Saat suamiku membawa seluruh keluarganya tinggal di apartemen yang kubeli dengan uangku sendiri, dia berkata bahwa gajinya sebesar Rp7.000.000 per bulan cukup untuk menghidupi semua orang. Aku hanya tersenyum, menggendong anak kami, pergi keesokan paginya, lalu menunggu telepon darinya dengan suara gemetar karena beras di rumah sudah habis.
Bagian 1 — Hari ketika mereka mengubah apartemenku menjadi rumah umum, dan suamiku bertingkah seperti raja di depan keluarganya.
Saat ponselku berdering ketika aku sedang menyiapkan bekal makan siang putraku, Kiko, aku langsung tahu itu bukan telepon biasa.
Kami sedang tinggal di sebuah studio kecil sewaan di belakang kompleks yang tenang di Jakarta Timur. Tempatnya tidak mewah. Gorden tipis, meja makan kecil, dan setiap kali kipas angin serta rice cooker dinyalakan bersamaan, lampunya berkedip.
Namun tempat itu tenang.
Lantainya bersih.
Tidak ada yang berteriak.
Tidak ada anak-anak berlari di atas sofa dengan sepatu yang baru dipakai dari luar.
Tidak ada ibu mertua yang berkata aku seharusnya bersyukur karena “masih ada laki-laki yang mau pulang kepadaku.”
Aku melihat layar ponsel.
Ryan.
Suamiku.
Aku tidak langsung mengangkatnya. Aku lebih dulu mengusap sisa telur di bibir Kiko.
“Bu, itu Ayah ya?”
Aku mengangguk.
“Iya, Nak. Habiskan dulu makanmu.”
Barulah aku menerima panggilannya.
Di seberang terdengar sangat bising.
Suara wajan beradu, dua anak kecil berteriak, tawa keras kakak iparku Maribel, dan suara ibu mertuaku, Bu Nena, yang hampir menusuk telingaku.
“Lira, sebenarnya kamu ada di mana?”
Bukan, “Apa kabar?”
Bukan, “Bagaimana Kiko?”
Bukan pula, “Maaf.”
Langsung bertanya.
Seolah aku adalah pegawainya yang mangkir kerja.
Aku menarik napas perlahan.
“Aku sedang di luar.”
“Di luar mana? Cepat pulang. Beras di rumah habis. Gas juga habis. Sudah siang. Mama lapar.”
Aku melirik panci kecil di sampingku.
Masih ada nasi yang cukup untukku dan Kiko.
Ada terong goreng.
Ada telur.
Sederhana, tapi cukup.
Sedangkan di apartemen yang kutinggalkan, ada delapan orang dewasa dan dua anak yang terbiasa mengambil makanan dari piring orang lain.
“Beras habis?”
Aku tertawa pelan.
“Bukannya kemarin kamu baru gajian? Katamu gajimu Rp7.000.000 sebulan sudah lebih dari cukup untuk menghidupi semua orang.”
Ryan terdiam.
Itu bukan diam karena malu.
Melainkan diamnya seseorang yang baru sadar kesombongannya terbongkar.
“Soalnya Mama beli ikan, udang, daging panggang, buah-buahan, susu anak-anak, vitamin buat Papa, kopi untuk Kak Maribel, terus Kak Joel minta isi saldo buat judi online. Kupikir uangnya cukup.”
“Kupikir?”
“Lira, jangan mulai ceramah. Pulang saja dulu. Kamu kan yang paling pintar mengatur keuangan.”
Aku tersenyum, tetapi jemariku terasa dingin.
Selama lima tahun aku memang selalu menjadi orang yang “pandai mengatur keuangan.”
Artinya…
Akulah yang membayar cicilan apartemen.
Akulah yang membayar listrik, air, internet, iuran apartemen, uang sekolah Kiko, obat-obatan ibuku sendiri, bahkan kadang ikut melunasi utang keluarga Ryan di kampung.
Ryan?
Begitu menerima gaji, dia membeli sedikit bahan makanan, lalu mengirim uang untuk adiknya, biaya berobat ayahnya, dana pesta kampung, syukuran becak motornya, dan berbagai “keperluan darurat” yang tak pernah ada habisnya.
Saat kami menikah, dia berkata kami akan membangun keluarga bersama.
Lima tahun kemudian aku sadar…
Ternyata aku yang membangun semuanya.
Sedangkan dia sibuk membawa orang-orang yang perlahan menghancurkannya.
“Ryan, aku tidak akan pulang hanya untuk memasakkan nasi bagi orang-orang yang mengusir anakku dari kamarnya sendiri.”
“Kamu tidak diusir. Jangan dibesar-besarkan.”
Aku menoleh ke arah Kiko.
Ia makan dengan tenang sambil menggenggam mobil-mobilan kecilnya.
Hanya itu yang sempat ia bawa saat kami pergi.
Kemarin kamarnya dipenuhi mainan keponakan Ryan.
Meja belajarnya dipenuhi koper.
Bantal bergambar dinosaurus kesayangannya dipakai anak Maribel untuk mengelap lantai setelah jus tumpah.
Itu bukan hal kecil.
Itu adalah cara paling jelas untuk menghapus tempat anakku di rumahnya sendiri.
“Coba telepon Kak Maribel saja. Sekarang dia yang paling tahu urusan rumah.”
“Lira, jangan begitu. Mereka keluargaku.”
“Kalau aku dan Kiko ini siapa?”
Tidak ada jawaban.
Terdengar suara Bu Nena berteriak dari belakang.
“Ryan! Bilang sama istrimu jangan jadi perempuan yang sok! Itu juga rumahmu!”
Rumahmu juga.
Aku tidak tahu harus tertawa atau mual.
Apartemen di Jakarta Selatan itu kubeli dua tahun sebelum mengenal Ryan.
Saat itu aku masih bekerja sebagai supervisor QA di sebuah perusahaan BPO.
Aku bekerja shift malam, tidur pagi, lalu sore hari berjualan lumpia beku secara online demi mengumpulkan uang muka.
Kontraknya atas namaku.
Pinjamannya atas namaku.
Semua kuitansi lantai, gorden, tempat tidur, lemari, sampai air fryer kecil yang dulu diejek Ryan karena katanya hanya orang kaya yang membelinya, semuanya atas namaku.
Namun setelah menikah dan pindah ke sana…
Tiba-tiba dia menyebutnya sebagai “rumah kita.”
Dan kemarin…
Di depan keluarganya…
Dia mengubahnya menjadi “rumah semua orang.”
Semuanya bermula pukul sepuluh pagi.
Aku sedang mencuci seragam sekolah Kiko ketika bel apartemen berbunyi.
Begitu kubuka pintu, kulihat Maribel, suaminya Joel, kedua anak mereka, Tonton dan Mimi, disusul Bu Nena dan Pak Carding.
Mereka membawa karung besar.
Kardus mi instan.
Kantong pakaian.
Kipas angin.
Tempat penyimpanan beras.
Bahkan speaker karaoke tua.
Mereka bukan datang bertamu.
Mereka datang untuk pindah rumah.
“Surprise!”
Itulah kata pertama Maribel.
Ia memakai kacamata hitam bermerek palsu meski kami masih berdiri di lorong apartemen.
Di tangannya ada segelas boba.
Sementara kedua anaknya langsung berlari masuk seolah apartemenku adalah taman bermain.
“Kak… ini maksudnya apa?”
Sebelum ia menjawab, Ryan keluar dari lift sambil membawa koper lain.
Saat itu juga aku mengerti.
Dia sudah tahu.
Bahkan ikut merencanakannya.
“Lira, jangan marah dulu. Ini cuma sementara.”
Sementara.
Kata favorit orang-orang yang berniat tinggal selama mungkin tanpa membayar apa pun.
“Berapa lama?”
Mereka saling berpandangan.
Maribel tersenyum.
“Paling beberapa bulan. Rumah kontrakan kami di Bekasi sedang direnovasi. Ryan bilang apartemen ini masih luas.”
“Luas?”
Aku memandang ke dalam.
Apartemen itu memiliki tiga kamar.
Kamar utama untukku dan Ryan.
Satu kamar untuk Kiko.
Satu ruang kerja kecil tempatku bekerja dari rumah.
Semua sudut penuh dengan barang yang kubeli dari hasil kerja keras.
Itu bukan asrama.
Bukan tempat pengungsian.
Bukan cabang keluarga Ryan.
“Ryan, boleh kita bicara sebentar?”
Aku menariknya ke dapur.
Saat itu aku masih berbicara dengan tenang, meski dadaku mulai terasa panas.
“Kamu membawa tujuh orang ke sini. Kita tidur di mana? Makan bagaimana? Tagihan siapa yang bayar? Sekolah Kiko bagaimana?”
Ryan berdiri tegak.
Itu sikap yang selalu dia tunjukkan ketika ada orang lain melihatnya.
Seolah dia kepala keluarga yang memegang kendali penuh.
“Aku yang urus. Gajiku Rp7.000.000 sebulan, belum termasuk lembur. Aku sanggup menghidupi mereka semua. Mereka keluargaku, Lira. Aku tidak mungkin membiarkan mereka terlantar.”
Aku menatapnya.
“Sembilan mulut yang harus diberi makan, Ryan. Termasuk kita dan Kiko.”
“Makanya kubilang, aku yang urus.”
“Termasuk iuran apartemen? Listrik? Air? Internet? Belanja bulanan? Susu? Uang sekolah? Cicilan apartemen?”
Dia mengernyit.
“Kenapa cicilan apartemen juga? Itu kan apartemenmu.”
Saat itulah aku tertawa.
Pelan.
Pendek.
Rapuh seperti kaca retak.

Kalau sedang menikmati hasilnya…
Katanya “rumah kita.”
Kalau waktunya membayar…
Mendadak menjadi “apartemenmu.”
Bagian 2 — Hari ketika keangkuhan itu runtuh, dan sebuah tagihan yang tidak akan pernah bisa mereka bayar.
“Ya, Ryan. Ini apartemenku,” jawabku tenang dari balik telepon, memotong keheningan di seberang sana. “Dan mulai hari ini, silakan urus ‘rumah semua orang’ itu dengan gajimu yang tujuh juta itu.”
Sebelum dia sempat membalas, aku langsung mematikan sambungan telepon. Aku memblokir nomor Ryan, nomor Ibu Nena, Maribel, dan seluruh anggota keluarganya. Aku tidak ingin ketenanganku dan Kiko terusik lagi.
Sore harinya, seorang teman yang tinggal di kompleks apartemen yang sama mengirimkan pesan video lewat aplikasi chat. Aku melihat rekaman singkat situasi di depan unitku. Ibu Nena sedang duduk di lantai lorong sambil mengipasi dirinya dengan kardus, sementara Maribel berteriak-teriak marah pada petugas keamanan yang berdiri tegap di depan pintu.
Ternyata, mereka baru sadar kalau aku tidak hanya membawa Kiko pergi.
Aku telah menonaktifkan kartu akses lift untuk unit tersebut secara online melalui aplikasi manajemen apartemen. Karena kontrak listrik, air, dan internet semuanya atas namaku, aku juga telah mengajukan pemutusan sementara hari itu juga dengan alasan “perbaikan total”.
Apartemen yang tadinya mereka bayangkan sebagai istana gratisan, dalam sekejap berubah menjadi kotak beton yang gelap, panas tanpa AC, dan tanpa air bersih.
Tiga Hari Kemudian…
Aku sengaja datang ke apartemen bersama pengacara dan pihak manajemen gedung. Bukan untuk pulang, melainkan untuk mengosongkan barang-barang pribadiku yang tersisa dan menyerahkan surat somasi pengosongan unit.
Pemandangan di dalam unit sungguh mengenaskan.
Apartemen yang dulunya rapi kini berantakan seperti kapal pecah. Bau sampah menyengat karena mereka tidak tahu cara membuang sampah apartemen melalui chute. Ryan duduk di lantai ruang tamu yang gelap, wajahnya kusut, rambutnya acak-acakan. Di sekelilingnya, Maribel dan Joel sedang bertengkar hebat menyalahkan satu sama lain karena anak-anak mereka menangis kelaparan dan kepanasan.
Begitu melihatku masuk bersama dua petugas keamanan, Ryan langsung bangkit.
“Lira! Kamu keterlaluan! Kamu mau membunuh keluargaku?!” teriaknya dengan suara parau, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur. “Kembalikan aliran listriknya! Beras habis, kami tidak punya uang lagi! ATM-ku sudah kosong!”
Aku menatapnya dengan tatapan kosong, lalu meletakkan selembar kertas di atas meja kopi yang penuh noda minyak.
“Itu rincian biaya yang harus kamu bayar kalau mau tetap tinggal di sini bulan ini,” kataku datar.
Ryan menyambar kertas itu. Matanya membelalak membaca angka-angka di sana:
- Cicilan apartemen: Rp4.500.000
- Iuran pengelolaan gedung (IPL): Rp1.200.000
- Tagihan listrik dan air bulan lalu: Rp1.500.000
- Total: Rp7.200.000
“Ini… ini bahkan lebih besar dari seluruh gajiku!” bisik Ryan, suaranya bergetar hebat. Lembaran kertas itu ikut bergetar di tangannya. “Lalu bagaimana kami bisa makan? Bagaimana dengan uang sekolah Kiko? Bagaimana dengan…”
“Itu bukan urusanku lagi, Ryan,” potongku tegas. “Bukankah katamu gajimu cukup untuk menghidupi semua orang? Ternyata, gajimu bahkan tidak cukup untuk membayar biaya dinding yang kalian telantarkan ini.”
Ibu Nena mencoba mendekat, wajahnya yang biasa ketus kini memelas. “Lira… tolonglah, Ryan ini suamimu. Masa kamu tega sama mertua sendiri?”
Aku tersenyum tipis, senyuman yang sama seperti saat aku pergi meninggalkan tempat ini.
“Saat Ibu membiarkan cucu Ibu diusir dari kamarnya sendiri, Ibu tidak pernah menganggap aku menantu. Dan saat Ryan merasa menjadi raja dengan memeras keringatku, dia sudah berhenti menjadi suami.”
Aku berbalik, memberi isyarat kepada petugas keamanan untuk mengawal proses pengepakan barang-barangku. Pengacaraku maju dan menyerahkan surat perintah pengosongan rumah dalam waktu $2 \times 24$ jam. Jika tidak, pihak kepolisian yang akan bertindak atas tuduhan penyerobotan properti pribadi.
Sambil melangkah keluar, aku menggandeng tangan kecil Kiko yang tersenyum melihat ibunya. Di belakang kami, sayup-sayup terdengar suara Ryan yang mulai menangis, meratapi keangkuhannya yang runtuh bersama dengan jeritan keluarganya yang menyadari bahwa tumpangan gratis mereka telah berakhir.
Aku menarik napas dalam-dalam. Udara Jakarta sore itu terasa begitu segar. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku merasa rumahku yang sesungguhnya telah kembali—bukan berupa bangunan, melainkan kedamaian di hati kecilku dan anakku.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.