjatuhkan hati saya.

Lalu dia tertawa.

“Apa yang kamu bicarakan? Satu malam di sana hampir seratus ribu peso (± Rp 28.000.000). Aku ambil uang dari mana?”

“Hotel yang menelepon saya.”

“Mungkin sistem error. Atau salah input nomor member. Kamu tahu kan hotel mewah, kadang staf baru bingung.”

“Hanya kamu yang tahu PIN kartu itu.”

Miguel menghela napas. Nada suaranya mulai kesal.

“Althea, aku tidak punya waktu untuk kecurigaan tanpa dasar. Kamu terlalu stres kerja. Besok saja kamu datang ke hotel dan komplain.”

Dia menutup telepon.

Tanpa penjelasan yang jelas.

Tanpa rasa panik dari orang yang tidak bersalah.

Saya langsung menelepon Mara Del Rosario.

Mara adalah sahabat saya sejak kuliah. Sekarang dia direktur operasional Luntian Grand BGC. Dia juga yang memberi saya kartu Pearl Black saat ulang tahun saya tahun lalu. Katanya, perempuan yang hampir habis karena kerja juga berhak istirahat di kamar yang layak.

Saya bahkan belum pernah menggunakan kartu itu.

Bukan karena sayang uang.

Tapi karena Miguel selalu mengejek setiap kali saya menyebutnya.

“Memang rumah kita kurang buat kamu tidur? Kalau perempuan yang cari uang, jadi suka gaya.”

Saya dulu hanya menelan kata-kata itu.

Saya pikir itu normal dalam pernikahan.

Tapi pagi itu, semua meremehkannya seperti tamparan yang kembali ke wajah saya.

Setelah mendengar semuanya, suara Mara menjadi berat.

“Datang ke sini sekarang. Jangan hubungi Miguel lagi. Dan jangan beri tahu siapa pun.”

Saya menyetir ke BGC dengan tangan gemetar karena marah.

Lobby hotel penuh karena akhir pekan libur sudah dekat. Ada tamu asing menarik koper. Aroma parfum mahal bercampur bunga anggrek putih di area resepsionis, membuat saya makin mual.

Saya menunggu hampir dua puluh menit sebelum bisa mendekati counter.

“Selamat pagi. Saya Althea Ramos. Tadi hotel Anda menelepon soal charge presidential suite.”

Resepsionis itu menatap saya.

Matanya menilai blouse kusut saya, celana hitam, dan sepatu flat saya.

Dia mengerutkan dahi.

“Ibu Althea?”

“Iya.”

Dia melihat layar, lalu kembali menatap saya.

“Tapi sepuluh menit lalu ada Ibu Althea dari presidential suite yang menelepon. Beliau meminta Do Not Disturb sampai siang.”

Darah saya seperti membeku.

“Saya Althea Ramos yang sebenarnya.”

Resepsionis itu tersenyum, tapi jelas dipaksakan.

“Maaf, Bu, hotel sedang penuh. Kalau tidak punya reservasi, mohon jangan mengganggu area check-in.”

Saya meletakkan KTP saya di counter.

“Cek.”

Dia tidak langsung mengambilnya.

Dia justru sedikit mundur, seolah saya yang membuat masalah.

“Masalahnya, Tuan Miguel Santos adalah tamu reguler di sini. Beliau sendiri yang mengonfirmasi bahwa istrinya adalah yang bersamanya. Kami tidak punya alasan untuk meragukan itu.”

Saya tertawa.

Tawa saya kering.

“Jadi kalau seorang pria bilang wanita itu istrinya, kalian langsung abaikan KTP?”

Dia terdiam.

Tepat saat lift VIP lantai privat terbuka.

Seorang wanita keluar.

Gaun silk putih.

Rambut ikal rapi.

Bibir merah.

Di tangannya tas Dior warna krem yang sudah dua bulan saya cari di lemari kami.

Di telinganya, anting mutiara yang saya kenal—hadiah dari ibu saya saat hari pernikahan saya.

Saya langsung mengenalinya.

Bianca Villanueva.

Asisten baru di perusahaan media Miguel.

Dia melihat saya.

Satu detik pertama, wajahnya pucat.

Tapi cepat sekali dia tersenyum.

“Kak Althea? Wah, kebetulan banget. Kamu juga di sini?”

Resepsionis langsung menunjuknya, seperti melihat penyelamat.

“Ini Ibu Althea yang asli. Baru saja turun dari presidential suite.”

Seluruh lobby hening sejenak.

Saya menatap Bianca.

Lalu menatap anting mutiara di telinganya.

“Kamu pakai barang saya, pakai nama saya, tidur di kamar yang dibayar dari kartu saya. Sekarang kamu mau tetap dipanggil Althea Ramos?”

Bianca menutup mulutnya. Matanya cepat memerah.

“Apa maksud kakak? Kartu ini hadiah dari suamiku. Tas ini juga dia yang beli. Dan anting ini…”

Dia menyentuh telinganya pelan.

“Hadiah ulang tahun pernikahan kami.”

Orang-orang mulai berbisik.

“Mungkin dia cemburu.”

“Yang muda itu kelihatan lebih classy.”

“Drama hotel mahal begini ternyata ada juga.”

Saya tidak peduli.

Saya hanya menatap Bianca.

“Panggil Miguel. Suruh dia turun.”

Bianca menelepon, lalu mengaktifkan speaker.

Nama panggilan di layar jelas: Suami saya.

Begitu tersambung, dia langsung menangis.

“Sayang, turun ke lobby ya. Ada perempuan di sini, dia bilang aku bukan istrimu. Dia bahkan mau mengusir aku dari hotel.”

Suara Miguel dingin dan marah.

“Siapa yang ganggu kamu? Jangan bergerak. Aku turun sekarang.”

Lima menit kemudian, Miguel keluar dari lift dengan cepat.

Begitu melihat Bianca, dia langsung memeluknya.

“Jangan takut. Aku di sini.”

Lalu dia menatap saya.

Bukan lagi mata yang dulu saya kenal. Bukan pria yang pernah saya suapi saat demam.

Dia menatap saya seperti sampah.

“Miguel,” suara saya serak. “Jelaskan.”

Dia mendekat.

Tidak menjelaskan.

Tidak meminta maaf.

Tidak takut.

Dia mengangkat tangan dan menampar saya di tengah lobby.

Keras.

Wajah saya panas. Telinga saya berdenging.

Dia menunjuk saya.

“Masih berani mengikuti aku ke sini? Sudah berapa kali aku bilang? Aku tidak mengakui kamu sebagai istriku. Istriku adalah Bianca Santos.”

Security mendekat.

Bianca menangis di pelukan Miguel, seolah dia korban.

Saya berdiri di tengah lobby marmer, pipi memerah, menatap pria yang memakai nama saya untuk memeluk wanita lain.

Saat tangan security memegang pergelangan saya, ponsel saya bergetar.

Pesan dari Mara muncul:

“Jangan bicara lagi. Cukup kamera lobby yang sudah merekam. Aku sedang turun.”

Berikut adalah kelanjutan sekaligus penyelesaian dari cerita tersebut:

Bagian 2 (Selesai)

Tamparan Miguel membuat seisi lobby yang tadinya berbisik langsung terdiam senyap. Beberapa tamu asing menutup mulut dengan ngeri. Di samping Miguel, Bianca menyembunyikan senyum puasnya di balik punggung pria itu.

“Seret perempuan gila ini keluar,” perintah Miguel kepada dua satpam yang memegangi lengan saya. “Dia sudah menguntit keluarga kami sejak di Pasig.”

Saya tidak meronta. Pipi saya mati rasa, tetapi otak saya mendadak bekerja dengan kejernihan yang luar biasa. Saya menatap lurus ke arah kamera CCTV di sudut langit-langit lobby, tepat saat pintu lift eksekutif di belakang Miguel berdenting terbuka.

Mara Del Rosario keluar dari sana. Tidak sendirian. Dia didampingi oleh dua orang pengacara berseragam rapi dan kepala keamanan Luntian Grand BGC.

“Lepaskan dia,” suara Mara menggelegar, dingin dan penuh otoritas.

Kedua satpam itu langsung mundur begitu mengenali sang direktur operasional.

“Mbak Mara?” Miguel tertegun, wajahnya sedikit berubah. Dia tahu siapa Mara—sahabat saya—tetapi dia tidak pernah menyangka Mara memiliki kuasa penuh di hotel sekelas Luntian Grand. “Baguslah kalau Anda di sini. Tolong usir perempuan stres ini. Dia mengganggu kenyamanan saya dan istri saya, Bianca.”

Mara tidak memandang Miguel. Dia berjalan menghampiri saya, menyentuh pipi saya yang memerah dengan tangan yang gemetar menahan amarah, lalu berbalik menghadap Miguel dan Bianca.

“Istri?” Mara terkekeh sinis. “Tuan Miguel Santos, mari kita perjelas satu hal sebelum kepolisian BGC tiba dalam lima menit.”

Mendengar kata ‘kepolisian’, wajah Bianca mendadak pias.

Mara memberi isyarat kepada kepala keamanan, yang langsung membuka sebuah tablet besar dan menghadapkannya ke arah Miguel. Di layarnya, tertera data check-in sistem hotel dan rekaman CCTV dari meja resepsionis tadi malam.

“Pertama,” kata Mara dengan suara lantang yang sengaja digemakan ke seluruh lobby. “Kamar Presidential Suite 2101 direservasi menggunakan kartu Pearl Black Membership atas nama Althea Ramos. Kartu ini bersifat eksklusif, tidak dapat dipindahtangankan, dan dilindungi PIN. Anda, Tuan Miguel, menggunakan kartu milik sahabat saya tanpa izinnya. Itu adalah tindak pidana pencurian data dan penipuan perbankan.”

“Saya suaminya! Saya berhak—”

“Kedua,” potong Mara, suaranya naik satu oktav. “Resepsionis kami melakukan kelalaian fatal karena tidak mencocokkan KTP fisik wanita di samping Anda ini dengan nama pemilik kartu saat check-in. Dan Anda…” Mara menunjuk Bianca yang mulai gemetar. “…dengan sadar menandatangani slip tagihan menggunakan nama ‘Althea Ramos’. Di hukum negara ini, itu disebut pemalsuan identitas.”

“Mbak, saya tidak tahu apa-apa! Miguel yang bilang ini kartunya!” Bianca mulai panik, suaranya melengking tinggi. Tangannya yang memegang tas Dior krem saya mulai berkeringat.

“Dan yang ketiga,” saya akhirnya membuka suara. Suara saya tidak lagi serak. Dingin, tajas, dan tenang. “Miguel, tamparanmu tadi dilakukan di depan setidaknya empat kamera CCTV resolusi tinggi milik hotel bintang lima. Itu adalah bukti telak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).”

Miguel mencoba melangkah maju dengan wajah memerah, hendak mengintimidasi saya seperti yang biasa dia lakukan di rumah. “Althea, tutup mulutmu! Jangan bikin malu di sini! Kita selesaikan di rumah!”

“Rumah?” Saya tersenyum, menyeka sisa air mata yang sempat menetes karena syok fisik tadi. “Rumah di Pasig itu dibeli dengan uang muka dari saya, dan cicilannya dipotong dari rekening saya. Hari ini juga, barang-barangmu akan dibuang ke tempat sampah.”

Saya melangkah mendekati Bianca. Perempuan muda itu mundur selangkah, ketakutan melihat kilat di mata saya.

Tanpa aba-aba, saya mencengkeram tas Dior krem di tangannya dan merenggutnya dengan satu hentikan keras hingga talinya membuat kulit tangannya memerah. Belum sempat dia menjerit, tangan saya bergerak cepat ke telinganya, melepas sepasang anting mutiara warisan ibu saya dengan sekali tarikan. Bianca memekik kesakitan sambil memegangi daun telinganya yang memerah.

“Tas ini milik saya. Anting ini milik ibu saya,” kata saya sambil memasukkan anting itu ke dalam tas. “Dan pria di sebelahmu ini? Silakan ambil beserta seluruh utang-utangnya yang selama ini saya tutupi.”

Tepat saat itu, tiga petugas kepolisian berseragam masuk melalui pintu berputar lobby.

Pengacara Mara langsung menyambut mereka, menyerahkan sebuah flashdisk berisi salinan rekaman CCTV tamparan Miguel, rekaman pemalsuan tanda tangan Bianca, dan data penggunaan kartu kredit tanpa izin.

“Petugas, dua orang ini telah melakukan penipuan, pemalsuan identitas, dan pria itu baru saja melakukan penganiayaan fisik secara terbuka,” ujar pengacara Mara tegas.

Wajah Miguel berubah drastis dari angkuh menjadi pucat pasi saat seorang polisi memegangi pundaknya dan mengeluarkan borgol.

“Althea! Kamu gila ya?! Aku suamimu! Pikirkan karierku!” teriak Miguel saat tangannya dikunci ke belakang.

Bianca mulai menangis histeris saat seorang polwan memegangi lengannya. “Miguel, lakukan sesuatu! Aku tidak mau dipenjara! Kamu bilang istrimu cuma perempuan kantoran bodoh yang tidak punya kuasa apa-apa!”

Saya berdiri di samping Mara, menyaksikan pria yang mengkhianati saya dan wanita yang mencuri nama saya digiring keluar dari lobby Luntian Grand yang megah di bawah tatapan rasis dan jepretan kamera ponsel para tamu.

Resepsionis yang tadi meremehkan saya tertunduk dengan wajah pucat, tahu bahwa pekerjaannya hari itu juga telah berakhir.

Saya memandangi folder proposal proyek rumah sakit Cebu yang masih ada di dalam tas kerja saya. Hari masih pukul sembilan pagi. Masih ada waktu untuk kembali ke Ortigas, mengirimkan proposal itu, dan memulai hidup yang baru.

“Kamu oke?” tanya Mara lembut sambil merangkul pundak saya.

Saya menoleh ke arahnya, merasakan perih di pipi saya, tetapi entah mengapa, dada saya terasa seringan kapas.

“Aku sangat oke, Mara,” jawab saya tegas. “Mari kita urus surat cerainya sekarang.”