TIGA TAHUN AKU MENIKAH DENGAN SUAMIKU—SAAT WANITA YANG PERNAH MENJADI CINTA PERTAMANYA KEMBALI, AKU HANYA MENINGGALKAN SURAT PERCERAIAN SEBELUM PERGI
Tiga tahun setelah kami menikah, wanita yang dulu pernah menjadi cinta terbesarnya akhirnya kembali.
Di hari ketika dia sibuk mempersiapkan pesta penyambutan untuk wanita itu, aku baru saja menutup koper terakhirku.
Dia melirik koper-koper di samping pintu, lalu tersenyum santai.
“Apa kamu mau liburan lagi?”
Tanpa sepatah kata, aku meletakkan sebuah map di atas meja dan mendorongnya ke arahnya.
“Tidak.”
“Kali ini… aku benar-benar akan pergi.”
“Aku ingin kita bercerai.”
Senyumnya langsung menghilang.
Tangan yang memegang gelas membeku di tempat.
—
## 1
Nama wanita itu adalah **Lia**.
Mereka teman sekelas saat kuliah.
Pertama kali aku melihatnya adalah di sebuah seminar kampus.
Saat itu aku hanya datang untuk mengantarkan beberapa dokumen kepada suamiku.
Di dalam auditorium, Lia sedang sibuk memperbaiki proyektor.
Ia mengenakan gaun putih sederhana.
Rambut panjangnya diikat longgar.
Dia adalah tipe wanita yang sulit dilupakan hanya dengan sekali melihat.
Tiba-tiba proyektornya bermasalah.
Ia mengernyit pelan.
Matanya menyapu deretan kursi, seolah mencari seseorang yang bisa membantu.
Masih ada hampir tiga puluh menit sebelum acara dimulai.
Peserta yang datang pun belum banyak.
Aku memandangnya sambil bergumam pelan.
“Cantik sekali…”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku…
Pria yang berdiri di sampingku sudah lebih dulu bangkit.
Dia langsung berjalan ke atas panggung.
Tanpa ragu sedikit pun.
Seumur hidupku, itulah pertama kalinya aku melihat dia dengan sukarela membantu seorang wanita.
Dengan tenang ia merapikan kabel-kabel proyektor.
Tak sampai beberapa menit, proyektor kembali menyala normal.
Lia tersenyum.
Tatapan mereka bertemu.
Keduanya saling melempar senyum.
Momen itu begitu sederhana.
Namun rasanya seolah hanya mereka berdua yang berada di dalam auditorium besar itu.
Aku tak bisa menjelaskan mengapa jantungku tiba-tiba berdegup begitu cepat.
Selama ini aku selalu mengira dia tidak tertarik pada urusan cinta.
Saat SMA, banyak siswi yang mencoba mendekatinya.
Bahkan pernah ada seorang gadis yang dengan berani memberinya surat cinta.
Dia menerima surat itu, lalu bertanya dengan tenang.
“Yakin surat ini memang untukku?”
Gadis itu langsung memerah karena malu lalu berlari pergi.
Tetapi sekarang…
Tatapan matanya kepada Lia benar-benar berbeda.
Setelah selesai memperbaiki proyektor, barulah dia menyadari keberadaanku.
Tatapan kami bertemu.
Dia tampak sedikit canggung.
Aku hanya tersenyum sambil mengangkat alis.
Dia buru-buru berkata,
“Dia cuma teman sekelasku.”
Aku mengangguk.
Tanpa mengatakan apa pun.
Namun saat itu aku sudah tahu.
Mungkin inilah wanita pertama yang benar-benar membuat jantungnya berdebar.
—
Beberapa bulan kemudian.
Hari kelulusan.
Aku membawa sebuket bunga untuk mengucapkan selamat kepadanya.
Aku mencari Lia, tetapi dia tidak ada di sana.
Aku bertanya dengan santai.
Dia sedikit menundukkan kepala.
“Dia sudah pindah ke luar negeri.”
Nada suaranya terdengar tenang.
Namun matanya tak mampu menyembunyikan penyesalan.
Saat itulah aku berpikir…
Mungkin cinta yang tak pernah sempat memiliki akhir justru paling sulit dilupakan.
—
## 2
Dua tahun berlalu.
Segalanya berubah.
Keluarga kami dan keluarganya sudah lama menjadi rekan bisnis.
Kakak laki-lakinya dijadwalkan bertunangan dengan kakak perempuanku dalam sebuah acara yang sangat megah.
Namun beberapa menit sebelum upacara dimulai…
Mereka berdua tiba-tiba menghilang.
Demi menjaga nama baik kedua keluarga di depan para tamu undangan, sebuah keputusan besar diambil.
Aku…
Dan dia…
Harus menggantikan mereka.
Saat pembawa acara menceritakan kisah cinta masa kecil kami yang katanya begitu romantis, aku hampir tertawa.
Kami tumbuh sebagai tetangga.
Sering memanjat pohon bersama.
Bertengkar.
Saling mengerjai.
Hubungan kami lebih mirip kakak dan adik.
Tak pernah sekalipun kubayangkan suatu hari kami akan menjadi suami istri.
Namun pada hari itu…
Cincin disematkan di jari kami.
Janji pernikahan diucapkan.
Dan semua orang bertepuk tangan.
Malam harinya.
Aku mengetuk pintu kamarnya sambil membawa laptop.
Dia baru selesai mandi.
Rambutnya masih basah.
Aku meletakkan laptop di atas meja.
Di layarnya sudah terbuka sebuah dokumen.
**Perjanjian Pernikahan.**
Aku menarik napas panjang.
“Kita menikah hanya karena keadaan.”
“Anggap saja ini sebuah kesepakatan.”
“Kalau suatu hari nanti salah satu dari kita menemukan orang yang benar-benar dicintai…”
“Kita akan berpisah tanpa saling menghalangi.”
Dia menatapku cukup lama.
Tanpa bertanya apa pun.
Dia hanya mengambil pena.
Lalu menandatangani dokumen itu.
Dia hanya mengatakan satu kalimat.
“Baik.”
Aku tersenyum.
Rasanya semua beban langsung terasa lebih ringan.
Aku yakin…
Kalau suatu hari Lia kembali…
Akulah orang pertama yang akan mengucapkan selamat kepada mereka.
—
## 3
Namun kehidupan pernikahan kami ternyata tidak seperti yang kubayangkan.
Dia adalah suami yang sangat baik.
Setiap pagi dia mengantarkanku ke kantor.
Setiap sore dia pula yang menjemputku.
Kalau harus lembur, dia selalu memberi kabar.
Kulkas di rumah tak pernah kosong.
Makan malam selalu hangat ketika aku pulang.
Suatu hari aku pernah bertanya kepadanya.
“Kamu sebenarnya tidak perlu melakukan semua ini.”
Dia hanya menjawab sederhana.
“Aku sudah terbiasa.”
Namun sahabatku tidak percaya.
Suatu malam ketika kami makan bersama, dia tiba-tiba berkata,
“Kamu yakin suamimu tidak mencintaimu?”
Aku langsung menggeleng.
“Tidak.”
“Dia hanya menjalankan tanggung jawabnya.”
“Hatinya masih menunggu seseorang.”
“Dan orang itu bukan aku.”
Sahabatku tetap tidak percaya.
Tetapi aku…
Aku mempercayainya.
Karena setiap kali nama Lia disebut…
Ekspresi wajah suamiku selalu berubah.
Hingga suatu hari.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Isinya sangat singkat.
**”Aku sudah kembali.”**
Pengirimnya…
Lia.
—
Seminggu kemudian.
Dia berdiri di depan cermin sambil mengenakan mantel baru.
Untuk pertama kalinya selama tiga tahun pernikahan kami…
Dia meminta pendapatku.
“Bagaimana? Cocok tidak?”
Aku menatapnya cukup lama.
Lalu tersenyum.
“Ya.”
“Apa ada acara penting?”
Dia terdiam beberapa saat.
Lalu mengangguk.
“Ada acara makan malam.”
“Kami akan menyambut seorang teman lama.”
Aku tersenyum.
Akhirnya…
Hari itu benar-benar tiba.
Saat dia bersiap untuk pergi…
Aku masuk ke kamar kami.
Aku mengambil perjanjian yang kusimpan selama tiga tahun.
Aku meletakkannya di atas meja.
Lalu menandatangani namaku.
Setelah itu aku mengeluarkan koper.
Satu per satu barang-barangku kumasukkan ke dalamnya.
Baru saja aku menutup resleting koper…
Pintu terbuka.
Dia sudah pulang.
Di tangannya ada sebuah kotak kecil.
Tatapannya jatuh pada koper-koper itu.
Dengan bingung dia bertanya,
“Kamu mau ke mana?”
Aku mendorong dokumen itu ke arahnya.
“Masih ingat ini?”
Dia menunduk membacanya.
Perlahan-lahan wajahnya berubah pucat.
Tepat pada saat itu…
Ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar adalah…
**Lia.**
Dia memandang ponselnya.
Lalu menatapku.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…
Aku melihat rasa takut dan kepanikan di matanya.
Dia menatap ponsel yang terus bergetar di atas meja, lalu kembali menatapku dengan napas yang memburu.
“Apa-apaan ini?” suaranya serak, terdengar menahan emosi yang campur aduk. “Perceraian? Kenapa tiba-tiba, Hana?”
Aku tersenyum tipis, mencoba mempertahankan sisa-sisa ketenangan yang sudah kupersiapkan sejak seminggu lalu. “Ini tidak tiba-tiba. Perjanjian ini sudah ada sejak malam pertama kita menikah. Tiga tahun lalu kita sepakat, kan? Jika salah satu dari kita menemukan orang yang benar-benar dicintai, kita akan berpisah tanpa saling menghalangi.”
“Dan kamu pikir orang itu Lia?!” potongnya cepat. Langkah kakinya maju selangkah, hendak meraih tanganku, namun aku mundur secara refleks.
Ponselnya berhenti berdering, namun sedetik kemudian sebuah pesan teks masuk dan layarnya menyala, menampilkan sebaris kalimat dari Lia: “Aku sudah sampai di restoran. Kamu di mana? Aku menunggumu.”
Aku melirik layar itu, lalu menatap suamiku—tidak, pria yang sebentar lagi akan menjadi mantanku.
“Dia sudah menunggumu,” kataku pelan, hampir berupa bisikan. “Pergilah. Jangan buat dia menunggu lagi seperti tiga tahun lalu saat dia pergi ke luar negeri.”
4
Wajahnya kian pias. Tangan yang tadinya memegang kotak kecil kini terkepal erat di sisi tubuhnya.
“Hana, dengarkan aku dulu. Makan malam ini bukan seperti yang kamu bayangkan,” ujarnya dengan nada memohon yang belum pernah kudengar seumur hidupku. “Aku… aku pergi menemui dia hanya untuk—”
“Untuk menyelesaikan apa yang belum selesai, bukan?” sela-ku dengan lembut. Aku tidak ingin mendengar kelanjutan kalimatnya. Aku tidak ingin hatiku yang sudah rapuh ini hancur berkeping-keping jika harus mendengar pengakuannya langsung.
Tiga tahun ini aku sudah cukup bahagia. Menjadi istrinya, diantar jemput olehnya, dan merasakan kehangatan rumah tangga bersamanya. Aku tahu dia adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Dia memperlakukanku dengan sangat baik justru karena dia adalah pria yang tulus. Namun, aku juga tahu, semua kebaikan itu berakar dari rasa tanggung jawab atas pernikahan paksa ini, bukan karena cinta.
Cintanya sudah habis di auditorium kampus itu, lima tahun lalu, untuk wanita bergaun putih bernama Lia.
“Semalam, saat kamu mencoba mantel baru itu… matamu berbinar,” kataku sambil menatap matanya yang kini berair. “Selama tiga tahun menikah denganku, aku belum pernah melihat binar itu di matamu. Kamu selalu tenang, selalu datar. Baru kemarin aku sadar, binar itu hanya milik Lia.”
“Hana, tidak… kamu salah paham…” Air mata kini benar-benar menetes di pipinya. Pria yang biasanya begitu tegar dan tak tersentuh ini sekarang tampak begitu rapuh di depanku.
“Aku tidak salah paham,” aku meraih pegangan koperku. “Aku hanya menepati janjiku. Aku melepaskanmu agar kamu bisa bahagia tanpa rasa bersalah. Tanda tangani surat itu saat kamu pulang nanti.”
5
Aku melangkah melewati tubuhnya yang mematung. Namun tepat saat tanganku menyentuh kenop pintu rumah, dia tiba-tiba berlari dan memelukku erat dari belakang.
Tubuhnya bergetar hebat. Kotak kecil yang dipegangnya terlepas dan jatuh ke lantai, terbuka, menampilkan sebuah cincin berlian yang berkilau indah—cincin yang ukurannya sangat pas untuk jari manisku, bukan jari Lia.
“Jangan pergi… kumohon, Hana, jangan pergi,” bisiknya dengan suara terisak di ceruk leherku. “Binar mata itu… binar itu ada karena aku akhirnya berani mengambil keputusan untuk menutup masa laluku!”
Aku terpaku.
“Kemarin aku bertanya tentang mantel itu karena aku ingin terlihat pantas di depanmu saat aku memberikan cincin ini,” ucapnya terbata-bata, pelukannya semakin mengencang seolah takut aku akan menghilang jika dia melepaskannya sedikit saja. “Makan malam ini… ini adalah acara perpisahan dengannya sebagai teman. Aku datang untuk menegaskan padanya bahwa aku sudah menikah, dan aku sangat mencintai istriku.”
Dia membalikkan tubuhku agar menghadapnya. Matanya yang merah menatapku dengan seluruh kejujuran yang dia miliki.
“Selama tiga tahun ini, aku tidak sedang menjalankan tanggung jawab, Hana. Aku sedang belajar bagaimana cara mencintaimu dengan benar tanpa bayang-bayang masa lalu. Dan saat Lia kembali, aku baru sadar… hatiku tidak lagi bergetar untuknya. Hatiku sudah sepenuhnya milikmu. Tolong, jangan tinggalkan aku…”
Di tengah keheningan ruang tamu, surat perceraian itu tergeletak dingin di atas meja, sementara di lantai, sebuah cincin baru berkilau di bawah temaram lampu.
Aku menatap pria di depanku, mencari kebohongan di matanya, namun yang kutemukan hanyalah ketakutan terbesar seorang suami yang hampir kehilangan belahan jiwanya. Tembok pertahanan yang kubangun selama seminggu ini runtuh seketika. Mungkin, kisah kami tidak berakhir dengan kepergianku, melainkan sebuah awal yang baru—di mana aku bukan lagi sekadar pengganti, melainkan satu-satunya wanita di hatinya.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.