Posted in

1,5 MILIAR RUPIAH SETIAP BULAN UNTUK MERAWAT ISTRIKU YANG BARU MELAHIRKAN, TETAPI SAAT AKU PULANG TANPA PEMBERITAHUAN, AKU MENDAPATINYA SEDANG MAKAN NASI BASI DAN DURI IKAN — DAN APA YANG AKU TEMUKAN SETELAHNYA JAUH LEBIH MENJIJIKKAN DARIPADA IBLIS

1,5 MILIAR RUPIAH SETIAP BULAN UNTUK MERAWAT ISTRIKU YANG BARU MELAHIRKAN, TETAPI SAAT AKU PULANG TANPA PEMBERITAHUAN, AKU MENDAPATINYA SEDANG MAKAN NASI BASI DAN DURI IKAN — DAN APA YANG AKU TEMUKAN SETELAHNYA JAUH LEBIH MENJIJIKKAN DARIPADA IBLIS

Namaku Mark, seorang Senior Marine Engineer yang bekerja di sebuah perusahaan pelayaran internasional besar di Norwegia. Karena posisiku yang tinggi, aku memperoleh penghasilan lebih dari 2 miliar rupiah setiap bulan. Aku menghabiskan seluruh waktuku untuk bekerja demi memastikan istriku, Clara, dapat menjalani kehidupan bak seorang putri.

Clara adalah seorang guru sederhana saat aku mengenalnya. Baik hati, pendiam, dan tidak pernah meminta apa pun selain cintaku. Ketika kami mengetahui bahwa ia hamil setelah lima tahun menunggu, aku hampir mengadakan pesta di seluruh kapal. Namun kehamilannya tergolong berisiko. Ia harus menjalani istirahat total dan membutuhkan perawatan yang sangat hati-hati.

Karena aku tidak bisa meninggalkan kontrakku di kapal, aku mengambil keputusan yang saat itu kupikir paling aman bagi istri dan anakku. Aku berbicara kepada ibuku sendiri, Mama Matilda, dan kakak perempuanku, Elena.

“Ma, Elena, Clara membutuhkan seseorang yang merawatnya, terutama setelah melahirkan nanti. Aku tidak bisa langsung pulang. Aku akan mengirim 1,5 miliar rupiah setiap bulan. Uang itu untuk makanan Clara, perawat yang kalian pekerjakan, obat-obatan, dan juga sebagai kompensasi atas bantuan kalian. Tolong jaga Clara dan bayiku.”

Ibu bahkan hampir menangis saat memelukku sebelum aku naik pesawat.

“Jangan khawatir, Nak. Dia sedang mengandung darah dagingmu. Kami akan menjaga Clara. Aku akan memperlakukannya seperti putri sungguhan di rumah ini.”

Aku berangkat dengan hati tenang. Setiap hari aku menelepon, tetapi Mama selalu mengatakan Clara sedang tidur atau beristirahat dan tidak boleh terkena radiasi ponsel agar tidak stres. Aku percaya. Aku mempercayai keluargaku sendiri.

Namun aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar.

KEPULANGAN DI TENGAH BADAI

Karena keberhasilan besar dalam proyek kami, perusahaan memberiku cuti selama tiga bulan. Menurut kabar dari Mama, sudah satu bulan sejak Clara melahirkan. Aku ingin memberi kejutan kepada istriku dan bayi kami yang baru lahir. Aku tidak memberi tahu siapa pun bahwa aku akan pulang.

Hujan turun sangat deras saat aku tiba di Indonesia malam itu. Ketika turun dari taksi di depan mansion besar yang kubangun untuk keluargaku, aku melihat semua lampu ruang tamu dan garasi menyala terang.

Aku mendengar musik keras, tawa, dan bunyi gelas-gelas minuman yang beradu. Ada pesta besar di dalam rumah. Banyak mobil baru terparkir di halaman.

Aku masuk diam-diam melalui bagian belakang rumah menuju dapur belakang agar mereka tidak langsung melihatku. Namun saat membuka pintu dapur yang gelap dan dingin itu, rasanya dunia berhenti berputar.

PENEMUAN YANG MENGHANCURKAN HATI DI DAPUR GELAP

Di sudut dapur, di atas lantai semen yang dingin, duduk seorang wanita yang sangat kurus. Tulang-tulang di lengan dan bahunya terlihat jelas. Ia menggigil kedinginan sambil mengenakan daster tipis yang kotor.

Seluruh tubuhku gemetar saat menyadari siapa dia.

“C-Clara? Clara, istriku?”

Dengan terkejut ia mengangkat kepalanya. Mata yang dulu penuh kehidupan kini cekung dan menghitam. Kelopak matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Saat melihatku, ia panik dan buru-buru menyembunyikan sebuah mangkuk plastik tua di belakang tubuhnya.

Aku segera mendekat dan mengambil mangkuk itu. Perutku hampir terbalik karena baunya.

Makanan yang dimakan istriku…

adalah nasi basi yang sudah menggumpal, dicampur sisa-sisa tulang ikan, kepala bandeng yang hanya menyisakan duri, dan kuah busuk yang sudah dipenuhi belatung.

Air mataku langsung jatuh. Aku berlutut dan memeluknya erat. Aku bisa merasakan setiap tulang di punggungnya…

Aku bisa merasakan setiap tulang di punggungnya, menonjol tajam seolah-olah dia tidak makan selama berbulan-bulan. Tubuhnya bergetar hebat di pelukanku, bukan hanya karena dingin, tetapi karena ketakutan yang mendalam.

“Mark… kamu benar-benar Mark?” bisiknya, suaranya serak dan nyaris habis. “Tolong… jangan biarkan mereka memukulku lagi. Aku minta maaf, aku lapar sekali… jangan hukum aku…”

Jantungku seperti dihantam godam raksasa. Kalimat itu keluar dari mulut istriku—wanita yang kukirimi 1,5 miliar rupiah setiap bulan agar bisa hidup bak seorang putri.

“Siapa yang memukulmu, Clara?! Di mana anak kita? Di mana bayiku?!” tanyaku setengah menjerit, menahan badai murka yang siap meledak di dadaku.

Clara tidak menjawab. Ia hanya menangis histeris, menunjuk ke arah gudang bawah tanah kecil di sebelah dapur yang biasanya digunakan untuk menyimpan mesin pompa air. Pintu itu digembok dari luar.

Tanpa membuang waktu, aku menerjang pintu itu. Kuambil sebuah kapak pemotong daging di meja dapur dan kuhantam gemboknya hingga hancur. Saat pintu terbuka, bau pesing, lembap, dan pengap langsung menusuk hidungku.

Di dalam ruangan gelap tanpa jendela itu, di atas sebuah kasur tipis yang basah oleh air hujan yang bocor, terbaring bayiku. Anak kandungku, darah dagingku. Tubuhnya sangat kecil, kurus kering, dan kulitnya dipenuhi ruam merah yang parah karena popoknya tidak diganti selama hari-hari. Ia bahkan tidak punya kekuatan lagi untuk menangis, hanya bisa merintih lirih.

Detik itu juga, sesuatu di dalam diriku mati. Dan iblis di dalam diriku bangkit.

Pesta Di Atas Darah Dagingku

Sambil menggendong bayiku yang sekarat dan merangkul Clara yang lemas, aku berjalan perlahan menuju ruang tamu utama. Suara tawa melengking ibuku dan kakak perempuanku terdengar sangat nyaring, berbaur dengan musik disko yang berdentum keras.

Saat aku membuka pintu penghubung, pemandangan di depanku benar-benar menjijikkan.

Ibuku, Mama Matilda, mengenakan kalung berlian seharga ratusan juta dan gaun sutra mewah. Kakakku, Elena, sibuk memamerkan tas Hermes terbaru dan kunci mobil sport barunya kepada puluhan teman-teman sosialitanya. Meja-meja prasmanan dipenuhi makanan mewah: daging wagyu, kaviar, dan botol-botol sampanye mahal.

Semua ini dibeli dengan uang perasan keringatku di tengah laut utara. Uang yang seharusnya untuk menghidupi istri dan anakku.

“Oh, lihat! Siapa yang datang! Mark?!” Elena berteriak gembira saat melihatku, berjalan sempoyongan sambil memegang gelas anggur. “Kenapa pulang tidak bilang-bilang, Dik? Lihat, Mama baru saja beli—”

Kalimat Elena terhenti. Seluruh ruangan mendadak hening seketika saat mereka melihat penampilanku. Aku berdiri di sana, dengan baju kerja yang kotor, memeluk istriku yang kurus kering seperti mayat hidup, dan menggendong bayi yang sekarat.

Mama Matilda tersedak minumannya. Wajahnya yang tadinya ceria langsung pucat pasi seperti kain kafan.

“M-Mark… kamu… kapan kamu sampai?” tanya Mama dengan suara bergetar, mencoba maju namun mundur ketakutan melihat tatapan mataku.

“Pesta yang bagus, Ma. Elena,” ucapku, suaraku terdengar sangat tenang, namun keheningan suaraku justru lebih mengerikan dari badai petir di luar. “Apakah makanannya enak? Apakah berliannya berkilau?”

“Mark, dengarkan Mama! Itu… wanita sialan itu yang tidak mau makan! Dia gila! Dia selalu membuang makanan mewah yang kami belikan!” Elena mencoba berbohong, suaranya melengking panik.

“DIAM KAU, IBLIS!” raungku hingga gelas-gelas kristal di atas meja bergetar. Teman-teman mereka berteriak ketakutan dan mulai mundur ke arah pintu keluar. “Kalian mengunci istriku di dapur! Kalian memberi makan nasi basi berbumbu belatung pada ibu dari anakku! Sementara kalian menjadikannya budak dan berpesta dengan uangku?!”

Kebusukan yang Jauh Lebih Menjijikkan

Aku segera menghubungi tim medis pribadiku dan ambulans untuk membawa Clara dan bayiku ke rumah sakit terbaik. Namun sebelum mereka dibawa, pengacaraku dan tim audit independen yang sengaja kuhubungi secara darurat tiba di rumah bersama aparat kepolisian.

Aku tahu ada yang tidak beres dengan aliran dana 1,5 miliar itu. Dan apa yang ditemukan oleh tim auditku dalam waktu satu jam berikutnya di laptop pribadi Elena, jauh lebih menjijikkan daripada sekadar keserakahan biasa.

Elena dan ibuku tidak hanya menggunakan uang itu untuk foya-foya.

Mereka berdua membiayai bisnis haram perdagangan manusia (human trafficking) milik kekasih gelap Elena. Lebih biadabnya lagi, tim audit menemukan dokumen digital bahwa mereka telah membuat akta kelahiran palsu untuk anakku. Mereka berencana menyatakan bahwa bayiku “meninggal saat dilahirkan” kepada diriku, sementara bayi itu sebenarnya sudah DIJUAL ke jaringan ilegal luar negeri seharga 5 miliar rupiah, dan penyerahannya dijadwalkan minggu depan.

Mereka sengaja membuat Clara kelaparan dan mengurungnya agar Clara menjadi gila, sehingga saat aku pulang, mereka bisa beralasan bahwa Clara-lah yang membunuh atau menghilangkan bayi kami karena depresi pascapersalinan.

Saat kebenaran itu dibacakan oleh polisi di tengah ruang tamu, aku melihat ke arah dua wanita yang melahirkanku dan tumbuh bersamaku. Mereka bukan lagi keluargaku. Mereka adalah monster berwujud manusia.

Hukuman Tanpa Ampun

“Mark! Tolong, Mama ibumu, Nak! Mama yang melahirkanmu! Jangan biarkan polisi membawa Mama!” jerit Mama Matilda sambil berlutut, mencoba menggapai celanaku. Air mata palsunya mengalir, namun tidak ada lagi rasa iba di hatiku. Aku menarik kakiku dengan jijik.

“Saat Mama membiarkan cucu kandung Mama kelaparan di gudang yang dingin, Mama sudah membunuh anakmu ini,” jawabku dingin tanpa menatapnya.

Elena mencoba berlari keluar lewat pintu belakang, namun polisi dengan sigap meringkusnya ke lantai, memborgol tangannya hingga tas mahalnya tercampak ke lantai.

“Aku akan memastikan kalian berdua mendapatkan hukuman maksimal,” bisikku tepat di telinga mereka saat mereka diseret masuk ke dalam mobil polisi di bawah guyuran hujan deras. “Pasal percobaan pembunuhan berencana, perdagangan anak, penganiayaan berat, dan pencucian uang. Seluruh aset, rumah, mobil, dan rekening yang menggunakan namaku atau uangku, akan disita malam ini juga. Kalian akan membusuk di penjara tanpa sepeser pun uang.”

Fajar Baru

Tiga bulan berlalu.

Rumah mewah yang penuh kutukan itu telah kujual dan seluruh uangnya kusumbangkan ke panti asuhan. Aku memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaanku di Norwegia. Uang tabunganku sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kami tujuh turunan. Sekarang, duniaku hanya untuk mereka.

Aku duduk di kursi taman sebuah vila pribadi di Bali, memandangi Clara yang kini pipinya mulai kembali merona dan berisi. Ia sedang menggendong putra kecil kami, Liam, yang tumbuh sehat dan menggemaskan setelah mendapatkan perawatan medis terbaik.

Clara menoleh ke arahku, tersenyum dengan mata yang kini kembali bersinar penuh kehidupan.

Aku berjalan mendekat, memeluk mereka berdua dari belakang, dan berjanji di dalam hati bahwa di sisa hidupku, tidak akan pernah ada lagi air mata kesedihan yang jatuh dari mata istri dan anakku. Badai telah berlalu, dan iblis-iblis itu kini sedang meratapi nasib mereka di balik jeruji besi yang dingin untuk waktu yang sangat lama.