Posted in

AKU DINIKAHKAN SEBAGAI PENGGANTI KAKAK KEMBARKU DI CEBU… KUPIKIR AKU HANYA PENGANTIN PENGGANTI, HINGGA PADA HARI IA KEMBALI SAAT AKU SEDANG HAMIL DAN BERKATA, “SEHARUSNYA DIA SUAMIKU.” NAMUN, SEBUAH FOTO LAMA DI DALAM DOMPET SUAMIKU MEMBALIKKAN SELURUH KEBENARAN…

AKU DINIKAHKAN SEBAGAI PENGGANTI KAKAK KEMBARKU DI CEBU… KUPIKIR AKU HANYA PENGANTIN PENGGANTI, HINGGA PADA HARI IA KEMBALI SAAT AKU SEDANG HAMIL DAN BERKATA, “SEHARUSNYA DIA SUAMIKU.” NAMUN, SEBUAH FOTO LAMA DI DALAM DOMPET SUAMIKU MEMBALIKKAN SELURUH KEBENARAN…

## BAGIAN 1

“Kalau kamu tidak mau nama keluarga kita hancur, kamulah yang harus menikah.”

Itulah kalimat pertama yang diucapkan ibuku sambil gemetar memegang gaun pengantin putih.

Tinggal dua jam lagi sebelum pesta pernikahan mewah dimulai di sebuah hotel bintang lima di Cebu.

Namun mempelai wanita yang seharusnya…

kakak kembarku, Bianca Dela Cruz…

tiba-tiba menghilang.

Ia hanya meninggalkan sepucuk surat singkat.

> “Maaf. Aku tidak sanggup menikahi Rafael.”

Duniaku seolah runtuh.

Di luar bridal suite sudah menunggu lebih dari lima ratus tamu.

Para pengusaha.

Para politikus.

Media.

Dan yang paling penting…

Rafael Villanueva, CEO muda dari Villanueva Group, salah satu perusahaan pelayaran terbesar di wilayah Visayas.

Kalau sampai ia tahu pengantinnya kabur…

yang hancur bukan hanya pesta pernikahan.

Bisnis ayahku yang memiliki utang besar kepada perusahaan keluarganya juga akan ikut tamat.

Ibuku berlutut di hadapanku.

> “Amara… gantikan kakakmu.”

Aku merasa waktu berhenti.

> “Aku?”

> “Wajahmu sangat mirip dengan Bianca. Kalian kan saudara kembar. Ini hanya beberapa jam. Setelah semuanya selesai, kita akan menjelaskan yang sebenarnya.”

> “Itu tidak benar, Bu.”

> “Kalau kamu tidak melakukannya… kita akan kehilangan rumah… bahkan biaya rumah sakit untuk nenekmu juga tidak akan sanggup kita bayar.”

Air mataku mengalir tanpa suara.

Bukan karena aku ingin menikah.

Melainkan karena ternyata aku sudah tidak memiliki pilihan.

Dua jam kemudian…

Aku berdiri di depan altar.

Kerudung pengantin itu terasa begitu berat.

Namun rasa bersalah di hatiku jauh lebih berat.

Aku bahkan tidak berani menatap pria yang berdiri di hadapanku.

Rafael.

Tubuhnya tinggi.

Wajahnya dingin.

Hampir tanpa ekspresi ketika ia menyematkan cincin di jariku.

Begitu upacara selesai, ia mendekat dan berbisik pelan.

> “Kamu tidak akan bisa menipuku.”

Aku langsung terdiam.

> “Maksud Anda?”

> “Aku tahu yang kamu inginkan hanya uang.”

Tubuhku membeku.

Aku bahkan tidak sempat menjelaskan kebenarannya.

Ia sudah lebih dulu membalikkan badan dan pergi.

Sejak hari itu…

dimulailah kehidupan pernikahan kami yang paling dingin.

Aku pindah ke rumah mewahnya di Kota Cebu.

Rumah itu sangat besar.

Namun setiap hari aku merasa…

… seperti seorang tahanan di dalam istana kaca.

Rafael jarang pulang. Jika pun ia pulang, tatapannya kepadaku selalu dipenuhi dengan rasa muak yang tak disembunyikan. Ia memperlakukanku layaknya sebuah pajangan yang harus tampil sempurna di depan publik demi nama baik keluarga Villanueva, tetapi menjadi sosok yang tak kasat mata saat pintu kamar tertutup.

Aku menelan semua kepahitan itu sendirian. Aku tidak pernah berani memberi tahu ibuku betapa hancurnya hidupku di rumah ini, karena setiap kali menelepon, yang ibu tanyakan hanyalah apakah Rafael sudah mentransfer dana bantuan untuk bisnis ayah.

Hingga satu tahun berlalu… Sebuah keajaiban yang tak disangka hadir di rahimku.

Aku hamil.

Ketika dokter di Rumah Sakit Cebu menyatakan bahwa usai kandunganku sudah memasuki minggu kedelapan, air mataku menetes. Untuk pertama kalinya dalam setahun ini, aku merasa memiliki alasan untuk bertahan hidup.

Malam itu, aku memberanikan diri menunggu Rafael di ruang tamu dengan memegang amplop hasil pemeriksaan medis. Saat pintu besar rumah terbuka pada pukul sebelas malam, Rafael melangkah masuk dengan setelan jas yang kusut. Ia tampak lelah, namun sorot matanya melembut sesaat ketika melihatku belum tidur.

“Kenapa belum tidur?” tanyanya, suaranya tidak sedingin biasanya.

“Ada yang ingin kubicarakan, Rafael. Ini… tentang kita,” ujarku sambil menyodorkan amplop itu.

Rafael menerimanya, membukanya perlahan, dan membaca kertas di dalamnya. Jantungku berdegup kencang, menanti makian atau penolakan. Namun, reaksi Rafael justru di luar dugaan. Kedua matanya bergetar. Ia menatap perutku, lalu menatap wajahku dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kelegaan dan rasa bersalah yang teramat dalam.

Ia mendekat, tangannya yang besar terangkat seolah ingin menyentuh pipiku, namun tertahan di udara.

“Jaga kandunganmu baik-baik. Mulai besok, aku akan mengurangi jam kerjaku,” ucapnya lirih sebelum berbalik menuju kamarnya.

Itu adalah kalimat termanis yang pernah kudengar darinya selama setahun ini. Dan sejak hari itu, sikap Rafael berubah total. Ia menjadi sangat perhatian, memastikan semua kebutuhanku terpenuhi, dan selalu pulang tepat waktu untuk makan malam bersamaku. Aku mulai berpikir, mungkin anak ini adalah jembatan yang akan mencairkan es di antara kami.

BAGIAN 2

Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan selama tiga bulan.

Siang itu, saat usia kandunganku menginjak bulan kelima, bel rumah berbunyi. Ketika aku membuka pintu, duniaku serasa berhenti berputar.

Seorang wanita berdiri di sana. Mengenakan kacamata hitam besar, pakaian modis yang mahal, dan senyum meremehkan yang sangat kukenal.

Bianca.

Ia telah kembali.

Tanpa permisi, ia melangkah masuk ke dalam rumah, menatap sekeliling ruang tamu yang mewah dengan tatapan serakah.

“Wah, Amara… kamu benar-benar menikmati hidupmu di atas penderitaanku, ya?” sindir Bianca sambil melepas kacamata hitamnya.

“Bianca… kenapa kamu kembali? Di mana kamu selama ini?” tanyaku dengan suara bergetar, refleks melindungi perutku yang mulai membuncit dengan kedua tangan.

Tatapan Bianca langsung turun ke arah perutku. Matanya mendadak menyalang penuh kebencian.

“Aku pergi karena aku dijebak! Ibu bilang Rafael adalah pria yang kasar dan kejam, makanya aku kabur! Tapi ternyata? Dia memperlakukanmu seperti ratu. Rumah ini, kekayaan ini… seharusnya milikku, Amara! Seharusnya dia suamiku!” teriak Bianca histeris.

Tepat pada saat itu, terdengar langkah kaki tegap dari arah pintu masuk. Rafael baru saja pulang dari kantor untuk menemaniku makan siang. Ia membeku di ambang pintu, menatap dua wanita dengan wajah yang sama persis di ruang tamunya.

Bianca yang melihat Rafael langsung mengubah ekspresinya dalam sekejap. Ia berlari mendekati Rafael, memasang wajah paling malang, dan mencoba menggandeng lengannya.

“Rafael… ini aku, Bianca! Pengantin aslimu! Perempuan di sana itu hanya pengganti, dia menipumu selama ini! Sekarang aku sudah kembali untuk mengambil tempatku,” tangis Bianca pecah secara teatrikal.

Aku hanya bisa berdiri mematung di dekat sofa, air mata mengalir deras di pipiku. Aku bersiap untuk skenario terburuk. Aku bersiap jika Rafael akan mengusirku karena pengantin yang asli telah kembali.

Namun, Rafael tidak bergerak. Ia melepaskan tangan Bianca dari lengannya dengan kasar, membuat kakak kembarku itu terhuyung mundur.

“Keluar dari rumahku,” suara Rafael terdengar dingin bagai es, namun matanya menatap lurus… ke arah Bianca, bukan kepadaku.

“Rafael? Kamu salah lihat? Aku Bianca! Dia Amara!” seru Bianca panik.

“Aku tahu siapa kamu, Bianca Dela Cruz. Dan aku tahu betul siapa wanita yang berdiri di sana,” ujar Rafael, suaranya bergaung tegas di seluruh ruangan. “Karena sejak awal, pernikahan ini tidak pernah salah alamat.”

BAGIAN 3

Aku tersentak mendengar ucapan Rafael. Apa maksudnya?

Rafael berjalan melewatinya, menghampiriku, dan merangkul bahuku dengan protektif. Ia kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan dompet kulit hitam miliknya, dan mengambil sebuah foto tua yang sudah agak menguning dari kompartemen paling rahasia di dalam dompet tersebut.

Ia meletakkan foto itu di atas meja kaca.

Aku dan Bianca serentak melihat ke arah foto tersebut. Itu adalah foto seorang gadis remaja berusia sekitar lima belas tahun, sedang duduk di bangku taman Rumah Sakit Cebu, tersenyum manis ke arah kamera sambil memegang sebuah boneka rajut kecil. Di sudut bawah foto itu tertulis nama kecil yang ditulis tangan dengan tinta biru: Amara.

“Enam belas tahun yang lalu, aku adalah anak laki-laki penyakitan yang divonis tidak akan berumur panjang,” Rafael mulai bercerita, tatapannya melembut saat menatap foto itu. “Satu-satunya orang yang mau menemaniku di taman rumah sakit, yang memberiku semangat untuk hidup, dan yang berjanji akan menikahiku suatu hari nanti adalah gadis di foto ini. Amara.”

Jantungku berdegup kencang. Memori masa kecil yang sudah lama terkubur mendadak bangkit kembali. Aku ingat… aku pernah menemani seorang anak laki-laki pucat di rumah sakit saat aku sedang menjaga nenekku yang dirawat.

“Ketika perusahaan keluargaku bangkit dan aku mencari keberadaanmu, ibumu menipuku,” lanjut Rafael, matanya beralih menatap Bianca dengan kilat amarah. “Ibumu menyembunyikan identitasmu karena kamu dianggap anak pembawa sial yang hanya menghabiskan uang untuk merawat nenek, sementara Bianca dipersiapkan untuk menjadi menantu keluarga kaya. Ibumu memaksaku bertunangan dengan Bianca dengan mengklaim bahwa Biancalah gadis di rumah sakit itu.”

Rafael mendengus sinis.

“Tapi aku tidak bodoh. Hari pertama aku bertemu Bianca saat pertunangan, aku tahu dia bukan gadisku. Jiwanya berbeda. Sifatnya egois. Makanya aku sengaja bersikap dingin, kejam, dan menyebarkan rumor buruk tentang diriku sendiri agar Bianca merasa tidak tahan dan kabur sebelum hari pernikahan.”

Aku menutup mulutku dengan tangan, tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Jadi… Anda tahu?” tanyaku dengan suara serak.

“Aku tahu sejak detik pertama kamu berdiri di altar, Amara,” Rafael menatapku, matanya berkaca-kaca penuh cinta. “Kerudung pengantinmu tidak bisa menyembunyikan binar mata gadisku. Kalimat pertamaku malam itu, ‘Kamu tidak akan bisa menipuku, aku tahu yang kamu inginkan hanya uang,’ sebenarnya kutujukan untuk ibumu dan kakakmu yang mengira mereka berhasil memanipulasiku. Aku bersikap dingin selama setahun ini karena aku menghukum keluargamu, sekaligus memberimu waktu untuk melihat apakah kamu masih mengingatku… sampai akhirnya kamu memberikan hasil kandungan ini, dan aku tahu aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu lagi untuk membahagiakanmu.”

Bianca mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Seluruh rencana busuknya dan ibunya untuk menguasai kekayaan Villanueva runtuh berkeping-keping di depan foto lama itu.

“Sekarang, Bianca, keluar dari rumahku sebelum aku memanggil polisi untuk menyeretmu dan ibumu atas kasus penipuan kontrak bisnis ayahmu,” ancam Rafael tanpa ampun.

Tanpa membuang waktu, Bianca memungut kacamata hitamnya dan berlari keluar dari rumah dengan rasa malu yang luar biasa.

Setelah pintu tertutup, suasana rumah menjadi hening. Rafael berbalik menghadapku, lalu perlahan berlutut di depanku. Ia menyandarkan kepalanya di perutku yang membuncit, tempat buah hati kami tumbuh.

“Maafkan aku karena membuatmu menunggu terlalu lama dalam ketakutan, Amara,” bisik Rafael tulus. “Kamu bukan pengantin pengganti. Kamu adalah satu-satunya pengantin yang kuinginkan sejak awal.”

Aku tersenyum di tengah tangis bahagianya, menggenggam erat tangan suamiku. Kebenaran telah terungkap, dan kini, pernikahan kami yang sebenarnya baru saja dimulai.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.