PADA HARI AKU MENERIMA WARISAN DALAM JUMLAH SANGAT BESAR DARI ALMARHUM IBUKU, AKU BARU MENGETAHUI BAHWA AKU BUKANLAH KELUARGA YANG SEBENARNYA DARI PRIA YANG KUCINTAI SELAMA TUJUH TAHUN…
Hari itu seharusnya menjadi hari paling penting dalam hidupku.
Setelah melalui proses hukum yang panjang, seluruh harta peninggalan almarhum ibuku akhirnya resmi dialihkan ke atas namaku.
Dalam perjalanan menuju kantor pengacara, hanya ada satu hal yang memenuhi pikiranku.
Aku ingin membantu Gabriel Dela Cruz.
Kami sudah bersama selama tujuh tahun.
Selama ini ia selalu mengatakan bahwa perusahaannya sedang mengalami krisis besar.
Banyak proyek mengalami kerugian.
Utang perusahaan terus bertambah.
Ia sering pulang menjelang dini hari, terlihat sangat lelah, tetapi tetap memaksakan senyum untukku.
Berkali-kali ia berkata bahwa semuanya hanya masalah waktu.
Aku mempercayainya.
Tak pernah sekalipun aku meragukan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Karena itu, ketika pengacara mengatakan bahwa semua dokumen warisan harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum dana dipindahkan ke rekeningku, aku tidak banyak bertanya.
Bahkan aku sudah berencana menginvestasikan sebagian besar warisan itu ke bisnis Gabriel.
Kupikir, itulah yang seharusnya dilakukan seorang istri.
Namun sebelum aku menandatangani halaman terakhir, pengacara itu menutup map dokumennya.
Ia menatapku dalam diam.
Seolah ada sesuatu yang sangat berat ingin disampaikannya.
“Nona Isabel… ada satu hal yang harus kami beritahukan kepada Anda.”
Aku menatapnya.
“Apa itu?”
Ia menarik napas panjang.
“Saat melakukan verifikasi keuangan terkait warisan Anda, kami menemukan sebuah dokumen yang seharusnya tidak kami temukan.”
Aku tetap terdiam.
Perlahan ia mengeluarkan sebuah map tebal lainnya.
“Tujuh tahun yang lalu telah didirikan sebuah family trust.”
“Penerima manfaat utamanya adalah istri sah dari pasangan Anda.”
Keningku langsung berkerut.
“Maksud Anda… saya?”
Ia menggeleng perlahan.
“Bukan.”
Seolah waktu berhenti berputar.
Ia membuka dokumen itu dan menunjuk sebuah nama.
Sofia Mendoza.
Bukan Isabel Reyes.
Melainkan…
Sofia Mendoza.
Seluruh tubuhku membeku.
Nama itu bukan nama asing.
Sofia adalah asisten pribadi Gabriel.
Ia selalu berada di kantor.
Menemani setiap perjalanan bisnis.
Hampir selalu hadir dalam setiap acara keluarga.
Setiap kali ada jamuan makan, ia selalu terlihat sopan.
Pendiam.
Ramah.
Ia selalu memanggilku “Kak Isabel.”
Setiap kali aku pulang dari luar kota, aku selalu membawakannya oleh-oleh.
Bahkan pernah aku sendiri yang menyarankan Gabriel agar menaikkan gajinya karena menurutku Sofia bekerja dengan sangat rajin.
Dan sekarang…
Aku merasa menjadi wanita paling bodoh di dunia.
Dengan suara lirih aku bertanya,
“Apakah Anda yakin?”
Pengacara itu mengangguk.
“Kami sudah memverifikasi dokumen ini berkali-kali.”
“Tidak ada kesalahan.”
“Dokumen ini telah terdaftar sejak tujuh tahun lalu.”
“Dan sejak saat itu hingga sekarang, Sofia Mendoza tercatat sebagai penerima manfaat yang sah sebagai istri.”
Aku hampir tak bisa bernapas.
Tujuh tahun.
Selama tujuh tahun aku hidup dalam kebohongan.
Aku teringat hari pernikahan kami.
Gabriel menyewa sebuah resor pantai yang sangat indah.
Ribuan lampu menerangi seluruh pesisir.
Saat kami berdansa, ia berkata di hadapan semua tamu,
“Hanya ada satu wanita yang akan kucintai seumur hidup.”
“Hanya kamu, Isabel.”
Semua orang bertepuk tangan.
Bahkan ada yang menangis haru.
Mereka mengatakan aku adalah wanita paling beruntung.
Baru sekarang aku sadar…
Berbohong ternyata sangat mudah jika seseorang pandai berakting.
Aku menandatangani seluruh dokumen itu tanpa sepatah kata.
Kemudian aku memandang pengacara tersebut.
“Pastikan seluruh warisan hanya masuk ke rekening pribadi saya.”
“Tidak seorang pun boleh menggunakannya tanpa izin saya.”
Ia mengangguk.
“Serahkan semuanya kepada kami.”
Begitu keluar dari kantor, ponselku berbunyi.
Gabriel menelepon.
“Sayang, pesawatku baru mendarat. Aku kangen sekali sama kamu. Aku ke kantor sebentar, habis itu langsung pulang.”
Pesan yang sangat manis.
Kalau kemarin, mungkin aku akan tersenyum.
Namun hari ini…
Setiap katanya terasa seperti pisau yang perlahan menusuk jantungku.
Entah mengapa.
Alih-alih pulang ke rumah, aku justru langsung menuju bandara internasional.
Mungkin aku ingin melihat kebenaran dengan mataku sendiri.
Aku berdiri di luar area kedatangan.
Satu per satu penumpang keluar.
Hingga akhirnya aku melihatnya.
Gabriel.
Cara berjalannya masih sama.
Senyumnya masih sama.
Jam tangan pemberianku saat ulang tahun pernikahan kelima masih melingkar di pergelangan tangannya.
Namun ia sama sekali tidak mencari keberadaanku.
Di ujung ruang tunggu, Sofia berlari menghampirinya.
Sofia tersenyum.
Gabriel pun tersenyum.
Ia langsung memeluk wanita itu erat.
Itu bukan pelukan dua sahabat.
Bukan pula sapaan biasa.
Gabriel mengecup lembut kening Sofia.
Lalu menggenggam wajahnya sambil tersenyum hangat.
Seolah mereka sudah sangat lama tidak bertemu.
Seolah merekalah pasangan suami istri yang sesungguhnya.
Aku hanya berdiri di balik sebuah pilar besar.
Mereka tidak melihatku.
Aku tak mampu bergerak.
Aku bahkan sulit bernapas.
Dan sebelum sempat mendekati mereka…
Seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun berlari dengan riang menuju Gabriel.
Anak itu memeluk erat kaki Gabriel.
Dengan suara lantang di tengah keramaian, ia berseru,
“Ayah! Kata Mama, hari ini Ayah pulang!”
Gabriel tersenyum lebar.
Ia segera menggendong anak itu.
Kemudian merangkul Sofia.
Bertiga mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
Sebuah keluarga yang tampak begitu bahagia.
Sedangkan aku…
Masih berdiri terpaku dari kejauhan.
Perlahan cincin pernikahan yang selama tujuh tahun tak pernah kulepas terlepas dari jariku dan jatuh ke lantai.
Tepat pada saat itu…
Ponselku kembali berdering.
Pengacaraku menelepon.

Begitu kuangkat, ia langsung berkata dengan suara bergetar,
“Nona Isabel… jangan pulang ke rumah dulu.”
“Kami baru saja menemukan sesuatu lagi dalam dokumen warisan Anda.”
“Dan apa yang akan Anda ketahui selanjutnya… jauh lebih mengejutkan daripada pengkhianatan pria yang telah Anda cintai selama tujuh tahun.”
“Apa lagi yang bisa lebih mengejutkan daripada ini?” tanyaku, suaraku terdengar begitu hampa hingga aku nyaris tidak mengenali diriku sendiri. Mataku masih tertuju pada punggung Gabriel, Sofia, dan anak laki-laki itu yang perlahan menghilang di balik pintu keluar bandara.
“Nona Isabel…” pengacara itu menarik napas dalam-dalam, terdengar ragu namun harus menyampaikannya. “Ibunda Anda, Almarhumah Nyonya Elena, ternyata tidak meninggal karena sakit saklar seperti yang selama ini diberitahukan kepada Anda.”
Jantungku yang tadinya terasa mati mendadak berdegup kencang. “Maksud Anda?”
“Tiga tahun lalu, ibunda Anda memindahkan seluruh asetnya ke dalam trust luar negeri ini secara rahasia karena ia tahu nyawanya terancam. Sebelum koma dan dinyatakan meninggal akibat gagal jantung di rumah sakit, beliau sempat menandatangani sebuah surat pernyataan darurat yang disaksikan oleh notaris independen.”
Suara pengacara itu merendah, berubah menjadi bisikan yang mencekam.
“Dalam surat itu, Nyonya Elena menyatakan bahwa ia sengaja diracun secara perlahan menggunakan zat arsenik dosis rendah yang dicampurkan ke dalam obat harian beliau. Dan orang yang mengatur seluruh pasokan medis serta perawatan rumah di bawah pengawasan ketat ibunda Anda saat itu… adalah Sofia Mendoza, atas perintah langsung dari Gabriel Dela Cruz.”
Bumi seakan runtuh di bawah pijakanku.
Dua tamparan besar menghantamku di hari yang sama. Tujuh tahun lalu, Gabriel mendekatiku bukan karena cinta. Ia mendekatiku karena ia tahu ibuku memiliki kekayaan yang luar biasa. Pernikahan pantai yang indah, kata-kata manis, pelukan hangat setiap malam—semuanya adalah bagian dari investasi jangka panjang mereka.
Mereka menungguku mewarisi harta ini. Mereka memiskinkan perusahaan Gabriel secara sengaja di atas kertas, membuat skenario seolah-olah mereka butuh bantuan keuanganku, agar setelah warisan ini cair, aku dengan sukarela menyerahkan seluruh uang itu ke tangan mereka. Dan setelah uang itu berpindah tangan… aku pasti akan ‘dilenyapkan’ dengan cara yang sama seperti ibuku.
Aku mengepalkan tangan begitu erat hingga kuku-kukuku memutih. Rasa sedih yang sedari tadi membuatku ingin menangis mendadak menguap, digantikan oleh kemarahan yang membakar seluruh kalbuku.
“Nona Isabel? Anda masih di sana?” suara pengacara memecah keheningan. “Kami menyarankan Anda segera pergi ke tempat aman. Kami akan menyerahkan bukti medis ini ke pihak kepolisian hari ini juga.”
“Tidak,” kataku dingin. Suaraku kini tidak lagi bergetar. “Jangan ke polisi dulu.”
“Tapi Nona—”
“Gabriel dan Sofia menginginkan uangku, kan? Mereka sudah menunggu selama tujuh tahun. Mari kita beri mereka pertunjukan yang sudah mereka bayar dengan sangat mahal.”
Aku memungut cincin pernikahan yang terjatuh di lantai bandara, menyimpannya di dalam tas, lalu berjalan keluar dengan kepala tegak. Aku tidak pulang ke rumah kami, melainkan menyewa sebuah kamar di hotel bintang lima menggunakan kartu debit baruku yang tersambung langsung dengan dana warisan ibuku.
Malam itu, pukul sebelas, pintu kamar hotelku diketuk.
Aku membukanya. Gabriel berdiri di sana, masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang kulihat di bandara. Wajahnya tampak panik yang dibuat-buat.
“Sayang! Kamu dari mana saja? Aku pulang ke rumah dan kamu tidak ada. Teleponmu tidak bisa dihubungi, aku hampir mati ketakutan!” Ia langsung melangkah maju, hendak memelukku.
Aku mundur satu langkah, menghindari sentuhannya dengan halus. Aku tersenyum—senyuman paling manis sekaligus paling palsu yang pernah kubuat seumur hidupku.
“Maaf, Gabriel. Aku tadi sibuk mengurus pencairan warisan ibuku di kantor pengacara. Semuanya sudah selesai,” ujarku sambil berjalan menuju meja, menuangkan dua gelas sampanye.
Mendengar kata ‘warisan’, kilatan serakah di mata Gabriel tidak bisa disembunyikan, meski hanya sekejap. Ia mengembuskan napas lega. “Oh, syukurlah. Jadi… semua dana itu sudah ada di rekeningmu?”
“Ya. Sangat besar, Gabriel. Cukup untuk melunasi seluruh utang perusahaannmu, dan bahkan membeli sisa saham yang belum kamu miliki,” aku memberikan satu gelas kepadanya. “Aku sudah menyiapkan dokumen transfernya. Besok pagi, kita bisa menandatanganinya bersama di kantormu. Aku ingin Sofia juga ada di sana sebagai saksi, karena dia asisten kepercayaanmu, kan?”
Gabriel tersenyum lebar, tampak sangat puas. Ia merasa rencananya selama tujuh tahun ini telah berhasil sempurna. Ia mengangkat gelasnya. “Untuk masa depan kita yang baru, Isabel.”
“Ya,” aku membenturkan gelasku ke gelasnya, menatap langsung ke dalam matanya yang penuh kelicikan. “Untuk masa depan yang baru.”
Gabriel tidak pernah tahu, bahwa dokumen yang akan datangi besok pagi di depan Sofia bukanlah dokumen transfer uang, melainkan surat penyerahan diri secara sukarela atas kasus pembunuhan berencana, lengkap dengan seluruh bukti transfer dana gelap dari rekening perusahaannya ke rekening pribadi Sofia selama tujuh tahun terakhir yang telah dilacak oleh tim pengacaraku.
Mereka telah merenggut ibuku dan tujuh tahun hidupku. Kini, giliran aku yang akan merenggut kebebasan mereka selamanya.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.