Posted in

WANITA YANG TERBARING SENDIRIAN DI RUMAH SAKIT TAK DIDATANGI SIAPA PUN. HANYA SEORANG PENGEMUDI OJEK MOTOR YANG SETIA MENEMANINYA. TAK SEORANG PUN TAHU, PRIA ITU SEBENARNYA ADALAH SEORANG CEO YANG MENYEMBUNYIKAN IDENTITASNYA…

WANITA YANG TERBARING SENDIRIAN DI RUMAH SAKIT TAK DIDATANGI SIAPA PUN. HANYA SEORANG PENGEMUDI OJEK MOTOR YANG SETIA MENEMANINYA. TAK SEORANG PUN TAHU, PRIA ITU SEBENARNYA ADALAH SEORANG CEO YANG MENYEMBUNYIKAN IDENTITASNYA…

Tak ada seorang pun yang benar-benar memperhatikan Mikaela Torres di Ruang Rawat 7 Rumah Sakit Umum San Gabriel.

Bukan karena tak ada yang melihatnya.

Semua orang melihatnya.

Perawat.

Dokter.

Petugas kebersihan.

Keluarga pasien lain.

Namun di rumah sakit, ada orang-orang yang meski masih hidup, seolah sudah lama dilupakan.

Dan Mikaela adalah salah satunya.

Usianya baru dua puluh empat tahun.

Kaki kanannya patah.

Dahinya dijahit.

Bahu kirinya dipenuhi memar.

Di bawah ranjangnya hanya ada sebuah tas kecil berisi pakaian-pakaian lama.

Sudah tiga hari ia dirawat.

Tak ada ibu.

Tak ada ayah.

Tak ada saudara.

Tak ada kekasih.

Tak ada sahabat.

Tak ada siapa pun.

Setiap kali perawat bertanya apakah ada anggota keluarga yang bisa dihubungi, Mikaela hanya tersenyum tipis.

“Sudah tidak ada siapa-siapa lagi.”

Hanya itu jawabannya.

Namun setiap pukul enam sore…

Seorang pria selalu datang.

Ia mengenakan jaket lusuh yang warnanya mulai pudar.

Sebuah helm berada di tangannya.

Tubuhnya membawa aroma asap kendaraan, hujan, dan jalanan.

Namanya Ramon.

Semua orang mengenalnya sebagai seorang pengemudi ojek motor.

Dialah yang membawa Mikaela ke rumah sakit pada malam ketika gadis itu ditabrak sebuah van di Jalan Aurora Boulevard.

Dialah yang membayar obat-obatan pertama.

Dialah yang mengantre di bagian administrasi.

Dialah yang membelikan bubur saat Mikaela tak berselera makan.

Karena itu, orang-orang menganggapnya hanya sebagai seorang pengemudi ojek yang terlalu baik hati.

“Mas,” tanya seorang penjaga pasien suatu malam, “dia saudara Mas?”

Ramon menggeleng.

“Bukan.”

“Pacar?”

“Bukan juga.”

“Lalu kenapa Mas repot-repot mengurusnya?”

Ramon hanya tersenyum pelan.

“Karena kalau yang berbaring di sana adalah saya…”

“…saya juga berharap ada seseorang yang tetap tinggal menemani.”

Pria itu tertawa.

“Wah, Mas ini memang dramatis.”

Ramon tidak membalas.

Ia hanya duduk di samping tempat tidur Mikaela dan merapikan selimutnya.

Mikaela berusaha tersenyum.

“Besok jangan datang lagi.”

“Kenapa?”

“Kamu harus bekerja.”

“Aku tetap bisa bekerja meskipun datang ke sini.”

“Kamu pengemudi ojek, kan?”

Ramon mengangguk.

“Iya.”

“Justru karena itu kamu harus lebih banyak narik penumpang.”

Ramon kembali tersenyum.

“Aku masih punya tabungan.”

Pandangan Mikaela jatuh pada sepatu Ramon yang sudah usang.

Jaketnya yang memudar.

Helmnya yang penuh goresan.

“Jangan bohong.”

Ramon tak menjawab.

Ia hanya mengambil sendok plastik kecil lalu mengaduk bubur hangat itu.

“Ayo makan dulu.”

Mikaela tak mengerti mengapa ada orang seperti Ramon.

Mereka bahkan tidak saling mengenal.

Mereka hanya dipertemukan oleh sebuah kecelakaan.

Namun dalam tiga hari itu, Ramon telah melakukan lebih banyak hal untuknya dibandingkan orang-orang yang dulu pernah ia sebut sebagai keluarga.

Padahal kenyataannya…

Padahal kenyataannya, di balik jaket lusuh yang beraroma jalanan itu, Ramon adalah seorang pria dengan dunia yang jauh berbeda.

Malam itu, setelah Mikaela tertidur pulas karena pengaruh obat, Ramon melangkah keluar dari Ruang Rawat 7. Ia berjalan menuju area parkir rumah sakit yang sepi, lalu merogoh sakunya. Bukan ponsel murah berlayar retak yang ia keluarkan, melainkan sebuah gawai keluaran terbaru yang sedari tadi disetel dalam mode senyap.

Layar ponselnya menyala, menampilkan puluhan panggilan tak terjawab dan pesan singkat yang mendesak.

Ramon menekan satu nama.

“Halo, Tuan Ramon?” suara di seberang telepon terdengar sangat lega sekaligus panik. “Tuhan Mahabaik, Anda di mana? Dewan direksi sudah menunggu sejak siang untuk penandatanganan akuisisi Torres Group. Kami tidak bisa menghubungi Anda!”

Ramon menatap ujung sepatunya yang usang. “Tunda sampai besok pagi, Adrian. Jadwalkan ulang jam sembilan.”

“Tapi Tuan, ini proyek terbesar Raymond Corp tahun ini! Mengapa Anda mendadak menghilang dan meminta laporan keuangan Torres Group secara privat?”

Ramon menoleh ke arah jendela lantai dua, tempat kamar Mikaela berada. Torres Group. Perusahaan raksasa yang baru saja dinyatakan bangkrut seminggu lalu setelah sang pemilik—ayah Mikaela—meninggal dunia. Begitu perusahaan hancur, seluruh kerabat dan orang-orang yang dulu memuja Mikaela langsung berbalik arah, memutus kontak, dan membiarkan gadis itu tenggelam dalam utang serta kesendirian. Hingga puncaknya, Mikaela berjalan tanpa arah di Aurora Boulevard sebelum akhirnya takdir mempertemukan mereka lewat sebuah kecelakaan.

“Aku punya alasan sendiri,” jawab Ramon tenang namun tegas, aura seorang CEO muda yang disegani langsung terasa dalam intonasi suaranya. “Dan satu lagi… urus kepindahan pasien bernama Mikaela Torres di kamar nomor tujuh. Pindahkan dia ke VIP Suite malam ini juga. Sewa perawat terbaik, tapi pastikan identitasku tidak bocor. Katakan saja ada donatur anonim.”

“Baik, Tuan. Dimengerti.”

Keesokan paginya, Mikaela terbangun dengan rasa terkejut. Ia tidak lagi berada di ruang rawat yang bising dan pengap. Ia berada di sebuah kamar mewah yang luas, dengan fasilitas terbaik, dan aroma bunga segar yang menenangkan.

Seorang dokter spesialis masuk bersama dua perawat, tersenyum ramah—pemandangan yang sangat kontras dengan hari-hari sebelumnya.

“A-apa ini? Saya tidak bisa membayar kamar ini,” bisik Mikaela panik, mencoba duduk.

“Jangan khawatir, Nona Torres. Seluruh biaya rumah sakit Anda, termasuk pengobatan hingga pulih total, telah dilunasi oleh pihak ketiga yang tidak ingin disebutkan namanya,” ujar dokter itu dengan sopan.

Mikaela tertegun. Pihak ketiga? Siapa? Ia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Pikiran Mikaela langsung tertuju pada satu nama. Ramon? Tidak mungkin. Dia hanya seorang pengemudi ojek.

Tepat pukul enam sore, pintu kamar VIP itu terbuka.

Mikaela menahan napas. Pria yang masuk tidak lagi mengenakan jaket lusuh berwarna pudar atau membawa helm yang penuh goresan.

Ramon berdiri di sana dengan setelan jas hitam custom-made yang elegan, rambut yang tertata rapi, dan karisma yang begitu kuat hingga atmosfer ruangan terasa berubah. Di belakangnya, berdiri seorang pria berkacamata yang membawa beberapa dokumen.

Mikaela mengerjapkan mata, mengira dirinya sedang berhalusinasi akibat efek obat. “Ramon…? Kamu… kenapa berpakaian seperti itu? Dan tempat ini…”

Ramon tersenyum. Senyuman hangat yang sama, yang selalu Mikaela lihat selama tiga hari terakhir. Ia memberi isyarat agar asistennya menunggu di luar, lalu berjalan mendekati ranjang Mikaela.

“Maaf karena tidak jujur sejak awal, Mikaela,” kata Ramon lembut, duduk di kursi samping ranjang. “Namaku Ramon Raymond. Aku bukan pengemudi ojek. Malam itu, aku hanya sedang ingin sendirian, mengendarai motor tua milik mendiang ayahku untuk menjernihkan pikiran dari tekanan pekerjaan. Lalu, aku melihatmu.”

Mikaela membeku, otaknya berusaha mencerna informasi tersebut. “Raymond…? Pemilik Raymond Corp?”

Ramon mengangguk. “Aku tahu apa yang terjadi pada keluargamu dan Torres Group. Aku tahu bagaimana dunia meninggalkanmu saat kamu jatuh. Tiga hari ini, aku sengaja tetap menjadi ‘Ramon sang pengemudi ojek’, karena aku ingin memastikan satu hal.”

“Apa?” tanya Mikaela dengan suara bergetar.

“Aku ingin memastikan bahwa senyum yang kamu berikan padaku adalah tulus untuk diriku, bukan untuk uang atau jabatanku,” Ramon meraih tangan Mikaela yang bebas dari infus, menggenggamnya dengan hangat. “Dan di saat kamu tidak punya apa-apa, kamu justru mengkhawatirkan tabunganku yang kamu kira menipis. Belum pernah ada orang yang tulus seperti itu padaku.”

Air mata Mikaela menetes, bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega yang teramat sangat setelah sekian lama hidup dalam kepalsuan dunia korporat yang kejam.

Ramon menghapus air mata di pipi Mikaela dengan ibu jarinya. “Mulai hari ini, kamu tidak akan pernah sendirian lagi. Aku sudah membeli aset-aset Torres Group. Aku akan membantumu membangun kembali apa yang telah hilang, dan yang paling penting… aku akan tetap di sini, menemanimu.”

Di ruangan yang mewah itu, Mikaela tahu hidupnya telah berubah selamanya. Bukan hanya karena ia diselamatkan oleh seorang CEO kaya raya, tetapi karena ia akhirnya menemukan satu-satunya jiwa yang tulus, yang bersedia menemaninya di titik paling gelap dalam hidupnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.