Posted in

DIA BILANG AKU SUDAH TIDAK BERHARGA KARENA DIA SUDAH PUNYA RUMAH, MOBIL, ANAK, DAN TABUNGAN. AKU PERGI DALAM DIAM. TAPI SETAHUN KEMUDIAN, DIA KEMBALI DI TENGAH HUJAN BERSAMA ANAK KAMI, BERLUTUT DI DEPAN PINTU RUMAHKU

DIA BILANG AKU SUDAH TIDAK BERHARGA KARENA DIA SUDAH PUNYA RUMAH, MOBIL, ANAK, DAN TABUNGAN. AKU PERGI DALAM DIAM. TAPI SETAHUN KEMUDIAN, DIA KEMBALI DI TENGAH HUJAN BERSAMA ANAK KAMI, BERLUTUT DI DEPAN PINTU RUMAHKU
Bagian 1: Pada Malam yang Kukira Akan Menjadi Perayaan Kesuksesannya, Dia Justru Mengatakan Bahwa Aku Hanyalah Beban yang Tak Ingin Lagi Ia Pikul

Aku dan Adrian telah menikah selama tujuh tahun.

Sepuluh tahun jika menghitung masa ketika aku mencintainya sebelum ia menjadi suamiku.

Aku pikir, setelah semua yang kami lalui, dia tidak akan pernah memandangku seperti barang lama yang pantas dibuang.

Ternyata aku salah.

Malam itu, dia pulang membawa ayam panggang, puding karamel, dan mi goreng favorit putra kami, Nico.

Nico baru berusia lima tahun. Dia aktif, suka bertanya, dan selalu memeluk lengan ayahnya setiap kali Adrian pulang kerja.

— Papa, bawa oleh-oleh lagi?

Adrian tertawa sambil mengangkatnya.

— Tentu saja. Untuk jagoan Papa.

Saat itu aku berada di dapur, memegang sendok sayur, memandangi mereka sambil menelan rasa bahagia yang memenuhi dadaku.

Sudah beberapa minggu suasana hati Adrian sangat baik.

Dia tidak lagi mudah marah.

Dia tidak lagi kesal ketika aku bertanya apakah dia sudah makan.

Dia juga sering pulang lebih awal.

Kadang membawa makanan, kadang mainan untuk Nico, kadang bunga untuk meja makan.

Aku pikir kami sedang kembali seperti dulu.

Aku pikir dia hanya lelah selama beberapa bulan terakhir karena kontrak besar dalam bisnis pemasok bahan konstruksi miliknya.

Ada sebuah proyek yang sudah lama mereka incar.

Sebuah kontrak pemasokan material untuk renovasi beberapa kondominium di Jakarta.

Dulu dia berkata, jika mereka mendapatkan proyek itu, hidup kami akan jauh lebih lega.

Karena itu malam tersebut, saat aku membereskan meja makan, aku membayangkan bahwa ini adalah awal dari babak baru yang lebih baik dalam pernikahan kami.

Aku menidurkan Nico lebih awal.

Kuselimuti dia dengan selimut bergambar angkot yang kubeli di pasar minggu lalu.

Aku mencium keningnya.

— Selamat malam, Nak.

Dengan mata terpejam, dia berbisik.

— Mama, Mama bahagia sekarang?

Aku tersenyum.

— Iya, Nak. Mama bahagia.

Aku tidak tahu bahwa itu akan menjadi malam terakhir aku bisa mengatakan kalimat itu tanpa rasa sakit.

Saat kembali ke kamar, aku membuka kotak kecil di lemari.

Di dalamnya ada gaun tidur baru yang kubeli dari sisa uang hasil pekerjaan sampinganku membuat caption media sosial untuk usaha kecil tetangga.

Bukan barang mahal.

Tapi bagiku itu berarti banyak.

Selama tujuh tahun aku menjadi istri, ibu, pengatur keuangan keluarga, pengurus rumah, pengingat tagihan, perapih barang, pengingat obat, dan tempat bersandar saat semua orang lelah.

Sering kali aku lupa bahwa aku juga seorang perempuan.

Aku ingin Adrian mengingat itu.

Aku ingin dia mengingat bahwa dulu aku adalah perempuan yang dikejarnya di tengah hujan di depan gerbang universitas.

Aku adalah perempuan yang pernah ditulisinya surat cinta di balik struk warung makan.

Aku adalah perempuan yang pernah dia katakan, meskipun dia tidak punya uang saat itu, selama aku ada di sisinya, dunianya terasa utuh.

Karena itu aku berdandan.

Aku menyisir rambut.

Aku memakai sedikit lip tint.

Ketika dia keluar dari kamar mandi, aku duduk di tepi ranjang, berusaha menenangkan debaran di dadaku.

Dia berhenti di depan pintu.

Aku melihat keterkejutan di matanya.

Namun tidak ada kebahagiaan.

Tidak ada kelembutan.

Tidak ada kehangatan.

Seolah dia melihat sesuatu yang tidak dia harapkan dan tidak dia inginkan.

Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Lalu berjalan ke meja rias dan duduk seolah sudut itu sepenuhnya miliknya.

Dia menatapku melalui cermin.

Di mataku, dia masih tampan.

Lebih dewasa dibanding masa kuliah.

Lebih berwibawa.

Lebih menarik.

Dan jauh lebih dingin.

— Mira, ada sesuatu yang ingin kukatakan.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Kupikir dia akan mengatakan bahwa kontrak besar itu berhasil didapatkan.

Kupikir dia akan memelukku.

Kupikir dia akan mengajak kami berlibur ke Puncak atau Bandung meski hanya dua hari, karena sudah lama kami tidak menikmati waktu bersama sebagai pasangan, bukan hanya sebagai orang tua.

Aku tersenyum.

— Apa itu?

Dia juga tersenyum.

Namun itu adalah senyum tanpa kehangatan.

— Beberapa hari terakhir aku banyak berpikir.

Aku mengangguk.

— Tentang apa?

Dia meletakkan handuk di meja.

— Aku sudah punya rumah.

Aku sedikit terdiam.

Bukan “kita”.

Melainkan “aku”.

Tapi aku berusaha tidak memikirkannya.

— Aku sudah punya mobil.

Dia menarik napas panjang, seolah sedang mencatat inventaris gudang.

— Aku sudah punya anak laki-laki.

Aku berkedip.

— Aku juga sudah punya tabungan. Bisnis stabil. Namaku sudah dikenal para pemasok. Aku bukan lagi pria yang hidup dari uang saku dan mi instan.

Aku masih diam.

Rasa dingin mulai menjalar di punggungku.

Dia menatapku lewat cermin.

— Lalu kamu, Mira?

Suara kipas angin di kamar terasa mendadak menjauh.

— Apa yang kamu punya?

Aku tidak langsung memahami maksud pertanyaannya.

— Apa maksudmu?

Dia bersandar di kursinya.

— Kamu tidak punya pekerjaan tetap. Tidak punya rumah sendiri. Tidak punya tabungan besar. Dan sekarang kamu juga tidak berkontribusi pada bisnis.

Tanganku mencengkeram selimut.

— Adrian…

Dia memotong ucapanku.

— Jangan menyela dulu.

Nada suaranya tenang.

Dan justru itulah yang paling menyakitkan.

Dia tidak marah.

Dia tidak sedang terbawa emosi.

Dia sudah memikirkan semua ini matang-matang.

— Sejujurnya, Mira, aku merasa peranmu dalam hidupku sudah selesai.

Tenggorokanku terasa tersumbat.

— Peran?

Dia mengangguk.

— Saat aku masih merintis, kamu ada di sampingku. Kamu membantuku. Merawatku. Bertahan bersamaku. Terima kasih untuk itu.

Dia tertawa pelan.

— Tapi sekarang hidupku sudah berbeda.

Dia menatap wajahku di cermin dari atas sampai bawah, seperti sedang memeriksa kuitansi lama.

— Sekarang kamu sudah tidak punya nilai bagiku.

Aku tidak bisa bernapas sesaat.

— Apa?

— Kamu sudah menjadi beban, Mira.

Rasanya seperti ada bongkahan besi yang jatuh tepat di dadaku.

Aku tidak bisa bergerak.

Tidak bisa berteriak.

Tidak bisa menangis.

Yang terdengar hanya suaranya, jelas, pelan, dan tajam.

— Aku ingin kembali merasakan hidup sebagai pria lajang. Aku ingin merasa bebas lagi. Kamu juga bisa mencari hidup yang kamu inginkan.

Dia berdiri.

Melangkah mendekati ranjang.

Aku pikir dia akan menyentuhku.

Tapi tidak.

Dia berhenti sekitar satu meter dariku.

— Mira, kita berpisah saja.

Di Indonesia, perceraian bukan perkara sederhana.

Bukan sekadar tanda tangan.

Bukan sesuatu yang selesai dalam satu sore.

Namun saat dia mengatakannya, rasanya dia sudah lama membagi hidup kami dalam pikirannya.

Miliknya.

Dan yang sudah tidak dia inginkan lagi.

Yaitu aku.

— Ini lelucon?

Suaraku hampir tidak terdengar.

Dia menggeleng.

— Tidak.

— Apa ada perempuan lain?

Dia tersenyum tipis.

— Kenapa kalau seorang pria ingin pergi, selalu dianggap ada perempuan lain?

— Karena sekarang kau tidak memandangku seperti istrimu lagi.

Senyumnya menghilang.

— Jangan membuat percakapan ini murahan.

Aku tertawa tanpa suara.

Murahan.

Aku yang murahan?

Aku yang menjual perhiasanku pada tahun pertama bisnisnya agar mereka bisa membayar pengiriman semen pertama.

Aku yang menjaga toko saat sedang hamil Nico.

Aku yang membuat halaman Facebook bisnisnya, membalas pelanggan, mencatat piutang, berbicara dengan pemasok, dan tetap memasak makan malam sebelum tengah malam.

Aku yang berhenti bekerja sebagai akuntan junior karena dia berkata kami akan lebih hemat jika aku fokus merawat Nico.

Kini aku yang disebut murahan.

— Adrian, sepuluh tahun.

Rahangnya menegang.

— Aku tahu.

— Tujuh tahun kita menikah.

— Aku tahu.

— Kita punya anak.

— Justru karena itu aku ingin menyelesaikannya dengan baik.

Aku menatapnya.

— Dengan baik?

— Ya. Aku tidak ingin ada skandal. Aku tidak ingin kita bertengkar di depan anak. Aku tidak ingin kamu terlihat menyedihkan.

Saat itulah air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena takut.

Melainkan karena dari nada suaranya aku menyadari satu hal.

Dalam pikirannya, aku benar-benar sudah selesai.

Aku bukan lagi istrinya.

Bukan lagi perempuan yang dicintainya.

Aku hanya masalah yang ingin dia bereskan tanpa merusak reputasinya.

Aku berdiri.

— Aku tidak setuju.

Dia menghela napas panjang.

— Mira.

— Aku tidak setuju. Kamu tidak bisa membuangku begitu saja hanya karena menurutmu aku sudah tidak berguna.

Dia memejamkan mata, tampak kesal.

— Jangan berlebihan.

— Berlebihan?

— Ya. Menangis, berteriak, menyalahkan. Drama yang sama terus-menerus. Melelahkan.

Dia berjalan menuju pintu.

— Aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Tapi kuharap kamu memilih jalan yang bermartabat.

Sebelum keluar, dia berhenti dan menoleh.

— Jangan membuat perpisahan kita menjadi buruk, Mira. Aku tidak ingin sampai pada titik di mana aku merasa jijik melihatmu.

Pintu tertutup.

Aku berdiri sendirian di tengah kamar, masih mengenakan pakaian yang kubeli agar dia bisa mencintaiku lagi.

Sampai menjelang subuh aku hanya duduk di lantai.

Aku tidak berbaring.

Aku tidak berganti pakaian.

Aku tidak menangis keras.

Aku hanya menatap pintu, menunggu dia kembali dan mengatakan bahwa dia sedang lelah.

Bahwa dia salah.

Bahwa dia tidak sengaja menghancurkan tujuh tahun pernikahan kami seperti gelas yang jatuh ke lantai keramik.

Namun dia tidak pernah kembali.

Keesokan paginya, aku tetap menyiapkan sarapan.

Nasi goreng putih.

Telur.

Daging manis panggang.

Kopi panas tanpa gula untuk Adrian.

Susu untuk Nico.

Aku melakukan semuanya seperti biasa karena ada bagian kecil di hatiku yang percaya bahwa jika aku bertindak seolah semuanya normal, mungkin dunia juga akan kembali normal.

Adrian masuk ke ruang makan setelah mandi, mengenakan kemeja polo dan wangi parfum, seolah tidak ada perempuan yang baru saja dia bunuh secara perlahan semalam.

Dia mengangkat Nico ke kursinya.

— Selamat pagi, jagoan.

— Selamat pagi, Papa!

Nico tertawa.

— Papa, nanti kita main lagi ke rumah Tante Bea?

Tanganku yang memegang piring langsung membeku.

Adrian tidak bergerak.

Perlahan aku menoleh ke arah anakku.

— Siapa Tante Bea, Nak?

Nico tersenyum polos sambil menggigit daging panggangnya.

— Yang cantik itu, Ma. Dia bilang kalau Mama sudah tidak tinggal di rumah lagi, nanti dia yang akan membuatkan pancake untuk aku dan Papa.

Piring di tanganku jatuh dan pecah di lantai.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, aku melihat ketakutan yang sesungguhnya di wajah Adrian.

Bagian 2: Kepergian dalam Diam dan Penyesalan yang Terlambat di Bawah Guyuran Hujan

Keheningan yang mengikuti suara pecahan piring itu terasa mencekik.

Adrian langsung berdiri, wajahnya pucat pasi, sementara Nico menatap kami dengan mata bulatnya yang polos, tidak mengerti mengapa sebuah nama bisa menghancurkan pagi kami. Aku tidak berteriak. Aku tidak menjambak rambut Adrian, tidak juga memaki perempuan bernama Bea itu.

Aku hanya berlutut, memunguti serpihan piring satu demi satu hingga jariku teriris dan darah segar mulai menetes.

“Mira, aku bisa jelaskan…” suara Adrian bergetar, kehilangan seluruh keangkuhan yang ia pamerkan semalam.

Aku berdiri, mengabaikan darah di tanganku, lalu menatapnya lurus-lurus.

“Tidak perlu, Adrian. Kamu benar. Peranku sudah selesai.”

Hari itu juga, aku mengemas satu koper pakaianku. Ketika Adrian mencoba menahan Nico dengan ego dan pengacaranya—mengancam bahwa aku yang tidak punya pekerjaan tetap tidak akan pernah memenangkan hak asuh—aku memilih untuk tidak melawannya dengan drama. Aku tahu, dengan kekayaan dan arogansinya saat itu, aku akan kalah. Aku mencium Nico, membisikkan janji bahwa aku akan kembali untuknya, lalu aku pergi dalam diam.

Tanpa uang sepeser pun dari tabungan Adrian. Tanpa menuntut rumah atau mobil yang selalu ia banggakan.

Satu Tahun Membangun Kembali Puing-Puing Hidup

Satu tahun berlalu seperti badai yang menempa besi menjadi baja. Aku kembali ke dunia akuntansi, mengambil sertifikasi ulang, dan bekerja belasan jam sehari di sebuah firma keuangan. Aku tidak lagi memakai pakaian lusuh atau melupakan diriku sendiri. Aku membangun kembali harga diriku yang sempat dihancurkan oleh pria yang paling kucintai.

Hingga malam itu tiba. Malam di mana hujan turun begitu deras, seolah ingin membasuh semua kenangan buruk masa lalu.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kontrakan kecilku diketuk dengan kasar di tengah gemuruh guntur. Saat kubuka, dadaku berdegup kencang melihat siapa yang berdiri di sana.

Adrian.

Pria yang dulu begitu rapi dan angkuh, kini berdiri gemetar di bawah guyuran hujan. Kemejanya basah kuyup, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah bengkak. Di pelukannya, ada Nico yang terbungkus jaket tebal, menangis sesenggukan karena kedinginan.

Tanpa memedulikan air hujan yang mengalir di lantai teras, Adrian tiba-tiba menjatuhkan lututnya ke lantai. Dia berlutut di depan pintu rumahku.

“Mira… tolong aku, Mira… Aku mohon, maafkan aku,” ratapnya, suaranya parau berbaur dengan suara hujan.

Aku mundur selangkah, mendekap dadaku yang mendadak sesak, bukan karena cinta, melainkan karena melihat pemandangan yang begitu menyedihkan di depanku.

Ketika “Nilai” Itu Berbalik Arah

Aku segera mengambil Nico dari pelukannya. Anakku langsung memeluk leherku erat-erat, menumpahkan seluruh kerinduannya selama setahun ini. Setelah menenangkan Nico di dalam kamar, aku kembali ke pintu depan. Adrian masih di sana, bersimpuh seperti seorang pengemis.

Melalui tangisnya yang tersedat, cerita menjijikkan itu akhirnya terungkap:

  • Tante Bea & Pengkhianatan: Perempuan yang dianggapnya lebih berharga itu ternyata hanya mencintai hartanya. Bea berselingkuh dengan pria lain setelah berhasil menghasut Adrian untuk membalik nama sebagian aset bisnis atas namanya.
  • Kehancuran Finansial: Bisnis material Adrian dikhianati dari dalam oleh Bea dan komplotannya, meninggalkannya dengan utang yang menumpuk. Rumah mewah dan mobil yang dulu ia pamerkan kini telah disita bank.
  • Penolakan Nico: Nico tidak pernah mau menerima Bea sebagai ibu. Anak itu terus menangis mencari “Mama”, hingga membuat Adrian sadar bahwa uang tidak bisa membeli kehangatan sebuah rumah.

“Aku salah, Mira. Rumah, mobil, dan semua tabungan itu… tidak ada artinya tanpa kamu yang menjadi jiwanya,” tangis Adrian, mencoba meraih ujung celandaku. “Aku baru sadar, akulah yang tidak berharga tanpamu.”

Aku menatap pria yang dulu kupuja setinggi langit, pria yang pernah mengusirku karena menganggapku sebuah ‘beban’.

Dulu (Satu Tahun Lalu)Sekarang (Malam Ini)
Adrian berdiri angkuh, Mira menangis di lantai.Adrian berlutut di tanah, Mira berdiri dengan tegap.
Menganggap Mira tidak bernilai karena tidak bekerja.Kehilangan segala harta dan menyadari Mira adalah segalanya.
Mengusir istri demi kehidupan lajang yang bebas.Mengemis memohon perlindungan dan pengampunan.

“Bangun, Adrian,” kataku dengan suara yang teramat tenang. Tidak ada kemarahan lagi di dalamnya, hanya ada kekosongan.

Dia menengadah dengan secercah harapan di matanya. “Kamu memaafkanku, Mira? Kita bisa mulai lagi dari awal?”

Aku tersenyum tipis, senyuman yang sama yang kuberikan padanya di malam perpisahan kami.

“Aku sudah memaafkanmu sejak lama, Adrian. Demi kedamaian hidupku sendiri,” ucapku pelan namun tegas. “Tapi untuk kembali? Tidak. Kamu tidak bisa membuang seseorang seperti barang rongsokan, lalu berharap barang itu tetap utuh di tempat yang sama saat kamu memutuskan untuk kembali.”

Aku melangkah mundur, perlahan menarik gagang pintu.

“Nico akan tinggal bersamaku mulai malam ini. Kamu boleh menjenguknya setelah kamu menata kembali hidupmu yang hancur itu. Tapi sebagai suamiku? Peranmu dalam hidupku sudah selesai, Adrian. Persis seperti yang kamu katakan setahun lalu.”

Brak.

Pintu kututup rapat, mengunci suara tangis penyesalannya di luar, bersama hujan yang perlahan mulai mereda. Di dalam rumah yang hangat, aku berjalan menuju kamar Nico, siap memulai babak baru hidup kami tanpa ada lagi ruang untuk pria yang baru menyadari arti berharga setelah semuanya terlambat.