Posted in

SELAMA TIGA TAHUN AKU TINGGAL DI RUMAH KELUARGA YANG MENGANGKATKU SEBAGAI GADIS YANG PENDIAM DAN PENURUT.

SELAMA TIGA TAHUN AKU TINGGAL DI RUMAH KELUARGA YANG MENGANGKATKU SEBAGAI GADIS YANG PENDIAM DAN PENURUT.

Aku tidak pernah membantah.

Aku tidak pernah pulang larut malam.

Dan aku tidak pernah membiarkan siapa pun melihat jati diriku yang sebenarnya.

Sampai akhirnya aku meninggalkan kota kecil kami untuk kuliah di kota besar.

Seolah-olah aku berubah menjadi orang lain.

Di pagi hari, aku adalah mahasiswi teladan—pendiam, sopan, dan selalu mendapat nilai terbaik.

Namun saat malam tiba…

Aku memakai riasan yang sangat tebal, mengubah seluruh penampilanku, lalu larut dalam hiruk-pikuk musik dan lampu bar.

Di sana…

Tak seorang pun mengenalku.

Tak ada yang memanggil namaku yang sebenarnya.

Dan aku bukan lagi gadis yang selalu meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah kulakukan.

Hingga suatu malam…

Karena terlalu banyak minum, aku benar-benar mabuk.

Aku memeluk seorang pria yang sama sekali tidak kukenal sambil terus berbisik,

*”Jangan tinggalkan aku…”*

Dia tidak mendorongku menjauh.

Sebaliknya…

Dia membawaku ke sebuah hotel.

Saat terbangun keesokan paginya, kepalaku terasa seperti akan pecah.

Begitu membuka mata, aku melihat seorang pria duduk di dekat jendela.

Sinar matahari menerpa wajahnya yang tegas.

Kerah kemeja putihnya sedikit terbuka, memperlihatkan bekas lipstik di lehernya.

Jantungku hampir berhenti berdetak.

Ternyata dia…

Gabriel.

Putra sulung dari keluarga yang telah mengangkatku.

Dan orang yang selalu kuhindari setiap kali pulang ke rumah.

Satu-satunya kabar baik…

Riasan tebalku masih menempel sempurna dan hampir mengubah seluruh wajahku.

Kalau tidak…

Mungkin aku tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari kamar hotel itu.

Dia menyadari aku sudah bangun.

Perlahan ia meletakkan ponselnya.

“Sudah bangun?”

Aku tidak mampu berkata apa-apa.

Dia mengulurkan ponselnya kepadaku.

“Berikan nomor kontakmu.”

Tubuhku langsung membeku.

“…Untuk apa?”

“Karena semalam kita tidur bersama.”

Nada suaranya begitu tenang.

“Setidaknya aku harus tahu namamu.”

Wajahku langsung memerah.

“Apa yang terjadi semalam benar-benar tidak disengaja.”

“Tidak disengaja?”

Dia tersenyum tipis.

“Bukankah semalaman kamu terus memelukku?”

“…”

“Dan berkali-kali memanggilku…”

Dia berhenti sejenak.

*”Kakak…”*

Seluruh tubuhku langsung terasa membeku.

Aku buru-buru mengubah suaraku.

“Maaf… Aku salah mengira orang.”

Dia menatapku cukup lama.

Seolah sedang berusaha melihat wajah asliku di balik riasan tebal itu.

“Siapa namamu?”

“…Mia.”

“Umurmu?”

“Dua puluh tahun.”

“Mahasiswi?”

“Iya.”

Dia mengangguk.

“Nomormu.”

Untungnya, sejak mulai kuliah aku sudah menyiapkan kartu SIM cadangan dan akun media sosial terpisah.

Bahkan foto profilnya pun bukan fotoku.

Setelah menyimpan semua informasi itu, dia mengembalikan ponselnya.

“Aku akan menghubungimu.”

Aku hampir berlari keluar dari hotel.

Di perjalanan menuju asrama, aku terus berusaha menenangkan diri.

Tidak apa-apa.

Dia tidak akan mengenaliku.

Saat masih tinggal di rumah mereka, dia bahkan hampir tidak pernah memandangku.

Baginya…

Aku hanyalah gadis angkat yang diterima ibunya demi memenuhi sebuah janji lama.

Aku tidak pernah dianggap sebagai adik.

Tidak pernah dianggap sebagai keluarga.

Kalau ada orang yang bertanya,

“Dia adikmu?”

Dia selalu menjawab dengan dingin,

“Bukan.”

Selama tiga tahun tinggal serumah.

Mungkin kami bahkan belum pernah mengucapkan seratus kata satu sama lain.

Mana mungkin dia bisa mengenaliku hanya karena satu malam?

Memikirkan hal itu membuatku akhirnya bisa bernapas lega.

Sesampainya di asrama, aku langsung menghapus akun palsu itu.

Mengganti kartu SIM.

Mengubah foto profil.

Dan memblokir semua koneksi yang berhubungan dengannya.

Kalau aku benar-benar menghilang…

Semua ini pasti akan berakhir.

Namun tepat saat hendak memasukkan ponsel ke dalam tas…

Tiba-tiba muncul permintaan pertemanan di akun media sosial asliku.

Foto profilnya hanya langit malam yang gelap.

Tanpa nama.

Hanya ada satu pesan singkat.

**”Apa kamu benar-benar berpikir bahwa hanya dengan mengubah wajahmu, aku tidak akan bisa menemukanmu?”**

Tanganku langsung gemetar.

Beberapa detik kemudian…

Ponselku berdering.

Yang menelepon adalah…

Wanita yang telah mengangkatku.

Begitu kuangkat, dia berkata dengan suara dingin,

“Pulanglah akhir pekan ini.”

“Gabriel ingin menanyakan sesuatu yang penting kepadamu.”

Aku bahkan belum sempat menjawab…

Tiba-tiba terdengar suara yang sangat kukenal dari balik telepon.

Pelan.

Namun cukup untuk membuat seluruh tubuhku gemetar.

“Jangan tunggu sampai aku datang menjemputmu di kampus.”

“Karena sekarang aku sudah tahu…”

“Karena sekarang aku sudah tahu… di asrama mana kamu tidur setiap malam, Adikku sayang.”

Klik.

Telepon terputus secara sepihak. Nada statis yang monoton setelahnya terdengar seperti lonceng kematian di telingaku. Ponsel hampir saja merosot dari genggamanku yang basah oleh keringat dingin.

Seluruh persendianku terasa lemas. Bagaimana bisa? Riasan semalam sangat tebal—bahkan aku sendiri hampir pangling menatap cermin. Dan aku yakin aku sudah mengubah suaraku menjadi lebih serak saat di hotel tadi pagi.

Tapi ketenangan Gabriel… senyum tipisnya saat menanyakan namaku…

Dia sengaja mempermainkanku.

Sejak awal, sejak aku memeluknya di bar dan meracau memanggilnya “Kakak”, dia sudah tahu. Dia hanya ingin melihat sejauh mana “gadis penurut” ini akan berlari dan berbohong di depannya.

AKHIR PEKAN DI NERAKA

Hari Sabtu tiba lebih cepat dari yang kuharapkan. Sepanjang perjalanan pulang dengan kereta, jantungku berdegup kencang bak genderang perang. Aku sengaja menghapus semua riasan, mengepang rambutku rapi, dan mengenakan terusan kain berwarna pastel yang biasa kusukai oleh Ibu angkatku. Aku kembali menjadi si gadis bayangan. Gadis yang tidak punya suara.

Begitu melangkah masuk ke ruang tamu rumah keluarga baruku, atmosfer dingin langsung menyergap.

Ibu angkatku duduk di sofa dengan wajah kaku. Di sampingnya, Gabriel berdiri tegak, menyandarkan tubuhnya pada pilar kayu. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Tatapannya yang tajam langsung mengunci pergerakanku sejak melangkah di ambang pintu.

“Duduk, Mia,” perintah Ibu dengan suara datar tanpa kehangatan.

Aku duduk di kursi tunggal yang berseberangan dengan mereka, menundukkan kepala sedalam mungkin. “Ada apa, Ibu? Kak Gabriel?”

Ibu menghela napas panjang, lalu melempar beberapa lembar foto ke atas meja kaca di depan kami.

Jantungku rasanya berhenti berdetak saat melihat isi foto-foto itu. Itu adalah foto-fotoku saat berada di bar. Menggunakan pakaian minim, tertawa lepas, dan menenggak minuman keras. Di lembar terakhir, ada foto di mana aku sedang bersandar pasrah di dada Gabriel di depan lobi hotel.

“Tiga tahun aku mendidikmu menjadi gadis yang sopan untuk menjaga nama baik keluarga ini, Mia!” suara Ibu meninggi, penuh kekecewaan dan kejijikan. “Tapi apa ini? Kamu membusuk di kota besar! Menjadi wanita malam dan bahkan berani menggoda putra kandungku sendiri?!”

“Ibu, ini tidak seperti yang Ibu lihat…” suaraku bergetar, air mata mulai menggenang. Ketakutan terbesarku menjadi nyata: diusir dan kehilangan beasiswa kuliah yang dibiayai keluarga ini.

“Cukup! Aku tidak mau mendengar penjelasan dari gadis bermuka dua sepertimu. Sifat aslimu menjijikkan. Mulai bulan depan, seluruh—”

“Ibu, keluar dulu. Biar aku yang menyelesaikannya,” potong Gabriel tiba-tiba. Suaranya yang berat memotong kalimat Ibu dengan mutlak.

Ibu menatap Gabriel dengan terkejut, namun kepatuhannya pada putra sulungnya membuat wanita itu akhirnya berdiri, memberikan tatapan tajam terakhir padaku, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang tamu.

PERJANJIAN DI BALIK TOPENG

Kini, hanya ada aku dan Gabriel di ruangan yang luas ini. Keheningan mencekik leherku.

Gabriel berjalan perlahan, lalu duduk di sofa tepat di hadapanku. Ia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan yang saling bertautan, menatapku yang masih menunduk.

“Tiga tahun tinggal bersama, aku tidak tahu kamu punya bakat akting yang hebat, Mia,” sindirinya halus, namun nadanya terdengar sangat berbahaya.

“Kenapa… kenapa Kakak tidak mengatakannya sejak di hotel?” bisikku, akhirnya berani mendongak dan menatap mata elangnya.

Gabriel tersenyum tipis—senyuman yang sama dengan yang kulihat di hotel tadi pagi. “Kalau aku langsung membongkarnya semalam, aku tidak akan bisa melihat ekspresi panikmu saat menghapus akun palsu itu. Kamu sangat menggemaskan saat mencoba kabur.”

Ia kemudian mengambil selembar kertas dari saku kemejanya dan meletakkannya di atas foto-foto liarku. Dokumen resmi pemindahan hak asuh dan jaminan dana pendidikan mandiri atas namaku, yang sudah ditandatangani olehnya sebagai kepala eksekutif perusahaan keluarga.

“Aku sudah menahan Ibu agar tidak mencabut beasiswamu atau mengusirmu secara hukum,” kata Gabriel santai.

Aku mengernyit bingung. Selama ini dia selalu bersikap dingin dan menganggapku tidak ada. “Apa maumu, Kak? Apa kompensasi yang kamu inginkan dariku untuk tutup mulut?”

Gabriel bangkit dari duduknya, melangkah mendekat hingga bayangan tubuhnya yang tegap mengurungku di kursi. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telingaku hingga aku bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang familier dari malam itu.

“Sederhana,” bisik Gabriel, suaranya kini terdengar serak dan posesif. “Jadilah gadis penurut di depan Ibuku… tapi jadilah wanita liar yang hanya boleh memelukku setiap kali malam tiba.”

Ia menjauhkan wajahnya, menatap lurus ke dalam mataku yang melebar karena terkejut.

“Jangan pernah berpikir untuk memakai topengmu di depanku lagi, Mia. Karena di mataku, baik gadis pendiam di rumah ini maupun wanita mabuk di bar malam itu… kedua jati dirimu sudah telanjur membuatku gila.”

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.