Posted in

“BARU TIGA HARI SETELAH OPERASI CAESAR, PENGASUH BAYI MEMINTA KENAIKAN GAJI KARENA KATANYA IA HARUS MERAWAT DUA BAYI SEKALIGUS. SAAT PINTU RUMAH TERBUKA DAN IPARKU MASUK SAMBIL MENGGENDONG BAYI YANG BARU LAHIR, AKU AKHIRNYA MENGERTI BETAPA DINGINNYA RENCANA KELUARGA SUAMIKU…”**

“BARU TIGA HARI SETELAH OPERASI CAESAR, PENGASUH BAYI MEMINTA KENAIKAN GAJI KARENA KATANYA IA HARUS MERAWAT DUA BAYI SEKALIGUS. SAAT PINTU RUMAH TERBUKA DAN IPARKU MASUK SAMBIL MENGGENDONG BAYI YANG BARU LAHIR, AKU AKHIRNYA MENGERTI BETAPA DINGINNYA RENCANA KELUARGA SUAMIKU…”**

### Bagian 1 — Kukira hanya pembicaraan biasa tentang gaji pengasuh, sampai aku mendengar kata *dua bayi* dan pintu rumah kami terbuka.

Baru tiga hari aku pulang dari rumah sakit.

Bekas jahitan operasi caesarku terasa seperti ditarik setiap kali aku bergerak sedikit saja. Bahkan saat batuk, aku harus memeluk bantal erat agar tidak meringis menahan sakit.

Aku duduk di ruang tamu apartemen kecil kami di Pasig, bersandar di sofa sambil menggendong putraku, Mateo. Ia tertidur pulas, terbungkus kain bedong putih, dengan jari-jari mungilnya menggenggam ujung bajuku.

Kupikir tantangan terberat hari itu hanyalah kurang tidur, rasa sakit setelah operasi, dan belajar menjadi seorang ibu.

Aku sama sekali tidak tahu bahwa ada orang lain yang jauh lebih sibuk daripada diriku.

Mereka sibuk menjadikan persalinanku sebagai sebuah bisnis.

Bu Naty, pengasuh bayi yang kami pekerjakan, berdiri di tengah ruang tamu.

Ia wanita pendiam berusia sekitar lima puluh tahun, berkacamata tebal, dan selalu berbicara dengan suara lembut.

Ibuku yang mengenalkannya melalui mantan rekan di puskesmas.

Katanya, Bu Naty sudah berpengalaman merawat bayi baru lahir, membersihkan tali pusar, memandikan bayi, dan mendampingi ibu yang baru menjalani operasi caesar.

Awalnya aku sangat bersyukur.

Dalam kondisi seperti ini, kehadiran seseorang yang bisa diandalkan benar-benar menjadi pertolongan besar.

Namun sore itu, raut wajah Bu Naty berbeda.

Ia tidak marah.

Juga tidak terlihat malu.

Wajahnya justru seperti menyimpan sesuatu yang sulit diucapkan.

Ia meremas ujung celemeknya, lalu berkata pelan,

“Bu Lira, maaf baru sekarang saya menyampaikan. Tapi kita perlu membicarakan lagi soal gaji saya.”

Aku berkedip.

“Ada masalah apa, Bu Naty?”

Ia duduk di ujung kursi, tetapi tubuhnya tetap tegang, seolah siap berdiri kapan saja.

“Waktu kita sepakat dulu, gajinya **Rp8.000.000 per bulan**, tinggal di rumah, mendapat hari libur, makan, dan ongkos pulang.”

Aku mengangguk.

“Betul. Itu memang ada di kontrak.”

Ia menarik napas panjang.

“Tapi saya diberi tahu bahwa saya akan merawat **dua bayi yang baru lahir**.”

Seolah ada sesuatu yang berhenti di dalam kepalaku.

Aku menatap Mateo yang sedang tertidur di pelukanku.

Aku hanya melahirkan satu bayi.

Di rumah sakit aku hanya melihat satu bayi.

Di akta kelahiran hanya ada satu nama.

“Dua bayi?”

Suaraku terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.

“Bu Naty, mungkin ada kesalahpahaman. Saya hanya punya satu anak.”

Aku mengangkat Mateo sedikit.

“Hanya dia. Mateo.”

Bu Naty tidak langsung menjawab.

Saat itulah aku menyadari sesuatu.

Ia sama sekali tidak tampak terkejut.

Seolah-olah ia memang sudah tahu sejak awal bahwa aku hanya memiliki satu bayi.

Raut wajahnya justru seperti seseorang yang tanpa sengaja tertangkap dalam percakapan yang seharusnya tidak kudengar.

“Bu… memang begitu yang diberitahukan kepada saya sebelum mulai bekerja.”

“Siapa yang bilang?”

Tatapannya langsung menghindar.

“Keluarga Ibu.”

Punggungku langsung terasa dingin.

“Keluarga yang mana?”

Sebelum ia sempat menjawab, bel pintu berbunyi.

Panjang.

Berulang-ulang.

Bukan seperti tamu yang sedang meminta izin masuk.

Melainkan seperti orang yang yakin pintu itu pasti akan dibukakan.

Aku mengernyit.

Marco, suamiku, sedang keluar membeli obat dan bubur.

Ibu mertuaku, Bu Precy, tadi bilang baru akan datang malam nanti.

Aku tidak menunggu siapa pun.

Namun Bu Naty tiba-tiba berdiri.

“Bukannya mereka sudah datang?”

**Mereka?**

Aku bahkan belum sempat bertanya siapa yang dimaksud, ketika ia membuka pintu.

Masuklah ibu mertuaku, Precy, dengan langkah percaya diri seolah rumah itu miliknya sendiri.

Ia mengenakan blus bermotif bunga favoritnya, membawa tas belanja kain, dan tersenyum begitu manis hingga terasa dibuat-buat.

Di belakangnya muncul adik iparku, Jessa.

Wajah Jessa masih pucat, tetapi alisnya dirias rapi.

Ia mengenakan gaun longgar sambil membawa **baby carrier** berwarna merah muda.

Di dalamnya…

Seorang bayi perempuan yang baru lahir.

Pelukanku terhadap Mateo langsung mengencang.

Tak perlu penjelasan apa pun.

Dadaku sudah lebih dulu terasa tertusuk.

Precy menghampiri Bu Naty, bukan menghampiriku.

“Oh, Bu Naty, ini bayi yang tadi saya ceritakan. Namanya Amara, anak Jessa. Dia tenang kalau sudah digendong orang yang terbiasa.”

Jessa tersenyum.

Ia sama sekali tidak memandangku seolah sedang meminta izin.

Tatapannya justru seperti seseorang yang sudah mendapatkan izin bahkan sebelum aku membuka mulut.

“Kak Lira, maaf ya. Mendadak sekali.”

Nada bicaranya lembut.

Namun setiap katanya terasa tajam.

“Kata Mama, lebih praktis kalau sementara Baby Amara tinggal di sini. Kakak sudah punya pengasuh, perlengkapan bayi lengkap, dan apartemen ini juga ber-AC.”

Aku menatapnya.

“Tinggal di sini?”

Precy tertawa kecil, seolah akulah yang sedang bersikap aneh.

“Lho, Lira. Jangan begitu. Kalian sama-sama baru melahirkan. Kamu mampu. Kasihan Jessa, pasangannya malah kabur dan meninggalkan semua biaya.”

Ia mengusap baby carrier cucunya.

“Cuma tambah satu bayi saja. Bukan satu kampung yang pindah ke sini.”

Aku tidak langsung bisa menjawab.

Tubuhku masih sakit.

Payudaraku terasa penuh ASI.

Kepalaku berat karena kurang tidur.

Namun setiap kata mereka terdengar sangat jelas.

*”Cuma satu bayi tambahan.”*

*”Hanya sedikit.”*

Seolah bayi yang baru lahir hanyalah barang tambahan.

Seolah pengasuh yang kubayar bisa dipakai gratis oleh semua orang.

Seolah aku yang baru menjalani operasi tidak punya hak untuk berkata tidak.

Aku menoleh kepada Bu Naty.

“Jadi itu sebabnya Ibu bilang harus merawat dua bayi?”

Ia menundukkan kepala.

“Bu… saya memang diberi tahu begitu.”

“Siapa yang mengaturnya?”

Kali ini Precy yang menjawab.

“Saya dan Marco.”

Napasaku langsung tercekat.

“Marco?”

“Iya. Dia anak saya. Wajar kalau kami membicarakannya.”

Precy meletakkan tas belanja di atas meja.

Dari dalamnya keluar beberapa botol susu, satu kaleng susu formula, dan beberapa kain bedong baru.

Semuanya sudah siap.

Ini bukan keputusan mendadak.

Bukan permintaan tolong.

Ini adalah sebuah rencana.

Dan hanya aku yang tidak pernah diajak bicara.

“Bu… kenapa tidak ada yang bertanya kepadaku dulu?”

Precy mengernyit seolah tersinggung.

“Memangnya perlu? Kamu istri Marco. Kita ini keluarga. Bukankah sudah seharusnya kamu membantu adik iparmu?”

Jessa ikut menimpali sambil menggendong bayinya.

“Kak, jangan marah ya. Kalau aku mampu, aku juga pasti menyewa pengasuh sendiri. Tapi tidak semua orang seberuntung Kakak.”

Tanganku mulai gemetar.

Entah karena luka operasiku.

Atau karena keberanian mereka.

“Jessa, ini bukan soal beruntung. Jahitan operasiku bahkan belum sembuh. Aku menyewa pengasuh supaya bisa merawat anakku dan memulihkan diri.”

Ia tersenyum tipis.

“Itulah gunanya. Sekalian bantu Baby Amara. Pengasuhnya tetap sama.”

Precy mulai kehilangan kesabaran.

“Lira, jangan membesar-besarkan hal kecil. Tinggal naikkan saja gaji Bu Naty. Dari delapan juta menjadi **Rp11.000.000 per bulan**.”

“Kita?”

Aku menatapnya lurus.

“Siapa yang Ibu maksud dengan *kita*?”

Ia tidak langsung menjawab.

Dan dari wajahnya saja aku sudah tahu jawabannya.

**Aku.**

Akulah yang akan membayar semuanya.

Bu Naty berbicara pelan.

“Bu, itulah yang ingin saya pastikan. Kalau memang dua bayi, tarif sebelumnya memang tidak cukup.”

Mataku mulai terasa panas.

Namun aku menolak menangis.

Aku tidak ingin mereka melihatku hancur di ruang tamuku sendiri.

“Bu Naty, saya tidak menyalahkan Ibu. Tapi saya tidak pernah menyetujui semua ini.”

Wajah Precy langsung berubah.

Senyumnya menghilang.

“Kamu tidak setuju? Lira, jangan bicara seolah kamu tidak punya kewajiban. Uang yang kamu pakai juga uang Marco. Dan Marco itu anak saya.”

“Itu uang kami berdua.”

“Kalau suamimu membantu adiknya, sebagai istri kamu seharusnya mendukung.”

Nada suaranya meninggi.

“Kamu tidak memiliki anak saya.”

Aku justru tertawa lirih.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena akhirnya semuanya menjadi sangat jelas.

Di rumahku sendiri.

Di sofaku sendiri.

Sambil menggendong bayiku yang baru berusia tiga hari.

Akulah yang dibuat terlihat egois.

Jessa perlahan duduk.

Lalu meletakkan **baby carrier** tepat di samping tempat tidur bayi Mateo.

Seolah tempat itu memang sudah disiapkan sejak lama.

Aku mencoba berdiri.

Namun luka operasiku langsung terasa nyeri hingga aku memegang perut.

Tak satu pun dari mereka menunjukkan rasa khawatir.

Precy malah berkata,

“Lihat? Kamu saja belum kuat berdiri. Jadi jangan banyak drama. Kan ada Bu Naty.”

Lalu ia menoleh kepada Bu Naty.

“Bu Naty, mulai saja dulu. Tolong cek popok Amara. Tadi dia menangis di mobil.”

Namun Bu Naty tidak bergerak.

Ia lebih dulu menatapku.

Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan di wajahnya.

Bukan takut kepadaku.

Melainkan takut karena tanpa sengaja terseret ke dalam konflik yang jauh lebih besar.

Pintu kembali terbuka.

Marco masuk membawa sekantong obat dan bubur hangat.

Begitu melihat ibu dan adiknya…

Ia sama sekali tidak terkejut.

Bahkan ia tidak bertanya mengapa ada bayi lain di ruang tamu.

Saat itulah aku benar-benar mengerti.

Ia sudah tahu.

Ia bagian dari semua ini.

Marco menghampiriku.

Namun ia tidak menciumku.

Bahkan tidak langsung melihat Mateo.

Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah,

“Lira, tenang dulu.”

Aku menatapnya.

“Tenang?”

Ia meletakkan barang bawaannya.

“Ini cuma sementara. Sebulan saja. Sampai Jessa pulih.”

Precy langsung tersenyum puas.

“Nah, dengar sendiri kan? Suamimu juga setuju.”

Aku tetap duduk.

Mateo masih tertidur tanpa tahu bahwa orang-orang di sekelilingnya sedang mencoba memanfaatkan kelahirannya demi keuntungan mereka.

“Marco… kenapa kamu tidak pernah bilang kepadaku?”

Ia mengalihkan pandangan.

“Karena aku tahu kamu pasti akan bereaksi berlebihan.”

Saat itulah sesuatu di dalam diriku benar-benar berubah.

Bukan kemarahan yang datang lebih dulu.

Melainkan rasa dingin.

Dingin yang tenang.

Jernih.

Dan berbahaya.

“Bu Naty… apakah Ibu membawa kontrak kerja?”

Ia memandang Marco.

Lalu Precy.

Aku tidak berkata apa-apa lagi.

Aku hanya menunggu.

Akhirnya ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari mapnya.

Dokumen itu diserahkannya kepadaku.

Tanganku gemetar saat membuka halaman demi halaman.

Namaku tercantum di sana.

**Lira Mendoza-Reyes.**

Alamat apartemen kami.

Gaji **Rp11.000.000 per bulan.**

Lalu pada bagian **ruang lingkup pekerjaan**, tertulis kalimat yang membuat dadaku sesak.

**”Perawatan bayi baru lahir untuk dua bayi yang tinggal di unit ini.”**

Dua bayi.

Bukan itu yang pernah kusetujui.

Bukan itu isi pembicaraan kami.

Aku menurunkan pandangan ke bagian bawah halaman.

Di sana ada tanda tangan Marco.

Dan tepat di sampingnya…

Ada tanda tangan yang sangat mirip dengan tanda tanganku.

Namun…

Itu bukan tanda tanganku.

Aku menggenggam dokumen itu erat, lalu memandang suamiku.

“Marco… siapa yang menandatangani atas namaku?”

Marco tetap diam.

Justru Precy yang menjawab.

“Ah, jangan dibesar-besarkan. Tanda tangan itu hanya formalitas.”

Aku tersenyum.

Entah bagaimana aku masih bisa tersenyum di tengah rasa sakit akibat luka operasi, beban di dadaku, dan semua kebohongan yang memenuhi ruang tamu itu.

Karena pada detik itu…

Aku sadar ini bukan lagi sekadar soal pengasuh.

Bukan lagi soal kenaikan gaji.

Bukan lagi soal adik iparku yang ingin menumpang.

Ada tanda tangan palsu atas namaku.

Ada kontrak yang dibuat tanpa persetujuanku.

Dan suamiku berdiri di depanku, berharap aku menelan semuanya begitu saja.

Aku memeluk Mateo lebih erat.

Lalu aku mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Bagian 2 — Akhir dari Sandiwara Keluarga Parasit

“Bu Naty, silakan kemas barang-barang Ibu sekarang juga. Kontrak ini batal demi hukum, dan Ibu bebas untuk pulang.”

Seluruh ruangan mendadak hening.

Bu Naty memandangku dengan mata terbelalak, lalu menatap Marco dengan bingung.

“Lira! Apa-apaan kamu ini?!” Marco membentak, langkahnya maju mendekatiku. “Kamu baru pulang dari rumah sakit, pikiranmu sedang kacau! Jangan memecat Bu Naty begitu saja. Siapa yang mau mengurus Mateo dan Amara?”

“Aku yang mengurus anakku sendiri,” jawabku, suaraku begitu datar, sedingin es. “Dan untuk bayi Jessa… itu bukan urusanku.”

Ibu mertuaku, Precy, langsung berkacak pinggang. Wajahnya yang semula manis kini berubah menjadi merah padam karena murka. “Lira! Berani-beraninya kamu mengusir pengasuh yang sudah kami siapkan! Kamu ini menantu tidak tahu diuntung! Marco bekerja banting tulang untuk menghidupimu, dan sekarang kamu menolak membantu adiknya yang sedang kesusahan?!”

Jessa mulai terisak, air mata buayanya mengalir dengan cepat. “Kak Lira… kalau Kakak memang tidak suka padaku, jangan korbankan bayiku. Aku tidak punya uang untuk menyewa pengasuh sendiri…”

Aku tidak mendengarkan mereka. Tatapanku terkunci pada Marco.

“Kamu memalsukan tanda tanganku, Marco,” kataku lirih, namun tajam. “Kamu menaikkan gajinya menjadi sebelas juta, menggunakan namaku, dan berniat mendebetnya langsung dari rekening bersama kita yang hampir seluruh isinya adalah uang tabungan masa depanku sebelum kita menikah.”

Marco mulai panik. Ia mencoba meraih pundakku. “Lira, dengar dulu… Aku melakukan ini demi keluarga. Jessa tidak punya siapa-siapa lagi. Aku berniat memberitahumu nanti setelah kamu agak pulihan—”

“Jangan sentuh aku,” desisku. Rasa sakit di jahitan caesarku mendadak hilang, mati rasa oleh amarah yang teramat besar. “Kamu tahu kenapa aku tidak panik?”

Aku mengambil ponselku di atas meja, membuka sebuah aplikasi perbankan, lalu menunjukkannya di depan wajah Marco.

“Dua jam yang lalu, sebelum aku menandatangani berkas rumah sakit, aku sudah memindahkan seluruh uang pribadiku ke rekening ibu kandungku. Rekening bersama kita sekarang hanya tersisa Rp200.000.”

Wajah Marco langsung pucat pasi. “Kamu… kamu memindahkan semua uangnya?!”

“Ya. Jadi, siapa yang akan membayar sebelas juta untuk Bu Naty bulan depan? Kamu?” Aku menoleh ke arah Precy. “Atau Ibu? Atau Jessa yang pasangannya kabur itu?”

Precy ternganga. “Kamu… wanita ular! Marco, lihat kelakuan istrimu! Dia ingin memiskinkanmu! Dia ingin menghancurkan keluarga kita!”

“Keluarga kita?” Aku tertawa sinis. “Sejak awal, kalian tidak pernah menganggapku keluarga. Kalian hanya menganggapku sebagai mesin uang yang bisa diperas untuk membiayai kemalasan Jessa.”

Aku menekan tombol interkom di dinding apartemen yang tersambung langsung ke pos keamanan lobi.

“Halo, sekuriti? Tolong ke unit 12-B sekarang. Ada tiga orang asing yang membuat keributan di dalam apartemen saya dan menolak untuk keluar.”

“Lira! Ini rumahku juga!” teriak Marco berang.

“Bukan, Marco,” ujarku sambil menunjuk dokumen kepemilikan apartemen yang sengaja kupajang di dekat televisi. “Apartemen ini dibeli dengan uang muka dari orang tuaku, dan sertifikatnya hanya atas nama Lira Mendoza. Kamu hanya menumpang di sini.”

Sepuluh menit kemudian, dengan pengawalan dua petugas keamanan apartemen, Precy dan Jessa terpaksa melangkah keluar sambil menggendong baby carrier mereka dengan wajah menanggung malu yang luar biasa.

Marco sempat bertahan di ambang pintu, menatapku dengan pandangan memohon sekaligus marah. “Lira, tolong jangan begini. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Pikirkan masa depan Mateo!”

“Aku justru sedang menyelamatkan masa depan Mateo dari ayah yang penipu dan pemalsu tanda tangan,” jawabku tegas. “Surat cerai dan laporan polisi atas pemalsuan dokumen akan sampai ke tempat kerjamu minggu depan. Keluar.”

Pintu apartemen kututup dengan dentuman keras.

Suasana ruangan kembali sunyi. Bu Naty, yang sedari tadi diam ketakutan, mendekatiku dengan ragu. “Bu Lira… saya…”

“Bu Naty, maafkan keributan ini,” kataku lembut, kembali menjadi Lira yang biasanya. “Saya tahu Ibu hanya korban manipulasi mereka. Ini uang tunai dua juta sebagai ongkos dan ganti rugi waktu Ibu hari ini. Silakan Ibu pulang ke rumah dengan baik.”

Bu Naty menerima uang itu dengan tangan gemetar, berterima kasih berkali-kali, lalu bergegas pergi membawa tasnya.

Kini, di dalam apartemen yang luas itu, hanya ada aku dan Mateo.

Aku kembali duduk di sofa, memeluk putra kecilku dengan sangat erat. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya jatuh juga, menetes di atas kain bedongnya. Bukan karena aku meratapi kehilangan Marco, melainkan karena aku bersyukur mataku dibukakan lebih cepat.

Rencana mereka begitu dingin, namun tekadku untuk melindungi anakku jauh lebih kuat.

Aku mengusap pipi mungil Mateo yang terbangun karena keributan kecil tadi. Ia menatapku dengan mata bulatnya yang jernih.

“Jangan takut, Sayang,” bisikku di telinganya. “Mulai hari ini, hanya ada Ibu dan kamu. Dan Ibu berjanji, tidak akan pernah membiarkan siapa pun memanfaatkan kita lagi.”

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.