PADA MALAM SAAT DIA MEMILIH MENGANTAR WANITA YANG DULU PERNAH DICINTAINYA KE BANDARA, AKU KEHILANGAN ANAK PERTAMA KAMI SEORANG DIRI… SAAT DIA BERLUTUT DI SAMPING RANJANG RUMAH SAKITKU, SATU KALIMAT DARI DOKTER BENAR-BENAR MENGHANCURKANNYA.**
**BAGIAN 1**
Malam itu adalah malam penutupan festival musim panas terbesar di kota.
Alun-alun dipenuhi lautan manusia.
Kembang api menghiasi langit.
Band musik tampil secara langsung.
Di setiap sudut…
Pasangan-pasangan tampak tersenyum sambil berfoto bersama.
Sementara aku…
Duduk sendirian di dekat jendela sebuah restoran.
Makanan yang kupesan sudah lama menjadi dingin.
Malam ini seharusnya…
Menjadi hari jadi hubungan kami yang ketujuh bersama Daniel.
Dialah yang berjanji.
“Sesibuk apa pun aku…”
“Aku tidak akan melewatkan malam ini.”
Aku mempercayainya.
Karena itu aku pulang lebih awal dari kantor.
Aku sendiri yang memesan semua makanan favoritnya.
Bahkan memesan meja di dekat jendela agar kami bisa menyaksikan pertunjukan kembang api bersama.
Namun…
Saat waktunya tiba…
Orang pertama yang datang…
Bukanlah suamiku.
Melainkan wanita yang dulu pernah menjadi cinta terbesarnya.
Mia menghampiri mejaku.
Rambutnya masih sedikit basah karena hujan.
Dia tersenyum canggung.
“Kak…”
“Daniel bilang aku menunggu di sini dulu.”
“Kami akan terbang bersama sebentar lagi.”
Aku menatapnya.
“Kalian pergi bersama?”
Dia mengangguk pelan.
“Ada rapat darurat di pulau seberang.”
“Aku menjadi penerjemahnya.”
“Katanya tidak ada orang lain yang bisa ikut.”
Tepat pada saat itu…
Ponselku berdering.
Daniel menelepon.
Begitu kuangkat…
Langsung terdengar suaranya yang lelah.
“Sayang…”
“Maaf ya.”
“Aku harus mengantar Mia ke bandara.”
“Kamu makan dulu saja.”
Aku menggenggam ponsel itu erat.
“Kamu tahu hari apa sekarang?”
Dia terdiam beberapa detik.
Lalu mengembuskan napas panjang.
“Ini cuma makan malam.”
“Nanti setelah aku pulang kita rayakan lagi.”
“Jangan ngambek, ya.”
Sekali lagi…
Aku mendengar kata yang paling sering dia ucapkan.
“Cuma.”
Dua tahun yang lalu…
Aku rela mengantre berjam-jam demi membeli tiket konser yang sudah lama kami impikan.
Namun saat konser dimulai…
Orang yang duduk di samping Daniel…
Justru Mia.
Saat kutanya alasannya…
Jawabannya begitu sederhana.
“Dia juga ingin menonton.”
“Ini cuma soal tempat duduk.”
Tahun lalu…
Dia memberiku gelang buatan tangan sebagai hadiah ulang tahun.
Beberapa minggu kemudian…
Mia memakai gelang yang bentuknya persis sama.
Saat kutanya…
Dia hanya tersenyum.
“Aku suka modelnya, jadi aku pesan juga.”
“Cuma gelang, kok.”
Tiga bulan yang lalu…
Kami berencana pulang ke kampung untuk mengunjungi keluargaku.
Namun di tengah perjalanan…
Mia menelepon.
Mobilnya mogok.
Daniel langsung memutar balik mobil.
Meninggalkan kedua orang tuaku yang sudah menunggu selama berjam-jam.
Saat kami pulang…
Dia hanya berkata,
“Aku cuma membantunya.”
Di setiap kejadian…
Akulah yang selalu diminta mengerti.
Akulah yang selalu harus mengalah.
Aku menarik napas panjang.
“Daniel.”
“Malam ini…”
“Aku hanya ingin bersamamu.”
“Cukup dulu soal Mia.”
Di seberang telepon…
Hening.
Lalu suaranya berubah dingin.
“Jangan mempersulit aku.”
“Mia sendirian di sini.”
“Nanti setelah aku pulang, aku akan menebus semuanya.”
Lalu dia langsung menutup telepon.
Bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal.
Aku tetap duduk diam.
Di luar…
Kembang api mulai bermekaran di langit malam.
Bersamaan dengan itu…
Tiba-tiba perut bagian bawahku terasa nyeri luar biasa.
Gelas di tanganku terlepas.
Jatuh ke lantai.
Pecah berkeping-keping.
Para pegawai restoran langsung panik.
“Bu!”
“Apakah Ibu baik-baik saja?”
Aku berusaha berdiri.
Namun saat melihat pakaianku…
Seluruh tubuhku seketika membeku.
Ada darah.
Perlahan-lahan semakin banyak.
Sebelum pandanganku benar-benar gelap…
Yang terakhir kudengar hanyalah teriakan seorang pelayan.
“Cepat!”
“Panggil ambulans!”
…
Saat aku membuka mata…
Yang kulihat adalah langit-langit putih ruang rumah sakit.
Seorang dokter wanita berdiri di sampingku.
Dia menggenggam tanganku dengan lembut.
Matanya dipenuhi rasa iba.
“Kami turut berduka…”
“Kami sudah melakukan semua yang kami bisa…”
“Tapi kami tidak berhasil menyelamatkan bayinya.”
Duniaku seolah berhenti berputar.
Bayi?
Aku hamil?
Aku bahkan tidak sempat mengetahuinya…
Sampai akhirnya dia pergi untuk selamanya.
Tepat pada saat itu…
Seorang perawat masuk ke dalam ruangan.
“Bu…”
“Kami sudah mencoba menghubungi suami Ibu lebih dari dua puluh kali.”
“Tapi tidak satu pun panggilan dijawab.”
“Pada panggilan terakhir…”
“Beliau bahkan mematikan ponselnya.”
Perlahan aku memejamkan mata.
Air mata mengalir tanpa suara.
Bukan karena rasa sakit.
Melainkan karena akhirnya…
Aku benar-benar mengerti.
Di dalam hati pria yang paling kucintai…
Aku tidak pernah menjadi pilihan utamanya.
Tiba-tiba ponsel perawat berdering.
Dia melihat layarnya.
Lalu menoleh kepadaku.
“Bu…”
“Suami Ibu yang menelepon.”
“Apakah ingin saya angkat?”
Aku menatap ponsel itu dalam diam.
Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun.
Lalu…
Aku mengangguk pelan.

Saat mendengar pertanyaan pertama Daniel…
Harapan terakhir yang masih tersisa di hatiku…
Benar-benar hancur.
BAGIAN 2 (TAMAT)
“Halo? Akhirnya diangkat juga!” suara Daniel terdengar cemas namun dipenuhi nada kesal dari seberang telepon. “Sus, tolong kasih tahu istri saya, jangan kekanak-kanakan sampai menyuruh orang restoran meneror ponsel saya puluhan kali! Saya sedang mengurus paspor Mia yang sempat terselip di bandara. Ini benar-benar darurat!”
Perawat itu memandangku dengan tatapan iba yang mendalam. Dia menyerahkan ponselnya kepadaku dengan tangan yang sedikit bergetar.
Aku membawa ponsel itu ke telingaku. Suaraku sangat pelan, kering, dan tanpa emosi. “Daniel.”
“Sayang! Akhirnya kamu mau bicara,” Daniel mengembuskan napas lega. “Dengar, aku tahu kamu marah soal makan malam kita. Tapi tolong mengerti, Mia tadi panik sekali. Sekarang dia sudah masuk ke gerbang keberangkatan. Aku akan segera ke restoran menyusulmu, oke?”
“Aku tidak di restoran,” kataku datar. “Aku di Rumah Sakit Permata. Ruang flamboyan nomor empat.”
“Rumah sakit? Kamu kenapa? Jangan bercanda untuk membuatku merasa bersalah, Linda—”
“Datang saja,” potongku, lalu langsung mematikan sambungan telepon. Aku memberikan kembali ponsel itu kepada perawat, membalikkan tubuhku menghadap dinding, dan membiarkan air mata kesunyian mengalir tanpa suara. Kematian rasa ini jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik di tubuhku.
Satu jam kemudian, pintu ruang rawat digebrak kasar.
Daniel masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi melihat lingkaran hitam di mataku dan selang infus yang tertancap di tanganku. Di belakangnya, Dokter Amara—dokter yang menanganiku sejak awal—masuk dengan raut wajah yang sangat tegas.
“Linda! Kamu kenapa? Apa yang terjadi?” Daniel langsung menjatuhkan dirinya, berlutut di samping ranjang rumah sakitku. Dia mencoba meraih tanganku, namun dengan sisa tenaga yang kupunya, aku menarik tanganku menjauh.
“Jangan sentuh aku,” bisikku.
“Sayang, maafkan aku… aku tidak tahu kalau kamu sakit sampai masuk rumah sakit,” ratapnya, matanya mulai berkaca-kaca melihat penolakanku yang begitu dingin. “Aku bersumpah, ini terakhir kalinya aku membantu Mia. Aku akan menebus semuanya. Kita bisa merayakan hari jadi kita besok, atau kapan pun kamu mau!”
Aku bahkan tidak sudi menatap wajahnya. Aku hanya menatap langit-langit kamar yang kosong, persis seperti hatiku saat ini.
Melihat Daniel yang terus memohon tanpa tahu apa kesalahan terbesarnya, Dokter Amara menghela napas panjang. Beliau berjalan mendekat, memegang papan jepitan rekam medisnya, lalu menatap Daniel dengan pandangan lurus yang menghujam.
“Tuan Daniel,” suara Dokter Amara menginterupsi, menggema dingin di dalam ruangan yang sunyi. “Sebaiknya Anda berhenti membicarakan tentang perayaan hari jadi atau tentang wanita lain bernama Mia itu.”
Daniel mendongak, alisnya bertaut. “Maksud Dokter apa? Istri saya cuma kelelahan, kan?”
Dokter Amara menatap Daniel dengan tatapan paling menghina yang pernah kulihat dari seorang profesional medis. Satu kalimat berikutnya yang keluar dari bibir dokter itu benar-benar menghancurkan seluruh dunianya.
“Istri Anda mengalami pendarahan hebat akibat keguguran spontan, dan kami baru saja kehilangan janin berusia delapan minggu—anak pertama Anda yang berjuang sendirian di saat Anda mematikan ponsel demi paspor wanita lain.”
DEG.
Tubuh Daniel seketika menegang. Matanya membelalak sempurna. Seluruh warna kulit di wajahnya lenyap, menyisakan pucat seputih kain kafan.
“Ka… Keguguran?” suara Daniel tercekat di tenggorokan, nyaris seperti bisikan yang tercekik. Dia menoleh ke arahku dengan patah-patah, air matanya runtuh seketika. “Linda… kamu hamil? Anak kita?”
Aku perlahan memutar kepalaku, menatap langsung ke dalam matanya yang dipenuhi penyesalan yang terlambat.
“Dua bulan, Daniel. Dia ada di dalam rahimku selama dua bulan,” kataku, suaraku begitu tenang hingga terdengar mengerikan. “Malam ini, aku ingin egois sekali saja demi merayakan kehadirannya bersamamu. Tapi kamu memilih pergi.”
“Linda, aku tidak tahu… demi Tuhan aku tidak tahu!” Daniel mulai terisak, memukul dadanya sendiri seolah rasa bersalah itu sedang meremukkan jantungnya. Dia mencoba berlutut lebih dekat, menangis tersedu-sedu di tepi ranjang. “Maafkan aku… maafkan aku…”
“Semua sudah terlambat,” aku memotong tangisannya tanpa belas kasihan. “Kamu selalu bilang ‘cuma’. Cuma konser, cuma gelang, cuma mengantar ke bandara. Dan malam ini, kamu kehilangan anak pertamamu dan istrimu sekaligus.”
Aku merogoh laci di samping ranjang, mengeluarkan cincin pernikahan kami yang sudah kulepas sebelum masuk ke ruang operasi, lalu menjatuhkannya tepat di depan wajahnya yang bersimbah air mata.
“Setelah aku keluar dari rumah sakit ini, kita urus perceraian kita. Pergilah pada Mia. Mulai hari ini, dia tidak perlu lagi berbagi perhatianmu dengan siapa pun.”
Daniel memeluk kakiku sambil menangis histeris, memohon-mohon hingga suaranya serak, namun hatiku sudah mati rasa. Saat kembang api di luar sana akhirnya padam menandakan akhir dari festival, kisah tujuh tahun kami pun ikut berakhir di ruangan yang dingin ini—meninggalkan Daniel yang hancur bersama penyesalan seumur hidupnya.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.