Posted in

DELAPAN KALI AKU MENGAJAK IBU MERTUAKU MAKAN, TAPI DIA TETAP TIDAK MAU KELUAR—PADA AJAKAN YANG KEDELAPAN, AKU MEMBUANG SELURUH HIDANGAN DI MEJA DAN MEMILIH PERGI DARI RUMAH**

DELAPAN KALI AKU MENGAJAK IBU MERTUAKU MAKAN, TAPI DIA TETAP TIDAK MAU KELUAR—PADA AJAKAN YANG KEDELAPAN, AKU MEMBUANG SELURUH HIDANGAN DI MEJA DAN MEMILIH PERGI DARI RUMAH**

**BAGIAN 1**

“Bu… makanannya sudah siap.”

Itu adalah pertama kalinya aku mengetuk pintu kamar ibu mertuaku.

Dari dalam…

Suara sinetron masih terdengar keras.

Ada tawa.

Ada musik latar.

Namun…

Tak ada satu pun jawaban.

Sepuluh menit kemudian…

Aku memanaskan kembali kuah sup.

Lalu kembali berdiri di depan pintu.

“Bu, nanti makanannya keburu dingin.”

Baru kali ini beliau menjawab.

“Tunggu saja.”

“Jangan ganggu saya. Ini episode terakhir.”

Aku pun kembali ke dapur dengan tenang.

Ketiga kalinya.

Keempat.

Kelima…

Sampai yang kedelapan.

Pintu itu tetap tidak terbuka.

Di ruang tamu…

Suamiku, Marco, hanya berbaring di sofa.

Sibuk menggulir layar ponselnya.

Tidak sekali pun…

Dia menoleh kepadaku.

Anakku yang baru berusia empat tahun menarik ujung bajuku.

“Ma…”

“Aku lapar.”

Aku mengusap rambutnya dengan lembut.

Lalu…

Aku mengangkat sepiring ayam semur kecap.

Dan langsung membawanya ke tempat sampah.

Tepat saat itu, Marco meraih pergelangan tanganku.

“Kamu sudah gila, ya?”

Aku menatapnya.

Lalu tersenyum.

Senyum yang sudah lama tidak pernah dia lihat.

“Aku sudah tidak sanggup bertahan lagi.”

“Lima tahun.”

“Hari ini…”

“Semuanya selesai.”

Aku menjatuhkan seluruh isi piring itu ke dalam tempat sampah.

**BRAK!**

Suara benturannya menggema ke seluruh rumah.

Bersamaan dengan itu…

Pintu kamar pun terbuka.

Ibu mertuaku keluar.

Rambutnya tertata rapi.

Mengenakan pakaian rumah berbahan sutra.

Masih memakai kalung emas di lehernya.

Hal pertama yang beliau lihat…

Adalah makanan di dalam tempat sampah.

Kemudian…

Aku.

Tatapannya tetap sama.

Merendahkan.

Penuh penilaian.

Seolah selama lima tahun…

Tak pernah ada satu pun hal yang kulakukan dengan benar.

“Linda.”

“Perilaku apa ini?”

Aku tidak menjawab.

Aku mengangkat satu piring lagi.

Lalu membuangnya juga.

“Aku bahkan belum makan!”

teriaknya.

Aku menjawab dengan tenang.

“Delapan kali aku mengajak Ibu makan.”

“Delapan kali.”

“Ibu tidak keluar.”

“Makanannya sudah dingin.”

“Jadi aku membuangnya.”

Marco langsung berdiri.

“Ibu sudah tua.”

“Apa kamu tidak bisa sedikit lebih sabar?”

Aku menatap pria yang selama lima tahun kupanggil suami.

Lalu bertanya pelan.

“Pernahkah kamu berpikir…”

“Kenapa setiap kali waktu makan…”

“Aku selalu harus membujuk Ibumu berulang kali?”

Dia mengernyit.

“Itu memang tanggung jawabmu sebagai menantu.”

Begitu mendengar kalimat itu…

Aku melepaskan celemekku.

Melipatnya dengan rapi.

Meletakkannya di atas kursi.

Lalu…

Aku masuk ke kamar.

Dan mengeluarkan sebuah koper.

Marco langsung membeku.

“…Apa yang sedang kamu lakukan?”

BAGIAN 2 (TAMAT)

Aku tidak menjawab pertanyaan Marco. Dengan tenang, kuraih tangan anakku, sementera tangan kiriku mencengkeram erat pegangan koper.

“Linda! Kamu mau ke mana membawa anakku?!” teriak Marco, langkahnya menghadang di depan pintu utama.

Ibu mertuaku ikut melangkah maju, melipat tangan di dada dengan senyum sinis yang masih melekat. “Biarkan saja, Marco! Biar dia tahu rasa. Paling-paling dia hanya menggertak. Memangnya dia punya uang untuk hidup di luar? Semua yang dia pakai di badan itu, uang dari kamu!”

Aku menghentikan langkah. Kutatap wajah ibu mertuaku, lalu beralih ke wajah Marco yang memerah menahan amarah dan harga diri.

“Uangmu, Marco?” aku terkekeh pelan, sebuah tawa hambar yang membuat Marco mendadak salah tingkah. “Selama lima tahun ini, uang belanja yang kamu berikan hanya cukup untuk bayar listrik dan air. Kamu lupa? Biaya makan, susu anak kita, bahkan kalung emas yang dipakai ibumu sekarang… itu semua dibeli dari hasil uang kerja kerasku sebagai penulis lepas di malam hari, saat kalian berdua sudah tidur nyenyak.”

Suasana rumah mendadak hening. Ibu mertuaku refleks menyentuh kalung emas di lehernya, wajahnya berubah pias.

“Linda, jangan keterlaluan—” Marco mencoba membela diri, namun suaranya bergetar.

“Yang keterlaluan itu kalian!” suaraku meninggi, melepaskan seluruh sesak yang kupendam selama lima tahun. “Delapan kali aku mengetuk pintu hari ini bukan karena aku pengemis yang butuh validasi Ibumu, Marco. Aku hanya ingin memastikan kewajibanku selesai, sebelum aku pergi.”

Aku merogoh saku gamis-ku, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, lalu melemparkannya tepat ke dada Marco. Amplop itu terjatuh di atas sofa, tempat biasanya dia bermalas-malasan.

“Apa ini?” tanya Marco bingung.

“Surat gugatan cerai dan rincian utang-utangmu pada tabunganku,” jawabku dingin. “Rumah ini atas nama ibumu, jadi silakan kalian nikmati berdua. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi pelayan gratis yang memasak, mencuci, dan membersihkan rumah ini sambil dihina setiap hari.”

Ibu mertuaku mulai panik melihat ketegasan di mataku yang belum pernah dia lihat sebelumnya. “Marco! Jangan biarkan dia membawa cucuku!”

“Cucumu?” Aku menatap wanita tua itu dengan tatapan kosong. “Saat dia demam tinggi minggu lalu, Ibu bahkan tidak mau beranjak dari depan TV untuk sekadar menjaga biskuitnya. Dia anakku. Dan aku mampu menghidupinya tanpa sepeser pun uang dari anakmu.”

Aku menarik koperku, memutar kenop pintu, dan melangkah keluar ke halaman rumah yang terasa jauh lebih luas dan lega daripada ruangan di dalam sana.

“Linda! Kembali! Kamu tidak akan bisa bertahan sendirian!” tering Marco dari ambang pintu, namun dia tidak berani mengejarku lebih jauh karena para tetangga mulai menengok keluar.

Aku tidak menoleh lagi. Sambil menggandeng erat tangan kecil anakku, kami berjalan menuju taksi yang sudah kupesan sejak ketukan ketujuh di pintu kamar mertuaku tadi.

Saat pintu taksi tertutup, beban berat di pundakku selama lima tahun runtuh seketika, digantikan oleh embusan napas paling lega yang pernah kurasakan. Kisahku sebagai menantu yang tertindas telah usai di tempat sampah itu—dan lembaran baruku bersama anakku baru saja dimulai.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.